8

1002 Words
Selama beberapa saat keadaan hening. Namun ketika Anne sudah dapat menguasai dirinya kembali, ia pun berkata, "Skizofrenia." "Sama seperti Ayahku." "Ironis. Ia sering membantuku merawat pasien lain, justru akhirnya harus menderita Skizofrenia seperti mereka. Berteriak-teriak, mencoba bunuh diri, berhalusinasi melihat sesuatu yang mengerikan, mengalami ketakutan yang luar biasa." "Karena itu kamu datang untuk menemui Mark?" Anne pun mengangguk. "Mungkin, jika misteri Saint Andrews terungkap, dapat ditemukan petunjuk untuk membantu Pasienku," ucap Anne, "Dengar Jes, sudah belasan orang bunuh diri akibat Skizofrenia di sana, kalau kita bisa menyingkap tabir misteri Saint Andrews dan mengetahui penyebabnya, mungkin kita bisa menyelamatkan banyak orang." Wartawati cantik tersebut tampak mencerna pikirannya, sebelum akhirnya berujar, "Aku menemui jalan buntu untuk mengungkapnya. Tidak ada saksi mata, dan juga hanya sedikit sekali ulasan mengenai kejadian itu. Yang pertama adalah artikel Eddie—dan kamu tahu, ulasan itu sama sekali tidak memberikan petunjuk berarti. Berikutnya ialah video-video yang sudah kutonton berulang kali. Sayang, aku tetap tak menemukan apa-apa." "Bisakah nanti kamu tunjukan video-video itu?" pinta Anne, berharap menemukan petunjuk. "Tentu. Mungkin kalau kamu akan dapat menemukannya." "Iya, semoga Jes," ujar Anne, seraya mengambil rokok dari dalam kantong bajunya. "Mmm ... Anne, maaf no smoking," tegur Jesse ramah. "Oh ya, ya tentu … maaf, aku tidak tahu." "Tidak apa-apa Anne. Sebentar lagi kita sampai apartemen, dan kamu bisa merokok di sana." "Ok. Tidak masalah." Tak lama kemudian, mobil yang mereka kendarai masuk ke dalam sebuah apartemen yang berada di ujung jalan. Anne mengedarkan pandangan ke sekeliling. Meskipun kecil, tetapi apartemen Jesse tertata apik dan nyaman. Pada dinding-dindingnya menempel wallpaper berwarna putih gading, dengan motif sulur-sulur bunga. Perabotannya bergaya minimalis modern, sehingga membuat ruangan kecil tersebut tampak lega. "Wow, bagus sekali!" kata Anne, takjub. "Memang apartemenku kecil tapi aku menyukainya. Baru tiga bulan aku pindah ke sini." "Kamu benar-benar pintar menata ruangan. Apalagi ruangan ini bersih sekali." "Well, walaupun sibuk, aku selalu menyempatkan untuk membersihkan apartemenku," ucap Jesse seraya tersenyum, menampilkan deretan gigi putih yang tersusun rapi. Jesse pun menunjukkan ruangan-ruangan di dalam apartemennya pada Anne. "Anne, ini kamar mandi. Karena kecil, jadi tidak cukup untuk meletakkan bathtub, sehingga hanya ada shower saja." "Jangan khawatir, ini sudah cukup. Lagipula aku tidak suka berendam," kata Anne tersenyum. Kemudian Jesse mengajak tamunya melihat ruangan lain. "Lalu ini Ruang Keluarga. Di sana meja makan, microwave, dan lemari es. Nah, ayo kita lihat kamar yang akan kamu tinggali." Kamar itu berukuran tiga kali tiga. Kendati sederhana, namun terlihat nyaman dan bersih. Pada setiap dindingnya menempel wallpaper berwarna biru. Dipannya berwarna putih—satu set dengan lemari, dan dua buah nakas yang berada di sampingnya. Di atas kedua nakas tersebut, diletakkan dua buah pigura yang berisi foto Jesse bersama seorang pria paruh baya berambut pirang, berkacamata, serta memiliki hidung mancung dan pipih. "Itu Ayahku," kata Jesse sebelum Anne sempat bertanya. "Sayangnya, ia belum sempat tinggal di sini," ujar Jesse lirih. Anne menangkap kerinduan dari netra Jesse yang berkaca-kaca. Ia tahu bagaimana beratnya perasaan Jesse karena harus kehilangan seorang ayah, setelah sebelumnya juga telah lama berpisah. "Kamu bisa tidur di sini, Anne," kata Jesse, memecah kesunyian. "Terima kasih, Jes. Kamu baik sekali, padahal kita baru saja kenal, tapi kamu mengizinkanku untuk tidur di kamar ini. Oh iya, di mana ruangan merokok?" Jesse pun tersenyum. "Kamu bisa merokok di teras, sambil menikmati pemandangan kota London." "Bagus. Mulutku rasanya sudah asam sekali, jadi kalau kamu tidak keberatan …" tukas Anne seraya menoleh ke arah teras. "Ya, tentu saja." Memang benar apa yang dikatakan Jesse, pemandangan kota London terlihat dari sana. Pemandangan itu mengingatkan Anne ketika ia masih tinggal di London. Saat Anne tengah asik menikmati pemandangan dan menghisap rokoknya, Jesse muncul dari balik pintu dengan membawa dua cangkir kopi panas. "Terima kasih," kata Anne, sambil mengambil cangkir dari tangan Jesse. "Apakah London banyak berubah dibandingkan saat kamu tinggal?" tanya Jesse membuka pembicaraan. "Iya, banyak sekali perubahannya. Tapi ada satu yang masih tetap sama." "Oh iya, apa itu?" "Rute bis." "Benarkah?" "Iya," jawab Anne tersenyum, seraya menerawang dan menggali memorinya. "Setiap hari, aku dan Mark selalu melewati rute itu untuk menuju Oxford. Untungnya hanya memakan waktu sekitar satu setengah jam, jadi tidak pernah sekali pun kami terlambat." "Anne, apakah dulu kalian tinggal bersama?" Anne diam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "Iya. Selama kami masih tinggal bersama, Mark yang melakukan semua pekerjaan rumah, mulai dari membersihkan dan merapikan, hingga memasak. Mark tidak hanya hebat di bidang Fisika Inti, tetapi ia juga hebat dalam hal-hal lain. Sangat berbeda denganku yang ceroboh," jelas Anne seraya tertawa kecil. 'Mmm ... apakah termasuk hebat dalam hal itu juga?" tanya Jesse dengan nada malu-malu. Paham akan maksud Jesse, Anne tersenyum kemudian menjawab, "Dia hebat sekali. Tapi kenapa kamu menanyakannya?" tanya Anne sambil mengangkat sebelah alisnya, hingga membuat Jesse salah tingkah. "Mmm … aku hanya penasaran, karena mmm … a-aku belum pernah melakukannya," jawab Jesse, tersipu-sipu. Anne tersenyum simpul mendengar jawaban Jesse. "Well, akan ada saatnya Jes. Hanya saja kamu belum menemukan pria, atau momen yang tepat." Jesse merasa canggung. Ia pikir tak seharusnya menanyakan hal itu. Anne yang mengetahui rasa canggung yang Jesse rasakan, segera mengalihkan topik. "Oh iya, bukankah ada data-data mengenai Saint Andrews yang mau kamu tunjukkan?" "Iya, kamu benar. Ayo kita masuk." Selama beberapa menit keduanya menonton sebuah video berulang kali. Namun sayang, mereka tidak menemukan petunjuk pada video tersebut. Kekecewaan pun tampak di wajah Anne. "Kalau kita tidak juga menemukannya, kenapa kita harus berfokus pada penyebabnya, dan bukan penanganannya?!" ujar Jesse, yang terlihat sama-sama kecewa. "Penyakit jantung tidak bisa dioperasi kalau tidak diketahui pembuluh mana yang tersumbat," kata Anne memberikan perumpamaan. "Bukankah masih ada satu video lagi?" "Iya, tapi aku ragu kalau video itu bisa memberikan petunjuk." jawab Jesse pesimis, sambil menekan tombol play. Video itu berisi siaran berita yang mewawancarai seorang Polisi bernama Tony Elliot, yang mengaku sebagai orang yang menemukan Wayne. Baru beberapa menit video itu diputar, tiba-tiba Anne berkata, "Tunggu, bisa kamu ulangi?" pinta Anne pada Jesse, seraya membuka lembaran buku catatannya "Bukan di sini, coba mundur sedikit lagi … ok, pause." "Petunjuk apa yang kamu temukan?" tanya Jesse, merasa bingung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD