7

1069 Words
Pada siang hari, suasana tenang terlihat di sebuah pemukiman sederhana. Tidak terlihat kesibukan, apalagi kegaduhan di sana. Kecuali beberapa anak kecil yang bermain bersama teman-temannya. Itulah suasana sehari-hari di pemukiman di Kota Sheffield tersebut. Kontras dengan nuansa tersebut, suara keributan terdengar dari dalam sebuah rumah mungil. Seorang perempuan berambut hitam dan berkulit pucat, tampak sedang bersitegang dengan seorang laki-laki. "Kamu tidak pernah berubah, Mark!" bentak wanita itu. "Begitukah? Anne, jadi kamu datang jauh-jauh dari Rio hanya untuk mengusili hidupku?!" balas Mark, tak kalah sengit. "Usil? Aku melihat ada kesamaan antara yang kalian alami di Saint Andrews dengan pasienku di Rio. Kalau kita bisa mengetahui penyebabnya, mungkin bisa membantu pasienku, dan juga temanmu di Rumah Sa—" "Oh, sekarang kamu mengatakan kalau aku dan temanku gila?!" Mark menginterupsi, bersungut-sungut. "Mark, aku tidak mengatakan kamu gila, tapi, sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa kamu selalu lari dari masalah, dan tidak mau menyelesaikannya?! Kalau kamu terus seperti ini, sama saja kamu pergi meninggalkan temanmu menderita di Rumah Sakit Jiwa!" "Kamu berani mengatakan kalau aku meninggalkan sahabatku, sedangkan kamu tidak berkaca pada dirimu yang meninggalkanku delapan tahun lalu!" Mark berseru, semakin keras. Anne pun terdiam, seraya membuang pandangan. Wajah Mark merah, matanya berkaca-kaca, napasnya memburu setelah melepaskan kemarahannya. Suasana menjadi senyap, sampai sebuah ketukan memecah kesunyian. Mark bergegas membukakan pintu. Namun orang yang baru saja datang, bukanlah orang yang diharapkan kehadirannya. "Apa maumu?" tanya Mark ketus, pada Jesse. Jesse sama sekali tidak terkejut dengan sambutan itu. Justru yang membuatnya terkejut adalah kehadiran orang lain di sana. "Ma … maaf, kalau aku mengganggu kalian," ucap Jesse, gugup. Anne pun menghampiri Jesse. "Tidak … sama sekali tidak mengganggu. Oh iya, aku Anne … Anne Lawrence." "Jesse Reece," kata Jesse tersenyum canggung, seraya menyambut uluran Anne. "Jesse Reece, aku suka membaca ulasanmu yang ringan dan tajam. Seperti artikel yang aku baca di dalam pesawat tadi pagi … kalau tidak salah judulnya Fenomena Crop Circle." Jesse mengangguk, dengan senyum dipaksakan. Tampaknya ia masih merasa tidak nyaman. "Oh iya, aku teman lama Mark. Apakah kalian berdua …" Anne tak meneruskan, sembari menunjuk Mark, dan Jesse. "Bukan, bukan. Aku hanya teman—" "Dia putri Wayne," sela Mark. "Jesse, aku turut menyesal dengan keadaan Ayahmu," kata Anne, menunjukkan ekspresi sedih. "Kamu mengenalnya?" "Tidak Tapi Mark sering bercerita tentangnya, ketika kami masih berpa … maksudku, ketika aku dulu tinggal di London. Aku seorang Hipnoterapis dan pasienku mengalami kejadian seperti yang dialami Ayahmu. Karena itulah aku datang untuk meminta bantuannya." terang Anne menjelaskan tujuan kedatangannya seraya melempar pandangan pada Mark. "Maksudmu?" tanya Jesse bingung. "Well, mereka seakan-akan mengalami sesuatu yang mengerikan pada masa lalu, tapi tidak bisa mengungkapkannya. Jadi aku tidak tahu bagaima—" "Jes, apa tujuanmu datang ke sini?" potong Mark, tiba-tiba. Wartawati cantik itu pun menghela napas. "Mark, ini soal Eddie. Kalian sudah berteman belasan tahun, rasanya tidak masuk akal kalau Eddie mengkhianati kalian hanya gara-gara satu peristiwa. Aku pikir Eddie melakukannya demi kebaikan kalian." "Jadi membuat Ayahmu berada di dalam Rumah Sakit Jiwa adalah kebaikan?!" "Ayahku berada di sana bukan disebabkan artikel Eddie, tapi karena kejadian di Saint Andrews. Kalau saja kita tahu menguak penyebab kejadian itu, mungkin kita bisa membantu Ayahku, dan mengembalikan reputasimu." "Jangan naïf," kata Mark, ketus. Melihat suasana semakin tidak nyaman, Anne pun berujar lirih, "Jes, tidak ada gunanya memaksa Mark. Tapi kita bisa berbincang berdua untuk mencari solusinya … kalau kamu tidak keberatan, bolehkah aku ikut denganmu untuk mencari penginapan? Kebetulan setibanya di Inggris, aku belum sempat memesan kamar." "Maaf Anne, bukannya aku tidak mau. Tapi aku harus kembali ke London, karena harus mewawancarai—" "Tidak masalah Jes, aku bisa mencari penginapan di London," sergah Anne, sedikit memaksa. "Well, kalau begitu kenapa tidak menginap di apartemenku saja?" "Dengan senang hati, jika kamu tidak keberatan." "Tentu saja tidak." "Sempurna," ucap Anne, kemudian mengambil kopernya. "Mark, kuharap kamu pikirkan kembali." Anne berkata, lantas keluar bersama Jesse. Meskipun baru saling mengenal, namun sikap mereka yang mudah bergaul, membuat keduanya seperti sudah lama berteman. Sehingga di dalam perjalanan, mereka mengobrol tanpa ada rasa canggung. "Anne, bagaimana awalnya kamu mengenal Mark?" tanya Jesse. "Well, cukup unik dan lucu," tukas Anne, seraya tertawa kecil. "Aku dulu tinggal di London, untuk mengambil strata dua di Oxford. Sepulang kuliah aku selalu meluangkan waktu di perpustakaan kampus, dan di sanalah aku sering melihatnya. Awalnya kami tidak bertegur sapa, dan tenggelam dalam bacaan kami masing-masing. Hingga suatu hari ia menghampiriku, lalu bertanya padaku 'Apakah kamu Anne Hathaway?', lalu aku menjawab, 'Aku Anne, tapi bukan Hathaway.', dia pun kembali bertanya, 'Jadi?', aku menjawab, 'Aku Anne-merican.'. Gurauan Anne membuat Jesse tergelak. Dari cerita itu, Jesse mengetahui kalau Anne seorang yang humoris. Ia bisa membayangkan kalau banyak laki-laki yang menyukai Anne karena kecantikan, kecerdasan, dan pribadinya—mungkin Mark adalah salah satunya. "Well, menurutku perkenalan yang cukup unik. Tapi dari mana dia tahu kalau namamu Anne?" tanya Jesse, penasaran. "Dia membaca namaku yang tertulis pada sampul buku," jawab Anne, tersenyum lebar. "Apakah setelah itu kalian berpacaran?" tanya Jesse lagi. "Yeah, setelah perkenalan itu kami sering bertemu, dan menemukan banyak persamaan di antara kami. Kami sama-sama suka bergurau, gemar membaca, juga memiliki impian besar yang besar." "Mark senang bergurau?" Jesse merasa heran. "Iya. Apakah kamu baru tahu?" Jesse menghela napas, kemudian berkata, "Yang aku tahu, ia sering berkata, 'Mau apa kamu ke sini?', 'Pulanglah, Jes!', 'Bukan urusanku, Jes.', 'Jangan ikut campur!' sangat menyebalkan!" Anne tertawa kecil. "Mark dulu tidak seperti itu. Ia orang yang terbuka, riang, antusias, dan optimis. Aku pikir kejadian Saint Andrews mengubahnya menjadi seperti sekarang. Mungkin itu hanya asumsiku. Karena ketika kejadian itu, aku sedang tinggal di Amerika." Ya kamu benar. Hanya dalam satu malam, kejadian Saint Andrews membuatnya kehilangan dua sahabat dekat, karier, dan nama baik. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang dicintai. Sejak usia delapan tahun, aku sudah kehilangan sosok Ayah akibat perceraian. Tapi saat aku baru tinggal bersamanya, kejadian Saint Andrews merenggutnya dariku. Menyaksikan Ayahku kehilangan akal sehat, membuat hatiku perih. Apalagi aku tidak sanggup berbuat apa-apa untuk menolongnya." Suara Jesse tercekat, air mata pun mengalir dari kedua sudut netranya. Anne dapat merasakan kegetiran Jesse. "Bersabarlah, Jes," hiburnya dengan suara lirih. "Setelah aku pindah ke Rio de Janeiro, aku memiliki sahabat bernama Dolores. Ia yang menunjukkan jalan-jalan di Rio, menjadi tempatku bercerita, bahkan membantuku merawat Pasien. Suatu hari ia menghilang, lalu tiga hari berikutnya sudah ditemukan dalam keadaan berbeda …" Anne menghentikan kalimatnya dengan suara bergetar. Jesse dapat melihat Anne menangis, melalui pantulan kaca jendela.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD