Raka menatap ragu sebuah pintu apartement yang dia datangi. Lelaki itu berdiri gusar disana, menimangnimang keputusannya untuk menekan bel itu, atau kembali menyeret langkah untuk pulang. Perasaan rindu dan cemasnya sudah tidak lagi mampu Raka pendam, Raka begitu merindukan sosok kecil yang baru saja memanggilnya dengan sebutan Papa beberapa waktu yang lalu. Dan Raka semakin tidak dapat mengontrol perasaannya lagi pada Mala, wanita yang sangat dia cintai sejak dulu hingga saat ini. Lelaki itu membuang napas panjangnya sebelum mengulurkan tangan, menekan bel yang ada di samping pintu itu. Raka menghentak-hentakkan kakinya cemas, takut jika nantinya Mala akan mengusirnya mengingat dirinya yang tidak pernah lagi menemui mereka setelah pertengkaran mereka di rumah sakit. Pintu itu terbuka,

