Ingga berjalan cepat menyusuri lorong apartemen di hadapannya. Suara high heels yang berisik seketika menggema hingga ke seluruh penjuru lorong yang sepi. Ingga menekan kode akses masuk apartemen Keenan dengan jari yang terlihat sedikit gemetar. Raut wajah cantiknya terlihat khawatir dan panik di saat yang bersamaan. Begitu masuk, ternyata apartemen Keenan gelap. Hanya rembulan yang cahayanya menerobos masuk melalui jendela kaca, menjadi satu-satunya penerang di tengah gelapnya apartemen yang amat luas itu. Bau minum-minuman beralkohol yang cukup kuat memenuhi indera penciuman Ingga seketika. “Keenan? Kamu di mana?” ucap Ingga seraya meraba-raba dinding apartemen Keenan, sibuk mencari-cari di mana letak saklar lampunya. Suara Keenan yang terdengar berat dan sedikit parau terdengar setel

