Radit menutupi wajahnya dengan menggunakan buku menu,
Agus dan yang lainnya pun merasa heran dengan perilaku aneh Radit.
"Lo kenapa sih dit?" tanya Agus
"Gue gapapa, udah kalian mesen aja, gak usah pikirin gue!" ucap pelan Radit
Nabila pun melihat ke arah sekitar,
"Em, mungkin disini ada pacarnya Radit."
"Eh, Enggak enggak!" bantah Radit
"Trus, ngapain lo ngumpet kayak gitu?" tanya Agus,
Perlahan Radit melihat sekitar, Ia tidak melihat sosok kedua orang tua Elvira disana.
"Haa, untung udah pergi." Radit menghela nafas lega
Ia kemudian menatap teman temannya,
"Udah, Ayo kita makan."
"Ih dasar ga jelas lo!"
Mereka pun mulai menikmati makanannya,
"Oya dit, Bukannya ada yang mau lo bilang ke nabila?" ucap Agus seraya mengangkat kedua alisnya
Uhuk uhuk
Radit tersedak makanannya,
"Apa? Gue ga ada bilang apa apa." Radit berpura pura tidak mengerti dengan ucapan agus,
"Lo beneran gak mau bilang apa apa? Kalau sampe ditikung sama yang lain awas aja sampe lo nangis."
"Apaan? Gue gak pernah bilang gitu," ucap Radit,
Raut wajah nabila berubah sendu,
"Gapapa, Mungkin Radit emang belum siap."
Radit mengerutkan dahinya, Ia kemudian melihat ke arah Agus, yang menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.
'Ngomong bego, tembak dia sekarang!'
Reflek ia kemudian memegang tangan Nabila,
"Gue... Gue..." ucap Radit ragu
"Guwa guwe guwa guwe, greget banget, udah gue aja yang wakilin. Bil, Radit udah lama suka sama lo, lo mau kan jadian sama Radit?" tanya Agus langsung
Radit langsung menggeplak kepala Agus,
"Aww, Sakit!" ringis Agus
"Lo tuh gak sopan banget!" ucap kesal Radit
"Sorry, Abisnya gue greget, lo kelamaan!"
Nabila pun tersenyum melihat tingkah mereka. "Gapapa koq, Lagian Agus ada bener nya, Lo sendiri emang bener suka sama gue?"
Blush
Wajah Radit sedikit memerah,
"I-iya,"
Tiba tiba
Cupp
Nabila mencium pipi Radit, Ia terkejut dan memegang pipinya.
"Cieeee," Agus dan teman Nabila pun bersorak.
"A-apa ini?" tanya Radit yang masih kebingungan.
"Anggap aja ini pertanda kita udah resmi jadian." terang Nabila
Radit pun hanya diam mematung,
***
Sesampainya di rumah, Radit terus memegangi pipinya, Ia merasa melayang mengingat kejadian tadi.
Elvira yang melihat Radit melewatinya begitu saja merasa heran,
"Hei bocah tengil!" panggilnya
Namun Radit seperti telah dihipnotis, Ia sama sekali tidak mendengar panggilan Elvira dan terus saja melangkah menuju kamarnya.
"Ihh, Dasar bocah prik!" Elvira melanjutkan kembali langkahnya menuju dapur,
Setibanya di kamar,
Radit merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur seraya membayangkan Nabila yang sekarang telah resmi menjadi kekasihnya.
"Gue gak percaya, Nabila jadi cewek gue sekarang."
Tring
Terdengar suara notifikasi pesan ke dalam ponselnya,
Radit kemudian membukanya,
'Kamu udah nyampe rumah?'
Radit tersenyum sendiri, Ia merasa salah tingkah dan memegangi dadanya,
Degh degh
"Aaa, Gue seneng banget!!" teriak Radit seraya melompat kegirangan.
Elvira yang berada di lantai bawah mendengar teriakan Radit,
"Hey! Jangan berisik!" teriak Elvira
"Dasar bocah! Tiba tiba teriak, emangnya dipikir, ini di hutan." ucap kesal Elvira
Ia kemudian membawa secangkir kopi ke dalam kamarnya, seraya menyeruputnya sedikit demi sedikit, tiba tiba Elvira dikejutkan dengan teriakan Radit.
"Gue cinta sama lo, Bil!!" teriak Radit yang membuat kopi Elvira terjatuh
Uhuk uhuk
Elvira tersedak oleh kopi miliknya,
Mendengar suara benda terjatuh, Radit terkejut dan bergegas keluar kamar, Ia mendapati kopi yang tumpah dan pecahan gelas yang berserakan.
"Lho? Kenapa berantakan gini?"
Elvira menatap tajam Radit,
"Menurut lo kenapa? Lain kali jangan teriak teriak kayak di hutan!! Sekarang, lo buatin kopi lagi buat gue, dan bersihin ini!" Titah Elvira.
"Lah koq gue? Kan yang ngopi elo."
"Iya, tapi gara gara teriakan lo, gue jadi kaget dan jatohin tuh cangkir, pokonya gue gak mau tau, be re sin!" Elvira kemudian melangkah pergi.
"Pantesan aja lo ditinggalin, sikap lo itu nyebelin! Untung cewe gue gak kayak lo." gumam Radit
Dengan wajah kesal, Radit kemudian menuruti perintah Elvira, Ia membuat secangkir kopi, namun ide jahil pun muncul, Radit mengeluarkan senyuman jahatnya.
"Gue kerjain juga," gumamnya.
Radit memasukkan beberapa sendok garam ke dalam kopi Elvira,
Ia kemudian membawa kopi tersebut ke dalam kamar Elvira.
"Nih, Kopi lo!" ucap ketus Radit seraya menyimpannya diatas meja kecil disamping tempat tidur Elvira.
Radit pun hendak melangkah pergi,
"Lo mau kemana?"
"Ya balik lagi ke kamar gue, masa iya gue tidur disini,"
"Minum,"
"A-apa?"
"Minum!"
"Eh gak usah, gue gak suka kopi, gue lebih suka minum boba."
"Gue bilang minum!"
"Lo koq maksa banget!"
"Gue cuman mau mastiin, minuman gue tuh aman dari racun sianida!"
"Eh gila lo ya, emang tampang gue ada tampang kriminal?"
"Kejahatan itu bukan karena hanya ada niat tapi juga ada kesempatan."
"Sorry, Gue bukan orang yang sekeji itu,"
"Siapa yang tahu? Ayo, Minum!" desak Elvira
Radit yang merasa terpojok pun mengambil cangkir tersebut, dengan tangan yang sedikit gemetaran, Radit menyeruput kopi yang ia buat.
Hueekk
Radit berlari menuju ke toilet dan memuntahkan kembali kopi yang ia minum,
Elvira tertawa seraya melipat kedua tangannya.
"Lo pikir gue gak tau," gumamnya.
Rupanya tanpa sengaja Elvira melihat Radit yang berniat untuk menjahilinya,
***
Hari pun berganti,
Elvira baru saja selesai membersihkan dirinya,
"Dimana ya baju yang itu?" gumamnya.
Ketika sedang mencari pakaian yang akan ia kenakan hari ini, ia melihat kecoa yang menempel di lemari pakaiannya,
"Aaaaaaaa," teriak Elvira
Elvira langsung naik ke tempat tidur,
Mendengar jeritan Elvira, Radit yang tengah memakai baju pun langsung berlari ke kamar Elvira.
"Ada apa?"
"Tolongin gue, ada kecoa disana!" Elvira menunjuk ke arah lemari.
"Dimana?"
Tiba tiba kecoa itu terbang ke arah Radit yang membuat Radit sangat terkejut dan langsung naik ke tempat tidur Elvira dan menabrak Elvira
Brugh
Mereka pun terjatuh bersamaan dengan Radit berada diatas Elvira, Tanpa sengaja bibir mereka pun bertemu,
Untuk sekian detik, Mereka terdiam,
Hingga Radit pun tersadar, dan berusaha untuk bangun, Begitupun dengan Elvira, namun kepala mereka pun terantuk satu sama lain.
"Aduh!!" pekik mereka
Radit pun berhasil bangun, Ia kemudian menatap Elvira yang masih terbaring merasakan sakit dikepalanya akibat benturan barusan.
Kedua matanya membolak saat ia melihat handuk kimono Elvira yang tersingkap, menampakkan paha mulus Elvira dengan bagian d**a yang sedikit terbuka, Ia menelan salivanya kasar, Radit menepuk nepuk pipinya, dan melangkah cepat pergi dari kamar Elvira.
"Bisa bisanya, Ya ampun!" ucap Radit seraya menepuk nepuk pipinya terus menerus.
"Sadar dit!! Lo udah punya Nabila!" ucapnya pada diri sendiri.
Radit pun memutuskan untuk langsung berangkat ke kampus tanpa menunggu Elvira, karena kejadian itu membuat pikirannya kemana mana.