MINERVO 07 : Sosok Para Pembunuh Roh

1625 Words
"Menjadi seorang pahlawan? Aku? Pffft! Hahahaaha!" Colin tertawa terbahak-terbahak setelah mendengar penjelasan dari Paul mengenai; apa itu mentor, kunang-kunang, dan juga pahlawan. Sampai mulut Paul berbusa karena menjelaskan semua itu dari awal hingga akhir, agar Colin bisa memahami kondisinya. Karena memang begitulah tugas seorang mentor, membimbing para calon pahlawan agar bisa jadi pahlawan sejati. Tapi sayangnya, respon Colin tidak sesuai harapan, lelaki berambut biru itu malah terkesan mengejeknya, seolah-olah semua yang Paul jelaskan adalah sebuah kekonyolan semata. "Sebelumnya aku minta maaf! Hahaha!" Colin bersuara diiringi dengan gelak tawa yang renyah. "Aku ketawa bukan berniat mengejekmu, kok! Hahaha! Hanya saja, kau tahu, semua yang kau katakan membuatku ingin tertawa! Hahaha! Ini seperti respon alami dari alam bawah sadarku! Soalnya, kedengarannya lucu sekali! Hahaha!" Paul tidak menjawabnya sama sekali, dia hanya diam dengan memasang muka datar, membiarkan Colin tertawa sepuasnya. Soalnya, menurut Paul, itu adalah hal yang wajar. Semua orang pasti bakal ketawa terbahak-bahak saat orang asing mengatakan bahwa kau akan menjadi seorang pahlawan. Makanya, Paul tidak marah melihat Colin menertawakannya, walau sebenarnya, itu agak menjengkelkan, tangannya saja sudah gatal, ingin menghajar wajah lelaki berambut biru. "Tapi kau tidak perlu khawatir! Hahaha! Aku percaya ceritamu, kok! Jadi, bisa kau beritahu, bagaimana kelanjutannya? Apakah aku akan dilatih untuk mengeluarkan kekuatan super? Seperti terbang? Mengendalikan api? Air? Angin? Atau punya kekuatan hebat lainnya? Hahahaha!" Masih membisu, Paul tetap mempertahankan mulutnya untuk tidak menjawab, karena sepertinya Colin belum serius. Paul menunggu saat di mana Colin kelelahan karena banyak tertawa, dan disitulah dia akan balas dendam. Dan sepertinya, momen yang Paul tunggu-tunggu akan segera tiba, terlihat dari ekspresi Colin yang sudah puas tertawa. Menyunggingkan senyuman miring, Paul siap melakukan aksinya. "Hahhh." Colin menghembuskan napasnya, dia sudah sangat kenyang menertawakan Paul hingga perutnya sakit. "Apa aku terlalu berlebihan menertawakanmu? Maaf, ya! Aku ini memang lemah jika mendengar sesuatu yang menurutku lucu. Kita lupakan saja soal itu. Jadi, sampai mana kita tadi, emmm, Paul?" Menampilkan seringaian bengisnya, Paul mulai bersuara, "Sudah? Apa sekarang kau puas? Lucu sekali, benar. Saking lucunya, aku sampai ingin muntah melihat wajahmu ketika sedang tertawa." Paul berjalan, mendekati Colin, setelah jaraknya sudah dekat, ia menatap kedua mata lelaki itu dengan sangat tajam. "Tenang saja, aku masih punya banyak cerita lucu untukmu. Aku yakin, kau pasti akan senang mendengarnya, Hercolin." Terkejut, wajah Colin sampai berkeringat mendengar hal itu, ia juga ngeri melihat mata Paul yang menatapnya dengan buas. Colin menarik kedua kakinya perlahan, mundur untuk menjauhi Paul yang jadi semakin menakutkan. Mulutnya bergetar, bingung harus membalas apa pada perkataan Paul yang menusuk hatinya. Bahagia melihat Colin ketakutan, Paul menyilangkan kedua tangannya di d**a dengan gagah. "Ada apa dengan tampangmu, Colin? Tampaknya kau jadi ketakutan. Kemana perginya tawa renyahmu itu? Aku ingin mendengarnya lagi." Paul menahan tawanya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ayolah? Tertawa lagi! Ayo! Keluarkan tawamu! Hey! Kenapa kau diam saja? Oi! KELUARKAN TAWAMU!" Colin sampai jatuh terduduk, kakinya sudah tak mampu untuk menahan berat badannya. Sebab kedua kakinya gemetar, sementara Paul yang berdiri di depannya, hanya mendengus memandanginya. "K-Kumohon maafkan aku! Ak-Aku menyesal! Karena telah menertawakanmu! Sebagai gantinya! Kau boleh melakukan apa saja padaku! K-Kau boleh memukulku! Menendangku! Menginjakku! Terserah! Aku bersedia menerima apa pun darimu! Tapi aku mohon! Jangan membunuhku!" "Kau yakin?" Paul menampilkan seringaiannya, sambil memamerkan dua taringnya yang runcing. Colin menganggukkan kepalanya dengan cepat, seperti anjing yang patuh terhadap perintah majikannya. "Kalau begitu, berdiri!" bentak Paul pada Colin dengan tegas. Lelaki itu langsung beringsut mengangkat badannya untuk berdiri. "Mendekatlah padaku." ucap Paul dengan nada yang dingin pada Colin. Dan dengan polosnya, Colin mendekati Paul, walau sebetulnya ia sangat ketakutan. Dan saat mereka berdua sudah saling berdekatan, Paul tersenyum, kemudian, BUAG! Menghantam sebuah batu besar yang melesat ke punggung Colin, dengan tangan kosong. Hingga batu itu hancur lebur tak tersisa. Membuat Colin terbelalak, karena mendengar sesuatu telah hancur dipukul oleh Paul. Colin pun memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, dan betapa kagetnya saat ia mendapati sebuah batu yang telah remuk, berjatuhan, mengotori permukaan tanah. Namun, yang membuat rasa penasaran Colin meningkat adalah; siapa yang melempar sebuah batu besar tersebut ke arahnya, karena dia paham betul sebesar apa batunya, jika kepalanya terkena benda itu, ia pasti bakal mati mengenaskan di sini. "Se-Sebenarnya siapa yang melempar sebuah batu berukuran besar seperti ini ke arah kita!?" Terheran-heran, Colin meminta penjelasan dari Paul. Karena sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di tempat ini. Colin jadi sangat penasaran. Apalagi ini masih ada di lingkungan kerjanya; kedai makanan. Ia juga yakin, dengan batu sebesar itu, bisa membuat sebuah kedai hancur dalam sesaat. "Sepertinya ada seseorang yang tidak suka dengan kehadiran kita di sini, Colin." ucap Paul dengan mata yang siaga, melirik ke setiap arah, karena khawatir bila ada batu yang dilempar ke arah mereka lagi. "T-Tidak suka dengan kehadiran kita!? Tapi siapa!? Seingatku, aku tidak pernah punya musuh sebrutal ini, yang kebenciannya sampai membuatnya ingin membunuhku. Ini terlalu mengerikan." Perasaan takut Colin jadi menggila, seluruh tubuhnya berkeringat dan gemetar. Paul yang menyadari hal itu, langsung membentak Colin. "Bodoh! Jangan menunjukkan kelemahanmu di depan musuhmu! Kita harus terlihat kuat! Walau kita masih belum tahu siapa dan di mana pelakunya!" Mendengar bentakkan dari Paul, Colin meneguk ludahnya. "B-Baik! Aku akan berusaha!" Walaupun Colin bilang begitu, sebenarnya rasa takutnya belum hilang sama sekali. Tapi setidaknya, kini dia kelihatan lebih berani dari sebelumnya. "Hey Colin, aku tidak peduli kau mau percaya atau tidak, itu bukan urusanku. Aku hanya ingin bilang, karena kau akan menjadi seorang pahlawan, kau harus mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya! Kau paham!?" Entah kenapa, kata-kata yang diucapkan Paul, jadi terdengar mengharukan di telinga Colin. Padahal sebelumnya, omongan itu terdengar konyol dan lucu di telinganya. Kedua matanya jadi agak berkaca-kaca. "Ak-Aku berjanji! Aku akan membuktikan kepada musuh-musuhku di mana pun mereka berada! Bahwa aku pasti akan menghancurkan mereka!" Sesaat setelah Colin meneriaki hal itu, puluhan batu besar tiba-tiba berjatuhan dari segala penjuru. Membuat kedua mata Colin terbuka lebar, memperhatikan setiap batu yang mendatanginya. Dia bisa mati jika terkena batu-batu itu. Lengah sedikit saja, hidupnya berakhir. Namun, saat batu-batu itu sudah ada di depan hidungnya, Colin merenung, jika seandainya kematian mendatanginya. apakah ia akan pasrah, membiarkan sang kematian mencabut nyawanya begitu saja? "Jangan kau pikir... AKU AKAN MATI SEMUDAH ITU! SIALAAAAAAAAN!" Dengan amarah yang memuncak, Colin berteriak sekencang-kencangnya, memperlihatkan keberaniannya yang besar pada musuh-musuhnya; yaitu para batu, sampai urat lehernya menonjol dengan jelas. BUAG! BRAG! BRAK! BAG! BAG! Dan dengan sekuat tenaga, Colin menghancurkan, memukul, menghantam, menendang, meninju, semua batu yang melesat ke arahnya, hingga kedua tangan dan kedua kakinya bercucuran darah. Tanpa sadar, kejadian itu tengah disaksikan oleh banyak orang, bahkan para pelanggan maupun pelayan kedai mengintip di jendela, menonton Colin dan Paul menghancurkan batu-batu yang dilempar ke arah mereka dari segala arah. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu terkagum-kagum. Banyak juga yang mengabadikan aksi mereka lewat jepretan kamera atau rekaman video. "Hah... Hah... Hah...," Paul terengah-engah saking lelahnya memukul batu-batu tersebut, begitu juga dengan Colin. Namun, ada yang berbeda, Colin terlihat menyunggingkan senyumannya walau kelihatannya sedang sangat kelelahan. Sebuah kekaguman terbersit di benak Paul saat melihat ekspresi Colin. Ia tidak percaya orang yang sebelumnya sangat menyebalkan dan penakut, jadi terlihat kuat dan berani. Paul juga ikut menampilkan senyumannya, karena bangga melihat perkembangan Colin dalam waktu yang sangat singkat. Sepertinya, tidak ada tanda-tanda akan ada hujan batu lagi, membuat Paul maupun Colin lega, dan semua orang yang menonton, bersorak sorai, memberikan dukungan pada mereka, karena para penonton bahagia melihat akhir dari perjuangan dua lelaki pemberani tersebut. Para pelayan kedai berhamburan keluar, memeluk dan mengangkat tubuh Colin maupun Paul. Memamerkan kepada semua orang bahwa dua lelaki ini adalah kebanggaan mereka. Namun, masalah yang timbul dari kejadian itu adalah; banyak kendaraan milik pelanggan yang rusak karena tertimpa batu-batu tersebut, sebab lokasi Colin dan Paul saat itu di parkiran milik kedai. Bahkan sepeda Paul pun tak luput dari hantaman batu. Sepertinya Paul bakal pulang jalan kaki. "Hey Paul," Saat Paul akan pamit untuk pulang, Colin memanggil namanya, membuat langkahnya terhenti. "Terima kasih atas suntikan keberanian yang kau berikan padaku. Sekarang, aku seperti terlahir kembali menjadi orang yang berbeda. Kepercayaan diriku melambung sangat tinggi, sampai aku tidak bisa melihat kelemahanku. Dan juga, aku ingin meminta maaf karena telah menertawakanmu! Sekarang! Aku percaya pada ucapanmu! Karena itulah! Tolong! Bimbing aku untuk menjadi seorang pahlawan sungguhan!" Saat mengatakan hal itu, Colin membungkukkan badannya sangat lama pada Paul, untuk berterima kasih dan meminta maaf. Paul tersenyum kecil melihatnya. "Dasar bodoh." Orang-orang yang melihat hal itu pun ikut tersentuh. Kemudian, Paul dengan santainya pergi meninggalkan Colin yang masih membungkukkan badan padanya. Karena sepedanya rusak, terpaksa Paul harus pulang jalan kaki. Namun, orang-orang yang menyaksikan kejadian itu berlarian mendatangi Paul, menawarkan tumpangan pada bocah itu dengan ribut. Membuat Paul bingung harus memilih tawaran yang mana. Sementara itu, di salah satu atap gedung yang berdiri tidak jauh dari kedai, gerombolan orang berjubah putih memandangi kehebohan dari dua lelaki yang sedang dibangga-banggakkan oleh banyak orang di sana. "Menjijikan." ucap seorang gadis berambut pirang panjang, salah satu dari kelompok jubah putih, dengan nada yang jengkel dan mata melotot, memandangi dua lelaki yang dibanggakkan oleh orang-orang di bawah. "Aroma mereka menjijikan. Tercium jelas sekali, ada aroma dari roh menjijikan di tubuh mereka. Seharusnya kita bawa batu lebih banyak. Agar mereka mati! Karena orang-orang seperti mereka sangat patut untuk dilenyapkan!" "Jangan gunakan kata-k********r, Liona," ucap seorang pria tua berjenggot putih, yang juga salah satu dari kelompok jubah putih. "Terlalu kasar jika menyebutnya dengan 'melenyapkan', kalian bisa menggantinya dengan 'membersihkan', karena itu lebih enak didengar." "Grrr! Aku tidak tahan ingin membersihkan mereka!" Liona menggigit-gigit jari-jemarinya saking gemasnya. "Sayang sekali, hari ini kita gagal membersihkan dua pendosa itu menggunakan batu-batu surgawi. Tapi jangan khawatir, simpan kekesalan, kemarahan, dan kebencian kalian untuk sementara, anak-anak. Di kesempatan berikutnya, kita akan benar-benar membersihkan mereka. Percayalah pada rahmat Tuhan." Kemudian, secara serempak, wujud para jubah putih itu menghilang seperti terhembus angin, begitu pula dengan para jubah putih di atap gedung yang lain. Mereka semua menghilang dalam waktu yang bersamaan. Begitulah, sosok-sosok dari para pembunuh roh, yang selalu menganggap tindakan keji yang mereka lakukan merupakan perintah dari Tuhan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD