9

1136 Words
"Pergilah dari apartemenku Steve, aku mohon, aku tak ingin kau datang lagi, jangan temui aku lagi," ujar Laksmi lirih, ia tak ingin Bram dan keluarganya tahu, ia tak ingin semua yang ia rencanakan jadi berantakan, meski dihatinya masih tersisa cinta pada almarhum suaminya, tapi menjadi istri seorang Bram sangatlah membanggakan, siapa yang tak ingin menjadi pendamping pemilik perusahaan besar dengan beberapa anak perusahaan yang tersebar di mana-mana. Steve masih memeluk tubuh basah Laksmi. Ia semakin tak ingin melepaskan wanita yang tak pernah hilang dalam mimpi-mimpinya. Ia ciumi punggung terbuka Laksmi. "Setelah semuanya kau masih saja mengusirku Laksmi? Aku melihatmu sangat menikmati kebersamaan kita, besok pagi-pagi sekali aku akan pergi dari sini tapi ijinkan aku memelukmu malam ini." Lirih suara Steve di telinga Laksmi membuat Laksmi kembali hanyut dalam dekapan Steve. Malam yang seolah takkan berakhir membuat  Steve tak hanya memeluk tapi mengulang dan mengulangnya lagi kenikmatan yang seolah tak ada habisnya, Laksmi pun tak menolak, harus Laksmi akui Steve memang tak ada duanya, tapi entah mengapa tak ada rasa cinta sedikitpun pada Steve, sejak awal mengenal Steve, Laksmi hanya menganggap Steve sebatas teman tidur dan tak lebih. . . . "Pulanglah Mas biar aku sama Meti yang menemani Ibu, Alhamdulillah ibu sudah sadar dan sudah pindah ke ruang perawatan ini, sudah mulai bicara sedikit-sedikit, pamitkan aku pada ibumu, malam ini aku akan menemani ibu di ruang perawatan, kangen ibu aku Mas," pinta Meli pada Bram dan Bram mengangguk. "Yah nggak papa, pagi-pagi sekali biar aku ke sini untuk mengantar bajumu," ujar Bram dan Meli menggeleng. "Nggak usah, besok kan hari Sabtu, nggak ngantor aku Mas." "Wah aku sampai lupa kalo besok hari Sabtu, aku minta ijin Mel, besok aku sama Laksmi akan kebeberapa tempat untuk ... " "Yah silakan," sahut Meli lirih. "Kak Bram jadi ya nikah lagi?"tanya Meti tiba-tiba dan Bram kaget, menatap wajah Meli sekilas. "Aku sudah bercerita pada Meti, Mas, setelah ibu benar-benar sehat aku juga akan berusaha terbuka, biar mereka tidak kaget dan tidak semakin runyam jika mendengar dari orang lain." Meli berusaha menjelaskan pada Bram, Bram menghela napas. "Dengarkan aku Meti, aku takkan pernah meninggalkan kakakmu, aku takkan bisa mencintai wanita pilihan ibuku, aku hanya sekadar menuruti keinginan Ibu, tapi jika tak bisa dipaksakan akan aku sudahi pernikahanku dengan Laksmi secara baik-baik." "Semoga semuanya baik-baik saja, semoga bukan malah kakakku yang ditinggalkan meski aku belum menikah dan gak tau apa-apa masalah pernikahan akan jadi sulit bagi semuanya, terutama kakakku, kan dia harus belajar berbagi dan itu gak mudah," ujar Meti sambil sesekali menatap sekilas wajah kakaknya yang lebih banyak menatap lurus ke arah ibunya yang terpejam. "Yah, aku sadar sejak itu dari awal Meti, tapi aku berjanji, akan selalu mengutamakan kakakmu dalam hal apapun." "Semoga." Bram menatap wajah muram istrinya, ada rasa bersalah karena telah menyeret istrinya ke permasalahan berat dalam rumah tangga yang baru seumur jagung. . . . Keesokan harinya Bram melajukan mobilnya menuju apartemen Laksmi, hari ini ibunya bolak-balik memaksa Bram agar segera mendatangi Laksmi yang Bram pikir sangat tidak penting untuk ia lakukan. Semua persiapan pernikahannya dengan Laksmi sudah selesai lalu apa lagi yang harus dia persiapkan? Bram tahu ini hanya cara ibunya agar ia lebih dekat lagi dengan Laksmi, dan Bram malas berdebat dengan ibunya. Setelah sampai dan memarkirkan mobilnya, Bram segera menuju unit Laksmi. Bram tak ingin berlama-lama karena ia ingin menuju rumah sakit dan bertemu Meli di sana. Saat akan sampai di unit Laksmi Bram berpapasan dengan laki-laki yang rasanya pernah ia temui tapi di mana? Bram terus melangkah hingga sampai di depan pintu unit Laksmi. Tak lama pintu terbuka setelah Bram menelpon Laksmi. Muncul wajah lelah Laksmi dengan rambut basah dan masih menggunakan bathrobe. Bram mengekor Laksmi lalu keduanya duduk di ruang tamu. "Kau seperti masih nggak enak badan ya, wajahmu nampak lelah Laksmi." "Yah aku ingin istirahat Bram tapi aku tidak enak pada ibumu, kita disuru fitting baju hari ini." "Aku pikir nggak perlu, karena itu butik langganan keluarga kami, jadi sudah tahu ukuran bajuku, tapi kamu tahu sendiri kan ibu kayak apa? Eh iya tadi kayak aku ketemu temen kamu deh di depan sini, dokter siapa ya tinggi gagah." Laksmi terkesiap, ia tak menyangka Bram berpapasan dengan Steve. Laksmi mengagguk dan berusaha bersikap wajar. "Oh Steve." "Di sini juga apartemennya?" "Tidak, dia hanya mengantar dokumen trus pulang." "Oh." Bram menatap wajah Laksmi yang terlihat masih mengantuk, ada yang ganjil saat Bram melihat bathrobe yang terbuka di bagian d**a Laksmi, nampak bercak merah ada di beberapa tempat. "Kamu alergi atau gimana? Kok d**a dan lehermu merah-merah gitu?" tanya Bram berusaha memastikan, meski sebagai laki-laki dewasa ia sebenarnya tahu dan bisa membedakan merah karena alergi atau karena hal lain. Sekali lagi Laksmi kaget dan menutup rapat dadanya juga berusaha menutup lehernya dengan rambut panjangnya yang masih basah. "Ii ... iya salah makan kali Bram, bentar aku ganti baju dulu Bram, kalo mau bikin apa gak papa ke dapur sendiri Bram." Laksmi beranjak ke kamarnya sementara Bram bangkit menuju dapur hendak membuat kopi atau minuman apa saja yang sekiranya bisa ia minum, tadi di rumahnya Bram malas menyentuh apapun mengingat sejak pagi ibunya sudah berbicara panjang lebar tentang persiapan pernikahan mewah dan megah. Bram membuka kulkas dan meraih kopi kemasan siap minum. Malas tiba-tiba Bram rasakan untuk menyeduh kopi karena melihat tumpukan tempat makanan siap saji di dapur. Terasa kotor dan tidak rapi Bram mengerutkan kening karena yang ia tahu Laksmi tidak makan sebanyak itu. Bram hanya heran saja dan berlalu dari dapur sambil membuka segel kemudian meneguk kopi siap minum dari botolnya. Tak lama Laksmi ke luar kamar dengan dandanan lebih segar dan t-shirt yang berkah tinggi menutupi lehernya. "Tumben kamu makan sebanyak itu Laksmi, jam berapa kamu pesan makanan siap saji itu, setelah aku pulang dari sini ya?" "Ii .. iya ... iya ... setelah kamu pulang." "Nggak makan seminggu apa gimana, masa sampe sebanyak itu?" Bram tertawa dan Laksmi hanya tersenyum sambil mengangguk. "Pengen aja, masa gak boleh makan banyak," ujar Laskmi menutupi kegugupannya, ia ingat semalam setelah melewati malam panjang melelahkan, Steve memesan makanan siap saji itu dan menghabiskan berdua di kamar dengan Laksmi. "Nggak biasanya aja, karena setahuku kamu menjaga benar agar badanmu selalu terlihat ideal." "Sekali-kali gak papa kan, eh udah ah kita berangkat Bram, bentar ya aku ambil tas." Bram mengangguk dan bangkit menuju pintu bersamaan dengan itu bel pintu unit Laksmi berbunyi, segera Bram buka dan muncul wajah laki-laki yang berpapasan dengannya tadi. "Oh Dokter Steve, mencari Laksmi?" tanya Bram berusaha ramah. "Iya, ponsel saya tertinggal, bisa tanyakan pada Dokter Laksmi?" "Oh iya iya sebentar saya tanyakan pada Laksmi ..." "Tertinggal di kamarnya kalau tidak salah ponsel saya." Bram berbalik menatap wajah Steve, kelebat bercak merah di d**a dan leher Laksmi juga bekas tempat makanan yang bertumpuk di dapur segera menyadarkannya jika ada hal yang tak beres diantara Laksmi dan orang yang kini berdiri di depannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD