Bab 05. Senyum Yang Menenangkan

1071 Words
Ziva mengernyit, heran melihat Andra yang bengong menatap ke arahnya. "Heh, kenapa kamu melihatku seperti itu? Ada yang salah?" tanyanya, balik ke mode awal, jutek dan berbicara dingin. Andra tersenyum tipis, matanya menyiratkan kekaguman yang sulit disembunyikan. "Nah, ini baru Ziva yang asli," ucapnya tanpa ragu lagi. "Maksud kamu?" Ziva semakin bingung. "Jujur saja, aku merasa tadi itu bukan kamu, Kak. Seperti ada sosok lain yang merasuki kamu dan membuatmu bersikap aneh," ucap Andra dengan jujur, tanpa tedeng aling-aling. Ziva merengut, nada suaranya mulai meninggi, "Maksudmu, aku barusan kerasukan setan gitu?" Tawa kecil Andra pecah, mengusir suasana tegang. "Bukan, Kak. Aku heran, kenapa sih kamu selalu sensitif dan gampang marah kalau bicara sama aku. Aku cuma bingung, kenapa tiba-tiba kamu kasih aku kotak bekal ini." Ziva menarik napas dalam, mencoba menjawab santa, "Isi kotak itu cuma makanan biasa. Aku kasih kamu ini untuk menebus rasa bersalahku karena tadi malam sudah menampar dan mengusir kamu." Andra menatap dalam, ragu antara percaya dan tidak. "Serius? Kak Ziva benar-benar merasa begitu?" Ziva mengangguk berat, jujur dan penuh beban. "Ya. Aku akui, tadi malam aku sudah keterlaluan. Aku tahu, bagaimanapun juga kamu sudah membantuku. Tapi tetap saja, sikapmu yang kurang ajar tidak bisa dibenarkan." "Oke, aku mengerti sekarang. Soal itu ... aku minta maaf. Aku juga sudah memaafkan kamu dan menerima makanan ini. Terima kasih, ya," ucap Andra dengan senang hati. Ziva hanya tersenyum tipis, senyum yang sederhana, namun entah mengapa terasa begitu menenangkan di hati Andra. Senyum itu seperti semburat cahaya lembut di tengah kelamnya hari, sedikit namun mampu membius pikirannya. Dalam hati, Andra terpana, "Ternyata, senyum sekecil itu bisa membuat Ziva terlihat semakin cantik." Matanya lalu jatuh pada kotak bekal di tangannya, dengan tak sabar ia membukanya. "Ini sandwich? Kamu yang buat sendiri, Kak?" Andra bertanya sambil mengangkat alis, ada kehangatan samar yang menguar dari suaranya. "Ya, iyalah. Memang siapa lagi kalau bukan aku?" jawab Ziva santai. Andra mengangguk, rasa bahagia yang tak bisa ia ucapkan dengan kata-kata membanjiri dadanya. "Terima kasih banyak, Kak. Ini pertama kalinya aku mendapatkan perhatian seperti ini. Aku benar-benar senang." Ziva menghela napas, mencoba menepis arti lebih dari sekadar sandwich di antara mereka. "Itu hanya sandwich biasa, tidak ada yang spesial dan tidak ada maksud apa-apa." Suaranya lembut tapi tegas. "Sekarang, lebih baik kamu makan. Atau simpan dulu, karena kita harus membahas soal pekerjaan." Andra tersenyum, berusaha menyembunyikan rasa kikuk yang tiba-tiba merayap dalam hatinya. "Baiklah, langsung saja," jawabnya, dan seketika kedua wajah berubah serius. Di antara kedipan senyum yang tersisa, pekerjaan menanti untuk dibicarakan. Suasana seketika berubah, meninggalkan perasaan yang tak terucap namun mengendap di antara mereka, seperti aroma tipis dari sandwich yang baru saja diterima oleh Andra. *** Setelah bertemu dengan Andra, Ziva pun langsung kembali ke kantor, melaporkan tentang perkembangan kasus yang sedang ditanganinya itu kepada Hermawan. Pria paruh baya itu menatap laporan Ziva dengan mata berbinar penuh kekaguman. "Setiap detail yang kamu berikan bukan hanya soal kemajuan kasus ini, tapi ini sudah hampir selesai, titik akhir yang sudah sangat kita nantikan. Saya benar-benar salut terhadap kamu, Ziva. Walaupun sudah lama vakum, tapi kamu mampu menunjukkan kemampuan yang luar biasa," ucap Hermawan dengan suara berat penuh kebanggaan. "Tugas ini cukup berat, untuk itu saya memberikan waktu selama dua bulan. Tapi lihat, baru sebulan, nyaris semuanya sudah terselesaikan. Dan polisi kali ini juga bekerja cepat, sangat cepat." Ziva menunduk pelan, tapi tak bisa menyembunyikan senyum lega yang merekah di bibirnya. "Terima kasih banyak, Pak. Semua ini juga berkat kerja keras pihak kepolisian, terutama Ipda Andra yang benar-benar sigap dan cekatan menangani kasus ini." Ia memilih berkata jujur meski tak langsung di depan yang bersangkutan. Dalam hati, Ziva tahu Andra pasti akan tersanjung jika mendengar pujian itu secara langsung. Namun hari ini, di balik sikap konyol Andra, ada satu kebanggaan yang tak bisa disembunyikan. Kasus ini hampir tuntas, berkat kerja sama mereka yang tak pernah padam meski berhadapan dengan segala rintangan. Mengangguk, Hermawan melirik dengan tatapan penuh pengertian. "Ya, saya tahu itu. Saya juga bisa melihatnya sendiri. Perwira Andra, walaupun masih muda, tapi semangatnya luar biasa," ungkapnya, penuh kekaguman. "Kalau begitu, sebaiknya kamu istirahat sekarang. Jangan lupa terus laporkan perkembangannya kepada Saya." Ziva tersenyum dan mengangguk. "Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu." * Namun, baru beberapa langkah Ziva keluar dari ruangan, tiba-tiba tangan kirinya diremas kuat. Jantungnya berdegup kencang, dia menoleh dengan mata membelalak menatap sosok di depannya. Sam? Apa-apaan, kamu? Lepaskan tanganku!" Suaranya bergetar antara marah dan terkejut. Samuel menatap dengan mata yang tajam, tak melepaskan genggaman tangannya. "Maaf kalau aku terkesan kurang ajar, tapi kamu harus ikut aku sekarang," ucapnya dingin seraya menarik paksa tangan Ziva. Dengan hati berdebar, Ziva terpaksa mengikuti langkah Samuel ke sebuah lorong, jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Barulah setelah Samuel melepaskan genggamannya, Ziva menatap pria itu, suaranya gemetar penuh kecemasan, "Kamu ini sebenarnya kenapa? Ada apa?" tanyanya dengan desakan yang tak bisa disembunyikan. "Apa hubunganmu dengan perwira muda itu? Apa kalian berdua sudah punya hubungan khusus?" tanya Samuel to the point, tak bisa menyembunyikannya lagi. Mata Ziva terbelalak, terkejut. "Apa maksudmu? Hubungan apa? Aku dan Ipda Andra hanya sebagai partner. Kamu juga tahu kasus apa yang sedang kami tangani saat ini. Jadi, jangan bertanya yang aneh-aneh!" katanya tegas. "Tapi yang aku lihat dari laki-laki itu tidak biasa, Zi. Apa kamu sama sekali tidak menyadarinya?" ujar Samuel, geram. "Menyadari apa?" tanya ziva, suaranya bergema karena sepinya lorong itu. "Zi, aku bisa lihat kalau dia menyukai kamu. Dari tatapan dia saat menatap kamu, itu berbeda. Tapi kamu harus sadar, aku sudah mencari tahu tentang Perwira Andra. Dia baru berusia 27 tahun, masih terlalu muda, terlalu mentah untuk kamu. Kalau kamu benar-benar mau mencari pengganti, cari yang setara, yang bisa berdiri sejajar dengan kamu. Dewasa, memahami, bukan bocah ingusan seperti dia. Jangan biarkan luka lama terbuka lagi, jangan sampai kamu mengulangi kesalahan yang sama." Samuel mengatakan hal itu dengan nada serius. Tetapi, tatapan Ziva justru berubah menjadi tajam menyala. "Kamu sama sekali tidak punya hak untuk mengatur hidupku, apalagi mencampuri urusan pribadiku!" ucapnya dingin, tiap kata penuh api kemarahan yang tertahan. "Mau dia menyukaiku atau tidak, aku tidak peduli. Aku tidak akan membuka hatiku untuk pria mana pun setelah semua yang aku alami." Dengan langkah pasti, Ziva meninggalkan Samuel yang terpaku, dengan rasa kesal dan putus asa. "Ziva, tunggu aku!" Samuel berusaha memanggil, suara terengah mengikuti Ziva. Namun, Ziva tak menoleh, tak melambatkan langkahnya sedikit pun. Perlahan, keputusannya membuat Samuel terdiam dan akhirnya menyerah, membiarkannya pergi sendirian. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD