"Siapa Bram? Ada tamu?" teriakan Laksmi dari kamarnya membuat Bram terjeda memandang laki-laki yang tingginya sejajar dengannya, hanya lebih kekar dan berkulit lebih gelap.
"Aku, Sayaaaang, mau ambil ponsel." Steve yang balas berteriak membuat Bram mundur dari pintu dan berusaha tidak menghalangi Laksmi yang terlihat kaget karena Steve yang tiba-tiba muncul.
.
.
.
Dalam keramaian lalu lintas menuju butik tempat fitting baju keduanya diam saja. Berjalan dengan pikiran masing-masing. Laksmi yang merasa tak enak pada Bram karena Steve yang menunjukkan seolah mereka memang punya hubungan lebih dari panggilan Sayang saat memanggil Laksmi seolah-olah membenarkan ada sesuatu diantara keduanya. Sedang Bram merasa tak ingin ikut campur pada keduanya, namun hal lain yang Bram pikirkan meski ia tak ada rasa sedikitpun pada Laksmi jika nanti Laksmi jadi menikah dengannya ia tak ingin ada gosip tak enak bahwa istrinya ada main dengan laki-laki lain.
"Kita sama-sama dewasa Laksmi, aku bisa meraba apa yang terjadi pada kalian semalam. Wajah lelahmu, tumpukan tempat makanan siap saji di dapur, juga hal yang tak patut aku katakan saat melihat leher dan dadamu yang menakutkan, sudah bisa aku perkirakan apa yang terjadi diantara kalian, aku yakin dia menginap di apartemenku semalam, lebih-lebih ponselnya tertinggal di kamarmu semakin meyakinkan aku bahwa kau sudah memasrahkan diri padanya, aku tak masalah, toh aku tak ada rasa apapun padamu, hanya saat kita menikah dan kau masih berhubungan dengan laki-laki itu, apa kata orang tentang nama baik keluarga besarku, karena menantu Gayatri Adi Laksono yang ternyata ada main dengan laki-laki lain."
"Dia tiba-tiba datang semalam dan kau tahu kan tubuh besarnya tak akan bisa aku lawan, aku tak mampu menolak," ujar Laksmi lirih, ia tak punya alasan lagi untuk mengelak.
"Bukan tak mampu, tapi kau juga mau, sekali lagi aku tak masalah, silakan kau mau apa saja, toh kita tak memiliki rasa apapun tapi tolong jaga nama baik keluargaku."
"Bram."
"Hmmmm."
"Kau tak cemburu sedikitpun?"
"Kita tidak sedang menjalani sebuah hubungan yang melibatkan hati."
.
.
.
Bunyi pintu terbuka di ruang perawatan ibunda Meli, membuat Meli menoleh, menemukan senyum suaminya siang itu membuat lelah jiwanya sedikit terobati. Bram duduk di sofa bed dekat Meli, merengkuh bahu istrinya dan menciumi ujung kepala Meli.
"Gimana ibu?" Lirih suara Bram khawatir ibu mertuanya bangun.
"Alhamdulillah banyak perkembangan baik, sempat nanya Mas tadi, ya aku bilang bentar lagi."
"Berhentilah bekerja Mel, bukan aku merendahkan pekerjaanmu, atau gajimu yang tak seberapa tapi aku bisa dan bahkan lebih dari cukup untuk membiayai hidupmu, ibu dan adikmu, berhenti dari pekerjaanmu dan rawat ibumu, aku juga akan membayar perawat untuk memantau kesehatan ibu."
"Mas kan tahu? Almarhum bapak juga bekerja di sana dulu, kecintaaku pada bapak seolah membuat aku enggan meninggalkan pekerjaan itu, meski gajiku sebagai seorang PNS tak seberapa di sana."
"Artinya kau takkan pernah meninggalkan pekerjaanmu? Sekalipun aku yang meminta?"
"Apa Mas juga bisa menjamin kita baik-baik saja setelah wanita cantik itu ada diantara kita?"
"Tak ada kaitannya dengan pekerjaanmu."
"Ada, saat Mas sudah tidak peduli lagi padaku nanti, maka pekerjaankulah yang akan mampu mengalihkan kegundahan hatiku." Suara serak Meli membuat Bram memeluk istrinya dengan erat, membiarkan Meli menumpahkan kelelahannya.
"Tak akan Mel, tak akan pernah."
"Aku melihat jalan kita semakin gak jelas, kadang aku menyesal telah masuk ke dalam keluarga Mas, tapi aku tak mungkin mengalihkan cintaku pada yang lain, Mas satu-satunya laki-laki yang aku cintai."
Tangis tertahan Meli terasa di d**a Bram, bahu Meli yang naik turun semakin menyesakkan dadanya. Merasa bodoh dan d***u karena tak mampu membuat istrinya nyaman di sampingnya, namun semua telah terjadi, tak mungkin ia gagalkan, jalan satu-satunya ialah dengan membuka mata ibunya bahwa Laksmi tak seperti yang ibunya bayangkan.
.
.
.
"Sudah selesai semuanya Bram?"
Suara ibunya mengagetkan Bram, Bram hanya mengangguk dan langkahnya tertahan saat tangan ibunya memegang lengannya.
"Ibu hanya ingin bahagia dan tenang di sisa umur ibu Bram, tak inginkah kau sekaliii saja membahagiakan ibu, karena ibu yakin tak akan lama ibu mendampingimu dan Berta, jadi Ibu minta penuhi keinginan ibu untuk menikahi Laksmi."
Bram membalikkan badannya menunduk menatap wajah ibunya. Melihat wajah wanita yang telah membesarkannya dan berjuang menyekolahkannya hingga ia berada pada posisi puncak saat ini.
"Ibu tahu benar siapa Laksmi? Dia masih single ataukah sudah punya pasangan lagi?"
"Aku tahu anak itu luar dalam sejak kecil Bram, bahkan akhir-akhir ini aku meminta Berta untuk mengikuti gerak-gerik Laksmi karena walau bagaimanapun dia akan menjadi bagian dari keluarga Adi Laksono jadi aku ingin dia benar-benar tak tercela."
"Dan ibu yakin pada laporan Kak Berta? Karena aku yakin Kak Berta akan menyuruh orang lain lagi, tak mungkin dengan segunung kesibukannya dia akan mampu mengikuti ke mana langkah Laksmi."
"Katakan saja, kau menemukan bukti apa, tak usah berbelit-belit untuk menggagalkan rencana ibu."
"Silakan ibu menyuruh kak Berta lebih akurat lagi mencari informasi karena aku yakin apapun yang aku katakan takkan ada gunanya, apalagi ini masih temuan pertama, aku hanya tak ingin ibu kecewa, betapa Laksmi bagai kertas suci bersih bagi ibu, maaf aku mau ke kamar Ibu."
Bram hendak melangkah namun tangan ibunya kembali menahan lengannya.
"Ini bukan gertakan untuk menggagalkan rencana pernikahan yang telah ibu susun kan Bram?"
"Aku yakin ibu tak kan percaya apapun padaku, jadi silakan ibu suru Kak Berta lebih tepat mencari informan."
Bram berlalu dan kepalanya terasa berdenging. Mengingat kembali tatapan mesra Steve pada Laksmi dan panggilan Sayang yang seolah sengaja untuk membuatnya cemburu, bukan cemburu yang Bram rasakan tapi lebih pada merasa bahwa Laksmi mempunyai tujuan lain dengan bersedia menjadi istri keduanya tapi masih menjalin hubungan dengan laki-laki lain.
.
.
.
"Bisakah kau tak seenaknya masuk ke ruang kerjaku Steve? Ini jam kerja."
"Aku tahu, tapi sekarang waktunya makan siang."
"Makan sendiri sana, aku tak berminat makan denganmu."
Steve melangkah perlahan mendekati Laksmi, dengan sekali hentak Laksmi telah berdiri dihadapannya dan mendorong dengan keras tubuh Laksmi ke dinding. Mengangkat dagu Laksmi dan meraup kasar bibir yang telah terbuka itu. Laksmi memukul d**a Steve hingga Steve melepaskan ciumannya.
"Kau khawatir pintu kan, sudah aku kunci."
Dan Steve kembali meraup bibir Laksmi, meremas kasar d**a Laksmi, saling membuka baju dengan cepat dan melanjutkan aktivtas panas mereka di sofa, Hingga waktu terus berjalan, aktivitas panas keduanya terus berlanjut, terdengar desah dan erangan keduanya memenuhi ruang kerja Laksmi.