6. Melarikan Diri Part 1

1696 Words
Ahtissa yang masih tak sadarkan diri dibawa masuk oleh Bagong dan Rudi ke dalam Wisma Dahlia. Dalam keadaan pingsan, gadis cantik itu direbahkan ke dalam tempat tidur di kamar tamu yang tengah kosong. Kedua pria yang berprofesi sebagai mucikari tersebut memanggil beberapa wanita yang tergabung dalam Pekerja Seks Komersial (PSK) yang masih menganggur karena belum mendapat pelangggann malam ini. “Mawar, Bunga, Lily, kemari bantu aku! Gadis ini pingsan. Bantu aku biar dia bisa siuman,” panggil Bagong pada beberapa PSK yang duduk di sofa panjang guna menanti kedatangan para pria-p****************g. Beberapa nama wanita yang dipanggil Bagong merupakan nama samaran dari mereka yang memutuskan untuk menjadi seorang PSK. Nama yang khusus diberikan oleh para mucikari mereka guna menjajakan diri. “Siap, Bos!” sahut Mawar yang berwajah cukup cantik, bertubuh seksi, dan berkulit eksotis. Berusia hampir 30 tahun. Ia merupakan seorang wanita yang memilih masuk ke lembah hitam setelah memutuskan merantau, tetapi susah mendapat pekerjaan yang bergaji cukup besar. Berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur. Disusul dengan Bunga yakni seorang gadis desa yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah yang berniat mengadu nasib ke kota metropolitan, Surabaya namun malah terjerat prostitusi. Semacam Ahtissa yang butuh uang untuk bertahan hidup dan masih muda sekitar usia 21 tahun. Kemudian diikuti dengan Lily yang berusia 23 tahun yang datang dari Kalimantan Selatan yang mengadu nasib ke Pulau Jawa terutama Jawa Timur untuk bertemu teman yang mengaku bekerja sebagai TKW di Taiwan. Namun sayangnya sang teman ternyata seorang PSK di Surabaya Barat. “Wow, cantik juga. Masih muda ya. Bos bilang gadis pula. Masih perawan dong yang ini, Bos!” sambung Mawar yang terkesima dengan kecantikan Ahtissa yang berdarah Indonesia dan Filipina dari sang kakek yang dulunya pernah tinggal di Manila. Memiliki garis keturunan di sana. Lily menimpali ucapan Mawar. “Wah, dikasih nama siapa ini, Bos? Cantik gini.” Bagong langsung menjawab. “Camelia. Panggil dia Camelia. Cantik kayak bunga camelia warna putih yang masih suci. Buat yang muda-muda gini bisa jadi anak emas. Apalagi perawan. Harga tawarnya harus tinggi,” celoteh Bagong yang mata duitan. Rudi menyela. “Jelaslah. Aku tahu siapa besok tamu yang cocok buat Camelia ini.” “Siapa memang, Bos???” tanya Bunga yang kemudian wajahnya jadi murung saat melihat Ahtissa. Bunga jadi melihat seperti dirinya sendiri dua tahun yang lalu saat baru saja menginjakkan kaki di Wisma Dahlia. Yang harus menyerahkan kehormatan sebagai gadis kepada seorang p****************g kaya raya yang membeli ‘harga diri’-nya seharga lima puluh juta rupiah semalam. “Tuan Daffin Gunandra yang sudah semingguan ini mencari seorang gadis perawan untuk dijadikan cinta satu malam. Dia sudah bilang aku dan order seperti keinginannya. Aku rasa Camelia ini pasti cocok dengan Tuan Daffin,” jawab Rudi antusias. Lily ikut bersuara. “Dia berani bayar harga berapa Bos untuk Camelia ini?” tanya wanita itu penasaran. Sebelum menjawab pertanyaan Lily, Rudi melirik ke arah Bunga yang dulunya jadi primadona karena masih muda dan seorang kembang desa. “Dua kali lipat dari dari tarif Bunga dulu. Seratus juta rupiah. Sekarang tahun 2021 kan. Dulu bunga tahun 2019. Pastinya tarif harus naik mengikuti harga pasar.” Bunga menggigit bibir bawah saat mendengar ucapan mucikari. Ia jadi kasihan pada Ahtissa yang masih pingsan. Menatap iba ke arah gadis cantik itu sambil bergumam dalam hati. Kira-kira kisahmu sama kayak aku nggak ya? Kalau sama, jangan sampai kayak aku. Aku saja menyesal sampai saat ini masih berada di sini. Harus pakai topeng saat pulang ke Kebumen. Membohongi keluarga dan bilang kalau kerja halal di Surabaya. Saat kau sadar, coba aku tanya padamu kenapa bisa sampai di sini. Bunga tampaknya berada di pihak Ahtissa jika ia sadar nanti. Semua orang yang ada di kamar tersebut berusaha agar gadis yang pingsan itu segera siuman. Mereka semua melakukan pertolongan pertama untuk orang pingsan. Bagian kakinya diberi bantal agar bisa lebih tinggi dari paha agar darah mengalir lancar ke otak supaya merespon untuk bisa cepat sadar. Lalu melonggarkan baju yang dipakai Ahtissa. Hingga memberinya minyak kayu putih untuk ditaruh di depan lubang hidung guna memancing kesadaran. Beberapa menit kemudian, Ahtissa pun tersadar dari siuman. Lantas ia mengejap-ejapkan mata. Ketika melihat sekeliling, netra cokelat gelap milik Ahtissa langsung mendelik saat melihat Bagong dan Rudi ada di sampingnya. Seketika ia menjerit. “Aarrrgghhhh …” pekik Ahtissa. “Kenapa aku bisa sampai di sini? Aku nggak mau di sini. Aku pulang saja.” Ketika Ahtissa hendak bangkit dari tempat tidur, langsung ditahan oleh Rudi dan Bagong. Ia pun memberontak lagi hingga membuat ketiga wanita yang berada di sana tercengang sambil membuka mulut lebar-lebar. “TOLONG LEPASKAN AKU! AKU MAU PERGI DARI SINI!!!” pekik Ahtissa frustasi. “Camelia, katanya kau mau kerja. Kerjamu di sini. Kau jadi anggota keluarga Wisma Dahlia. Ingat, namamu adalah Camelia. Kau bisa mulai kerja besok. Tugasmu hanya melayani Tuan Daffin Gunandra besok. Sekarang kau bisa istirahat dulu dan adaptasi tempat tinggalmu yang baru,” ucap Bagong yang diangguki Rudi. Ahtissa memberontak. “Kalian berdua telah menipuku. Aku hanya mau kerja yang halal. Katanya kalian yang mengurusi outsourching ternyata malah prostitusi,” keluh Ahtissa sambil terisak. Masih tak menyangka bahwa di usianya yang masih sangat muda sudah harus terjerat lembah hitam seperti ini. Bunga terlonjak mendengar ucapan Ahtissa. Seolah-olah mengulang kejadian 2 tahun yang lalu terkait dirinya yang juga dipaksa para mucikari seperti ini. Hingga akhirnya tak bisa lepas dari rumah bordir ini. “Bos, ini maksudnya kalian memaksa gadis ini untuk jadi PSK???” tanya Bunga yang khawatir pada Ahtissa. Rudi menjawab pertanyaan salah satu pekerja seks komersial di Wisma Dahlia tersebut. “Dia sangat butuh kerja. Parasnya yang menawan dan tubuhnya yang cukup seksi bisa menjadi daya tarik para pria berduit,” jawab Rudi lalu melirik ke arah Ahtissa. “Uangmu bisa banyak jadi PSK di sini. Cuma cukup jual diri.” Mendengar ucapan Rudi, Ahtissa yang geram sontak menampar pipi pria itu ketika mendengar kata ‘jual diri’ yang terlontar dari mulut mucikari itu. PLAKKK! “Kalian benar-benar menipuku! Aku nggak mau jual diri. Aku mau pergi dari sini!” jerit Ahtissa sambil berlinang air mata. Bunga angkat bicara. “Bos, ini namanya kalian melakukan penyekapan sama dia. Ini kriminal. Kenapa sih kalian tetap cari mangsa gadis-gadis muda yang masih perawan kayak gini,” keluh Bunga. Mawar menyela kalimat yang terlontar dari mulut Bunga. “Sudahlah, Bunga. Kayak nggak tahu mucikari saja. Kalau sudah terlanjur masuk sini ya mau tak mau kudu terjun langsung di dalamnya,” celetuk Mawar sambil melirik ke arah jam dinding. “Wah, sudah saatnya aku melayani tamuku malam ini. Bunga, Lily, kalian tenangkan Camelia dulu ya. Temani dia di kamar barunya. Aku nggak bisa ikut temani kalian.” Bunga mengangguk dan Lily bersuara. “Aku juga sama kayak kamu, Mawar. Bentar lagi mau ketemu kamu. Biarkan Bunga saja yang temani,” sahut Lily lalu bergegas meninggalkan kamar itu disusul Mawar. Bagong ikut bersuara. “Bunga, kau temani dia dulu. Tenangkan dia. Mulai hari ini dia adalah Camelia selaku PSK prostitusi ini. Siap-siap bertemu tamu besok. Kau ajari dia cara menyambut tamu!” perintah pria paruh baya itu yang kemudian bergerak keluar dari kamar diikuti oleh Rudi. Bunga pun mengangguk. Lalu mendekat ke arah Ahtissa yang seperti mengalami trauma akibat ‘salah masuk kamar’ atau lebih tepatnya kesalahan telah percaya dengan Bagong dan Rudi yang merupakan mucikari. Saat hanya tertinggal Ahtissa dan Bunga di sana, Bunga mendekati gadis malang itu lalu mengusap air mata yang jatuh di pipi halusnya. “Camelia, kamu yang sabar. Tenang dulu. Aku paham perasaanmu. Dulu pun aku pernah mengalami hal ini. Takdir buruk mengarah pada kita saat sudah masuk ke sini,” hibur Bunga. Ahtissa menatap kecewa pada Bunga. “A-aku nggak mau kerja di sini. Aku nggak mau jual diri. Bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini? Tolong bantu aku!” pinta Ahtissa dengan mata berkaca-kaca sembari meletakkan tangannya di tangan Bunga. Memohon agar wanita itu mau menolongnya. Bunga berdeham. “Hmm … aku ada ide. Kau bisa melarikan diri besok saat mereka sibuk mengatur tamu untukmu besok. Kita bisa lewat jalan pintas.” Ahtissa mendesah agak lega. “Benar, ya? Besok kau bisa bantu aku kabur kan, Bunga? Tapi kenapa tidak malam ini saja? Lebih cepat lebih baik kan?” Bunga berdecak. “Malam ini kau pasti dijaga ketat. Kau calon anak emas mereka, Camelia. Kau takkan bisa kabur malam ini. Tunggulah sampai besok. Aku bisa membantumu untuk mengelabui dua mucikari itu. Sekarang kau istirahat saja dulu di sini.” Ahtissa manggut-manggut. Lalu bersuara kembali. “Bunga, boleh aku tanya?” “Tentu saja. Kenapa?” “Kau bilang kisah kita sama. Tapi kenapa masih tetap di sini? Kenapa nggak kabur juga?” tanya Ahtissa sambil mengerutkan kening. Bunga mendesah pelan lalu tersenyum tipis. “Aku nggak punya pilihan lain, Camelia. Sudah terlanjur masuk ke sini. Dulu aku pernah mencoba kabur namun tertangkap. Setelah itu mereka benar-benar memasukkanku ke kandang macan. Maksudku menjadikanku alat pemuas nafsu p****************g yang merenggut kehormatanku malam itu. Selanjutnya aku hanya bisa pasrah menjalani profesiku sebagai Pekerja Seks Komersial,” cerocos Bunga panjang lebar mengenai masa lalunya. Deg. Ahtissa tercengang mendengar cerita pilu dari Bunga. “Astaga, jika kau kabur sampai tertangkap. Apa aku besok tidak tertangkap juga?” tanya Ahtissa frustasi. “Kita coba dulu. Siapa tahu nasib baik berpihak padamu,” sahut Bunga memberi motivasi untuk Ahtissa. Ahtissa pun mengangguk. Ia mulai bertukar cerita dengan Bunga yang dirasa bisa untuk dijadikan teman. Keduanya pun saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Hingga menjelang larut malam, Bunga berpamitan untuk kembali ke kamarnya. “Aku balik ke kamarku dulu, ya. Kau jangan berpikiran macam-macam. Malam ini istirahatlah dulu sebelum kau melarikan diri besok. Oke?” Ahtissa mengangguk. “Iya, terima kasih banyak. Semoga besok aku berhasil kabur.” Bunga pun melenggang keluar dari kamar Ahtissa. Namun sayangnya ada yang menguping pembicaraan kedua wanita itu dari balik pintu kamar. Sosok perempuan itu membatin. Hmm … aku tahu rencana kalian. Enak saja mau kabur. Perempuan yang sudah masuk ke Wisma Dahlia takkan bisa melarikan diri dari sini. Rencana kalian akan gagal besok. Batin wanita misterius itu yang langsung beranjak pergi setelah menguping pembicaraan Ahtissa / Camelia dan Bunga. Apakah rencana melarikan diri yang dilakukan Ahtissa besok berjalan lancar atau malah gagal?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD