Ingga Asmarani memperhatikan wajah laki-laki tampan keturunan setengah Italia yang sedang duduk di hadapannya dengan tatapan curiga. Ingga sendiri merasa heran, bagaimana bisa tiba-tiba dirinya bertemu dengan Keenan siang ini. Sungguh, di saat yang tidak tepat pula.
Ya, saat Ingga sedang asik menikmati momen kencan butanya dengan Hamish Alexander, seorang laki-laki tampan asal Yunani yang belum lama ini dikenalnya.
Apa jangan-jangan Keenan membuntutinya tadi? Atau mungkin semuanya memang benar-benar hanya kebetulan semata? Entahlah, hanya Keenan dan Tuhan yang tahu.
Ingga menghela napas sejenak, “Hamish bukan klien meeting-ku. Kita .. kita memang sedang kencan buta sekarang.”
Hamish beralih menatap wajah cantik Ingga seraya memegang tangannya dengan lembut, “Tidak, kita tidak sedang kencan buta, Ingga. Kita memang sedang berkencan.”
Ingga menatap Hamish bingung, “Eh?” Astaga, padahal Hamish dan Ingga baru bertatap muka setengah jam yang lalu.
Keenan tersenyum kecut. ‘Ck, ternyata dugaanku tadi pagi benar adanya. Kamu sudah membohongiku, Ingga,’ batinnya getir. Keenan lanjut bicara dengan tatapan tajamnya, “Sejak kapan kalian saling mengenal?”
Hamish tersenyum lebar. “Kita sudah saling chatting sejak tiga minggu yang lalu, tapi baru bertemu tatap muka pertama kali hari ini,” jawabnya semangat.
Dahi mulus Keenan langsung mengkerut, “Kok kamu bisa kenal sama Ingga? Kenal dari mana? Situs dating online?”
Ingga langsung menatap Keenan tajam. ‘Duh, dasar cowok sialan,’ batinnya kesal.
Hamish menggeleng, “Bukan, Aksa yang mengenalkan Ingga padaku.”
Dahi mulus Keenan tambah mengkerut, “Tunggu, siapa? Aksa Waraprada maksudmu?”
Hamish mengangguk, “Iya, Aksa Waraprada.” Hamish lanjut bertanya, “Kamu kenal dia?”
“Dia teman kami ..,” jawab Ingga.
Hamish langsung tertegun, “Ah, benarkah?”
Ingga mengangguk, “Iya.”
Keenan beralih menatap Hamish dengan tatapan tidak suka. ‘Sial, buat apa juga sih Aksa mengenalkan Ingga pada cowok satu ini?’ batinnya kesal.
Hamish lanjut bicara sambil tersenyum ramah, “Awalnya aku kira kamu expat nyasar. Soalnya tadinya aku pikir kamu terpisah dengan teman-temanmu, dan salah menyangka kami sebagai temanmu.”
‘Apa? Expat nyasar katamu?!’ batin Keenan kesal. Keenan tersenyum miring, “Iya, aku memang setengah Italia. Orangtuaku menetap sementara di Australia sekarang, bersama kakakku.”
Senyum di wajah tampan Hamish melebar, “Ah, begitu. By the way, I’m from Rhodes, Greece.”
Keenan hanya tersenyum kecut. ‘Ck, tidak ada yang peduli juga mau kamu dari planet Mars sekalipun, yang terpenting kamu sudah menganggu hubunganku dengan Ingga,’ batin Keenan kesal.
Hamish lanjut bicara lagi, masih dengan sebuah senyuman yang tak pernah lepas dari wajah tampannya, “Nice to meet you, bro.”
Lagi-lagi, Keenan hanya tersenyum kecut. ‘Sayangnya, aku sama sekali tidak suka bertemu denganmu,’ batinnya getir. Setelahnya, Keenan beralih menatap Ingga. Senyum kecut yang tadinya terpatri di wajah tampannya langsung berubah jadi sebuah seringai nakal setelahnya, “So, Ingga ..”
“Kenapa?” tanya Ingga bingung.
“Kamu suka kan kaus dan celana yang aku pinjamkan padamu? Aku sengaja meminjamkannya padamu soalnya bahannya lembut dan sejuk,” ucap Keenan dengan raut wajah tampannya yang terlihat begitu menggoda.
Ingga langsung gugup dan gelagapan seketika mendengar apa yang baru saja keluar dari bibr Keenan, “Ah, iya .. Aku suka kok. Thanks.”
Senyum nakal di wajah tampan Keenan langsung melebar seketika melihat Ingga, yang mulai gugup dan gelagapan karenanya.
Hamish mengerutkan dahi mulusnya, “Jadi sekarang kamu lagi pakai bajunya Keenan?”
Pertanyaan Hamish sukses membuat Ingga tambah gugup dan gelagapan seketika, “Ah, iya, itu ..”
Belum sempat Ingga menyelesaikan ucapannya, Keenan sudah keburu angkat bicara duluan. “Iya, aku sengaja meminjamkannya karena Ingga menginap di apartemenku tadi malam. Dia lupa bawa baju ganti,” ucap Keenan dengan seringai nakal di wajah tampannya.
Kedua mata indah Ingga langsung membulat. Ingga beralih menatap Keenan tajam setelahnya. ‘Dasar Keenan sialan!’ batinnya kesal.
Dahi mulus Hamish tambah mengkerut, “Bagaimana bisa kamu menginap di apartemennya Keenan tadi malam?”
Ingga menghela napas sejenak, mencoba menenangkan dirinya yang semakin emosi karena tingkah konyol Keenan. “Itu .. soalnya Keenan sudah terlanjur mabuk, jadi aku yang mengantarkannya pulang ke apartemennya. Tidak mungkin kan aku menyuruhnya menyetir sendirian? Kan bahaya ..,” jelasnya.
Hamish semakin tertegun. “Jadi kalian mabuk bersama tadi malam?” tanyanya dengan raut wajah tidak percaya.
Keenan langsung mengangguk sambil tersenyum puas, “Ya.”
Ingga langsung menggeleng, “Ah, tidak cuman berdua kok. Ada Aksa dan Damian juga, teman kami. Damian juga membawa kekasihnya. Banyak yang hadir saat itu.”
Hamish tersenyum kecut, “Kamu perhatian sekali ya, Ingga.”
Keenan mengangkat bahunya, “Memang. Ingga tipe perempuan yang perhatian ..” Keenan beralih merangkul pundak sempit Ingga setelahnya sambil tersenyum nakal, “.. dan penyayang.”
“Ah, jangan dekat-dekat!” ucap Ingga seraya menepis tangan Keenan dari pundaknya.
Keenan hanya menyeringai nakal. Puas sekali rasanya sudah berhasil menunjukkan pada Hamish kalau dirinya memang dekat dengan Ingga, ya meskipun keduanya belum jadi sepasang kekasih. Ah, Hamish belum tahu saja kalau bahkan Keenan sudah sempat melihat bagaimana indahnya lekuk tubuh dan gundukan ranum milik Ingga tadi malam.
Tak lama setelahnya, tiba-tiba ponsel Keenan berbunyi. Ada satu chat masuk dari Kaitlyn, sekretaris sekaligus asisten pribadinya, yang memintanya segera bertemu untuk meeting sekarang. ‘Sial, kenapa harus pakai acara meeting sekarang sih,’ batin Keenan kesal.
Keenan menghela napas sejenak. “Sepertinya aku harus pergi sekarang. Ada meeting penting yang tidak bisa aku lewatkan,” katanya dengan raut wajah yang terlihat amat terpaksa. Ya, terpaksa, karena Keenan merasa amat berat meninggalkan Ingga bersama dengan Hamish.
Hamish langsung tersenyum puas. ‘Ya, buruan pergi sana. Kamu sudah menganggu kencanku,’ batinnya.
Ingga menatap Keenan khawatir, “Ah, kamu tidak mau makan dulu? Atau pesan sesuatu untuk take away mungkin?”
Bukannya menjawab pertanyaan Ingga, Keenan malah mengalihkan pembicaraannya. “Aku ‘kan sudah bilang sebelumnya, Ingga memang tipe perempuan yang perhatian,” ucap Keenan dengan senyum manis di wajah tampannya.
Ingga memutar bola matanya, “Serius, Keenan ..”
Keenan tersenyum sambil menggeleng, “Tidak usah, lagipula aku sudah sarapan kok tadi pagi.”
‘Dan entah mengapa, rasa laparku seketika jadi hilang begitu aku melihatmu bersama dengan laki-laki lain, Ingga,’ batin Keenan getir. Setelahnya, tanpa diduga, Keenan beralih menangkupkan wajah Ingga dengan tangan kanannya lalu mencium lembut pipi mulusnya sejenak. Keenan sudah sama sekali tak peduli meskipun ada Hamish di samping Ingga, yang terus menatapnya dengan tatapan super tajam.
‘Sialan,’ batin Hamish kesal.
Keenan tersenyum, “Sampai jumpa nanti, sayang.”
Ingga kembali bicara sesaat setelah memastikan kalau Keenan sudah benar-benar pergi. “Maaf ya, kamu pasti merasa terganggu sama Keenan ya?” tanyanya yang merasa tak enak hati pada Hamish.
Hamish tersenyum ramah, meskipun sebenarnya jauh dalam hatinya Hamish sudah merasa begitu gondok dengan Keenan, “It’s okay.” Hamish lanjut bertanya setelahnya, “Jadi .. bagaimana? Kamu mau?”
Ingga menatap Hamish bingung, “Mau apa?”
“Berkunjung ke rumahku besok,” jawab Hamish. “Tidak usah khawatir, aku yang akan menjemput kamu,” lanjutnya.
Ingga hanya terdiam sejenak setelahnya, sambil menatapi wajah tampan Hamish yang menatapnya dengan penuh harap. Ya, hanya sekadar berkunjung sebentar tidak masalah, bukan? Akhirnya, Ingga menyetujui ajakan Hamish.
Ingga tersenyum sambil mengangguk, “Okay, aku bersedia.”
Hamish langsung tersenyum lebar, “Seriously?!”
Ingga tersenyum, “Iya.”
“Baik, aku jemput kamu besok siang. Di mana alamat rumahmu?” tanya Hamish semangat.
Setelanya, Ingga beralih memberikan Hamish alamat kediamannya. Hamish kembali bicara seraya tersenyum manis setelahnya, “Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu hari esok.”
Hamish beranjak mencium dahi mulus Ingga sekilas, “Sampai jumpa besok, Ingga.”
Ingga hanya tersenyum. Sungguh, Ingga Asmarani tidak pernah menyangka sebelumnya kalau dirinya akan dicium dengan dua orang laki-laki yang berbeda hari ini ..
*****
Esok siangnya, Hamish benar-benar menepati ucapannya dengan sudah terlebih dulu menunggu Ingga di depan pelataran rumahnya. Ingga mendapati Hamish sedang berdiri sendirian, sambil menyenderkan punggungnya pada mobil ferrari merahnya, yang diparkirnya persis di pelataran rumah Ingga.
“Hamish?” panggil Ingga.
Hamish langsung menoleh dan tersenyum, “Hey.”
Setelahnya, lelaki tampan asal Yunani ini hanya terdiam sejenak sambil memperhatikan wajah cantik Ingga. Rambut panjang Ingga dibiarkan tergerai indah, pipinya terlihat sedikit merona di bawah pantulan cahaya matahari yang hangat. Bibirnya yang amat menantang untuk dicium itu dirias dengan pulasan lipstick warna light pink yang sangat cantik. Berbeda dengan waktu itu, hari ini Ingga mengenakan sebuah dress hijau motif bunga-bunga yang menjuntai indah sampai batas lututnya.
Hamish menatap Ingga serius, “Kamu bahkan terlihat lebih cantik hari ini, Ingga.”
Ingga tersenyum manis, “Thanks.”
“Ayo,” kata Hamish seraya tersenyum dan membukakan pintu mobilnya untuk Ingga.
Begitu menginjakkan kakinya di rumah Hamish, Ingga langsung terpana dengan deretan lukisan pemandangan yang terpatri dan berjejer rapih di dinding rumahnya, persis bak pameran lukisan di galeri seni.
“Kamu suka mengoleksi lukisan ya?” tanya Ingga sambil memperhatikan lukisan Pulau Santorini yang terpampang di hadapannya.
Hamish menggeleng, “Bukan aku, tapi ayahku.” Hamish lanjut bicara seraya tersenyum, “Indah, bukan?”
Ingga mengangguk, “Iya. Ini di Santorini, kan?”
Senyum di wajah tampan Hamish melebar, “Iya, Santorini, pulau kecil di Yunani. Lukisan ini dibuat langsung di sana.”
Ingga langsung tertegun, “Benarkah? Menarik sekali ..”
“Kalau kamu mau, aku bisa mengajak kamu ke sana.”
“Ke Santorini?” tanya Ingga kaget.
Hamish tersenyum, “Tidak hanya ke Santorini, aku bisa mengajakmu berkeliling Yunani kalau kamu mau.”
Ingga hanya tersenyum tipis. ‘Astaga, bahkan kita belum benar-benar saling mengenal,’ batinnya.
Satu jam setelahnya, Hamish Alexander akhirnya selesai dengan sesi masak memasaknya. Wangi harum masakan yang begitu menggugah selera langsung memenuhi seluruh penjuru ruangan. Dengan tatapan berbinar-binar, Ingga menatapi deretan makanan yang tersaji dan tertata rapih ala restoran bintang lima di hadapannya.
Hamish beralih memberikan Ingga sepiring caesar salad yang disajikan dengan salmon panggang setelahnya. “Bagaimana rasanya? Enak?” tanya Hamish penasaran.
Ingga tambah berbinar-binar begitu indera pengecapnya merasakan betapa nikmatnya masakan seorang Hamish Alexander, “Iya, enak sekali. Ini caesar salad terenak yang pernah aku makan.”
Hamish hanya tersenyum manis. Setelahnya, kedua mata indah Ingga langsung terpana akan sebuah makanan yang nampak begitu asing di hadapannya. Belum pernah Ingga melihat makanan sejenis itu sebelumnya.
“Makanan apa itu, Hamish?” tanya Ingga bingung.
“Ah, itu. Namanya dolmades, makanan khas Yunani yang dibungkus pakai daun anggur,” jawab Hamish ramah.
“Daun anggur?”
“Iya.” Hamish beranjak menyendok dolmades buatannya lalu menyuapinya pada Ingga. Hamish lanjut bertanya, “Bagaimana menurutmu?”
“Rasanya unik. Ini pertama kalinya aku makan masakan Yunani,” jawab Ingga seraya tersenyum.
Hamish tersenyum lebar, “Aku senang mendengarnya.”
Setelahnya, Hamish hanya terdiam sembari menatapi wajah cantik Ingga dengan tatapan seriusnya. “Ada apa, Hamish?” tanya Ingga penasaran.
Bukannya menjawab, Hamish malah beranjak mencium lembut bibir Ingga lalu menyapu bibirnya dengan sapuan lidahnya yang terasa hangat. Hamish tersenyum nakal, “Ada saus di sudut bibirmu tadi.”
Ingga hanya terdiam setelahnya. Kedua matanya membulat, masih merasa tertegun dengan ciuman bibir Hamish yang terasa begitu tiba-tiba. Entah mengapa, Ingga malah merasa begitu hambar.
Ya, Ingga masih tidak bisa merasakan getaran cinta dari seorang Hamish Alexander.
Melihat Ingga yang tak kunjung bicara, seketika Hamish malah jadi merasa bersalah karena sudah menciumnya tadi, “I’m sorry .. Kamu marah ya?”
‘Hatiku hanya belum mau terbuka untukmu, Hamish,’ benak Ingga. “It’s okay, aku tidak marah sama kamu kok,” ucapnya seraya tersenyum.
Tak lama setelahnya, ponsel Ingga bergetar. Ada satu panggilan masuk, dari Keenan. Ingga langsung mengangkat panggilannya setelahnya, “Kenapa, Keenan?”
“Bisa ketemuan besok? Ada hal penting yang mau aku bicarakan sama kamu,” kata Keenan to the point.
“Ya sudah kita bicarakan lagi nanti ya,” ucap Ingga seraya sedikit berbisik.
Dahi mulus Keenan langsung mengkerut, “Memang kamu sedang ada di mana sekarang?”
“Di rumah Hamish.”
Sebuah petir di siang bolong seolah-olah langsung menghambar kepala Keenan. ‘Sialan,’ batinnya kesal.
“Baik, aku akan meneleponmu nanti,” ucap Keenan sesaat sebelum mengakhiri panggilannya. Mood nya langsung turun seketika mendengar nama Hamish disebut lagi.
“Dari siapa?” tanya Hamish penasaran.
“Keenan,” jawab Ingga santai.
‘Ck, lagi?’ batin Hamish kesal. “Ah, Keenan ..,” katanya dengan sebuah senyum palsu yang terpatri di wajah tampannya.
Ingga hanya terdiam sejenak setelahnya sembari memperhatikan sepiring caesar salad dan dolmades buatan Hamish yang tersaji di hadapannya. Kedua mata indahnya terlihat menerawang.
‘Ah, paling dia hanya mau kasih tahu kabar tentang cewek barunya saja,’ batin Ingga getir.
Tak bisa dibohongi, sekuat apapun Ingga menyangkal perasaannya, hatinya tetap tertuju pada seorang Keenan Lorenzo. Raganya mungkin berada di sini sekarang, bersama dengan Hamish, tapi jiwanya tetap berada bersama Keenan.
“Kamu kenapa, Ingga?” tanya Hamish dengan raut wajah khawatir sekaligus penasarannya.
Ingga langsung menggeleng, “Nggak apa-apa kok.”
♥♥TO BE CONTINUED♥♥