Chapter 4 - Ciuman Pertama

2875 Words
Angin sejuk yang berhembus sepoi-sepoi menjadi teman di tengah ramainya restoran Perancis yang sedang dikunjungi Ingga. Suasana hangat serta alunan musik live yang terdengar dari kejauhan menambah kesan nyaman dan romantis di salah satu restoran bintang lima yang terkenal di kota itu. Ya, Keenan Lorenzo yang mengajak Ingga berkunjung ke salah satu restoran bintang lima itu sore ini. Ada hal penting yang hendak Keenan sampaikan pada Ingga — hal penting yang seharusnya sudah dari dulu disampaikannya .. Keenan akan menyatakan cintanya pada Ingga hari ini. Setelah menghabiskan hampir lima menit waktunya untuk mencari, akhirnya Ingga menemukan di mana laki-laki keturunan setengah Italia itu duduk. Meskipun Keenan duduk membelakanginya, Ingga dapat mengenalinya hanya dengan melihat punggungnya saja. Karena sudah begitu lama dan sering menghabiskan waktu bersama, Ingga bahkan sudah bisa mengenali Keenan hanya dari suaranya saja. “Keenan?” panggil Ingga. Keenan langsung menoleh dan tersenyum setelahnya, “Hai, cantik.” “Kamu sendirian? Aku kira kamu ajak Aksa dan Damian juga,” ucap Ingga seraya menarik kursinya di hadapan Keenan. Keenan tersenyum dan menggeleng, “Tidak, hanya kamu dan aku.” Ingga menatap Keenan bingung, “Apa yang mau kamu bicarakan?” Keenan tersenyum nakal, “Rahasia, sayang.” Ingga hanya memutar bola matanya. Senyum di wajah tampan Keenan melebar, “Ayo makan dulu.”  Keenan lanjut bicara, “Kamu boleh pesan apapun yang kamu mau, aku yang akan membayar semuanya.” Ingga langsung berbinar-binar, “Benarkah?” Keenan mengangguk ramah, “Hmm ..” “Tumben sekali?” tanya Ingga curiga. Keenan tidak menjawab, hanya menatapi wajah cantik Ingga dengan senyum manis di wajah tampannya. Begitu selesai memesan makanannya dan selagi menunggu hingga sang pelayan tiba, Keenan hanya terdiam sejenak sembari menatapi wajah perempuan cantik yang sedang duduk di hadapannya ini. Rambut panjang Ingga yang dibiarkannya tegerai itu terlihat sedikit tertiup angin. Wajahnya dirias dengan pulasan makeup tipis-tipis, ditambah dengan sapuan lipstick peach agak kemerahan yang menghiasi bibirnya. Meskipun hanya menggunakan sebuah t-shirt model v-neck warna putih dan skinny jeans warna hitam, Ingga nampak begitu mempesona. Oh, dan lagi, samar-samar, Keenan bahkan bisa melihat bagaimana bentuk sebuah bra hitam yang dikenakan Ingga untuk menutupi gundukan ranumnya. Melihat Keenan yang hanya terdiam sambil terus menatapinya, Ingga jadi bingung sendiri. “Kenapa, Keenan?” tanyanya bingung. Keenan tersenyum ramah, “Kamu suka tempat ini?” Ingga membalas senyum Keenan, “Suka kok. Nyaman, sejuk, indah, dan ..”     “Dan apa, hm?” “.. dan romantis sekali,” jawab Ingga malu-malu. ‘Sudah kuduga kamu akan berpikir begitu,’ batin Keenan puas. Ingga lanjut bertanya, “Kamu yang memilih tempat ini?” Keenan tersenyum seraya mengangguk, “Iya, aku sendiri yang memilih dan memesan tempat ini, khusus untuk kita berdua saja.” “Ah, begitu ..” “Aku boleh bertanya sesuatu?” lanjut Keenan. Ingga mengangguk, “Tentu.” Raut wajah Keenan berubah sedikit lebih serius setelahnya, “Kemarin kamu ke rumah Hamish?” Ingga mengangguk lagi, “Iya, hanya mampir sebentar kok. Hamish membuatkanku caesar salad dan masakan Yunani. Apa ya namanya? Aku lupa. Dolma ..” Keenan mengerutkan dahi mulusnya, “Dolmades?” “Ah, betul! Dolmades. Kamu pernah makan masakan Yunani sebelumnya?” tanya Ingga semangat. Keenan tersenyum tipis, “Yeah, saat aku berkunjung ke Santorini waktu itu.” “Kamu bisa masak masakan Yunani?” tanya Ingga lagi. Keenan menggeleng seraya menatap Ingga tajam, “Aku orang Italia, Ingga, bukan orang Yunani.” “Ah, iya ..,” ucap Ingga kikuk. Ingga lanjut bertanya setelahnya, “Ah, itu .. kenapa kamu tidak mengajak Damian dan Aksa juga?” Keenan tersenyum ramah, “Aku kan sudah bilang sebelumnya, aku sengaja memilih dan memesan tempat ini untuk kita berdua saja, sayang.” “Ah, iya .. Sorry ..,” ucap Ingga yang merasa semakin kikuk. Duh, malu sekali rasanya. Ingga jadi terlihat seperti orang yang sedang tidak fokus. Keenan hanya tersenyum seraya menatapi Ingga. Tingkah Ingga yang acap kali terlihat kikuk dan canggung malah membuat Keenan jadi semakin jatuh hati padanya. ‘Rasanya aku sangat ingin mencium kamu sekarang juga, Ingga,’ batin Keenan. Setelah hampir setengah jam menunggu, makanan dan minuman pesanan keduanya akhirnya tiba juga. Ingga langsung menelan ludahnya begitu melihat sepiring steak au poivre pesanannya yang terlihat amat menggugah selera. “Kamu suka makanannya?” tanya Keenan sesaat setelah Ingga memotong dan mencicipi potongan steak-nya. Ingga langsung mengangguk dengan semangat, “Iya, suka sekali. Steak-nya empuk.” Keenan tersenyum geli, “Dari sekian banyak makanan dan minuman yang ada dalam menu, kamu hanya pesan steak dan sebotol champagne?” “Iya. Aku tidak enak sama kamu kalau pesan yang mahal-mahal,” jawab Ingga. Kenan menggeleng seraya tersenyum, “No, no. It’s okay.” Ingga hanya menatap wajah tampan Keenan dan tersenyum manis. Setelahnya, begitu selesai menghabiskan waktunya hampir setengah jam untuk makan sore -hampir malam- bersama, tanpa menunggu lama Keenan langsung menyatakan apa tujuannya mengajak Ingga makan bersama hari ini. Jantung Keenan berdegup kencang seketika. “Ada yang mau aku bicarakan sama kamu,” katanya dengan raut wajah yang terlihat sedikit gugup. Ingga menatap Keenan bingung, “Soal apa?”       Keenan tak menjawab. Setelahnya, Keenan beranjak memberikan Ingga sebuah kotak kecil berwarna silver yang terlihat begitu mengkilap. “Apa ini, Keenan?” tanya Ingga yang semakin bingung dan tertegun di saat yang bersamaan. Keenan tersenyum, “Untukmu.” “Untukku?” tanya Ingga heran.   Begitu kotaknya dibuka, ternyata isinya sebuah kalung yang terbuat dari emas putih dengan batu intan permata berbetuk hati yang begitu cantik. Keenan beralih memegang kedua tangan Ingga seraya menatapnya serius, “I love you, Ingga ..” Ingga menatap Keenan dengan tatapan harunya, “Sudah berapa lama?” “Maksudmu?” tanya Keenan bingung. “Sudah berapa lama kamu menyukaiku, Keenan?” Keenan menggeleng, “Entah. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mencintaimu.” Keenan lanjut bicara sambil menatap Ingga serius, “Namun satu hal yang pasti, aku tahu rasa cinta itu terus tumbuh setiap kali aku melihat wajah kamu, Ingga.” Hati Ingga langsung terenyuh seketika, “Keenan ..” “Jadi … Maukah kamu jadi milikku?” tanya Keenan takut-takut. Begitu kalimat itu lolos dari bibirnya, entah mengapa, seketika jantung Keenan langsung berdegup semakin kencang.      Ingga terdiam sejenak seraya memperhatikan sekotak kalung emas putih yang tergeletak dalam genggaman tangannya setelahnya. ‘Aku masih bingung dengan perasaanku sendiri, Keenan. Bahkan aku tidak tahu apakah perasaanku padamu adalah cinta atau bukan,’ batinnya. Ingga menatap Keenan takut-takut, “Aku .. aku bingung ..” Dahi mulus Keenan langsung mengkerut, “Why?” Ingga menghela napas sejenak seraya menyodorkan sekotak kalung emas putih itu lagi pada Keenan, “Aku tidak bisa menjawabnya sekarang.” Keenan tersenyum kecut, “Ini semua karena Hamish, iya kan?” Ingga hanya terdiam, tak tahu harus merespon apa. Melihat Ingga yang tak kunjung menjawab, Keenan jadi semakin yakin kalau asumsinya selama ini adalah benar. “Ternyata benar, kamu memang menyukai Hamish,” katanya seraya tersenyum getir. Ingga langsung menggeleng, “Bukan! Bukan begitu, Keenan .. Bahkan aku dan Hamish belum jadi sepasang kekasih ..” Keenan menatap Ingga seraya tersenyum sinis, “Belum, bukan? Berarti tinggal tunggu waktu saja kan sampai kamu dan Hamish resmi jadi sepasang kekasih?” Melihat betapa hancurnya hati Keenan, seketika Ingga jadi merasa iba sendiri, “Keenan ..” Ingga beralih memegang kedua tangan Keenan, “I’m sorry ..” Keenan menghela napas sejenak, “Alright, itu pilihan kamu. Aku tidak bisa memaksa.” Cinta memang tidak bisa dipaksa, bukan? Ya meskipun jauh dalam lubuk hatinya, ingin sekali rasanya Keenan memaksa Ingga agar mau membalas cintanya yang sudah begitu lama dipendamnya itu. Setelahnya, Keenan beranjak mengeluarkan kalung emas putih pemberiannya dari dalam kotaknya lalu beranjak memakaikannya pada Ingga. “Keenan .. Jangan ..,” ucap Ingga yang semakin merasa tak enak hati. “It’s okay. Aku memang sengaja membelikannya buat kamu,” ucap Keenan seraya memasangkan kalung pemberiannya pada leher Ingga. “Tapi ..” Keenan tersenyum sambil menangkupkan wajah Ingga setelahnya, “Ambil saja, Ingga. Aku tidak suka mengambil sesuatu yang sudah aku berikan pada orang lain.” Ingga tersenyum haru, “Thank you.” Keenan hanya tersenyum. Ya, lebih tepat lagi dikatakan sebagai sebuah senyum getir .. Setelahnya, Ingga terdiam sejenak sembari menatapi setangkai bunga mawar segar yang diletakkan di dalam gelas kaca di atas meja makannya. Begitu melihat warna merah segar yang terpancar dari bunga mawar itu, tiba-tiba Ingga jadi teringat akan sesuatu. “Ah, iya, aku baru ingat. Kamu lihat lipstick warna merah yang tempatnya warna gold tidak?” tanya Ingga penasaran. Keenan menatap Ingga bingung, “Lipstick warna merah?” Ingga mengangguk, “Iya. Sepertinya ketinggalan di apartemen kamu waktu itu ..” Keenan terdiam sejenak untuk berpikir. “Merek yves saint laurent?” tanyanya. Ingga langsung mengangguk dengan semangat, “Iya, betul! Merek yves saint laurent. Bisa tolong bawakan tidak? Itu lipstick kesayanganku ..” Oh, rupanya lipstick yang masih tergeletak di atas meja kayu kecil di dalam kamar tidur Keenan itu milik Ingga. Hampir saja dibuangnya ke tempat sampah kemarin. “Aku lupa simpan di mana,” bohong Keenan. “Apa jangan-jangan sudah aku buang ya?” goda Keenan. “God, serius?! Astaga, itu lipstick mahal, Keenan!” ucap Ingga kaget. Keenan mengangkat bahunya, “I don’t know. Aku tidak ingat juga.” Keenan terdiam sejenak, memikirkan sebuah ide nakal yang tiba-tiba terbesit dalam benaknya setelahnya, “Bagaimana kalau kamu cari sendiri?” Ingga mengerutkan dahi mulusnya, “Apa?” Keenan tersenyum nakal, “Iya, cari sendiri saja, sayang. Dan lagi, aku baru ingat kalau hari ini jadwal buang sampah bulanan di apartemenku.” “s**t ..,” ucap Ingga frustrasi. “Bagaimana? Mending kamu cari di apartemenku atau cari di tempat pembuangan sampah, hm?” goda Keenan seraya menatap Ingga dengan tatapan nakal. Keenan lanjut bicara, “Aku janji akan membantumu mencari lipstick-mu itu, tapi kalau di tempat pembuangan sampah ..” Ingga langsung memotong ucapan Keenan setelahnya, enggan membayangkan bagaimana ‘harumnya’ tempat pembuangan sampah, “Iya! Aku mau. Biar aku yang cari sendiri.”       Keenan langsung menyeringai puas. “Ayo,” ucap Ingga selepas mengenggak habis segelas champagne-nya. “Ke mana?” tanya Keenan yang pura-pura bodoh. Ingga memutar bola matanya kesal, “Ke apartemenmu.” ***** Sesampainya di apartemen, Ingga langsung berbinar-binar begitu mendapati kalau lipstick yves saint laurent kesayangannya itu masih tergeletak rapih di atas meja kayu kecil di dalam kamar tidur Keenan. “Oh, God, my baby,” ucap Ingga seraya menatap lipstick-nya seolah-olah seperti sedang menatap anaknya yang baru ditemukan lagi setelah lama hilang. Keenan tersenyum geli, “Sepertinya kamu cinta sekali ya dengan lipstick-mu itu.” Ingga mengangguk, “Tentu. Harganya mahal dan aku suka sekali sama warnanya.” Keenan berjalan perlahan mendekati Ingga setelahnya, “Untung belum aku buang.” “Awas saja kalau sampai kamu berani membuangnya!” ucap Ingga kesal. Keenan menyeringai nakal. “Apa yang akan kamu lakukan kalau sampai aku berani membuangnya, hm?” ucap Keenan seraya menangkupkan wajah Ingga dan mengelus pipi mulusnya perlahan. “Lu .. lupakan saja,” ucap Ingga yang wajah cantiknya mulai terlihat memerah karena malu. Seringai nakal di wajah tampan Keenan melebar. Setelahnya, Keenan hanya terdiam sambil menatapi Ingga dari ujung rambut hingga ujung kakinya dengan sorot mata coklat terangnya yang begitu tajam dan intens. Begitu tajam, seolah-olah perempuan cantik yang sedang berdiri di hadapannya ini adalah mangsa yang sebentar lagi akan dilahapnya. Ingga beralih menatap Keenan dengan raut wajah gugup sekaligus bingung, “Kenapa, Keenan?” Keenan beralih mengelus leher mulus Ingga setelahnya, membuat tubuh Ingga sedikit gemetar karena sentuhan jari-jari tangannya yang lembut. “Kalung ini terlihat cantik sekali di lehermu, Ingga ..,” ucapnya dengan suaranya yang terdengar berat dan sedikit parau. Setelahnya, lagi-lagi Keenan hanya terdiam sambil terus menatapi wajah cantik Ingga. Sorot kedua matanya yang bersinar coklat terang itu terlihat mulai dipenuhi dengan gairah. ‘Aku sangat ingin bercinta denganmu, Ingga. Aku ingin menindih tubuhmu, memasukimu. Membuatmu mendesahkan namaku dengan amat kencang,’ batinnya. “Damn ..,” racau Keenan. Tak sanggup harus menahan dirinya lebih lama lagi, tiba-tiba, Keenan langsung beranjak menciumi bibir Ingga dengan amat terburu-buru. Keenan beralih memeluk tubuh mungil Ingga dengan erat setelahnya, mencoba menghilangkan jarak yang tadinya memisahkan tubuhnya dengan tubuh Ingga. Seolah-olah perempuan cantik yang sedang berdiri tepat di hadapannya ini akan hilang dan menguap di udara jika Keenan tidak cepat-cepat memeluk tubuhnya. Ingga, di satu sisi, merasa begitu tertegun dengan ciuman bibir Keenan yang terasa begitu tiba-tiba dan menuntut. Namun di sisi yang lain, tak bisa dibohongi, Ingga begitu menyukai bagaimana liarnya bibir Keenan dan jari-jari tangannya yang terus membelai dan meremas tubuhnya dengan lembut. “Mphh ..,”erang Ingga di sela-sela ciuman panasnya. Keenan beralih mendorong tubuh Ingga ke atas ranjangnya setelahnya, lalu dengan sigap langsung menindih tubuh mungilnya dan beranjak menciumi leher mulusnya, yang terekspos bebas dari balik t-shirt model v-neck warna putih yang dikenakannya.    “Nghh Keenan ..,” desah Ingga seraya meremas rambut tebal kecoklatan milik Keenan. Jari-jari tangan Keenan yang nakal mulai bergerak perlahan, meremas lembut gundukan ranum Ingga dari balik t-shirt putih dan bra warna hitamnya. Sebuah desahan langsung lolos dari bibir Ingga seketika dirinya merasakan bagaimana lihai dan lembutnya remasan tangan seorang Keenan Lorenzo di gundukan ranumnya. “Ahh ..,” desah Ingga. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Ingga langsung tersadar dan bangkit dari pusaran gairah yang tadi sempat membawanya jauh, sesaat setelah dirinya merasakan sesuatu yang begitu keras dan menonjol menyentuh daerah intimnya di bawah sana. Ya, Keenan sudah sangat b*******h. Ingga langsung menatap wajah tampan Keenan setelahnya, yang masih sibuk menghujani leher mulusnya dengan kecupan-kecupan hangat sambil terus meremas lembut gundukan ranumnya. Tidak, tidak boleh. Ini tidak boleh terjadi. “Stop, Keenan,” bisik Ingga seraya memegang tangan Keenan, menghentikannya sejenak dari percintaan panasnya. Keenan langsung tertegun dan terdiam sejenak sambil memandangi wajah cantik Ingga setelahnya. Raut wajahnya perlahan mulai dipenuhi dengan rasa bersalah. Keenan beranjak bangkit berdiri tak lama kemudian. “I’m sorry, Ingga ..,” ucapnya seraya menatap Ingga dengan raut wajah yang terlihat amat frustrasi. ‘Sepertinya malam ini aku harus ‘bermain sendiri’ lagi karena kamu, Ingga,’ batin Keenan getir. “Ti .. tidak apa-apa ..,” ucap Ingga kikuk. Tanpa sadar, wajah cantik Ingga langsung merona padam seketika melihat bagaimana bergairahnya milik Keenan di bawah sana, yang terlihat begitu menonjol dari balik celana jins dan boxer hitamnya. Ingga langsung membuang mukanya setelahnya, dan beralih menatapi dinding kamar tidur Keenan yang dicat putih bersih. Enggan menatap lebih lama batang keperkasaan Keenan yang sudah terlihat amat mengeras di bawah sana. “Sepertinya lebih baik aku pulang sekarang,” ucapnya dengan raut wajah yang terlihat begitu canggung. Keenan mengangguk perlahan. “Aku akan mengantar kamu pulang,” ucapnya yang tak kalah canggungnya dengan Ingga. Selama perjalanan pulang di mobil, keduanya malah jadi hening. Hanya suara berisik kendaraan bermotor yang sesekali terdengar, memecah keheningan di antara keduanya. Keenan, di lain sisi, masih merasa frustrasi karena miliknya masih terasa sesak dan minta dipuaskan di bawah sana. Keenan menghela napas sejenak, “Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud mencium kamu tadi.” Ingga tersenyum, “Tidak apa-apa.”        Senyum di wajah cantik Ingga perlahan luntur seketika dirinya teringat kembali akan sosok seorang laki-laki tampan asal Yunani bernama Hamish Alexander, yang saat ini juga sedang berusaha keras untuk mendapatkan cintanya. Seketika, Ingga jadi teringat kalau bahkan waktu itu Hamish juga sempat mencium bibirnya. Siapa sih yang sebenarnya Ingga inginkan? Tak lama setelahnya, bunyi ponsel yang terdengar amat kencang langsung memecah Ingga dari lamunannya. Begitu dilihat, ternyata peneleponnya adalah Hamish. Lucu sekali, padahal baru tadi Ingga memikirkan laki-laki tampan yang tubuhnya tinggi semampai itu. “Halo?” ucap Ingga. Hamish langsung bertanya, “Ingga? Kamu .. ada acara besok?” “Tidak kok. Kenapa?” Hamish tersenyum, “Aku mau mengajak kamu nonton. Kamu mau?” Ingga langsung tertegun, “Ah, itu ..” “Please .. Aku benar-benar ingin pergi berduaan sama kamu. Ya? Ya?” ucap Hamish yang nada bicaranya terdengar penuh dengan harap. Ingga menghela napas sejenak, “Alright. Kita bicarakan lagi nanti, oke?” “Okay. See you later, Ingga,” ucap Hamish dengan nada bicaranya yang terdengar sedikit kecewa. “Dari siapa?” tanya Keenan sesaat setelah Ingga memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana skinny jeans-nya. Ingga langsung gelagapan. “Ah, itu .. Teman kantor, dia habis bertanya soal kerjaan tadi,” bohongnya. ‘Ck, kamu kira aku tidak tahu ya kalau itu suaranya Hamish?’ batin Keenan kesal. Keenan tersenyum kecut, “Oh.” Tak lama setelahnya, mobil BMW hitam yang dikendarai Keenan akhirnya sampai tepat di pelataran rumah Ingga. “Thanks for today, Keenan,” ucap Ingga seraya tersenyum manis pada Keenan. Tepat sebelum Ingga keluar dari mobilnya, Keenan beranjak menangkupkan wajah Ingga lalu mencium dahi mulusnya sekilas. Ciuman bibirnya yang terasa amat lembut itu perlahan turun setelahnya, dari kedua kelopak mata, kedua pipi, hingga akhirnya sampai di bibir Ingga yang terasa begitu halus. Keenan menatap Ingga nanar, “Good night, Ingga ..” Ingga hanya tersenyum tipis. Entah mengapa, hati Ingga terasa pedih seketika melihat sorot nanar yang terpancar dari sepasang bola mata yang bersinar coklat terang itu ..     ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD