11

1265 Words
Steve memeluk Laksmi dari belakang, masih dalam posisi menyampng di sofa, napas keduanya masih memburu, tapi entah mengapa Steve masih saja melanjutkan lagi seolah masih belum puas, ia ciumi punggung terbuka Laksmi sambil tangannya, sambil sesekali ia Tarik ujungnya lalu meremas kasar d**a besar itu, pinggul Steve bergerak cepat dan dalam hingga badan Laksmi bergerak kasar, rintihan kelelahan Laksmi tak dihiraukan oleh Steve dan erangan Steve mengakhiri kelelahan Laksmi. Perlahan keduanya saling melepaskan diri, membersihkan segalanya yang bisa menimbulkan kecurigaan siapapun yang masuk ke ruangan itu. Lalu memakai kembali pakaian mereka. Gerakan pelan Laksmi membuat Steve segera membantu merapikan baju Laksmi. "Pergilah, kau sudah mendapatkan apa yang kau mau." "Kau seolah tak butuh aku Sayang, aku tahu kau menikmatinya, kau bahkan memeluk aku dengan erat, dan menahan tubuhku saat aku hendak melepaskan diri di awal tadi." Laksmi diam saja, perlahan ia duduk dan menatap wajah Steve, entah mengapa Laksmi akhirnya bisa tersenyum meski samar-samar. "Sejak dulu kau hebat Steve, tak ada yang bisa memuaskanku selain dirimu, aku ingin jatuh cinta padamu tapi tak bisa, kau bukan tipeku, kau pria pemaksa, aku lebih suka pria yang lembut pada wanita." Steve duduk di meja Laksmi, menatap wajah wanita yang rasanya tak bisa akan ia lupakan seumur hidupnya. "Mari kita buat kesepakan Sayang, silakan kamu menikah dengan laki-laki bodoh itu, tapi ijinkan aku, untuk terus berada di sampingmu, aku takkan mengganggu rumah tanggamu, selama kau tak meninggalkanku." Laksmi mengembuskan napas, rasanya ia memang takkan sanggup juga jauh dari Steve, setelah mereka kembali menikmati kenikmatan berulang, kenikmatan yang pernah terputus saat ia menikah kini seolah terpenuhi lagi, almarhum suaminya tidak sehebat Steve untuk urusan yang satu itu. Steve menggenggam jemari Laksmi dengan lembut, ia usap perlahan, Laksmi tak membalas ia diam saja, namun juga tak menolak. Ia tak bisa menjawab keinginan Steve di satu sisi ia ingat ucapan Bram agar ia bisa menjaga nama baik keluarga Bram namun di sisi yang lain ia butuh Steve, ia tak mau munafik jika sentuhan Steve membuatnya ketagihan. Tiba-tiba keduanya dikagetkan oleh ketukan berulang. Laksmi bangkit dan membuka kunci lalu membuka lebar pintu ruangannya. Alangkah kagetnya dia saat wajah Berta muncul di sana, sambil menatapnya curiga. Lebih-lebih saat mengetahui ada laki-laki di ruangan Laksmi, meski yang dilihat Berta laki-laki itu duduk di kursi tamu, namun dalam hati Berta bertanya-tanya, mengapa pintu ruangan Laksmi sampai di kunci, dan Berta juga tidak begitu jelas melihat siapa laki-laki yang duduk sambil serius membaca majalah. "Maaf jika mengganggu, apa ada rapat atau pembicaraan penting hingga harus mengunci ruanganmu?" tanya Berta tanpa senyum. "Yah, maaf Kak, dia dokter teman sejawatku, ada hal penting tentang rumah sakit ini yang kami bicarakan, rumah sakit milik Papa dan sekarang aku yang pegang, dia si Steven rekan kerjaku sekaligus wakil direktur di rumah sakit ini, nggak salah kan kalo kami bicara berdua?" "Apa harus sampai kunci pintu? Apa dia laki-laki yang sama, yang menginap di apartemenmu?" "Pasti Kakak salah lihat, silakan masuk saja, dari pada kita bicara di depan pintu seperti ini," ajak Laksmi pada Berta, namun Berta memandang wajah Laksmi dengan tajam. "Ingat Laksmi, bagi kami, kau wanita tanpa cela, semoga begitu selamanya, dan jangan kecewakan kami, kami sangat berharap kau menjadi bagian dari keluarga kami, tapi jika kau berkhianat pada kami, kami tak segan-segan membuatmu menyesal seumur hidup." Berta meninggalkan Laksmi yang masih tercenung di depan pintu ruangan kerjanya. Sejujurnya ia tak ingin ada perselisihan diantara dirinya dan Berta, sejak kecil mereka saling  mengenal karena hubungan baik orang tua mereka, dan Laksmi tak ingin ada ujung cerita tidak baik hanya gara-gara Steven, entah mengapa akhir-akhir ini Laksmi merasa ingin selalu dekat dengan Bram, Bram yang lembut dan penuh perhatian sangat berbeda dengan laki-laki lain yang selalu memaksa jika ingin sesuatu. Bram tipe laki-laki yang lembut dan mengalah tapi Steven? Ah dia memberikan kepuasan lain pada Laksmi yang membuatnya selalu ketagihan. Laksmi menoleh pada Steven yang masih duduk menunggunya. Laki-laki itu tersenyum dan menggerakkan tangannya, memberi kode agar Laksmi duduk di dekatnya. Laksmi melangkah gontai sisa-sisa aktivitas melelahkan mereka masih Laksmi rasakan, miliknya kebas dan masih tersisa sedikit perih karena Steve yang seolah seperti kesetanan namun entah mengapa Laksmi justru menyukainya. Laksmi duduk di dekat Steven ia hanya menghela napas sambil merapikan rambutnya yang sedikit kurang rapi. Steven mendekat dan merengkuh bahu Laksmi. "Ada apa? Siapa wanita tadi?" "Calon kakak iparku, dia ... " "Oh ... Aku mengerti, kau khawatir? Kita harus lebih hati-hati, maafkan aku yang tak bisa menahan hasrat tiap melihatmu, sekarang saja rasanya ingin menerkammu lagi Sayang, aku janji tidak akan mempersulitmu lagi, kita lakukan di apartemenku, aku yakin di apartemenmu pun tak akan aman lagi," ujar Steve sambil mengusap rambut Laksmi dan mencium ujung kepalanya. "Makasih kau mengerti Steve, aku akan memberikan yang terbaik untukmu." Sekali lagi Steve tersenyum, kini ia bahagia, akhirnya keinginannya memiliki Laksmi terwujud sudah, tak masalah ia tidak menjadi suami Laksmi, paling tidak ia selalu dekat dan berbagi kenikmatan bersama. . . . Berta baru saja sampai di rumahnya, wajahnya terlihat masih marah, di satu sisi ia curiga karena menurut informan yang ia bayar memang ada laki-laki yang masuk ke apartemen Laksmi dan keluar saat pagi hari, tapi ia ragu apakah itu laki-laki yang sama seperti yang ia lihat tadi karena informannya tak ingat ciri-ciri laki-laki yang terlihat masuk ke apartemen Laksmi. "Ada apa Berta? Mengapa wajahmu sekesal itu?" "Aku curiga pada seorang laki-laki Ibu tapi belum menemukan jawaban pasti," sahut Berta dan melangkah menuju tempat duduk di dekat ibunya di ruang makan. "Maksudmu?" "Laki-laki yang aku curigai ada hubungan aneh dengan Laksmi." "Tak akan Berta, aku yakin tak akan ada hal buruk pada anak itu, aku mengenal anak itu luar dalam sejak kecil." "Bu, kenyataannya kita tak begitu tahu bagaimana kehidupan Laksmi dengan laki-laki lain, kita hanya sebatas tahu jika dia ke sini, pernah menikah dan suaminya meninggal, kan tak pernah kita sangat dekat dan dia tak pernah curhat ini itu." "Aku mengenal baik bapak ibunya, mereka pasti akan mendidik Laksmi dengan benar, mereka orang terhormat Berta, tak akan mendidik Laksmi dengan cara barbar." "Tapi kita tetap tidak tahu kan Bu kehidupan Laksmi seperti apa?" "Sudahlah yakinlah pada Ibu bahwa Laksmi wanita terbaik untuk Bram." "Yah semoga, semoga di keluarga ini ada menantu terbaik, setidaknya Bram tidak mengalami kesakitan seperti aku Bu, yang tak kan pernah merasakan kehidupan rumah tangga." "Kau yang tak mau membuka diri, jika kau mau, banyak yang ingin jadi suamimu, kau pun cantik Berta hanya wajah garangmu yang membuat mereka mundur teratur." "Aku tak ingin sakit lagi Bu, sangat menyakitkan, aku ditinggal dalam keadaan hamil." "Kau kurang hati-hati dalam bergaul." "Yah mungkin aku terlalu terlena hingga lupa diri dan dibohongi laki-laki tak tahu diri itu." Pembicaraan mereka terhenti saat Bram datang melewati keduanya tanpa bicara, namun langkah Bram terhenti saat suara ibunya terdengar. "Masih belum kembali ke sini istrimu Bram? Mungkin lebih baik begitu, biar pernikahanmu dengan Laksmi yang semakin dekat jadi tanpa hambatan." Bram membalikkan badannya, menatap wajah ibunya tanpa ekspresi. "Memang tak ada hambatan kan Bu sejak awal, apa Meli pernah menentang Ibu? Bukankah semua berjalan sesuai rencana Ibu?" "Kehadirannya di sini tetap menggangguku." "Satu hal yang aku minta dari Ibu dan Kak Berta, aku sudah menuruti keinginan kalian untuk menikahi Laksmi, jadi jangan paksa aku menidurinya, jangan paksa aku sekamar dengannya." Bram membalikkan badan melangkah menuju kamarnya tak mendengarkan panggilan ibunya yang berulang memanggilnya. "Berta, ini kan sama saja bohong jika ia tak tidur dengan Laksmi, aku ingin ia punya anak dengan Laksmi." Wajah Gayatri terlihat khawatir, Berta tersenyum sinis. "Ibu tenang saja, ada banyak cara agar Bram mau tidur dengan Laksmi, tak ada laki-laki yang bisa menolak pesona Laksmi, sekali lagi, Ibu tenang saja!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD