Suara ponsel yang terdengar amat bising dan berisik membangunkan Ingga dari tidur cantiknya. “Aduh berisik sekali sih ..,” ucapnya kesal.
Ingga mengerjap-ngerjapkan kedua mata indahnya sejenak sebelum akhirnya beranjak mengambil ponselnya, yang tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, dengan malas. Kedua matanya langsung memicing seketika melihat cahaya ponselnya yang amat terang. Begitu dilihat, ternyata ada satu panggilan masuk dari Hamish Alexander. Seorang pria Yunani yang sedang bersaing keras dengan Keenan Lorenzo, sahabatnya, untuk mendapatkan cintanya.
“Kenapa, Hamish?” tanya Ingga yang masih dirundung kantuk.
“Ingga? Kamu tidak lupa kan sama janji kita hari ini?” ucap Hamish yang suaranya terdengar berat.
“Janji apa?” tanya Ingga bingung.
Hamish tersenyum, “Nonton bersama, baby.”
Rasa kantuk yang tadinya masih menghinggapi diri Ingga seketika langsung pudar begitu Hamish berkata demikian. ‘Aduh sial, bagaimana bisa aku lupa kalau mau pergi kencan dengan Hamish hari ini,’ batinnya kaget. Ingga beralih duduk di atas ranjangnya setelahnya, “Ah, iya, aku sama sekali tidak lupa kok ..”
Hamish terdiam sejenak sebelum kembali bicara. “Hmm biar kutebak, kamu pasti baru bangun ya?” godanya.
“Ah, iya .. Sorry, Hamish ..,” ucap Ingga malu-malu.
Hamish tersenyum lebar, “It’s okay, baby, aku sabar menunggumu kok.”
“Kamu pasti sudah menunggu sendirian di bioskop daritadi ya?” ucap Ingga yang merasa tak enak hati.
Hamish menggeleng, “No, no. Coba intip lewat jendela kamarmu.”
“Eh? Kenapa memangnya?” ucap Ingga bingung.
“Coba intip saja, sayang.”
Setelahnya, Ingga beranjak bangkit berdiri dari tempat tidurnya lalu setelahnya berjalan dengan langkah malas menuju jendela kamar tidurnya. Kedua matanya seketika membulat begitu mendapati Hamish, yang sedang berdiri sendirian sambil menyandarkan punggungnya pada mobil ferrari merahnya, tepat di pelataran rumah Ingga.
“s**t, Hamish! Kamu menunggu daritadi di depan rumahku?!” ucap Ingga kaget.
Hamish beralih menatap wajah cantik Ingga dari kejauhan seraya tersenyum dan melambaikan tangannya setelahnya, “Yes, baby.”
“Tunggu sekejap, aku ke sana sebentar lagi, oke?” ucap Ingga sesaat sebelum memutuskan panggilannya, dan terburu-buru mandi serta berias diri setelahnya.
Setelah hampir satu jam menunggu, akhrinya Ingga selesai mandi dan berias diri. Padahal sebelumnya Ingga berkata agar Hamish menunggunya sekejap, tapi kenyataannya Hamish harus menunggunya sampai satu jam lamanya. Maklum, waktunya habis digunakan untuk merias diri. Ingga harus tampil cantik di depan Hamish, iya kan?
Hamish Alexander langsung terpana seketika melihat perempuan cantik yang sedang berjalan menghampirinya ini. Rambut panjang nan tebalnya digerai bebas, hanya dicatok curly sedikit di bagian bawahnya. Wajah cantiknya dirias menggunakan pulasan makeup tipis-tipis, ditambah sapuan lipstick warna merah segar yang menghiasi bibirnya—yang terlihat amat menantang untuk dicium. Pipi mulusnya merona kemerahan, membuat wajahnya terlihat seperti boneka manekin.
Ingga mengenakan sebuah dress yang menjuntai indah sampai batas tengah paha mulusnya, ditambah dengan sepasang high heels warna nude yang terlihat amat cantik di kaki mulusnya.
“s**t, maaf sudah membuat kamu menunggu lama,” ucap Ingga. Ingga lanjut bicara seraya menyimpan ponselnya di dalam handbag-nya setelahnya, “Let’s go.”
Bukannya mejawab, Hamish malah terdiam sambil terus memandangi wajah cantik Ingga. “Hamish?” ucap Ingga seraya melambaikan tangannya di depan wajah tampan Hamish.
“Iya?” ucap Hamish bingung.
Ingga tersenyum geli, “Kenapa melamun? Ayo pergi.”
Hamish langsung gelagapan. “Ah, iya. Let’s go,” ucapnya kikuk.
*****
“Kita mau nonton film apa hari ini?” ucap Ingga sesaat setelah sampai di bioskop yang jadi tempat kencannya bersama dengan Hamish kali ini.
Hamish tersenyum ramah. “Thriller. Bagaimana? Kamu suka?” ucapnya seraya merangkul pundak sempit Ingga.
Ingga langsung mengangguk dengan semangat, “Tentu! Aku paling suka film thriller. Bagaimana kamu tahu?”
Senyum di wajah tampan Hamish melebar. “Asal menebak saja,” bohongnya. Duh, padahal aslinya Hamish memang sudah terlebih dulu mengorek semua informasi tentang Ingga -termasuk apa saja yang disukainya- dari sahabatnya, Aksa Waraprada.
Ingga hanya menatap Hamish seraya tersenyum manis.
Tak lama setelahnya, Ingga langsung tertegun kaget begitu kedua matanya mendapati dari kejauhan, seorang laki-laki bertubuh tinggi semampai yang nampak tidak asing .. Oh, Ingga kenal betul siapa laki-laki keturunan setengah Italia itu. ‘Ah, tunggu dulu. Itu Keenan, kan?’ batinnya kaget.
Hamish lanjut bicara, “Selesai nonton, bagaimana kalau kita makan bersama di rumahku nanti? Aku tidak sabar ingin tahu bagaimana reaksi ayahku begitu melihat perempuan secantik dirimu.”
Ingga tidak merespon. Kedua mata indahnya masih fokus pada Keenan, yang sedang berdiri di kejauhan sana sembari membelakanginya dan Hamish. Beberapa saat setelahnya, Keenan langsung membalik tubuhnya. Reflek, Ingga langsung membuang muka. ‘s**t, tidak salah lagi. Itu memang Keenan,’ batin Ingga yang semakin tertegun kaget.
Melihat Ingga yang tak kunjung merespon, akhirnya Hamish angkat bicara lagi, “Bagaimana, Ingga? Kamu mau?”
“Ah, itu .. Sepertinya lebih baik kita pergi saja dari sini ..,” ucap Ingga yang mulai terlihat gugup nan gelagapan.
Hamish mengerutkan dahi mulusnya, “Why? Tiketnya sudah dipesan dan filmnya akan dimulai lima belas menit lagi.”
Wajah cantik Ingga terlihat semakin memucat, “Itu .. aku ..”
“Kenapa, Ingga? Kamu tidak suka filmnya ya?” tanya Hamish dengan raut wajah khawatir.
Ingga langsung menggeleng, “Tidak! Bukan begitu ..”
“Lalu?”
Belum sempat Ingga merespon, Keenan sudah keburu berjalan menghampiri keduanya seraya tersenyum nakal pada Ingga. “Halo, sayang,” goda Keenan.
Matilah. ‘Aduh, kenapa sih aku harus selalu dipertemukan dengan Keenan saat sedang bersama dengan Hamish?’ batin Ingga.
Hamish langsung menatap Keenan dengan tatapan sinisnya, “Keenan? Mau apa kamu di sini?”
“Apa itu masalah buatmu? Lagipula tempat ini bukan milikmu!” ucap Keenan yang tak kalah sinisnya dengan Hamish.
Ingga langsung angkat bicara seketika melihat dua lelaki tampan yang nampaknya akan segera baku hantam itu. “Ah, sudah, sudah,” ucap Ingga seraya melepaskan rangkulan tangan Hamish di pundaknya. Ingga lanjut bicara pada Keenan setelahnya, “Kamu mau nonton juga?”
Keenan tersenyum nakal. Kali ini giliran dirinya yang merangkul pundak sempit Ingga. “Of course, baby. Memangnya apa lagi yang akan kamu lakukan di bioskop selain menonton, hm?” goda Keenan seraya merangkul pundak Ingga.
Tatapan mata Hamish berubah semakin tajam setelahnya. ‘Kurang ajar!’ batinnya geram.
“Ah, oke ..” ucap Ingga kikuk seraya melepaskan rangkulan tangan Keenan dari pundaknya. “Kamu mau nonton apa?” lanjutnya.
“Film thriller,” jawab Keenan santai.
Kedua mata Hamish langsung membulat. ‘Apa-apaan ini?’ batinnya kesal.
Ingga langsung tertegun, “Ah, itu artinya .. Kita nonton film yang sama?”
Keenan langsung tersenyum lebar, “Really?” Keenan beralih menatap Hamish seraya tersenyum sinis setelahnya, “Well, bagus kalau begitu.”
Ingga menatap Keenan bingung, “Tumben sekali kamu nonton film thriller? Bukannya kamu lebih suka film action?”
Keenan mengangkat bahunya, “Aku sedang suka menonton sesuatu yang membuat jantung berdegup lebih kencang.” Keenan beralih menatap Ingga dengan tatapan sedihnya, “Well, sekalian untuk menghibur hatiku juga karena kemarin cintaku baru ditolak oleh seorang perempuan.”
“Siapa?” tanya Hamish penasaran.
Ingga langsung mengalihkan topik pembicaraannya, “Ah, ayo masuk, filmnya sudah mau mulai.” Apa jadinya kalau sampai Hamish tahu bahwa perempuan yang sudah menolak Keenan kemarin itu adalah dirinya?
Setelahnya, Hamish beralih merangkul pundak Ingga lagi. Sementara Keenan, hanya bisa menatapi keduanya dari belakang seraya tersenyum kecut. ‘Ck, seharusnya aku yang merangkul pundakmu sekarang, Ingga, bukan lelaki Yunani menyebalkan itu,’ batinnya kesal.
Oh, seandainya saja Keenan tahu, jauh di dalam lubuk hatinya, Ingga juga dilingkupi dengan rasa bersalah .. ‘I’m sorry, Keenan,’ batinnya.
Begitu masuk bioskop, lagi-lagi Hamish langsung tertegun saat mengetahui kalau Keenan duduk di kursi yang letaknya persis bersebelahan dengan kursinya dan Ingga. “Wait, kamu duduk di sana?” tanyanya kesal.
Keenan menatap Hamish sinis. “Yeah, is that a problem?” ucapnya seraya menyilangkan tangannya di depan d**a bidangnya.
Ingga langsung melerai keduanya, enggan membuat keributan di dalam bioskop. “It’s okay, Hamish, biar aku yang duduk di samping Keenan,” ucapnya seraya menenangkan Hamish.
Hamish langsung menggeleng, “No! Biar aku yang duduk di samping Keenan.”
Akhirnya Hamish yang duduk di samping Keenan. Hamish mana mau membiarkan Ingga duduk di samping Keenan? Wajahnya yang terpahat indah bak patung dewa Yunani itu pasti akan langsung memerah bak sedang direbus.
Selama menonton, Ingga jadi tidak fokus karena udara di dalam bioskop, yang entah mengapa terasa amat dingin hari ini. Apalagi Ingga sedang memakai dress yang panjangnya hanya sampai menutupi batas tengah paha mulusnya saja. Keenan, yang mengetahui Ingga nampaknya sedang kedinginan, langsung menanggalkan jaket kulit hitamnya lalu memberikannya pada Ingga.
“Ini, gunakan jaketku,” ucap Keenan seraya memberikan jaket kulit hitamnya pada Ingga.
Ingga tersenyum manis, “Thanks.”
Wajah tampan Hamish seketika langsung memanas. ‘Ck, seharusnya aku yang meminjamkan kamu jaketku, Ingga, bukan lelaki Italia menyebalkan itu,’ batinnya kesal.
*****
“Kamu mau pergi ke mana setelah ini, Keenan?” tanya Ingga pada Keenan sesaat setelah keluar dari gedung bioskop.
Keenan menatap Ingga nanar, “Aku tak tahu. Mungkin pergi minum. Aku sangat butuh amaretto sekarang.”
Ingga menatap Keenan bingung, “Amaretto?”
Keenan tersenyum seraya mengangguk, “Iya, liqueur khas Italia.”
Dahi mulus Ingga langsung mengkerut. “Jangan terlalu sering minum minuman beralkohol, Keenan. Tidak baik untuk kesehatanmu,” ucapnya dengan raut wajah khawatir.
Keenan tersenyum miring. ‘Bagaimana mungkin aku bisa berhenti minum kalau kamu terus-terusan membuat hatiku sakit, Ingga?’ batinnya getir. Keenan beralih memegang kedua pundak Ingga setelahnya, “No, it’s okay.”
Hamish langsung menatap Keenan tajam, “Tolong jauhkan tanganmu darinya.”
Keenan beralih menatap Hamish dengan tatapannya yang tak kalah tajamnya, sebelum akhirnya beralih bicara kembali pada Ingga seraya menangkupkan wajahnya dengan satu tangannya. “Aku akan meneleponmu nanti, okay?” ucap Keenan.
Ingga tersenyum, “Okay. Hati-hati di jalan, Keenan.”
Keenan membalas senyum Ingga, “You too.”
*****
Begitu sampai di dalam mobil ferrari merahnya, Hamish kembali angkat bicara, “Bagaimana, Ingga? Kamu mau?”
“Bagaimana apanya?” tanya Ingga bingung.
“Makan bersama di rumahku. Sekalian bertemu dengan ayahku mungkin?” ucap Hamish dengan raut wajah penuh harap.
“Ah, itu .. Bagaimana ya ..”
Tak lama setelahnya, tiba-tiba ponsel Hamish berbunyi. “Tunggu,” ucapnya. Hamish beranjak menjawab panggilan masuknya setelahnya menggunakan bahasa yang terdengar amat asing di telinga Ingga. Sepertinya bahasa Yunani.
Hamish menghela napas sejenak setelah memutuskan panggilannya, “Sepertinya aku tidak bisa mengajakmu makan bersama di rumahku hari ini. Ayahku mengundang beberapa orang expat untuk meeting bersama di rumah.”
Ingga tersenyum manis, “Tidak apa-apa kok. Bisa lain kali.”
Hamish terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Hmm .. Ingga?”
“Iya?”
Hamish memberikan Ingga sebuah kotak berwarna magenta setelahnya. “Apa ini, Hamish?” tanya Ingga bingung.
“Untukmu,” jawab Hamish seraya tersenyum.
“Untukku?” ucap Ingga bingung.
Hamish hanya mengangguk dan tersenyum.
Begitu dibuka, ternyata isinya sebuah kalung emas dengan batu permata berbentuk hati. Lagi-lagi, seorang pria memberikan Ingga sebuah hadiah—yang mana keduanya sama-sama berupa kalung berbentuk hati.
Hamish beralih memegang tangan Ingga seraya menatapnya gugup, “Maukah kamu jadi milikku?”
Astaga, kemarin Keenan, sekarang gantian Hamish yang menyatakan cintanya?
Ingga hanya terdiam seraya memperhatikan sekotak kalung emas yang ada dalam genggaman tangannya. Hamish lanjut bicara setelahnya dengan raut wajah yang terlihat begitu penuh dengan harap, “Bagaimana, Ingga?”
Melihat raut wajah Hamish yang terlihat amat berharap, Ingga jadi merasa tidak enak sendiri. Ingga menghela napas sejenak, “Yeah, mungkin kita bisa mencobanya dulu.”
Hamish langsung tersenyum lebar, “Really?”
Ingga tersenyum seraya mengangguk, “Hmm ..”
Hamish beranjak mencium dahi mulus Ingga setelahnya, “I love you, Ingga.”
Ingga hanya tersenyum—sama sekali tidak mengucap pada Hamish kalau dirinya juga mencintainya.
Hamish beranjak memakaikan kalung pemberiannya pada leher mulus Ingga setelahnya, “Sini aku pakaikan.” Dahi mulus Hamish langsung mengkerut seketika mendapati sebuah kalung yang sudah terlebih dulu melingkar di leher Ingga. Ya, kalung pemberian Keenan.
“Kalung dari siapa ini, Ingga?” tanya Hamish penasaran.
“Eh? Kalung?”
“Iya, yang sedang kamu pakai sekarang.”
‘s**t, Ingga Asmarani, kenapa kamu bodoh sekali sih,’ batin Ingga. Ingga langsung gelagapan, “Ah, itu kalung pemberian ibuku.”
Hamish menatap Ingga curiga, “Benarkah?”
Ingga langsung mengangguk, “Iya ..”
“Boleh aku lepas?”
Ingga terdiam sejenak untuk berpikir. “Iya, kamu boleh melepasnya ..,” ucapnya dengan raut wajah sedikit terpaksa.
“Aku tidak menyangka kalau kalung ini akan terlihat cantik sekali di lehermu,” ucap Hamish seraya tersenyum selepas memakaikan kalungnya pada leher Ingga.
Ingga tersenyum, “Thanks, Hamish.”
Hamish beranjak mencium bibir Ingga setelahnya lalu tersenyum nakal, “You’re very welcome, baby.”
*****
Esok siangnya, seperti biasa, Ingga menghabiskan waktu makan siangnya bersama dengan kawan lamanya, Aksa, Damian, dan Keenan.
“Maaf telat, jalanan macet tadi,” ucap Ingga seraya menarik kursinya tepat di hadapan Aksa.
Aksa menyeringai nakal, “Well, well, sepertinya ada yang baru dapat seorang kekasih.”
Dahi mulus Ingga langsung mengkerut, “Darimana kamu tahu?”
Aksa menaikkan bahunya, “Hamish yang menceritakannya padaku.”
“Benarkah?” ucap Ingga tak percaya.
Aksa mengangguk, “Iya. Dan kamu tahu? Dia memberikanku dua botol wine asli dari Yunani yang rasanya sangat enak sekali.”
“Buat apa?” tanya Ingga penasaran.
“Karena aku sudah berhasil menjodohkan kalian,” jawab Aksa semangat.
“Oh ..,” ucap Ingga acuh tak acuh. Ingga lanjut bertanya, “Keenan dan Damian belum sampai?”
“Masih dalam perjalanan.” Aksa lanjut bicara, “Ah, iya. Omong-omong soal Keenan ..”
“Keenan kenapa?” tanya Ingga yang berubah semakin penasaran.
“Dia sedang dekat dengan seorang perempuan. Ya, lebih tepat dikatakan sebagai ‘teman tidur’ barunya sih,” jawab Aksa santai.
Jantung Ingga berdegup lebih kencang seketika, “Siapa?”
“Agnia, perempuan psycho yang dijodohkan sama Damian. Kamu ingat kan?”
Ingga tersenyum getir, “Oh, Agnia ..”
♥♥TO BE CONTINUED♥♥