Sesampainya di rumah,
Elvira mendapati Radit tengah mengompres lukanya sendiri, Ia kemudian menghampirinya dan duduk disamping Radit,
Ia mengambil kain basah yang berada di tangan Radit begitu saja,
“Biar gue yang obatin,”
Dengan perlahan Elvira membersihkan luka Radit, Mereka belum pernah berada pada jarak sedekat itu sebelumnya,
Radit bisa melihat betapa cantik dan manisnya Elvira dari jarak dekat, Bibirnya yang berwarna merah muda, matanya yang berwarna coklat, Hingga aroma tubuhnya yang bisa Radit cium, Wangi vanila tercium manis oleh Radit,
Degh degh degh
‘Sial! kenapa nih sama jantung gue? Gue harap tante ini gak dengar suara jantung gue, Mati gue!’ Batin Radit
Wajah Radit pun memerah menahan malu,
“Sini! Biar gue aja!” Radit merebut kembali kain itu dan mengusapkan pada wajahnya,
Elvira pun tersenyum tipis,
“Makasih ya, Kamu udah nolongin aku tadi, kalau gak ada kamu, mungkin aku bakalan nanggung rasa malu seumur hidup aku,” Ucap Elvira
“Lain kali, perhatikan cara berpakaian kamu, jangan sampai mengundang perhatian laki laki di luaran sana, meskipun aku tidak benar benar menjadi suami kamu, tapi aku memiliki tanggung jawab untuk menegurmu, setidaknya dalam pandangan keluarga kita, kita tetap suami istri,” Radit pun melangkah pergi meninggalkan Elvira yang mematung,
Hari pun berganti,
Radit baru saja terbangun dari tidur lelapnya,
“Hoaaammm, Untung hari ini libur, jadi bisa lebih santai,” Ucap Radit dengan wajah yang masih mengantuk,
Terdengar suara notifikasi pesan milik Radit, Ia kemudian membukanya,
‘Ayah dan Ibu akan datang untuk berkunjung, Jadi jangan kemana mana ya,’
Radit pun kembali menutup matanya, Seperdetik kemudian ia langsung membuka kembali matanya, dan tersadar dengan isi pesan yang baru saja ia baca
“Apa?” Syok Radit,
Ia kemudian berlari pergi untuk menemui Elvira dan masuk ke dalam kamarnya begitu saja, Sehingga membuat Elvira yang masih mengenakan handuk pun terkejut, Ia langsung menutupi bagian d**a dan pahanya, Radit pun membalikkan tubuhnya
“Kenapa kamu masuk gitu aja?” Tanya Elvira kesal,
“S-Sorry, Aku cuman mau bilang, Ayah sama ibu mau dateng,”
“Whaatt?!!”
Elvira kemudian mendorong keluar Radit, dan menutup pintu kamarnya,
“Bagaimana ini?” Gumamnya,
Elvira berjalan mondar mandir dan berpikir,
Tiba tiba perhatian mereka pun teralihkan oleh suara bel rumah yang berbunyi,
Ting Tong
Radit pun bergegas membukakan pintu dan menampakkan Ayah dan Ibu Elvira di hadapannya.
“Selamat pagi Radit,” Sapa mereka
“S-Selamat pagi, Silahkan masuk,”
Kedua orang tua Elvira pun melangkah masuk kedalam rumah diikuti oleh langkah Radit,
“Lho, Mana El?” tanya Ibu
“El disini bu,” Elvira berjalan ke arah mereka,
“Bagaimana kabarmu?”
“Baik, Ayah dan Ibu?”
“Kami juga baik, Kalian tidak kemana kemana di weekend ini?”
Elvira pun menggelengkan kepalanya,
“Kenapa?”
“Emm, Kebetulan El lagi gak enak badan, jadi mutusin buat istirahat di rumah aja,”
“Gak enak badan? Apa sudah diperiksa dokter?”
“Belum, Lagipula gapapa koq, paling cuman masuk angin,”
Ibu menatap ke arah Radit yang duduk disamping Elvira,
“Lebih baik ajak istri mu ke dokter,”
“Saya akan mengajaknya ke dokter nanti Bu, jadi ibu tidak perlu khawatir lagi,” Ucap Radit
“Bukan begitu, Tapi ibu hanya takut jika ternyata gejala yang dirasakan oleh Elvira itu adalah tanda tanda orang hamil,”
“APA?” Elvira dan Radit syok
‘Hamil apaan? nyolek aja gak pernah,’ Batin Radit
‘Gila aja! Masa iya hamil sama ni bocah tengil,’ Batin Elvira
Melihat reaksi mereka yang hanya diam, membuat kedua orang tua Elvira penasaran,
“Kenapa? Bukankah wajar, orang yang sudah menikah memiliki anak?”
Elvira dan Radit pun mengalihkan pandangannya ke arah lain karena merasa tidak enak satu sama lain,
“Apa jangan jangan kalian belum pernah melakukan hal itu?” Tanya Sang ayah
Mereka hanya terdiam,
“El?” Ayah menatap tajam ke arahnya,
“Iya ayah?”
“Apa kamu tidak melakukan kewajiban kamu sebagai seorang istri pada Radit?”
“I-Itu,”
“Elvira sudah melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik koq yah, hanya saja Radit yang meminta Elvira untuk menunda kehamilannya, karena seperti yang ayah tau, kami tidak berpacaran dulu dan langsung menikah, kami hanya ingin menikmati masa masa pacaran kami, Iya kan sayang?” Radit merangkul mesra Elvira seraya tersenyum paksa,
“Iya sayang, Kamu bener!” Elvira pun tersenyum seraya memberikan tatapan tajam pada Radit,
“Begitu ya? Syukurlah! Tadinya, Ayah dan ibu sangat khawatir jika hubungan kalian tidak akan berjalan baik karena pernikahan yang tiba tiba ini, tapi sepertinya kita tidak perlu khawatir kan Bu?” Ayah menatap ke arah Ibu dan Ibu memberi anggukan sebagai tanda ia setuju dengan ucapan ayah,
“Oya, Ayah sudah menyiapkan sesuatu untuk kalian,”
“Apa itu?” tanya El
Ayah mengeluarkan sebuah amplop berukuran sedang dan memberikannya pada Radit,
“Ini, Apa? Ayah,”
“Bukalah,”
Radit pun membuka amplop tersebut,
“Tiket pesawat?”
“Iya, Kalian akan berangkat minggu depan ke bali,”
“Bali? Ngapain kita kesana yah?” Tanya El heran
“Itu untuk kalian berbulan madu, meski hanya dua hari di waktu weekend saja, gunakan dengan baik, Ayah sudah membooking hotelnya, jadi kalian tinggal berangkat saja,”
“T-tapi yah, El lagi sibuk sibuknya, kan bisa lain kali yah,”
“El?”
Elvira pun tidak mampu menolak,
“Ya sudah, Kami pamit,Kalian lanjutkan istirahatnya,”
Elvira dan Radit pun mengantar mereka hingga depan pintu,
Setelah mereka pergi, Elvira menepis kasar tangan Radit yang sedari tadi menempel di bahunya,
Radit pun hanya mengangkat kedua bahunya dan melangkah masuk kembali ke dalam rumah,
Elvira menghela nafas panjang, dan melemparkan tiket yang sedari tadi ia pegang ke atas meja,
“Bagaimana ini?” Gumamnya
Radit kemudian menghampiri Elvira,
“Udah, Gini aja, Lo pergi aja sendirian kesana atau kalau gak ajak salah satu temen lo buat gantiin gue, beres kan?”
Elvira menatap tajam Radit,
“Lo kira semudah itu? Orang tua gue pasti ngawasin dan nyari tau apa gue bener bener pergi sama lo atau gak!”
“Ya udah, gak usah pergi aja, bilang kita lagi sibuk, gampang kan?”
Elvira mengambil bantal kursi yang ada di sampingnya dan dilemparkan ke arah Radit
Bug
Lemparan itu tepat mengenai wajahnya,
“Lo pikir segampang itu?” Ucap kesal Elvira
“Yaelah, Gini salah gitu salah, gimana lo aja deh!” Radit pun melangkah pergi meninggalkan Elvira,
Beberapa saat kemudian, Radit kembali dan sudah berganti pakaian,
“Lo mau kemana?” Tanya Elvira,
“Gue mau jalan sama si agus,” Radit pun melangkah pergi melewati Elvira,
***
Radit tiba di sebuah cafe, Matanya melihat ke arah sekitar mencari agus temannya,
“Mana sih tuh cunguk?” Gumamnya,
Hingga ia melihat seorang pemuda yang melambaikan tangannya di sudut ruangan,
“Woi, Gue disini!” teriak agus
Radit pun berjalan menghampiri Agus, langkahnya yang semakin dekat, membuat ia melihat semakin jelas melihat dua orang gadis yang duduk di satu meja bersama Agus,
“N-nabila?” Ucap gugup Radit,
“Hai, Kita ketemu lagi.” Sapa Nabila
Radit pun tersenyum tipis ke arah mereka, Ia kemudian menarik agus
“Maaf, sebentar ya,”
Radit pun membawa Agus sedikit menjauh dari mereka,
“Lo apa apaan sih? Kenapa lo gak bilang ngajak Nabila?” Bisik Radit
“Sorry, soalnya kalau gue jujur dari awal, lo pasti gak mau! Lagian gue kasian sama lo, karena kelamaan jomblo, lo jadi bersikap se prik itu kemaren sama Bu Elvira,”
Radit menghela nafas kasar,
“Denger! kemaren gue kayak gitu karena……” Ucapan Radit terpotong melihat kedua orang tua Elvira masuk ke dalam Cafe
‘Aduh! mampus gue! ada orang tuanya Elvira,’ Batin Radit,
Agus yang merasa heran dengan raut wajah Radit pun bertanya,
“Woi! Lo kenapa? Udah, Ayo!” Ajak Agus seraya menarik tangan Radit menuju ke meja mereka,