Ingga berjalan cepat menghampiri lelaki tampan asal Yunani yang berada jauh di depannya. “Hamish! Tunggu!” ucapnya. Suaranya terdengar menggema ke seluruh penjuru lorong rumah sakit.
“Tunggu, Hamish! Dengarkan penjelasanku dulu ..,” ucap Ingga seraya memegang lengan Hamish.
Hamish hanya terdiam di tempatnya seraya menatap perempuan cantik yang sedang berdiri di hadapannya ini dengan tatapan sinis nan membunuh. Ingga lanjut bicara lagi setelahnya, napasnya masih terdengar sedikit terengah-engah. “I’m sorry ..,” lirih Ingga.
Hamish mengerutkan dahi mulusnya, “Why, Ingga, why? Bisa-bisanya kamu bermesraan dengan lelaki Italia sialan itu di belakangku ..” Hamish beralih membentak Ingga seraya menatapnya tajam, “Apa kamu sudah lupa kalau aku adalah kekasihmu?!”
“I’m so sorry, Hamish ..,” lirih Ingga seraya memegang kedua lengan Hamish.
Hamish terdiam sejenak sebelum kembali bicara. “Aku mau mulai besok, kamu tidak berhubungan lagi dengan lelaki Italia itu,” ucapnya dingin.
Dahi mulus Ingga langsung mengkerut, “Maksudmu?”
“Jauhi dia, Ingga. Lupakan dia. Aku benci setiap kali harus melihatmu bersama dengan dia,” ucap Hamish seraya menatap Ingga dengan tatapan matanya yang tajam nan membunuh.
Ingga tertegun kaget. Dia terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Maaf, tapi aku tidak bisa melakukannya, Hamish ..”
Hamish tersenyum sinis seraya melipat tangannya di depan d**a bidangnya, “Kenapa? Karena dia temanmu?”
Ingga menggeleng perlahan. “Tidak, Keenan bukan hanya sekadar temanku. Dia sahabatku, Hamish. Kami sudah banyak menghabiskan waktu bersama, bahkan jauh sebelum aku bertemu denganmu,” ucapnya serius.
‘Dan sepertinya aku mulai jatuh cinta dengannya,’ batin Ingga getir.
Senyum sinis di wajah tampan Hamish melebar, “Apa yang barusan kamu bilang? Sahabat?” Hamish beralih menatap Ingga tajam seraya mengepalkan kedua tangannya, “Okay, now tell me, bagaimana mungkin seorang sahabat melakukan hal yang baru saja aku lihat tadi? Berciuman, bermesraan di atas ranjang?”
Ingga langsung tertegun kaget seketika mendengar apa yang baru saja keluar dari bibir lelaki tampan asal Yunani yang sedang berdiri di hadapannya ini. Tubuhnya terasa langsung membatu. Bibirnya seolah-olah terkunci, tak mampu berkata apa-apa lagi.
Hamish lanjut bicara seraya menatap Ingga kesal, kepalan tangannya terlihat semakin menguat. “Jawab aku, Ingga!” bentaknya kasar.
Tanpa sadar, setetes air mata langsung jatuh, membasahi pipi mulus Ingga yang terlihat semakin memerah. Mata indahnya tak lagi mampu membendung emosi dan air mata yang daritadi terus ditahannya. “Aku .. aku mau menyudahi semuanya, Hamish ..,” lirih Ingga.
Dahi mulus Hamish semakin mengkerut, “Apa yang barusan kamu bilang?”
“Aku ingin putus denganmu,” ucap Ingga seraya menatap Hamish nanar.
Sebuah petir seolah-olah langsung menghambar kepala seorang Hamish Alexander. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Hamish menggeleng seraya menatap Ingga tajam, “No. Aku tidak akan mengakhiri hubungan kita, apapun yang terjadi.”
Setetes air mata kembali meleleh di pipi mulus Ingga setelahnya. “Aku tidak bisa mempertahankannya lagi, Hamish .. Aku .. aku merasa tidak bahagia dengan hubungan ini ..,” ucapnya dengan tatapan nanar.
Hamish tersenyum miring. “Bagaimana bisa kamu merasa bahagia denganku kalau yang ada dalam pikiranmu hanya lelaki Italia sialan itu, Ingga?” ucapnya sinis.
Ingga beralih menatap Hamish dengan tatapannya yang tak kalah sinisnya. Ya, tidak boleh ada yang berkata seperti itu pada Keenan. “Dia punya nama, Hamish! Namanya Keenan! Berhenti memanggilnya seperti itu!” bentaknya.
Senyum miring di wajah tampan Hamish melebar, “Oh, jadi sekarang kamu lebih membela dia daripada aku?” Hamish kembali bicara seraya menatap Ingga tajam, “Sudah berapa lama kamu mendua dengan lelaki Italia sialan itu, Ingga?”
Ingga hanya terdiam seraya menatapi dinding rumah sakit yang dicat putih bersih, enggan menatap balik wajah tampan Hamish.
Melihat Ingga yang tak kunjung menjawab, emosi seketika memuncak dalam diri Hamish. Hamish beralih memegang kedua pundak Ingga seraya menggoyang-goyangkan tubuh mungilnya dengan kasar setelahnya. “Jawab aku!” bentak Hamish kasar.
Ingga menatap Hamish kesal. “Itu bukan urusanmu!” bentaknya.
Emosi seketika meledak dalam diri seorang Hamish Alexander. Hamish menatap Ingga dengan tatapan yang begitu berapi-api, lalu melayangkan tanganya ke udara setelahnya, hendak menampar Ingga.
Tapi belum sempat Hamish mendaratkan tangannya ke pipi mulus Ingga, sebuah tangan tiba-tiba mencegat aksinya. Ya, pemilik tangan itu tak lain dan tak bukan adalah Keenan Lorenzo.
Keenan menatap Hamish tajam. “Jangan sentuh dia,” ucapnya dingin.
Ingga menatap Keenan kaget, “Ke .. keenan ..”
Keenan beranjak mendorong tubuh Hamish dengan kasar setelahnya. “Pergi sekarang juga,” ucapnya sinis seraya menatap Hamish dingin.
Hamish menatap Keenan sinis sebelum akhirnya beralih menatap Ingga dengan tatapan tajam nan membunuhnya. “Kamu hanya milikku, Ingga. Aku akan kembali lagi nanti, ingat itu,” ucapnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Keenan dan Ingga sendirian.
Ingga beralih memeluk Keenan dengan erat setelahnya. “Hiks, Keenan ..,” lirih Ingga.
Keenan membalas pelukan erat Ingga lalu beranjak mencium pucuk kepalanya sejenak. “Shh .. it’s okay, baby ..,” bisiknya seraya mengelus perlahan rambut panjang Ingga. Keenan melepas pelukannya lalu beralih menangkupkan wajah cantik Ingga setelahnya, “Kamu tidak apa-apa kan? Lelaki Yunani sialan itu tidak melukaimu kan?”
Ingga tersenyum tipis seraya mengangguk perlahan, “I’m okay, Keenan.”
Melihat raut wajah Keenan yang seketika berubah seperti orang yang sedang menahan sakit, seketika Ingga langsung merasa khawatir. “Ayo kembali ke kamarmu,” ucapnya seraya membantu Keenan berjalan kembali ke kamar rawat inapnya. “Maaf, aku pasti sudah mengganggu waktu istirahatmu, ya?” ucap Ingga sesaat setelah sampai di dalam kamar rawat inap tempat Keenan dirawat.
“No, it’s okay,” ucap Keenan seraya tersenyum dan mengelus perlahan pipi mulus Ingga.
Ingga lanjut bertanya, “Bagaimana bisa kamu tahu kalau aku dan Hamish masih di luar tadi?”
Keenan mengangkat bahunya, “Just feeling. Entah mengapa tiba-tiba perasaanku tidak enak tadi.” Keenan lanjut bicara seraya menatap Ingga kesal, “And you know what? Begitu aku keluar kamar, aku malah mendapati lelaki Yunani sialan itu mau menamparmu.”
Ingga tersenyum kecut, “Hamish memang emosional ..”
‘Sialan,’ batin Keenan. “Really?” ucapnya kesal.
Ingga tak menjawab, enggan membicarakan Hamish lebih jauh. Ingga mengalihkan pembicaraannya setelahnya, “Sudah malam, sepertinya lebih baik aku pulang sekarang.”
Keenan beralih memegang pergelangan tangan Ingga seraya menatapnya tajam, “No, stay here.”
“Tapi ..”
Keenan memotong ucapan Ingga. “Tinggallah bersamaku malam ini .. Please, aku tidak suka kalau harus tinggal sendirian di sini ..,” ucap Keenan seraya menatap Ingga dengan tatapan iba.
Ingga tersenyum manis setelahnya, tak tega meninggalkan Keenan sendirian di rumah sakit. “Okay, aku akan tetap di sini,” ucapnya ramah. Ingga lanjut bertanya, “Orangtuamu sudah tahu kalau kamu masuk rumah sakit?”
Keenan tersenyum seraya mengangguk, “Hmm .. aku sudah menelepon Nicolás tadi, dia pasti sudah memberitahukan ayah dan ibuku juga.”
Ingga menatap Keenan bingung, “Nicolás?”
Senyum di wajah tampan Keenan melebar, “Iya, kakak laki-lakiku. Dia menetap di Italia sekarang.”
“Ah, begitu ..,” ucap Ingga seraya mengangguk perlahan.
Keenan lanjut bicara seraya menatap Ingga dengan tatapan nakalnya, “For your information, aku jauh lebih tampan jika dibandingkan dengan Nicolás.”
Ingga tersenyum geli, “Aku tidak peduli, Keenan.”
“Kamu pasti belum makan ya?” ucap Keenan seraya tersenyum dan menyisir perlahan rambut panjang Ingga dengan jari tangannya.
Ingga menggeleng perlahan, “Belum. Aku tidak lapar.”
Senyum di wajah tampan Keenan luntur seketika, berganti dengan raut penuh kekhawatiran setelahnya, “Kamu harus makan, Ingga. Aku tidak mau kalau sampai kamu jatuh sakit.”
Ingga tersenyum manis. “Aku tidak lapar, Keenan .. Kamu tidak usah khawatir,” ucapnya seraya mencoba menenangkan Keenan.
Keenan menatap Ingga serius, “No excuse, baby.” Keenan beralih mengambil sebuah nampan stainless steel berisi makan malam—yang tergeletak di atas meja kecil di samping ranjangnya, lalu memberikannya pada Ingga setelahnya. “Here,” ucapnya ramah.
“Ini kan makan malammu?” ucap Ingga bingung.
Keenan beranjak mencium bibir Ingga sekilas, membuat pipinya merona merah seketika, “Makan saja, sayang.” Keenan beralih mengelus perlahan pipi mulus Ingga dengan ibu jarinya, “Apa mau sekalian aku suapi, hm?”
Ingga langsung menggeleng. “No! Aku bisa makan sendiri,” ucapnya kikuk.
Keenan hanya menyeringai puas. “Bagaimana rasanya?” tanya Keenan sesaat setelah Ingga mencicipi nasi sup ayam pemberiannya.
Dahi mulus Ingga langsung mengkerut, “Rasanya hambar, Keenan. Sepertinya kurang garam.”
Keenan beralih mencicipi nasi sup ayam yang sedang dimakan Ingga setelahnya. Benar, rasanya memang hambar. Padahal kelihatannya enak sekali. Keenan lanjut bicara, “Sepertinya masakan buatan rumah sakit memang selalu hambar ya.”
Ingga hanya tersenyum manis seraya menatap wajah tampan Keenan. Setelahnya, Ingga beralih meminum sekotak jus jeruk pemberian Keenan. “Merasa lebih baik sekarang?” ucap Keenan seraya mengelus perlahan punggung tangan Ingga yang terasa amat halus itu.
Ingga tersenyum manis seraya mengangguk, “Hmm .. thanks, Keenan ..”
Keenan membalas senyum manis Ingga, “You’re very welcome, baby.”
Tak lama setelahnya, akhirnya Ingga jatuh tertidur. Sama seperti sebelumnya, Ingga tertidur persis di samping Keenan. Lelaki tampan keturunan setengah Italia itu hanya terdiam seraya tersenyum dan menatapi wajah cantik Ingga—yang nampak begitu damai saat sedang tertidur.
Tiba-tiba, bunyi berisik pintu yang dibuka lagi-lagi menyadarkan Keenan dari lamunannya. Kedua mata Aksa langsung membulat bagai bola pingpong seketika mendapati Ingga, yang sedang lelap tertidur di samping Keenan—di atas ranjang yang sama pula.
“Ingga?! Kok tiduran di situ?!” ucap Aksa heboh.
“Shh!” bisik Keenan kesal.
Aksa tersenyum kikuk, “Sorry.”
Keenan lanjut bertanya, “Bagaimana Damian? Sudah bertemu dengan Aletta?”
Aksa menggeleng, “Belum, Aletta tidak ada di rumahnya.” Aksa terdiam sejenak seraya memperhatikan wajah cantik Ingga, sebelum akhirnya kembali bicara, “Ingga? Bagaimana?”
Keenna tersenyum ramah, “It’s okay, dia tinggal bersamaku malam ini.”
Aksa menatap Keenan dengan raut wajah yang amat kaget nan terkejut di saat yang bersamaan, “Di sini? Di kamar ini? Berduaan saja denganmu?”
“Yeah, kalau kamu mau join, kamu tidur di atas lantai sana,” canda Keenan.
Aksa hanya memutar bola matanya. Aksa beralih mengambil ransel hitamnya lalu berpamitan pulang setelahnya. “Aku pulang dulu,” ucapnya seraya menepuk pundak lebar Keenan.
Keenan tersenyum manis, “Hati-hati.”
Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Perlahan, sunyinya malam membuat Keenan merasa semakin mengantuk. Dalam gelapnya kamar rawat inapnya, Keenan memperhatikan sejenak wajah cantik Ingga, yang masih terlelap tidur persis di sampingnya. ‘Aku berharap suatu saat nanti bisa selalu menatap wajah cantikmu seperti ini, Ingga,’ batinnya.
Keenan beralih mengambil sebuah selimut lalu beranjak menyelimuti tubuh Ingga dan tubuhnya setelahnya, sebelum akhirnya beralih mencium dahi dan bibir Ingga sekilas. “Selamat malam, sayang,” bisiknya.
*****
Begitu membuka perlahan kedua mata indahnya di keesokan harinya, wajah tampan Keenan-lah yang pertama kali dilihat oleh Ingga. “Selamat pagi, Ingga ..,” ucap Keenan seraya tersenyum manis.
Ingga langsung terkejut. Ya, wajah Keenan berada dekat sekali dengan wajahnya. “Astaga, kamu mengagetkanku, Keenan!” ucapnya kaget seraya menjauhkan tubuhnya sedikit dari tubuh Keenan.
Keenan hanya tersenyum nakal.
Ingga lanjut bertanya. “Kamu sudah bangun daritadi?” tanyanya bingung.
Keenan menggeleng, “No, baru sepuluh menit yang lalu.”
“Ah, begitu ..” Setelahnya, wajah cantik Ingga langsung merona padam seketika kedua mata indahnya mendapati milik Keenan yang terlihat amat menonjol di bawah sana. Keenan langsung menyeringai nakal, tahu persis ke mana arah kedua mata Ingga—yang daritadi tak berhenti berkedip itu, menatap.
“Why, baby? Apa kamu mau menyentuhnya?” goda Keenan.
Ingga langsung menggeleng, “No! Dasar m***m ..,” Ingga lanjut bicara dengan raut wajah yang terlihat amat canggung setelahnya, “Le .. lebih baik aku pergi sekarang ..”
“Kok buru-buru sekali?” goda Keenan lagi.
“Aku .. aku harus berangkat kerja, Keenan,” ucap Ingga kikuk.
“Benarkah? Bukankah ini hari Sabtu, hm?” goda Keenan seraya menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik Ingga.
‘s**t, bagaimana bisa aku lupa kalau ini hari Sabtu,’ batin Ingga kesal. “Ah, itu, aku mau pulang sebentar sekalian mandi dan ganti baju,” ucap Ingga, masih dengan raut wajah yang terlihat amat canggung.
“Tidak mau mandi di sini saja?” ucap Keenan seraya tersenyum nakal.
Ingga tersenyum geli, “Aku kan tidak bawa baju ganti.”
“Pakai saja bajuku,” ucap Keenan santai. ‘Lebih baik sih tidak usah pakai baju saja sekalian,’ batinnya.
“Masa iya aku pakai baju kamu?” canda Ingga. “Sudah ah, aku mau pulang dulu sebentar, nanti aku ke sini lagi,” lanjutnya.
Keenan memegang pergelangan tangan Ingga, “Wait.” Keenan beranjak mencium lembut dahi dan bibir Ingga setelahnya. “Hati-hati di jalan,” bisiknya.
Ingga hanya tersenyum malu.
*****
Begitu sampai di pelataran rumahnya, dahi mulus Ingga langsung mengkerut seketika mendapati sebuah mobil ferrari merah yang terparkir tak jauh dari rumahnya. ‘Ah, tunggu dulu, aku ingat betul siapa pemilik mobil itu,’ batin Ingga kecut.
Ingga berjalan perlahan mendekati Hamish Alexander—sang pemilik mobil, yang sedang berdiri sendirian seraya melamun dan menyenderkan punggungnya di depan mobil ferrari merahnya setelahnya. “Hamish?” ucap Ingga dengan raut wajah tak percaya.
Hamish langsung menoleh seraya tersenyum haru, “Ingga?”
Tanpa basa-basi, Hamish langsung memeluk erat tubuh mungil Ingga dan mencium pucuk kepalanya dalam-dalam. “Aku sangat merindukanmu, sayang,” ucapnya.
Ingga hanya berdiri terdiam, sama sekali tak menggubris pelukan erat seorang Hamish Alexander.
♥♥TO BE CONTINUED♥♥