Tujuh

1211 Words
"Jo, gue mau ke Plengkung. Lo ikut gak?" "Bareng Om Robert?" Jonathan balik bertanya. "Enggak, gue doang." "Kapan?" "Weekend." "Oke, gue ikut. Nanti gue kontak teman-teman di sana." "Siip!" Percakapan singkat di telepon itu membawa Jonathan ke Banyuwangi menggunakan kereta. Anjani merasa beruntung teman dekatnya juga seorang peselancar. Seringkali malah Anjani mengekor pada Jonathan dan teman-temannya karena cukup jarang menemukan penggemar surfing. Jonathan mengontak dua orang temannya, warga lokal Pantai Plengkung. Sementara Tita hanya merenggut iri mendengar kabar Anjani dan Jonathan berlibur singkat. Perempuan itu lulus tes PPDS dan mulai sibuk menjalani pendidikan. Pakar perkembangan anak berkata, bila kau melewatkan fase merangkak, keseimbangan gerak dan kordinasi tubuhmu akan terganggu. Agaknya, Anjani menjalani fase tersebut dalam kurun waktu yang terlalu lama. Ia betah merangkak selama enam bulan sampai ayahnya frustrasi dan membawanya ke dokter anak. Itu sebabnya, berdiri secara seimbang di atas papan surfing tidak jadi masalah besar sejak ia pertama kali belajar menaklukkan ombak. Mungkin juga kemampuan itu ada hubungannya dengan nama tengah Anjani yang mengandung unsur air. Ayahnya mengatakan, Liharika berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya gelombang lautan. Langit bersih tak berawan. Matahari membakar kulit. Anjani mengoleskan sunblock sebelum melakukan pemanasan. Sembari menunggu sunblock–nya meresap, Anjani mengoleskan lilin khusus ke papan surfing–nya agar tidak licin. Sesekali ia mengamati ombak tinggi kesukaan para surfer saling berkejaran, bergulung, lalu mengempas di tepian. Ia beranjak menyusuri pasir dengan kaki telanjang. Setelah beberapa menit, ia berbaring telungkup di atas papan dan mulai mengayuh. Targetnya senja nanti bisa menikmati matahari tenggelam. Cukup ramai peselancar saling berlomba mencuri ombak. Mereka lebih banyak mengarahkan papannya ke kanan. Sementara Anjani mengambil jalur kiri. Karena ia kidal, segala sesuatu yang berbau kiri adalah zona nyamannya. Walaupun warga lokal berkata garis pantai di sebelah kiri cukup riskan, Anjani hanya menjanjikan diri lebih berhati-hati. Kabarnya, beberapa onggokan karang bersembunyi di bawah pecahan ombak. Seraya meluncur dari ombak yang mengejarnya di belakang, matanya menangkap sebuah objek berwarna hitam di pinggir pantai. Bentuknya menyerupai buntalan kain memanjang. Mungkin batu, pikirnya sekilas. Ia kembali berkonsentrasi, meluncur lebih ke kiri. Dari kejauhan, kepala teman-temannya terlihat menyumbul di antara ombak laksana buah kelapa hanyut. Ombak menggulung Anjani dan melemparnya ke bibir pantai. Ia mengayuh di atas papan, berniat kembali ke titik mulai yang sudah jauh ia tinggalkan. Buntalan hitam tadi kembali singgah di pandangan. Bentuknya sedikit berubah. Mengganggu. Konsentrasi Anjani perlahan buyar. Tanpa ia tahu, seonggok karang menunggu dengan tenang, tersembunyi di bawah pecahan ombak. Tiba-tiba.... "Aaargh!" Anjani terpental. Tali pengikat di kakinya putus. Papannya terombang-ambing dihanyutkan air laut. Ia berenang ke tepian sambil terbatuk-batuk. Paru-parunya terbakar. Anjani pasrah merelakan papan kesayangannya. Tertatih-tatih Anjani menyeret kaki dan mengenyakkan b****g di atas pasir. Wetsuit–nya sobek di bagian paha. Darah segar mengucur dari selanya. Ia meringis. Tajamnya batu karang merobek kulitnya cukup dalam. Bentuk robekannya tak beraturan. "Aduh!" ringisnya sakit hati. "Sudahlah ireng, jelek, masa punya bekas luka pula?" keluhnya menghitung berapa jahitan yang harus diterimanya nanti. Kulit putihnya hasil treatment selama puasa surfing seketika berganti eksotis sepulangnya dari tanah Sumba. "Jani!" Anjani menoleh. Jonathan melambaikan tangan kepadanya. "Oi! Sini!" balasnya melambaikan tangan. Buntalan hitam tadi kembali menyita perhatian. Sambil meringis, ia berdiri dan menyeret kakinya. Darah mengalir hangat ke betisnya. Riak ombak menjilati buntalan tersebut hingga menggembung dan mengempis. Mata Anjani menyipit. Itu batu atau balon, sih? Lalu ia terkesiap. Jelas, itu bukan seonggok batu. Bagian paling atas tampak seperti buntalan rambut. Jantungnya bergemuruh. Anjani mendekat dengan gerakan menyelidik dari beberapa sisi. Tiba-tiba matanya terbeliak. Manusia! "Lo nggak apa-apa?" Sayup-sayup terdengar suara Jonathan. "Jo, ada orang!" Anjani mengguncang lembut bahu sosok tersebut. Dari rambut dan perawakannya jelas sosok itu berjenis kelamin laki-laki. Karena tak ada respons, ia menempelkan dua jemarinya ke leher lelaki itu, lalu darahnya tersirap. "Masih hidup, Jo!" "Hah?" Jonathan ikut memeriksa tanda vital lelaki itu. "Iya, masih hidup. Cari ambulan! Cepetan!" teriaknya pada dua orang teman warga lokal yang juga mendekati mereka dari kejauhan. Kedua pria itu bergegas pergi. Anjani membantu Jonathan membalik tubuh lelaki itu. Wajah lelaki itu bengkak dan membiru, nyaris tak berbentuk. "Jangan-jangan korban begal, Jo." "Nggak tahu. Yang jelas korban penganiayaan." Anjani memeriksa sekujur tubuh lelaki itu. "Nggak ada fraktur terbuka. Nanti kita pastikan setelah sampai di rumah sakit." *** "Om, tadi aku lagi surfing. Terus ketemu ma—" "Mayat?" potong Robert dari seberang. "Manusia, Om. Hi—dup," gerutu Anjani sebal. "Tolonglah, Om. Jiwa forensiknya disingkirkan dulu." Robert berdecak. "Terus kenapa?" Anjani menceritakan, pria tak dikenal itu mereka bawa ke puskesmas terdekat. Untuk sementara dia dinyatakan koma dan puskesmas tidak memiliki peralatan yang memadai untuk merawatnya sehingga harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. "Om bisa tolong kirimin helikopter medis ke sini?" Alih-alih membawa pria itu ke rumah sakit rujukan, ia lebih suka merawatnya di rumah sakit milik keluarganya saja. Dengan menggunakan helikopter, perjalanan dari Banyuwangi ke Surabaya menjadi lebih cepat. "Buat apa kamu repot-repot membawanya ke Surabaya? Memangnya kamu kenal orangnya? Kamu bawa saja ke RS rujukan, lalu lapor polisi. Pulang. Beres. Nggak usah sok jadi pahlawan." "Gak gitu, Om. Inilah akibatnya Om keseringan ngurusin mayat," kata Anjani tak terima. "Pokoknya aku mau rawat dia di Surabaya. Perkara lain nanti kita bicarakan. Aku tunggu helinya ya, Om. Terima kasih." Ia mengakhiri panggilan. Firasat Anjani mengatakan, pria itu bukanlah korban begal. Setelan pakaian mahal yang dikenakannya menunjukkan dia bukan dari kalangan bawah. Untuk itu ia berniat merawat pria itu di rumah sakit milik keluarganya. *** Pria tak dikenal itu—sebut saja namanya John Doe—terbaring lemah di ICU. Anjani menatapnya dari balik kaca. Kondisinya stabil, meski belum jua sadar. Pipinya lecet di berbagai sisi. Sebelah matanya yang bengkak mulai mengempis. Bibirnya pecah menyisakan luka kering. Hasil rontgen menyatakan dua ruas rulang rusuknya patah. Bukan hanya itu, di sekujur tubuhnya terdapat banyak memar kebiruan. Paru-parunya hampir tergenang air. Adalah sebuah mukjizat dia masih hidup. "Sudah dua hari, Jani," tegur Robert mendekati keponakannya. "Mau sampai kapan kamu menunggu? Sebaiknya kita lapor polisi. Mungkin keluarganya lagi panik mencarinya." Sebelum pria itu dibawa ke Surabaya, mereka memang belum sempat menghubungi pihak berwajib saking urgent kondisi John Doe. "Bagaimana kalau dia gak punya keluarga? Bagaimana kalau justru orang jahat yang sedang mencarinya?" Anjani bergumam mengingat pamannya berkata John Doe terindikasi mengalami tindak penganiayaan berat. "Bagaimana kalau dia buron?" "Kayaknya bukan. Aku lihat gak ada tampang buronnya." Anjani malah merasa pernah bertemu dengan pria itu, entah di mana. "Jangan sotoy!" Robert berdecak. "Dari mana kamu tahu?" "Insting." "Halah!" dengus Robert. "Begini saja. Kita tunggu sampai besok. Kalau dia tetap nggak bangun, kita lapor polisi. Setuju?" Anjani terdiam. Ia menatap sosok pria yang tak berdaya itu sekali lagi. "Kita laporkan setelah dia sadar," katanya memutuskan. "Astaga!" seru Robert gusar. "Itu namanya kamu menghambat proses investigasi. Heran. Kamu ngotot amat, sih?" Anjani menyeringai kecil. "Cause he's mine, Om." Sejenak kemudian, Anjani meringis. Robert menyentil keningnya kuat-kuat. "Mine mbahmu!" "Eyang sudah mati, Om." "Eh, cangkemmu sopan dikit kalau ngomong." Robert memelotot. "Eyangmu meninggal, bukan mati." "Cuma beda diksi, tapi tetap saja mati." Anjani mendelik. "Lagian aku gak perlu sopan-sopan amat sama Eyang. Mereka gak sayang aku. Selalu Mas Angga yang mereka puji dan sayang." "Masih saja baper." Nada suara Robert melunak. "Namanya orang zaman dulu, lebih mementingkan anak laki-laki. Lagipula waktu kecil kamu itu pecicilan, nggak bisa diam. Sementara Eyang sukanya anak yang sopan dan manis seperti masmu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD