MINERVO 10 : Kota Groen

1938 Words
"Kenapa kau tidak pernah berbicara pada Ibu mengenai sikap teman-teman kelasmu itu, Paul?" Wanita itu bertanya pada putranya setelah anak-anak iblis itu bersama Olivia telah pulang ke rumahnya masing-masing. Kini hanya ada mereka berdua di ruang tamu, sedang berdiri. Paul menghembuskan napasnya, dia terlihat letih. Keringat membanjiri kulitnya, pakaiannya saja sampai basah kuyup. "Aku harus mandi dulu, Bu." Mengabaikan pertanyaan sang ibu, Paul mengangkat kakinya untuk melangkah melewati wanita itu. Paul terlalu lelah untuk menjelaskan semuanya dari awal mengenai sikap teman-temannya pada sang ibu, karena dari tadi sebetulnya ia gerah ingin segera mandi. Sang Ibu menatap punggung anaknya yang berjalan meninggalkannya, ia menyunggingkan senyuman kecil dengan raut muka sedih. Wanita itu merenung; ternyata selama ini Paul sudah mengalami banyak hal buruk tanpa sepengetahuannya, dan anak itu pun tidak mau membicarakannya. "Paul...," lirih sang ibu dengan suara yang lembut, memandangi punggung anaknya yang menjauh. "Mengapa akhir-akhir ini, kau jadi terlihat seperti Ayahmu..." Beberapa menit kemudian, setelah selesai mandi dan ganti baju, Paul langsung terlelap di kasurnya. Rasa lelah telah memaksanya untuk tidur, padahal malam ini masih belum terlalu larut. Tidak seperti dirinya yang dulu, yang setiap malam pasti selalu begadang untuk menonton pertandingan sepak bola di televisi atau di ponselnya. Entahlah, Paul juga dalam benaknya merasa kalau perlahan-lahan hidupnya berubah, terutama setelah ia terpilih menjadi seorang mentor. Ada rasa menyesal di hati Paul, itu disebabkan waktu bebas Paul untuk melakukan 'rutinitas'nya jadi berkurang. Dan itu membuat Paul harus bisa mengatur waktu sebaik mungkin, sebelum semua waktunya dihabiskan untuk mencari dan membimbing para pahlawan. Tapi di samping itu, ada rasa gembira di hati Paul. Itu disebabkan karena akhirnya ada seseorang yang mengandalkannya; yaitu Roswel. Soalnya, seumur hidup Paul, dia tidak pernah merasa dianggap berguna oleh orang-orang, mereka semua selalu menganggapnya sebagai 'berandalan', 'preman, dan 'anak nakal'. Akibatnya, karena label-label buruk yang telah menempel di dirinya, membuat Paul jadi membenci dirinya sendiri dan juga semua orang. Namun, pada dasarnya, Paul memang dari kecil sudah punya kecenderungan kasar dan brutal terhadap orang lain. Tapi, karena sikap orang-orang yang tidak menerimanya, itu membuat kekasaran dan kebrutalan Paul jadi bertambah besar. Sama seperti mereka, Paul pun menganggap semua orang adalah musuhnya, dia tidak ingin mempercayai siapa pun. Mungkin hanya keluarganya saja yang dapat Paul percaya. Keheningan malam yang mencekam pun pelan-pelan menghilang, tergantikan dengan suara burung-burung yang berkicau ria. Sinar mentari menembus kaca jendela kamar, mengenai tirai, membuat tirainya jadi terlihat menyala. Dan setelah diperhatikan ke dalam, ternyata kasur Paul sudah sangat rapi, lalu, pergi kemana tuan kamarnya? Ternyata Paul sudah mandi dan kini dia sedang bercermin di lemarinya. Penampilannya tampak gagah, mengenakan kaos oblong warna putih polos, membuat siapa pun bisa melihat lekukan otot lengannya yang terpahat jelas. Untuk celananya, Paul memilih gaya cargo yang punya banyak saku dan bercorak ala-ala militer. Setelah puas melihat pantulan dirinya di cermin, Paul pun segera berangkat untuk melanjutkan tugasnya sebagai mentor. Beruntung, ibunya sedang sibuk menyirami tanaman di halaman belakang, membuat Paul bisa pergi tanpa harus pamit. Karena letak Kota Groen tidak terlalu jauh dari kota Swart; tempat tinggal Paul, jadi ia memilih naik bus yang ongkosnya lebih murah. Saat Paul berdiri bersama beberapa orang asing di halte, menunggu kedatangan mobil bus, entah kenapa ia merasa sedang diperhatikan oleh seseorang dari kejauhan. Tapi Paul mencoba bersikap masa bodoh, di pikirannya; mungkin hanya orang aneh yang kerjaannya suka memandangi orang lain. "Menjijikan!" Ternyata Liona, salah satu anggota Jubah Putih, yang mengamati Paul dari atap gedung. Tapi, gadis itu pun langsung menghilangkan diri dari sana. Setelah bus tiba di depan halte, Paul bersama beberapa orang berjalan secara tertib, untuk memasuki angkutan umum tersebut. Di dalam kabin, Paul hanya melamun, memperhatikan gedung-gedung besar yang berjejer di sisi-sisi jalan, lewat jendela dekat kursinya. Hanya memakan waktu dua puluh menit saja hingga akhirnya Paul sampai di Kota Groen; tempat tinggal Jeddy, manusia yang terpilih menjadi pahlawan. Setelah kakinya mendarat sempurna di tanah Groen, dia agak kaget karena suasana kotanya sangat berbeda dari Swart. Di sini terasa sangat sepi dan sunyi, hanya ada sedikit pejalan kaki dan sedikit kendaraan yang berlalu-lalang. Berbeda sekali dengan Kota Swart yang umumnya sangat ramai. Padahal seingat Paul, saat masih kecil, dia sering mengunjungi kota Groen dan menurutnya suasana kotanya tidak terlalu berbeda dengan Swart; ramai, penuh sesak, dan selalu terdengar bunyi klakson mobil. "Sebenarnya, apa yang terjadi dengan kota sialan ini? Mengapa jadi sepi sekali, b******k!" Paul berjalan sendirian, melintasi berbagai toko yang telah tutup di pinggir jalan. Melihat situasinya, Paul jadi merasa seperti dirinya sedang mengunjungi sebuah kota yang sudah mati. Kebetulan sekali, di depannya ada seorang lelaki bertudung yang sedang berjalan sendirian, buru-buru Paul mendatangi orang itu. "Permisi," Dengan sopan, Paul mencoba bertanya pada lelaki bertudung itu. Membuat langkah orang itu terhenti sesaat, menolehkan pandangannya pada Paul. "Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Lelaki itu tidak menjawab, hanya menatap muka Paul dengan mata yang penuh dengan kebencian. Membuat Paul sendiri jadi tersentak melihat mata lelaki itu. "Mengapa kau terlihat seperti--" Ucapan Paul langsung dipotong oleh lelaki bertudung tersebut. "Sepertinya kau pendatang, ya. Pergilah dari kota ini, di sini terlalu berbahaya." Suara lelaki itu terdengar sangat meyakinkan di telinga Paul. Apalagi tatapan matanya, membuat Paul agak ngeri melihatnya. Tapi, bukannya ketakutan, Paul malah semakin penasaran dengan hal tersebut. "Berbahaya? Apa maksudnya itu? Aku datang kemari untuk mencari seseorang! Tapi, tolong beritahu padaku, apa yang sedang terjadi di sini!?" "Mereka," desis lelaki itu dengan memicingkan matanya. "Mereka telah menguasai kota ini. Jika kau sayang pada nyawamu, pergilah dari sini." Jengkel mendengar kata-kata ambigu yang keluar dari mulut lelaki bertudung itu, membuat Paul refleks mencengkram kerah jaket orang tersebut. Lalu Paul dekatkan kepala lelaki itu pada mukanya, kemudian ia langsung berbicara dengan keras. "Siapa 'mereka' yang kau maksud! b******k! Katakan padaku! SEKARANG!" "Kambing Gila!" teriak lelaki itu pada Paul, menyebutkan sesuatu yang terdengar aneh. Paul langsung melepaskan cengkraman di kerah baju lelaki tersebut, terheran-heran. "Kambing Gila!? Apa maksudmu!?" "Itu adalah nama kelompoknya mereka!" bentak lelaki itu pada Paul dengan memperlihatkan kebencian yang sangat luar biasa. "Kambing Gila telah menguasai kota ini dalam setiap aspek! Entah itu politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, semuanya! Dan banyak rumor mengatakan bahwa Kambing Gila sebenarnya adalah--" DOR! Tiba-tiba, d**a lelaki itu tertembus oleh sebuah peluru saat ia akan mengatakan sesuatu yang terdengar sangat penting pada Paul. Gumpalan darah muncrat di d**a lelaki itu, tertumpah banyak sekali. Tubuh lelaki bertudung itu langsung roboh di hadapan Paul, tergeletak lemas di permukaan trotoar. Paul terkejut melihat hal itu, ia langsung menolehkan perhatiannya pada orang yang telah menembak lelaki bertudung tersebut. Dan tertampak ada seorang pemuda berambut hijau, memakai sweter hijau, dan celana pendek hijau, yang sedang berdiri gagah sambil tangan kanannya menodongkan sebuah pistol ke arah Paul. Dan pemuda itu terlihat menyunggingkan senyuman miring yang dingin. "Yo? Siapa kau? Aku tidak pernah melihat wajahmu, apa kau seorang pendatang? Hm?" tanya lelaki berpenampilan serba hijau itu pada Paul dengan suara yang berat dan mengintimidasi. Melihat dari penampilannya, akhirnya Paul paham siapa sosok pemuda yang sedang memegang pistol tersebut. Ya, tidak salah lagi. Dia adalah Jeddy. "Hey, katakan padaku. Bagaimana rasanya setelah membunuh seorang manusia?" tanya Paul dengan raut wajah yang sangat serius pada pemuda hijau itu. kedua tangannya pun dikepalkan erat-erat. Kemarahan mengalir deras di aliran darahnya, membuat darah Paul jadi sangat panas. "Rasanya? Kau mau tahu bagaimana rasanya? Hmm, menurutku sama saja seperti membunuh nyamuk, tidak ada bedanya." jawab sosok hijau itu dengan mengedikkan bahunya, tampak tenang, dan tanpa menurunkan pistolnya. "Begitu, ya," balas Paul dengan menganggukkan kepalanya santai, walau sebenarnya dia sedang sangat murka. "Jika mendengar dari kata-kata lelaki ini, kau sepertinya salah satu anggota dari Kambing Gila, apa aku salah, Jeddy?" Pemuda itu tersentak mendengar nama panggilannya disebut oleh Paul, padahal dia belum memberitahukan namanya sama sekali. Pemuda itu memegang pistolnya semakin kuat, dia tidak suka data pribadinya bisa diketahui oleh seorang pendatang seperti Paul. "Yo? Sebelum itu, dari siapa kau tahu namaku? Hm?" Sambil bertanya begitu, pemuda itu bersiap-siap untuk menembakkan pelurunya ke kepala Paul. Dia benar-benar serius akan melakukannya. "Itu bukan urusanmu," kata Paul dengan mendecih, ia menatap tajam pemuda itu dengan kekesalan yang memuncak. "Cepat jawab pertanyaanku! Jeddy Sialan!?" Paul tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun pada Jeddy, walau dia tahu orang itu sedang memegang pistol, dan senjata itu bisa ditembakkan kapan saja ke kepalanya. Tapi memang begitulah Paul, dia selalu memperlihatkan keberaniannya, seolah-olah dia tidak peduli pada nyawanya sendiri. "Apa untungnya bagiku menjawab pertanyaanmu? Kau bukan siapa-siapa di mataku. Lebih baik kau mati saja bersama orang di sampingmu, Pendatang." DOR! Paul langsung menghindari peluru itu dengan gesit, sampai dia terjatuh ke aspal jalan yang panas. Kemudian, ia kembali beranjak, berdiri tegak. Telapak tangannya masih terasa sakit karena bergesekan dengan aspal, tapi Paul menahan rasa sakit tersebut. Demi terlihat kuat di hadapan musuh. Walau sebenarnya Paul tidak menganggap Jeddy sebagai musuh utamanya. "Hebat sekali, baru kali ini ada yang bisa lolos dari tembakanku. Siapa namamu, Bro?" Jeddy terpukau melihat gerakan Paul saat berhasil menghindari peluru super cepatnya. "Apa untungnya bagiku menjawab pertanyaanmu, b******k!" Dengan napas engap-engapan, Paul membalas pertanyaan itu memakai nada yang serupa seperti Jeddy. Suasana di sekitar mereka benar-benar sepi, hanya ada toko-toko tutup yang dipenuhi sarang lebah, jalan raya yang lengang, gedung-gedung yang sangat sunyi, serta seonggok mayat yang tergeletak di trotoar. Jeddy tersenyum tipis, lalu dia pun menurunkan pistolnya dan memasukannya ke saku celana. "Baiklah, Baiklah, aku jawab pertanyaanmu," kata Jeddy sambil menyisir rambut hijaunya dengan jemarinya, tampak santai. "Aku bukan salah satu dari kelompok Kambing Gila, malahan, aku menembak lelaki itu karena dia adalah anggota dari Kambing Gila, dan kelihatannya, saat berbicara denganmu, dia diam-diam mengeluarkan sebuah pisau untuk membunuhmu. Bisa kau lihat, kan? Ada pisau yang ikut tergeletak di dekat tubuhnya?" Mendengar hal itu, Paul langsung mengalihkan perhatiannya ke mayat lelaki bertudung, dan ternyata memang benar, ada sebuah pisau yang tergolek di dekat badan si mayat. Benar-benar mengejutkan. Paul sampai terbelalak melihatnya. "Yo? Bagaimana? Apa kau masih menganggapku sebagai orang jahat? Hm?" Jeddy tersenyum lebar sampai gigi-giginya tertampak. "Jadi, siapa namamu? Kelihatannya kau cukup jantan, bro." Amarah Paul terhadap Jeddy perlahan-lahan lenyap, dia mulai mempercayai ucapan orang itu. "Aku Paul!" jawab Paul dengan tegas. "Sebenarnya aku datang kemari untuk mencarimu, Jeddy Sialan! Tapi apa-apaan dengan kota ini! Benar-benar buruk! Aku benci kota ini." "Oi-oi-oi-oi, jangan berkata begitu," Jeddy menggeleng-gelengkan kepalanya. "Begini-begini, ini adalah tempat kelahiranku, Bro. Makanya selama ini aku selalu berjuang bersama teman-temanku untuk mengusir Kambing Gila dari Groen, yah, walau kami selalu gagal, tapi kami tidak pernah menyerah! Demi kembalinya suasana Kota Groen seperti dulu!" "Ngomong-ngomong," ucap Paul dengan tatapan serius. "Di mana teman-temanmu? Mengapa mereka tidak bersamamu? Dan kudengar, kau selalu menghabiskan waktumu di klub-klub dewasa, apa itu benar? Dan kudengar, kau juga sepertinya sering meniduri wanita-w***********g, apa itu benar? Cepat jawab!" Jeddy tercengang mendengar semua yang dikatakan oleh Paul, dia sangat terkejut. Jeddy mulai berpikir; Mengapa orang ini bisa tahu semua hal dari dirinya, bahkan ke rahasia-rahasianya juga. Ini mengerikan. Entah mengapa, Jeddy mulai merasa kalau selama ini dia selalu diuntit oleh Paul hingga semua aibnya terbongkar. Walau kenyataannya sama sekali tidak seperti itu. "K-Kenapa kau bisa tahu semua itu, Bro!?" Wajah Jeddy dipenuhi kepanikan yang luar biasa. "Jangan-jangan, selama ini kau selalu--" "Jangan bodoh!" bentak Paul pada Jeddy. "Aku mengetahuinya, itu bukan urusanmu! Yang penting sekarang apakah semua yang kukatakan tadi benar? Jadi cepat jawab! b******n!" Jeddy tersenyum mendengarnya, dia lebih baik mengalah saja pada orang pemarah seperti Paul. "Baiklah-baiklah-baiklah, aku akan menjawabnya," kata Jeddy dengan santai. "Kau menanyakan keberadaan teman-temanku, ya? Mereka semua sudah pergi dari kota ini, kemarin malam, karena sepertinya mereka sudah tidak kuat hidup di sini. Dan klub-klub dewasa yang kau bilang itu, semuanya sudah tutup. Lalu, mengenai aku sering meniduri wanita-w***********g? ITU TIDAK BENAR! BRO!" Entah mengapa, Paul merasa semua yang Jeddy jelaskan adalah sebuah kebenaran. Kecuali yang terakhir, jelas sekali kalau dia berbohong. Tapi Paul tidak memusingkannya, yang penting, Jeddy sudah mau jujur padanya. Kemudian, sebuah pertanyaan sensitif terlintas di kepala Paul, dengan nada yang rendah, ia pun mulai bertanya pada Jeddy. "Lalu, di mana keluargamu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD