MINERVO 06 : Manusia Pertama yang Terpilih

1372 Words
Dengan menggunakan sepedanya, Paul pergi meninggalkan rumahnya, untuk melaksanakan tugasnya; yaitu mencari sepuluh manusia yang hendak dijadikan sebagai tempat persemayaman roh berwujud kunang-kunang, yang kini sedang berada di dalam toples, dan toplesnya disimpan di tempat boncengan. Dari awal pun, sebenarnya Paul sadar bahwa untuk mendapatkan sepuluh manusia itu tidak semudah menemukan kucing-kucing yang berkeliaran di jalanan. Karena yang akan dia hadapi adalah seorang manusia, yang punya akal dan pikiran. Mereka tidak mungkin langsung menjawab 'oke, aku mau' saat ditawari oleh Paul, karena manusia tidak sebodoh itu, yang dengan cuma-cuma memberikan tubuhnya pada orang lain. Itu sangat-sangat-sangat mustahil. Oleh sebab itulah, Paul harus merencanakan matang-matang siapa dan di mana manusia-manusia yang kira-kira cocok untuk dijadikan wadah bagi para roh yang ia bawa tersebut. Tapi, Paul juga tidak boleh sembarangan memilih orang, karena orang yang akan ia pilih bakal mengemban tugas yang lebih berat, yaitu menjadi seorang pahlawan, begitulah yang ia dengar dari Roswel. Tapi Paul juga tidak begitu mengerti apa bagusnya menjadi seorang pahlawan di era modern begini, yang kelihatannya damai dan sejahtera, sekalinya ada kejahatan pun, tidak begitu membahayakan. Sambil memikirkan semua itu, Paul terus mengayuh sepedanya, dia mengambil jalan pintas ke gang-gang sempit di antara berdirinya gedung-gedung tinggi, daripada harus bersepeda di jalan raya. Alasannya mungkin karena Paul tidak ingin kelihatan mencolok di depan umum. Namun, Paul juga sebetulnya masih belum menentukan tujuannya untuk pergi ke mana sekarang, dia masih kebingungan. Sampai akhirnya, Paul memutuskan untuk mampir sebentar ke sebuah kedai untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Kedai tersebut berdiri di tepi jalan, yang memungkinkan pelanggannya dapat menikmati pemandangan kota yang cukup ramai. Setelah memesan sebuah burger dan s**u cokelat panas pada seorang pelayan, Paul pun menunggu pesanannya di meja yang punya dua kursi kosong saling berhadapan. Kehadiran Paul di kedai itu cukup menarik perhatian pelanggan lain, karena dia membawa sebuah toples berisi kunang-kunang berwarna-warni, yang membuat siapa pun ingin melihatnya. "Pesanan Anda sudah tiba, satu buah burger serta segelas s**u cokelat panas, benar?" Seorang pelayan lelaki muda berambut biru tua pendek, datang ke meja yang didiami Paul, mengantarkan makanan yang di pesannya. Kemudian, pelayan itu menaruh makanan dan minuman tersebut di meja yang Paul tempati, dengan sangat hati-hati. Selesai melakukan tugasnya, pelayan itu tersenyum pada Paul. "Selamat menikmati hidangan kami." Mendengarnya, Paul hanya mengangguk, lalu dia langsung menyentuh burgernya untuk segera di lahap. Namun, anehnya, pelayan itu masih berdiri di depan meja Paul, tidak kunjung pergi dari hadapannya. Pelayan itu malah terus-terusan menyunggingkan senyuman ramahnya pada Paul, membuat lelaki itu jadi terheran-heran. "Bisakah kau pergi dari hadapanku?" Merasa risih, akhirnya Paul mengatakan hal itu pada si pelayan agar orang itu pergi dari hadapannya. Tapi sialnya, pelayan itu seperti tidak mendengar perintah Paul, orang itu tetap berdiri di hadapannya, dengan merespon, "Kelihatannya kau membawa sesuatu yang sangat indah, aku jadi terpesona melihatnya." "Hah?" Paul mengernyitkan kedua alisnya, sampai ia pun sadar kalau ternyata yang membuat si pelayan tidak kunjung pergi adalah karena tertarik dengan toples yang saat ini dia simpan di kursi kosong. "Sebaiknya kau pergi, karena aku sangat benci dipandangi saat sedang makan." "Ah, maaf atas ketidaksopananku, aku benar-benar minta maaf." Kemudian, si pelayan lelaki berambut biru tua itu pun membungkukkan badannya dan pergi dari hadapan Paul. Setelah menghabiskan pesanannya, Paul pergi ke meja kasir untuk membayar, dan kemudian ia pun keluar dari kedai tersebut untuk kembali melanjutkan perjalanan. Namun, saat Paul akan menaiki sepedanya, dia tersadar akan sesuatu. "Toplesnya!" Paul langsung berlari kencang, masuk lagi ke kedai untuk mengambil toplesnya yang ketinggalan di meja yang ia tempati. Dan ketika Paul mendatangi meja yang tadi ditempatinya, toples yang seharusnya ia simpan di sana, menghilang. Bukan hanya itu, mejanya pun sudah bersih kembali, yang artinya beberapa pelayan pasti telah membereskan meja tersebut. Yang artinya, mereka pasti membawa toples milik Paul ke tempat pencucian piring karena mengira benda itu bagian dari peralatan kedai. Setelah terpikirkan hal itu, Paul langsung masuk ke tempat para pelayan kedai bekerja. Kedatangan Paul ke ruangan itu membuat para pelayan yang sedang sibuk bekerja, terkejut secara bersamaan. Mereka kaget karena seseorang yang bukan bagian dari mereka masuk ke dalam. Mengabaikan segala tatapan kaget dari para pelayan, Paul langsung berteriak pada mereka semua, "Apakah salah satu dari kalian ada yang mengambil toples berisi kunang-kunang di meja nomor tiga!?" Dan secara serentak, setelah mendengar itu, para pelayan saling bertatapan dengan rekan kerjanya yang ada di samping, sampai akhirnya mereka menggelengkan kepala bersamaan. Tidak sesuai harapan, Paul berseru lagi dengan kata-kata yang lebih spesifik. "Kalau begitu, di mana tempat pencucian piring!? Antarkan aku ke sana!" "Lebih baik kau tetap di sini, Nak!" Salah satu pelayan wanita yang usianya sekitar empat puluhan merespon ucapan Paul. "Biar aku saja yang mencari toples itu di tempat pencucian." Paul paham dan ia pun bersedia untuk menunggu, dan beberapa menit kemudian, pelayan wanita itu kembali tanpa membawa apa pun di kedua tangannya. "Mana toplesku!?" "Aku sudah mencarinya di mana-mana tapi tetap tidak menemukan toples yang kau maksud, Nak! Apakah kau yakin toplesmu ketinggalan di kedai kami? Mungkin saja kau--" Karena kecewa, Paul mendecih, kemudian dia bertanya lagi pada para pelayan dengan pertanyaan yang lebih tegas. "Di mana pelayan lelaki muda yang berambut pendek berwarna biru tua!? Aku yakin! Pasti dia yang mengambil toplesku!" "Apa maksudmu?" Secara mengejutkan, orang yang Paul maksud tiba-tiba berdiri di belakangnya, dengan suara yang dingin. Paul membalikkan badannya untuk berhadapan dengan orang itu. "Datang juga kau! Jadi, kau bawa ke mana toplesku, sialan!" "Toples? Tunggu sebentar, hmm... Oh! Toples yang berisi kunang-kunang, ya?" Lelaki berambut biru tua itu mulai paham apa yang dimaksud Paul. "Tenang saja, toplesnya sudah kusimpan di tempat yang aman! Tapi aku membebaskan kunang-kunangnya, tidak apa-apa, kan? Soalnya mereka terlihat menderita berada di dalam sebuah toples, aku tidak tega, jadi kubuka saja toplesnya di luar kedai dan akhirnya mereka pun terbang tinggi ke segala arah! Aku senang melihat mereka bebas! Tapi sepertinya ada satu kunang-kunang yang terbang menembus dadaku, dan aku merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhku sampai sekarang!" Mendengar penjelasan dari pelayan berambut biru tua itu membuat kedua mata Paul terbelalak saking kagetnya. "K-Kau! M-Mengeluarkan mereka dari toples!? D-Dan ada kunang-kunang yang masuk ke dalam! T-Tubuhmu!?" Paul sampai tergagap-gagap mengatakannya, dia sangat jengkel pada kelakuan si pelayan berambut biru tua tersebut. Orang itu seenaknya mengeluarkan kunang-kunang yang Paul jaga, dari toples yang dibawanya. Ingin sekali Paul menghajar wajah orang itu, tapi ia juga tercengang mendengar soal salah satu kunang-kunang ada yang memasuki badan pelayan tersebut. "Aku tahu kau pasti marah padaku karena telah membebaskan kunang-kunang peliharaanmu dari toples, tapi ayolah! Mereka juga butuh kebebasan seperti manusia! Biarkan mereka hidup bebas! Jadi jangan marah padaku!" Pelayan-pelayan lain yang menyaksikan Paul berdebat dengan salah satu rekan kerja mereka, membuat suasana dapur tempat mereka bekerja, jadi gaduh dan berisik. Karena bukan tempat yang cocok untuk berargumen, Paul pun menarik lengan kanan pelayan berambut biru tua itu untuk keluar dari kedai, pergi ke tempat yang lebih cocok agar tidak mengganggu orang lain. Beberapa pelanggan yang sedang menyantap makanannya pun terkaget melihat Paul keluar dari ruang dapur dengan menarik lengan seorang pelayan menuju pintu keluar, hal itu jadi bahan pembicaraan beberapa pelanggan. "Hey!? Mengapa kau membawaku kemari!?" tanya si pelayan rambut biru itu dengan memasang wajah sebal setelah dia dibawa Paul ke tempat parkiran kendaraan. "Sudah diam saja kau!" bentak Paul dengan kesal. "Sekarang jawab! Kau tadi bilang padaku bahwa tubuhmu merasakan sesuatu yang aneh setelah dimasuki oleh salah satu kunang-kunang, jadi, sesuatu aneh apa itu!? Katakan padaku!" "Oh! Kau penasaran soal itu, ya!" Pelayan itu tersenyum kecut pada Paul. "Jadi begini, sekarang tubuhku terasa lebih ringan dan enteng dari biasanya! Tapi aku heran, kenapa kau lebih penasaran soal itu? Bisa saja itu hanya halusinasiku, karena mana mungkin ada hewan yang bisa menembus dadaku! Hahaha!" "Siapa namamu! Cepat! Katakan!" Paul terlihat tergesa-gesa saat berbicara, membuat si pelayan keheranan memandangi tingkahnya. "Eh? Mengapa tiba-tiba kau--" "SUDAH CEPAT KATAKAN!" "Baiklah!" kata si pelayan, lalu mulai menjawab pertanyaan Paul. "Hercolin. Itulah namaku. Tapi aku selalu dipanggil Colin, oleh banyak orang. Tapi orang tuaku lebih suka memanggilku dengan--" "Perkenalkan! Aku Paul! Mulai saat ini! Aku akan menjadi mentormu! Colin!" Mendengar Paul bilang begitu, membuat Colin terdiam beberapa detik sampai akhirnya dia memiringkan kepalanya, kebingungan. "Mentorku?" Saat ini, yang ada di pikiran Paul adalah; dia sudah menemukan manusia yang terpilih oleh salah satu kunang-kunang. Di samping itu, tentang kunang-kunang lain yang telah terbang bebas, Paul tidak begitu memikirkannya. Karena dia ingin fokus dulu dengan Colin. "Hey? Apa maksudnya dengan menjadi mentorku?" tanya Colin dengan menatap wajah Paul secara serius.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD