Chapter 6 - Izinkan Aku Menciummu

2488 Words
Ingga Asmarani memandangi wajah tampan Aksa Waraprada, yang sedang duduk di hadapannya itu, dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bingung dan penasaran. Tanpa disadari, Ingga tak bisa memalingkan benaknya dari seorang Keenan Lorenzo begitu mendengar apa yang baru saja keluar dari bibir Aksa tadi. Ya, bagaimana bisa Keenan menjalin hubungan dengan Agnia, yang mana adalah perempuan yang akan dijodohkan dengan Damian? Oh, tapi kalau dipikir-pikir lagi, buat apa juga Ingga mencari tahu? Toh Ingga sudah memiliki Hamish. Atau jangan-jangan yang sebenarnya terjadi, mungkinkah Ingga sudah terbakar cemburu? “Kamu tahu sejak kapan Keenan menjalin hubungan dengan Agnia?” tanya Ingga penasaran. Aksa mengangkat bahunya, “I don’t know. Sepertinya baru beberapa hari yang lalu?” Aksa beralih bicara seraya tersenyum nakal, “Kamu seperti tidak tahu sifat Keenan saja. Aku berani jamin, beberapa bulan lagi pasti dia sudah punya kekasih baru.” “Dia cowok br*ngsek,” ucap Ingga seraya tersenyum kecut. ‘Itulah salah satu alasan mengapa aku tidak mau menerima cintamu, Keenan. Aku tidak mau hatiku terluka,’ batinnya getir. Tak lama setelahnya, yang paling ditunggu-tunggu oleh Ingga akhirnya tiba juga. “Itu dia,” ucap Aksa seraya tersenyum lebar dan menatap Keenan, yang sedang berjalan santai menghampiri keduanya. Keenan Lorenzo nampak begitu cool dan manly di saat yang bersamaan—dengan t-shirt abu-abu yang membungkus otot-otot tubuhnya yang terbentuk begitu sempurna, celana jeans hitam dan jam tangan merek cartier warna hitam yang melingkari pergelangan tangan kirinya, serta sebuah kacamata yang menambah ketampanan di wajah Italia-nya. “Sorry telat, jalanan macet tadi,” ucap Keenan seraya menarik kursinya tepat di samping Ingga. Aksa langsung tertegun kaget, “Tunggu, kok bisa ya kamu mengucapkan kalimat yang sama seperti yang Ingga ucapkan tadi?” “Benarkah?!” ucap Keenan dan Ingga di saat yang bersamaan. Aksa tersenyum lebar, “Nah kan. Kalian mengucapkan hal yang sama lagi. Berbarengan pula.” “Mungkin karena dia adalah belahan jiwaku,” ucap Keenan seraya tersenyum nakal pada Ingga. Ingga hanya memutar bola matanya. Setelahnya, Ingga terdiam sejenak seraya memperhatikan wajah lelaki tampan keturunan setengah Italia yang sedang duduk tepat di sampingnya ini. Indera penciumannya bisa menghirup dengan jelas bagaimana harumnya parfum bvlgari yang dikenakan oleh Keenan. “Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan Agnia?” tanya Ingga yang tak bisa berhenti memalingkan wajah cantiknya dari Keenan. Keenan menghela napas sejenak, “Aku tidak sedang menjalin hubungan dengan Agnia, tidak pernah ada komitmen di antara kita.” Ingga langsung terkejut, “Ah, benarkah? Kok aneh sekali?” ‘Karena aku hanya mencintai kamu, Ingga, bukannya Agnia,’ batin Keenan getir. Keenan menyeringai nakal setelahnya, “Kenapa? Kamu cemburu?” “Serius, Keenan ..,” ucap Ingga kesal. Keenan tersenyum kecut, “Kamu tidak perlu tahu. Toh sudah ada Hamish dalam hidupmu, bukan?” Wajah cantik Ingga langsung merona merah dan terasa panas seketika. Aksa lanjut bicara dengan raut wajahnya yang nampak amat terkejut, “Wow, seriously, bro?! Bagaimana kamu bisa tahu kalau Hamish dan Ingga sudah resmi jadi sepasang kekasih?” Keenan tersenyum miring, “Kami bertemu di bioskop kemarin.”     Ingga beralih menatap segelas lemon tea yang tergeletak di atas meja makan di hadapannya dengan wajah yang kian memerah.   “Lalu?” tanya Aksa penasaran. “Well, akhirnya kita nonton bersama di bioskop karena kebetulan sekali film yang kita tonton juga sama. Mungkin memang sudah takdir,” jawab Keenan santai. Keenan beralih menggoda Ingga, “Lagipula kalau memang sudah berjodoh, apapun yang terjadi pasti akan tetap dipertemukan. Iya kan, Ingga sayang?” Ingga menatap Keenan tajam. ‘Duh, dasar Keenan sialan,’ batinnya kesal. “Wow, menarik sekali,” ucap Aksa kaget. “Yeah, tentu saja”, ucap Keenan seraya tersenyum puas dan melipat tangannya di depan d**a bidangnya. Keenan terdiam sejenak sebelum kembali bicara, kedua matanya yang berwarna coklat terang itu beralih menatapi leher mulus Ingga, “By the way, kalungnya terlihat cantik sekali ya di lehermu. Tidak salah aku membelikannya untukmu.” Aksa menatap Keenan bingung, “Eh? Kalung apa?” “Itu yang dipakai Ingga,” ucap Keenan seraya menunjuk ke arah leher Ingga. Wajah cantik Ingga semakin memerah setelahnya. “Kamu yang membelikannya untuk Ingga?” tanya Aksa yang semakin bingung. Keenan mengangguk, “Iya. Sebagai tanda cin ..” Belum sempat Keenan menyelesaikan ucapannya, Ingga sudah keburu angkat bicara duluan, “Ah, iya! Keenan yang membelikannya untukku.” Ingga beralih menatap Keenan seraya tersenyum kikuk, “Thanks, Keenan.” Keenan tersenyum hangat. ‘Sebagai tanda cintaku untukmu, Ingga,’ batinnya. “Sama-sama, sayangku,” lanjutnya. Ya, tanpa disadari, Ingga lebih memilih memakai kalung pemberian Keenan daripada memakai kalung pemberian Hamish, yang mana adalah kekasih hatinya sendiri. Ingga lanjut bicara seraya mengambil buku menu yang tergeletak di hadapannya dengan kikuk, “Kalian tidak mau pesan makanan? Atau minum sesuatu mungkin?” Aksa tersenyum geli, “Eh? Kamu kan sudah pesan lemon tea?” “Ma .. maksudku buat Keenan ..” Keenan beralih merangkul manja pundak Ingga seraya mengelus dagu tirus Ingga perlahan, “Kenapa, hm? Kamu gugup?” Ingga langsung menepis tangan Keenan dari pundak dan dagunya, “Ah, minggir sana!” Aksa tersenyum geli, “Tapi kalau dipikir-pikir, kalian berdua cocok juga ya.” Keenan tersenyum lebar, “Tentu saja.” Keenan beralih bicara pada Ingga seraya menggodanya, “Kita bisa punya banyak anak yang lucu-lucu nanti. Iya kan, sayang?” Ingga menaikkan satu alisnya, “Idih, siapa juga yang mau punya anak sama kamu?” Keenan menyeringai nakal. ‘Aku bersumpah akan menjadikanmu milikku sepenuhnya suatu saat nanti, Ingga,’ batinnya.        “Kira-kira kalau sudah menikah dan punya anak nanti, kamu akan menetap di Italia atau tidak?” tanya Aksa pada Keenan. “Mungkin.” Keenan beralih merangkul pundak Ingga lagi seraya menatapnya nakal, “Bagaimana menurutmu, sayang? Kamu lebih suka tinggal di Italia atau di sini, hm?” “Ah, itu .. Aku tidak tahu ..,” ucap Ingga malu-malu. Tak lama setelahnya, Damian Rivellino, seorang lelaki tampan keturunan setengah Perancis yang juga teman ketiganya itu akhirnya tiba juga.  “Maaf telat .. Kalian sudah menunggu daritadi ya?” ucap Damian yang napasnya masih agak terengah-engah. “Hey, Damian,” ucap Ingga kikuk seraya melepaskan rangkulan tangan Keenan dari pundaknya. Keenan tersenyum lebar, “It’s okay, bro. Aku setia menunggumu kok ..” Senyum di wajah tampan Keenan berubah jadi sebuah seringai nakal setelahnya, “.. tentunya selama ada perempuan cantik ini di sampingku.” Ingga hanya memutar bola matanya. Lima belas menit kemudian, akhirnya Ingga pamit untuk pergi lebih dulu begitu mendapat pesan singkat dari rekan kerjanya. “Sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku harus ikut meeting setelah ini,” ucapnya. Keenan tersenyum kecut, “Meeting sekalian bertemu dengan klien?” Keenan lanjut bicara seraya menyindir Ingga, “Ah, aku tahu, namanya pasti Hamish Alexander, iya kan?” Ingga langsung menggeleng, “No! Kali ini benar-benar meeting penting, Keenan.” Keenan hanya tersenyum miring. “Aku permisi dulu. Sampai jumpa nanti,” ucap Ingga setelah meletakkan ponselnya di dalam handbag-nya. “Alright, aku juga mau balik duluan kalau begitu,” tambah Aksa. Setelahnya, Keenan hanya terdiam sejenak sembari menatapi Ingga, yang sedang berjalan pergi seraya membelakanginya. Keenan langsung menelan ludahnya dengan kasar seketika melihat bagaimana sempurnanya bentuk tubuh Ingga—yang bahkan jika dilihat dari belakang pun nampak begitu membangkitkan gairah. Tubuhnya yang berbentuk bak gitar Spanyol, pinggang rampingnya, bokongnya yang amat kencang .. ‘Bahkan dari belakang pun tubuhnya terlihat indah dan seksi sekali,’ batin Keenan. “Keenan?” panggil Damian setelahnya. Keenan tak menjawab, masih enggan memalingkan wajahnya dari tubuh Ingga. “Keenan!” panggil Damian lagi. Keenan langsung menjawab setelahnya. Suara Damian sukses menyadarkannya dari lamunan liarnya. “Apa?” tanyanya bingung. Damian menatap Keenan dalam-dalam, “Aku butuh bantuanmu.” “Soal apa?” tanya Keenan penasaran. “Soal Agnia,” jawab Damian serius. **Beberapa hari kemudian** Beberapa hari belakangan ini mungkin terasa sedikit berbeda bagi seorang Ingga Asmarani. Ya, kini Ingga menjalani hari-harinya dengan status baru, yaitu sebagai kekasih Hamish Alexander. Seorang lelaki tampan asal Yunani yang juga calon dokter spesialis jantung. Oh, Ingga belum tahu saja kalau bahkan Hamish diincar banyak wanita di luar sana. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Ingga tidak tahu apakah seharusnya dirinya merasa bahagia atau tidak. Entah mengapa, terkadang Ingga masih merasa kalau hatinya kosong. “Seharusnya ayahku pulang siang ini. Dia pasti akan senang begitu tahu kalau aku punya kekasih secantik dirimu,” ucap Hamish seraya menyisir rambut panjang Ingga dengan jari-jarinya. Ingga tersenyum tipis. “Ayahmu bisa bicara pakai bahasa Indonesia?” tanyanya penasaran. Hamish mengangguk, “Iya, tapi tidak sefasih diriku. Kami lebih sering bicara menggunakan bahasa Yunani kalau sedang di rumah.” “Ah, begitu .. Kalau ibumu?” tanya Ingga lagi. Hamish tersenyum lebar, “Apalagi ibuku. Jangankan bahasa Indonesia, bahasa Inggrisnya saja tidak terlalu bagus.” Hamish lanjut bicara dengan penuh percaya diri, “Why? Kamu mau bertemu dengan ibuku, hm?” Ingga langsung menggeleng, “Ah, bukan begitu ..” Hamish hanya tersenyum seraya mencubit pipi mulus Ingga dengan lembut. Tak lama setelahnya, tiba-tiba ponsel Hamish berbunyi. “Tunggu sebentar,” ucapnya sebelum akhirnya beralih menjawab panggilan masuknya menggunakan bahasa Yunani. “Ada apa, Hamish?” tanya Ingga sesaat setelah Hamish mengakhiri panggilannya. “Ayahku tidak bisa pulang lagi hari ini, ada proyek penting yang harus segera diselesaikan,” jawab Hamish yang raut wajahnya terlihat sedikit kesal. “Kalau aku boleh tahu, memangnya ayahmu punya jabatan penting ya?” tanya Ingga penasaran. “Yeah, dia seorang arsitek,” jawab Hamish. “Ah, begitu,” respon Ingga. ‘Hebat juga,’ batinnya. “Tunggu di sini,” ucap Hamish sebelum akhrinya beranjak bangkit berdiri dari sofa empuk yang dudukinya bersama dengan Ingga. Setelahnya, Hamish kembali menghampiri Ingga dan duduk tepat di sampingnya sembari membawa sebotol wine dan dua gelas kaca. Ingga tertegun kaget seketika, “Kamu suka minum wine?” Hamish mengangguk, “Yeah.” Hamish beranjak menuangkan wine-nya ke dalam gelas kaca untuk Ingga setelahnya, “Here, ini kubeli langsung dari Yunani.” Hamish lanjut bertanya setelah Ingga mencicipi wine pemberiannya, “Bagaimana rasanya menurutmu?” Ingga tersenyum, “Rasanya manis tapi agak asam juga. Enak sekali, Hamish.” Hamish hanya tersenyum lebar. Tak lama setelahnya, hujan deras malah turun. Padahal tadi siang cuaca masih cerah dan terik sekali. “Aneh sekali, padahal tadi siang udaranya sangat panas,” ucap Hamish bingung. Hamish beranjak menatap Ingga setelahnya. Dahi mulusnya langsung mengkerut seketika mendapati tubuh mungil Ingga yang nampak sedikit gemetar, “Kamu kenapa, Ingga?” Ingga menggeleng perlahan, “Tidak apa-apa, aku hanya sedang kedinginan saja.” Hamish mendekatkan tubuhnya perlahan pada Ingga setelahnya, lalu beranjak memeluk tubuh mungilnya dengan erat. “Merasa baikan?” ucap Hamish seraya tersenyum. Ingga hanya mengangguk perlahan dan tersenyum. Setelahnya, keduanya hanya terdiam seraya menatapi wajah rupawan satu sama lain. Hamish beranjak mengelus perlahan pipi mulus Ingga dengan jari-jarinya seraya menatapnya serius, “Kamu cantik sekali, Ingga ..” Sorot matanya dipenuhi dengan kabut gairah setelahnya, “Bolehkah aku menyentuhmu?” “Hamish ..,” bisik Ingga. Tanpa menunggu lama, Hamish langsung menangkupkan wajah cantik Ingga dengan kedua tangannya lalu beranjak menciumi bibir Ingga dengan ciuman bibirnya yang terasa amat b*******h. Ingga dapat menghirup dengan jelas aroma wine dan mint yang begitu harum dari bibir Hamish. “Mphh ..,” erang Ingga di sela-sela ciumannya. Ciuman bibir Hamish turun perlahan menuju leher mulus Ingga setelahnya. Jari-jari tangannya mulai bergerak bebas nan nakal, meremas gundukan ranum Ingga yang masih tertutup kemeja kotak-kotak warna merah dan bra warna hitamnya. “Ahh ..,” desah Ingga seketika merasakan bagaimana lembutnya remasan tangan Hamish di gundukan ranumnya. “I’m gonna make you feel so good, Ingga ..,” bisik Hamish yang merasa semakin b*******h seketika mendengar desahan yang lolos dari bibir Ingga. Hamish beranjak membuka satu per satu kancing kemeja kotak-kotak yang dipakai Ingga setelahnya. Hamish langsung menelan ludahnya dengan kasar seketika melihat bagaimana indah dan ranumnya gunung kembar kekasih hatinya itu. Miliknya terasa sesak seketika. ‘Damn,’ batinnya. Setelahnya, Hamish beranjak menciumi gundukan ranum Ingga sambil terus meremasnya dengan lembut. Sebuah desahan yang terdengar amat b*******h langsung lolos dari bibir Ingga setelahnya, “Ahh Hamish .. Jangan ..” Hamish beranjak mencium bibir Ingga sekilas, “Shh .. it’s okay, baby ..” Lelaki tampan asal Yunani itu beranjak membuka kancing celana jeans yang dikenakan Ingga, lalu beralih menanggalkannya dengan sigap dari kaki mulus Ingga setelahnya. Hamish menurunkan tubuhnya perlahan, lalu beranjak menciumi daerah intim Ingga yang masih tertutup panties renda warna merah menyalanya. Sebuah desahan lain langsung lolos dari bibir Ingga seketika merasakan bagaimana lembut dan hangatnya bibir Hamish di daerah intimnya, “Ahh!” Hamish hanya menyeringai puas. Hamish baru akan menanggalkan panties yang menutupi daerah intim Ingga, saat tiba-tiba ponsel Ingga berbunyi dengan amat kencang. “Stop, Hamish, ponselku berbunyi,” ucap Ingga yang seketika terbangun dari pusaran gairah yang tadi sempat membawanya pergi. Hamish hanya mendengus kesal. ‘Sial, mengganggu saja,’ batinnya. Setelahnya, Ingga beranjak mengambil ponselnya, yang tergeletak di atas meja kaca di hadapannya. Ada satu panggilan masuk, dari nomor tak dikenal. Begitu menjawab panggilannya, suara seorang lelaki yang terdengar amat beratlah yang pertama kali didengarnya, “Dengan saudari Ingga Asmarani?” “Iya, saya sendiri. Bapak siapa ya?” tanya Ingga bingung. “Kami dari pihak kepolisian. Keenan Lorenzo sedang menjalani operasi sekarang, kondisinya cukup kritis,” kata sang polisi. Sebuah petir menyambar kepala Ingga seketika. “Apa? Operasi?” tanya Ingga yang mulai dilingkupi rasa khawatir nan cemas di saat yang bersamaan. “Iya, saudara Keenan baru saja mengalami kejadian penembakan yang dilakukan oleh saudari Agnia Anandita tadi,” jawab sang polisi. ‘Tidak, tidak mungkin,’ batin Ingga. “Kirim lokasi rumah sakitnya, saya akan segera ke sana sekarang,” lanjutnya. Begitu mengakhiri panggilannya, dengan cekatan, Ingga langsung memakai kembali celana jeans-nya serta mengancing kembali kemeja merah kotak-kotaknya yang tadi sempat diacak-acak oleh Hamish. “Ada apa, Ingga?” tanya Hamish penasaran. Ingga menatap Hamish khawatir, “Keenan masuk rumah sakit ..” ‘Sialan! Lagi-lagi lelaki Italia sialan itu menganggu waktuku dengan Ingga,’ batin Hamish kesal. “Bagaimana bisa?” tanyanya kesal. “Keenan tertembak, Hamish .. Please, antarkan aku ke rumah sakit sekarang juga ya?” ucap Ingga dengan raut wajah cantiknya terlihat amat khawatir. Hamish tersenyum miring, “Okay.” Selama dalam perjalanan di mobil, keduanya hampir tak saling bicara. Ingga terus-terusan menatap kaca jendela mobil ferrari merah milik Hamish, yang nampak basah karena hujan. Sementara Hamish, sibuk menyetir mobilnya sambil sesekali curi-curi pandang pada Ingga. ‘Sial, lelaki Italia sialan itu kenapa tidak meninggal saja sih sekalian?’ batin Hamish geram. Hamish beranjak mengelus paha mulus Ingga setelahnya. “Tenang, Ingga, semua akan baik-baik saja,” ucapnya dengan senyum palsu di wajah tampannya. Ingga hanya tersenyum kecut. ‘Keenan, apa yang sudah terjadi padamu?’ batinnya cemas.     ♥♥TO BE CONTINUED♥♥  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD