"Kalian aku dudukkan agar semuanya jelas, terserah Meli mau menerima atau tidak tapi semua sudah siapkan, Laksmi juga akan tinggal di sini, kamar sudah aku siapkan, ada yang akan kau sampaikan Meli?" tanya Gayatri menatap wajah menantunya yang seolah enggan menikmati makan malamnya. Wajah lelahnya masih terlihat setelah dari kantor ia langsung ke rumah sakit menjenguk ibunya yang belum juga sadar.
"Saya pikir tidak ada yang perlu saya sampaikan, toh semua sudah disiapkan dan tak ada pilihan lain, saya harus menerima."
Suara Meli terdengar mengambang, ia tahu pendapatnya takkan berguna juga jadi lebih baik ia memilih tak memberikan pendapat apapun, ia tak tahu jika mencintai seorang Bram akan seperti ini, banyak kejadian menyakitkan yang harus ia terima.
"Aku sudah menuruti ibu, jadi jangan paksa aku satu kamar dengan Laksmi," ujar Bram, senyum sinis Gayatri dan kekeh pelan Berta terdengar.
"Tanpa disuruh kau akan masuk ke kamarnya Bram, siapa yang tahan dengan tubuh aduhainya, aku yang wanita saja kagum setengah mati apalagi kau yang nanti akan menjadi suaminya, aku yakin hanya di awal saja kau mengatakan seperti itu, nanti lama-lama juga akan bergelung berdua tanpa dipaksa."
"Kak Berta tak usah berbicara hal yang tak pantas, tidak pada tempatnya berbicara hal seperti itu saat Meli ada di sisiku." Bram menahan marah, Berta masih saja terkekeh. Bram menggenggam tangan Meli, mencoba meyakinkan istrinya bahwa meski akan hadir Laksmi diantara mereka takkan pernah menggoyahkan cintanya.
"Alah Bram, kau saja sok tidak mau karena ada istrimu, lah yang kapan hari kata Laksmi kamu yang antar kan nungguin sampe Laksmi tidur waktu dia tiba-tiba pusing dan lemas, kamu juga kan yang gantikan baju kerjanya ke baju tidur yang nyaman kata Laksmi, aku tahu baju tidur Laksmi gak akan bikin kamu bisa tidur hehe gak usah sok suci di depan istrimu Bram, laki-laki di mana saja sama." Kalimat terakhir Berta yang terdengar sinis membuat Bram menoleh pada kakaknya.
"Jangan samakan aku dengan Satria, setelah menghamili kakak dia pergi begitu saja, sampai kakak stres dan keguguran, aku bukan .... "
"Hentikan ocehanmu, aku sedang tak membicarakan laki-laki itu dia sudah mati."
Meli dan Gayatri diam saja mendengar pertengkaran kakak beradik itu. Meli baru tahu jika kakak iparnya punya masa lalu yang kelam. Meli jadi tahu alasan mengapa kakak iparnya belum menikah hingga saat ini, rupanya ia menyimpan masa lalu yang menyakitkan. Meli melihat kakak iparnya bangkit dari kursi ruang makan dan bergegas masuk ke kamarnya dengan wajah memerah.
"Lanjutkan makan malam kalian, aku sudah selesai, aku tak memaksamu hadir dalam pernikahan Bram nanti tapi jika kau bisa hadir silakan."
Gayatri bangkit perlahan dari duduknya, melangkah pelan ke kamarnya, senyum kepuasan tergambar di wajahnya. Dalam hati ia yakin Meli akan menyingkir dengan sendirinya jika nanti Bram dan Laksmi benar-benar hanya mendatangkan kesakitan baginya. Gayatri tak menyangka jika semuanya terasa begitu mudah. Ia sudah tak betah satu rumah dengan anak dari wanita yang telah merebut cinta suaminya.
"Terima kasih Meli, terima kasih kau mengijinkan aku membahagiakan ibu, yakinlah, aku hanya mencintaimu, pada Laksmi aku hanya menganggapnya seperti saudara dan tak lebih." Bisikan Bram semakin membuat pilu hatinya, entah mengapa di lubuk hatinya yang paling dalam ia yakin dirinya takkan mampu bertahan.
"Semoga aku kuat berada diantara kalian."
"Pasti kuat dan bisa, toh aku takkan bisa jatuh cinta pada Laksmi, selesaikan makanmu dan kita tidur, besok kita jenguk ibu lagi, dan di kamar mengapa ada beberapa buku? Punyamu?" tanya Bram perlahan, ia melihat wajah lelah istrinya yang baru saja menyelesaikan makan malamnya.
"Hmmm semoga saja Mas bisa bertahan di sisiku, mengenai buku, itu punya warga binaan di lapas, Pak Saga namanya, dia punya banyak buku, aku pinjam melalui Pak Narto sipir penjara yang sering berhubungan dengan Pak Saga, tapi sudah bebas kok orang itu, tadi pagi dia sudah tidak di lapas, biar aku hubungi dia kapan-kapan,," sahut Meli bangkit dari duduknya, hendak mengambil piring kotor namun tangannya ditahan oleh Bram.
"Biarkan saja, nanti ada pembantu yang membereskan, kita segera tidur." Ajakan Bram hanya ditanggapi Meli dengan anggukan.
.
.
.
Semakin mendekati hari pernikahan suaminya dengan Laksmi semakin membuat Meli merasa tak karuan, ternyata ia tak setegar seperti yang ia kira. Meski bolak-balik Bram berjanji takkan menduakannya tapi ia tak bisa membohongi hatinya, ia cemburu pada Laksmi yang cantik, berbadan ideal, tinggi semampai hampir sejajar dengan suaminya.
Meli melangkah meninggalkan rumah sakit tempat ibunya dirawat yang Alhamdulillah hari ini telah menunjukkan kemajuan besar, sudah mulai sadar meski belum bisa berkomunikasi.
Perlahan Meli memasuki area parkir dan duduk agak lama di dalam mobilnya, jam telah menunjukkan pukul sembilan malam, tumben suaminya belum meneleponnya sama sekali, biasanya ia akan menanyakan ada di mana dan jam berapa sampai rumah. Meli mengambil ponsel dari dalam tasnya dan mulai mencari nomor suaminya. Lama hanya terdengar nada tunggu namun akhirnya diangkat juga.
Halo Meli
Mas di mana?
Ini perjalanan pulang baru antar Laksmi ke apartemennya, kami baru dari butik untuk yah kamu tahulah Sayang untuk apa, kamu di mana ini?
Aku masih di parkiran rumah sakit, mau pulang ini Mas, Mas juga kan?
Iya, aku sudah perjalanan pulang
Sampai ketemu di rumah Mas
Meli memasukkan ponselnya dan mulai menjalankan kemudi perlahan.
.
.
.
Laksmi baru saja selesai mandi, masih menggunakan bathrobe dan rambutnya pun masih basah. Ia berjalan ke dapur untuk membuat teh madu. Baru saja hendak mengambil gelas ia mendengar bunyi bel di pintu unit apartemennya, pasti Bram pikir Laksmi, ia melihat cangkir kopi Bram yang masih di meja yang isinya sudah tak bersisa, untuk apa Bram kembali? Pikiran Laksmi berusaha mencari jawaban karena sepertinya tak ada barang Bram yang tertinggal, meski sempat sekitar satu jam lebih mereka ngobrol ke sana ke mari.
Laksmi membuka pintu dan seketika tubuhnya di dorong oleh laki-laki yang sangat tidak ia inginkan datang ke tempatnya, dengan kakinya laki-laki itu menutup pintu dan mendorong tubuh Laksmi ke dinding, menatap wajah Laksmi penuh amarah.
"Baru saja melewatkan sesi percintaan yang panas hmmmm dengan laki-laki itu hingga harus mandi dan rambutmu masih basah?"
"Jaga mulutmu Steve, Bram bukan laki-laki sepertimu, dia takkan menyentuhku hingga kami sah sebagai suami istri." Terdengar tawa mengejek dari laki-laki yang semakin menekan tubuh Laksmi ke dinding, merapatkan tubuhnya ke tubuh Laksmi yang hanya menggunakan bathrobe.
"Tak mungkin, tak mungkin laki-laki normal akan membiarkan tubuh indahmu tanpa terjamah, aku tak mau laki-laki itu memilikimu, kau harusnya jadi milikku sebelum kau tiba-tiba meninggalkanku dan menikah dengan laki-laki tak pantas yang untungnya sudah meninggal, aku menagih janjimu, janji kau kau katakan bahwa kau hanya milikku."
"Steve ... Steeeve ... eeemmmppphhh .. "
Suara Laksmi akhirnya tenggelam saat bibir laki-laki itu mulai menciuminya dengan rakus, membuka bathrobenya sekali hentak hingga terlihat apa yang seharusnya tak terlihat. Erangan Laksmi membuat Steve semakin jadi menjamah seluruh tubuh Laksmi. Steve mendorong tubuh Laksmi ke dinding, dengan gerakan cepat ia membuka gesper dan resliting celananya, menyatukan dirinya dengan Laksmi dan bergerak liar hingga Laksmi beberapa kali tubunnya membentur dinding. Terakhir yang Laksmi ingat laki-laki bertubuh tegap itu menggendongnya ke kamar dan melanjutkan apa yang belum mereka capai.