Binar mendesis, kepalanya berdenyut menyakitkan. Meski kepayahan membuka mata yang terasa berat, gadis itu tetap memaksakan diri, agar bisa keluar dari kegelapan yang menelannya. Semua tampak memburam. Membuat Binar mengerjap beberapa kali, agar bisa memperjelas penglihatan. Dan, apa yang kemudian berhasil tertangkap penglihatannya, membuat gadis itu mual. Ketika senyuman memuakkan seorang pria paruh baya tampak begitu sumringah menyambut kesadarannya yang sempat terenggut. "Akhirnya bangun juga." Mengusap kumis dan brewoknya. Pria yang tampak lebih kusam dari terakhir kali Binar lihat. Kini berjalan mendekat kearahnya, membungkuk, hingga bisa mensejajarkan diri dengan Binar yang duduk di sebuah kursi dengan kedua tangan serta kaki yang terikat. Tak lupa mulutnya disumpal dengan sebuah

