Keenan Lorenzo terbangun dari tidur lelapnya seketika merasakan rasa sakit yang luar biasa di daerah kepalanya. Lelaki tampan keturunan setengah Italia itu beralih mengerutkan dahi mulusnya seraya memegangi kepalanya sejenak. “Sial ..,” umpatnya.
Keenan beranjak melihat ke arah sekelilingnya setelahnya. Kamar tidurnya gelap, hanya diterangi oleh rembulan yang cahayanya masuk melalui celah jendela kaca kamar tidur. Sunyi dan dinginnya angin malam seketika langsung memenuhi benaknya. Setelahnya, Keenan beralih melihat jam yang terpatri di dinding apartemennya sejenak. Waktu menunjukkan hampir pukul dua dini hari.
“Tunggu dulu, sejak kapan aku sampai di apartemen?” ucap Keenan bingung seraya mengerutkan dahi mulusnya. Ya, Keenan ingat betul, bukankah tadi dirinya sempat kehilangan kesadaran tepat sebelum memasuki ruang operasi? Bagaimana bisa tiba-tiba Keenan sudah kembali ke apartemennya?
Tak lama setelahnya, suara erangan seorang perempuan menyadarkan Keenan dari lamunannya. “Nghh ..,” erang perempuan itu.
Keenan menoleh ke arah sampingnya setelahnya, dan langsung terkejut bukan main begitu dirinya mendapati siapa perempuan yang sedang tertidur persis di sampingnya. Ya, Ingga Asmarani, sahabatnya yang juga telah berhasil mencuri hatinya.
“Ingga?!” ucap Keenan tak percaya.
Keenan bergerak mendekati Ingga setelahnya, lalu beralih menurunkan selimut putih tebal yang menutupi tubuh Ingga dengan perlahan. Kedua mata coklat terangnya langsung membulat seketika mendapati Ingga, yang tubuhnya tak tertutup sehelai benangpun, sama seperti dirinya.
“What the f*ck?!” umpat Keenan kencang.
Tiba-tiba, Ingga langsung terbangun dari tidurnya seketika mendengar suara umpatan Keenan yang amat kencang. Ingga membuka kedua mata indahnya perlahan lalu beralih tersenyum manis setelahnya. “Keenan? Kamu sudah bangun?” tanyanya ramah.
“Ingga .. bagaimana bisa kamu ada di sini?” tanya Keenan dengan raut wajah bingungnya. ‘Tidur di atas ranjangku, telanjang pula,’ batinnya.
Ingga tersenyum malu, “Kamu lupa ya?”
Dahi mulus Keenan langsung mengkerut, “Lupa apa?”
Ingga hanya terdiam. Senyum malu di wajah cantiknya melebar. Rona kemerahan terlihat mulai menghiasi pipi mulusnya.
Keenan terdiam sejenak untuk berpikir. “Kita .. baru saja selesai bercinta?” tanya Keenan yang raut wajah tampannya dipenuhi dengan rasa ketidakpercayaan.
Wajah cantik Ingga tambah merona seketika mendengar apa yang baru saja keluar dari bibir Keenan. Ingga hanya mengangguk perlahan seraya menggigit bibir bawahnya dan menatapi wajah tampan Keenan dengan raut malu-malunya.
‘Sialan,’ batin Keenan. “Bagaimana bisa?” tanyanya.
“Kamu yang memintanya, Keenan ..,” ucap Ingga malu-malu. Ingga kembali bicara dengan wajah cantiknya yang terlihat semakin merona merah, “Kamu .. liar dan b*******h sekali tadi ..”
‘Tidak, tidak mungkin. Ini pasti hanya mimpi,’ batin Keenan. Dengan cekatan, Keenan beralih menindih tubuh mungil Ingga setelahnya. “Keenan ..,” ucap Ingga.
“Shh .. quiet, baby ..,” bisik Keenan. Keenan beralih menangkupkan wajah cantik Ingga dengan kedua tangannya seraya menatapnya serius, “Aku tidak peduli mau dalam mimpi ataupun dalam dunia nyata sekalipun, aku akan tetap mencintaimu, Ingga.” Keenan beralih mencium bibir Ingga sekilas, “I love you so much ..”
Ingga tersenyum manis seraya mengalungkan tangannya dengan manja di leher Keenan, “I love you too, Mister Lorenzo.”
Keenan hanya tersenyum nakal. Setelahnya, Keenan beranjak menciumi leher mulus Ingga, menghujaninya dengan kecupan-kecupan hangat nan membangkitkan gairah. “Nghh Keenan ..,” desah Ingga seraya meremas lembut rambut tebal kecoklatan milik Keenan.
Keenan beralih menyingkirkan selimut putih tebal yang menutupi tubuh Ingga dengan kasar setelahnya. Keenan langsung menelan ludahnya dengan kasar seketika melihat bagaimana indah dan menggairahkannya tubuh perempuan cantik yang amat dicintainya itu.
“Damn, you’re so sexy, Ingga ..,” bisik Keenan seraya mengelus perlahan paha mulus Ingga. Keenan beralih menciumi puncak gundukan ranum Ingga seraya meremasnya dengan lembut setelahnya.
“Ahh Keenan ..,” desah Ingga yang tak kuasa menahan betapa nikmatnya remasan tangan Keenan di daerah gundukan ranumnya.
Sebuah ide nakal memenuhi benak Keenan setelahnya. Jari-jari tangannya mulai bergerak turun perlahan, merasakan bagaimana lembut dan halusnya kulit tubuh seorang Ingga Asmarani, sebelum akhirnya sampai tepat di depan lipatan dagingnya yang sudah basah. Keenan membelai lubang surga Ingga sejenak lalu beralih menekan klitorisnya dengan lembut.
“Ahh Keenan!” desah Ingga kencang.
Keenan beralih mencium lembut bibir Ingga sejenak. “Aku boleh memasukimu?” ucapnya dengan raut wajah yang sudah begitu penuh oleh gairah.
Ingga mengangguk perlahan seraya menangkupkan wajah tampan Keenan, “Kamu boleh memasukiku kapanpun kamu mau, Keenan ..” Ingga beralih mencium lembut bibir Keenan setelahnya, “Aku milikmu, selamanya ..”
Entah mengapa, Keenan malah merasa kepalanya berputar seketika. Sekelilingnya berubah menjadi gelap dan semakin gelap, sebelum akhirnya dirinya kembali tak sadarkan diri dan menutup kedua matanya yang bersinar coklat terang itu. Wajah cantik Ingga seketika luntur dalam bayangannya ..
*****
Waktu menunjukkan hampir pukul sembilan malam saat Keenan Lorenzo terbangun dari tidurnya. Napasnya sedikit terengah-engah. Peluh terlihat sedikit membasahi pelipis mulusnya. Keenan melihat lagi ke arah sekelilingnya setelahnya, lalu menghela napas sejenak begitu mendapati kalau dirinya masih berada di rumah sakit.
Keenan tertegun kaget seketika mendapati Ingga, yang sedang tertidur di atas kursi yang letaknya persis di samping ranjang pasiennya. Ya, Ingga sedang menunggunya sendirian sejak tadi.
Keenan beranjak mengelus pipi mulus Ingga dengan perlahan. ‘Ternyata benar, yang tadi itu hanya mimpi,’ batinnya getir. Sebuah senyum miris menghiasi wajah tampannya setelahnya, “Mimpi yang terlalu indah untuk dilupakan ..”
Tiba-tiba, Ingga langsung terbangun dari tidurnya seketika merasakan sesuatu yang lembut menyentuh kulit wajah cantiknya. “Keenan?! Kamu sudah bangun?!” ucapnya kaget.
“Shh .. quiet, baby .. Kamu tidak mau membangunkan seisi rumah sakit kan?” goda Keenan seraya tersenyum.
“Aku khawatir sekali tadi, Keenan .. Kamu membuat aku takut setengah mati, kamu tahu tidak?” ucap Ingga cemas. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh dan melehi pipinya setelahnya, “Aku .. aku takut kalau sampai ada sesuatu yang buruk terjadi sama kamu ..”
Keenan beralih mengusap perlahan air mata yang membasahi pipi Ingga dengan ibu jarinya. “Hey, it’s okay .. Aku ada disini sekarang,” ucapnya seraya menenangkan Ingga.
Ingga kembali bicara, “Bagaimana bisa perempuan gila itu menembak kamu, Keenan? Bukankah dia perempuan yang tadinya mau dijodohkan sama Damian?”
Keenan mengehela napas sejenak, “Iya, tadinya Agnia memang akan dijodohkan sama Damian. Tapi kamu tahu kan kalau Damian tidak pernah cinta dengan perempuan gila itu? Dia kan hanya cinta sama Aletta, apalagi sekarang Aletta sedang hamil.”
“Lalu?” tanya Ingga lagi.
“Ceritanya panjang dan rumit, Ingga .. Tapi satu hal yang aku tahu, ayah Damian, dia yang sudah menghilangkan nyawa ayahnya Aletta,” jawab Keenan serius.
Ingga langsung terkejut, “Benarkah?”
Keenan mengangguk, “Iya, dan Agnia sengaja menggunakan masa lalu kelam ayah Damian untuk merusak hubungan mereka.”
Ingga terdiam sejenak untuk berpikir. “Lalu? Bagaimana bisa kamu yang tertembak?” tanyanya lagi.
“Aku menyelamatkan Aletta saat itu, karena aku tahu Agnia pasti akan melakukan sesuatu yang buruk padanya. Kamu tahu kan kalau Agnia terlalu terobsesi sama Damian? Dia pasti akan melakukan segala cara agar bisa bersama dengan Damian, Ingga,” jawab Keenan seraya menatap Ingga serius.
Raut wajah Ingga dipenuhi dengan kesedihan setelahnya, “Jadi .. kamu berkorban nyawa demi menyelamatkan Aletta?”
Keenan mengangguk perlahan, “Iya, dan demi menyelamatkan Damian juga.”
Ingga terdiam sejenak sebelum kembali bicara. Jantungnya berdegup lebih kencang seketika. “Apa kamu .. pernah tidur bersama dengan Agnia sebelumnya?” tanyanya.
“Pernah, dulu ..,” jawab Keenan seraya menatap Ingga kecewa. Ya, entah mengapa, Keenan merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
Ingga hanya tersenyum kecut. Keenan lanjut bicara dengan raut wajah yang dipenuhi dengan rasa bersalah setelahnya. “Ingga .. I’m sorry ..,” ucapnya seraya memegang kedua tangan Ingga.
“Kamu tidak perlu minta maaf, Keenan, kamu sama sekali tidak berbuat salah,” ucap Ingga seraya tersenyum kecut.
Keenan menghela napas sejenak. “Aku kan sudah bilang padamu sebelumnya, aku tidak pernah cinta pada Agnia. Tidak pernah ada komitmen di antara kita,” ucapnya seraya menatap Ingga serius.
‘Aku hanya cinta padamu, Ingga. Apakah hal itu begitu sulit untuk kamu mengerti?’ batin Keenan miris.
Ingga tersenyum miring, “Ya, aku tahu, kamu hanya memanfaatkan dia sebagai ‘teman tidurmu’ saja, kan?”
Keenan beralih menangkupkan wajah Ingga dengan satu tangannya, “I’m sorry ..”
Ingga menatap Keenan sebal, “Pokoknya aku tidak mau kamu berhubungan lagi dengan perempuan tidak waras itu.”
Keenan tersenyum manis, “Tenang saja, sayang, aku yakin setelah ini pasti Agnia akan segera dipenjara.”
“Aku tidak mau bicara soal dia lagi,” ucap Ingga kesal.
Melihat Ingga yang nampaknya terbakar cemburu, tanpa sadar, sebuah senyum lebar malah menghiasi wajah tampan Keenan. Ya, Keenan merasa bahagia karena sudah berhasil membuat perempuan yang dicintainya ini cemburu.
Keenan lanjut bertanya, masih dengan senyum lebar di wajah tampannya, “Aksa di mana?”
“Sedang pergi keluar sama Damian. Katanya mau mencari Aletta,” jawab Ingga yang masih merasa kesal.
“Kamu sudah makan?” tanya Keenan seraya mengelus perlahan pipi mulus Ingga dengan ibu jarinya.
Ingga menggeleng, “Belum. Tapi Hamish sedang keluar sebentar, katanya mau membelikan aku makanan.”
‘Nafsu makanku seketika hilang karena kamu, Keenan,’ batin Ingga getir.
Sebuah petir seolah-olah menyambar kepala Keenan seketika. ‘Sialan! Mau sampai kapan lelaki Yunani menyebalkan itu berhubungan dengan Ingga?’ batinnya kesal. Keenan menatap Ingga tajam, “Wait, apa yang barusan kamu bilang? Hamish sedang keluar membelikan kamu makanan?”
Ingga langsung tertegun kaget seketika melihat bagaimana tajamnya tatapan lelaki tampan keturunan setengah Italia yang sedang duduk di sampingnya ini. ‘s**t, Ingga, bagaimana bisa kamu keceplosan begini,’ batinnya.
“Ah, itu .. Iya, soalnya Hamish sekalian mengantarkan aku ke rumah sakit tadi ..,” ucap Ingga yang semakin salah tingkah.
Keenan tersenyum sinis. “Oh, jadi sebelumnya kamu sedang bersama dengan dia, lalu begitu kamu dapat kabar kalau aku masuk rumah sakit, kamu langsung meminta laki-laki itu untuk mengantar kamu ke sini? Begitu?!” bentaknya kesal.
‘Aduh laki-laki satu ini kenapa pemikirannya seperti seorang detektif sih,’ batin Ingga getir. Ingga menghela napas sejenak, “Iya, kamu benar ..” Ingga lanjut bicara seraya menatap Keenan takut-takut, “Kamu .. marah ya?”
‘Ck, menurutmu?’ batin Keenan kesal. “Tidak. Buat apa juga aku marah?” bohongnya. Keenan beralih menatap Ingga sinis, “Kalian kan sudah jadi sepasang kekasih. Aku tidak punya hak untuk melarangmu pergi bersama dengan laki-laki Yunani itu, iya kan?”
Ingga menghela napas sejenak, “Bisakah kita bicara tentang hal lain saja?”
Keenan terdiam sejenak seraya melipat tangannya di depan d**a bidangnya, lalu beralih menatap Ingga dengan penuh rasa bersalah setelahnya. “Maaf sudah membentakmu tadi,” ucapnya.
Ingga tersenyum manis, “It’s okay.”
Setelahnya, keduanya hanya terdiam seraya memperhatikan wajah rupawan masing-masing. Ingga langsung salah tingkah seketika mendapati Keenan, yang terus menatapinya dengan tatapan begitu intens. “Ah, tadi Aksa membelikanmu buah apel. Mau aku bantu potongi?” ucap Ingga kikuk.
Keenan menyeringai nakal seraya mengangguk, “Tentu.”
Ingga beralih memotongi buah apelnya untuk Keenan setelahnya. “Ini,” ucap Ingga seraya memberikan Keenan semangkuk buah apel yang sudah dipotonginya.
“Suapi aku, sayang,” goda Keenan.
Ingga menaikkan satu alisnya, “Idih, makan saja sendiri. Tanganmu kan baik-baik saja.”
“Please .. Aku kan baru selesai dioperasi, tubuhku masih lemas. Ya? Ya?” pinta Keenan.
Ingga hanya memutar bola matanya. Akhirnya, Ingga beranjak mengambil sebuah garpu dan mulai menyuapi Keenan potongan buah apelnya. “Bagaimana rasanya?” tanya Ingga sesaat setelah menyuapi Keenan sepotong buah apel segar.
Keenan tersenyum nakal, “Rasanya manis ..” Keenan beralih mencium bibir Ingga sekilas, “.. sama sepertimu.”
“Keenan ..,” bisik Ingga seraya tersipu malu.
Senyum nakal di wajah tampan Keenan melebar, “Untung hanya aku yang dirawat di kamar ini.”
Ingga menatap Keenan bingung, “Memangnya kenapa?”
“Aku tidak suka kalau harus bermesraan di depan orang banyak, Ingga sayang,” ucap Keenan seraya menggoda Ingga.
Ingga tersenyum geli, “Idih, dasar. Memangnya siapa juga yang mau bermesraan sama kamu?”
“Bukankah aku baru saja mencium bibirmu tadi, hm?” ucap Keenan seraya mengelus perlahan bibir Ingga.
Ingga hanya tersenyum malu.
Setelahnya, Ingga beranjak melihat jam yang terpatri di dinding rumah sakit sekilas. Waktu menunjukkan tepat pukul sembilan malam. “Sudah malam, sepertinya lebih baik aku pulang sekarang,” ucapnya.
“No, stay here,” ucap Keenan serius.
“Tapi ..”
Keenan menatap Ingga tajam, “I said stay here, Ingga.” Keenan kembali bicara, “Lagipula bukankah seharusnya lelaki Yunani-mu itu datang lagi ke sini? Katanya dia mau membelikanmu makanan? Kok lama sekali?” Keenan tersenyum miring setelahnya. “Oh, atau jangan-jangan dia beli makanan di Yunani langsung?” sarkasnya.
Ingga menghela napas sejenak, “Okay. Fine. Aku tetap di sini.” Ingga beralih menghubungi nomor ponsel Hamish setelahnya. Tapi sayang seribu sayang, ponselnya sedang tidak aktif. “Sepertinya ponsel Hamish lowbatt ..,” ucap Ingga acuh tak acuh.
Keenan tersenyum puas. ‘Good. Lebih baik lelaki Yunani menyebalkan itu pergi sekalian saja sana,’ batinnya. Keenan terdiam sejenak, sebuah ide nakal memenuhi benaknya setelahnya, “Ingga?”
“Iya?”
“Kamu mau tidur? Kamu terlihat sudah lelah dan capek sekali,” ucap Keenan seraya menyisir perlahan rambut panjang nan tebal milik perempuan yang amat dicintainya itu.
Ingga tersenyum geli, “Iya, aku memang sudah ngantuk. Tapi mau tidur di mana, Keenan? Ranjangnya kan hanya ada satu.”
Keenan beralih menepuk space kosong di ranjang pasiennya setelahnya, “Di sini, di sampingku.”
“Kamu tidak salah memintaku tidur di situ?” ucap Ingga bingung.
Keenan tersenyum nakal, “Kamu bisa tidur-tiduran sebentar selagi menunggu kekasihmu itu kembali, iya kan?”
Setelahnya, Ingga terdiam sejenak untuk berpikir. Sepertinya tidur sebentar tidak apa-apa, bukan? Apalagi tubuhnya sudah terasa lelah sekali. Oh, dan lagi, ranjang pasien yang ditempati Keenan sekarang nampaknya empuk.
Akhirnya, Ingga beranjak membaringkan tubuhnya sebentar, persis di samping Keenan. “Ranjangnya empuk juga,” ucapnya.
“Apa kamu menyukainya?” tanya Keenan seraya tersenyum dan mengelus perlahan pipi mulus Ingga.
Ingga tersenyum seraya mengangguk, “Hmm .. Aku suka ..”
Tiba-tiba, dengan cekatan Keenan beralih menindih tubuh mungil Ingga. “Ah, sana, Keenan! Kamu kan baru selesai dioperasi ..,” ucap Ingga kaget.
“Shh .. it’s okay baby ..,” bisik Keenan. Keenan beralih menangkupkan wajah cantik Ingga lalu mengelus pipi mulusnya dengan perlahan setelahnya, “Rasa sakitku seketika hilang begitu aku memandang wajah cantikmu, Ingga ..”
“Keenan ..,” bisik Ingga.
Keenan tersenyum manis, “Kamu tahu? Aku memimpikan kamu saat aku tertidur tadi.”
“Benarkah?” ucap Ingga bingung.
Keenan mengangguk seraya menyeringai nakal, “Iya.” Keenan beralih berbisik tepat di hadapan telinga Ingga setelahnya, “Aku bermimpi bercinta denganmu, Ingga ..”
Ingga langsung membulatkan kedua mata indahnya setelahnya. Terkejut bukan main dengan apa yang baru saja keluar dari bibir lelaki Italia tampan yang sedang menindih tubuhnya ini.
Ingga baru akan membuka bibirnya lagi untuk kembali bicara, saat tiba-tiba bibir Keenan langsung mendarat tepat di atas bibirnya. Keenan menciumi bibir Ingga dengan lembut sembari sesekali menyesapinya, sebelum akhirnya beralih menyelusupkan lidahnya masuk dan merasakan bagaimana hangatnya rongga mulut perempuan yang amat dicintainya ini. Tanpa sadar, Ingga beralih mengalungkan tangannya di leher mulus Keenan, persis seperti yang dilakukannya di dalam mimpi erotis Keenan tadi.
Tiba-tiba ..
Suara berisik pintu yang dibuka seketika menyadarkan Keenan dan Ingga dari ciuman panasnya. Ingga langsung terkejut setengah mati begitu mendapati siapa yang sedang berdiri di ambang pintu sembari menatapnya dengan tatapan tajam nan membunuh. Ya, Hamish Alexander, kekasih hatinya.
Ingga langsung bergerak cepat, menjauhkan tubuh Keenan dari tubuhnya, “Ha .. Hamish ..”
Sementara Keenan, hanya terdiam seraya memandangi wajah tampan lelaki asal Yunani itu sambil tersenyum puas.
Hamish hanya terdiam seraya menatap Keenan dan Ingga bergantian dengan tatapan membunuhnya. Tangannya mengepal erat. Buku-buku jarinya terlihat memutih. Wajahnya terasa memanas, jantungnya berdegup lebih kencang seketika.
‘Aku bersumpah akan segera membalasmu nanti, Keenan,’ batin Hamish geram.
♥♥TO BE CONTINUED♥♥