Luka Lama - 3

1753 Words
"Aduh! Ish! Sakit Ni, lo ngapain cubit gue?" Binar yang sebelumnya terfokus pada sosok Eric dan gerombolannya, kini beralih pada Agni yang tengah meringis di sampingnya. "Maaf Bi, gue cuma mau pastiin kalau ini benar-benar nyata. Bukan mimpi." "Ck! Ya kalau mastiin lo harus cubit diri lo sendiri. Bukan orang lain." Menggaruk hidung, Agni terkekeh kaku, "nggak ah, sakit." Mendengkus, Binar akhirnya kembali meletakkan atensi pada sosok Eric yang masih bergeming di tempatnya. Gadis itu melanjutkan langkahnya yang sempat terjeda, karena rasa terkejut mendapati sosok yang tak diduganya. Sungguh! Dia enggan berurusan lagi dengan cowok itu. Tapi sekarang apa? Eric sendiri yang mendatanginya. Agni mengekor di belakang Binar dengan raut penasaran. Menggigit bibir bawahnya sebagai upaya menahan diri melempar segala pertanyaan yang sudah berjejalan di kepala. "Awas, ini tempat gue!" Mengetuk-ngetuk meja beberapa kali, Binar menatap Eric yang masih duduk santai dikursinya. Menyadarkan pinggang di pinggiran meja, Binar bersedekap tangan, "dan seingat gue, kelas lo bukan di sini." Menyugar rambut, Eric menganggukkan kepala, "memang." "Kalau begitu, enyah dari sini—sekarang!" Para siswa penghuni kelas, atau mereka yang mencoba mencuri lihat dari jendela atau ambang pintu, tampak terkesiap melihat keberanian yang Binar perlihatkan. Karena mencari masalah dengan Eric, jelas bukan hal yang bisa membuatmu mencecap kedamaian selama berada di sekolah. "Yang sopan kalau ngomong." Tegur salah satu anak buah Eric yang membuat cowok itu mengacungkan tangan kanannya. Memberi kode agar tak mengkonfrontasi Binar yang tampak tak peduli alih-alih gentar. "Sorry kalau kedatangan gue di sini bikin lo merasa terganggu. Tapi niat gue baik kok. Sebagai orang yang baru terlibat masalah, gue yakin lo masih belum mengerti banyak hal apa yang bakal terjadi." "Oh, perhatian sekali?" Mengangkat sudut bibirnya menjadi seringai, senyuman kecil yang Binar perlihatkan hanya bertahan beberapa detik. Sebelum berganti dengan raut datar tanpa minat. "Jangan terlalu banyak berbasa-basi, langsung aja. Apa maksud lo sebenarnya?" Mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan wajah, Eric mengangguk-anggukkan kepala. Bak seorang buronan yang baru saja menyatakan kekalahannya. "Gue cuma mau ngajak lo ke ruang BP bareng-bareng kok. Biar lo nggak canggung kalau harus pergi ke sana sendirian." Mengerutkan kening, Binar tampak kebingungan, meski raut kesal akan kehadiran Eric tak memudar. "Ngapain gue ke ruang—" "TES! TES! PENGUMUMAN ... PENGUMUMAN! UNTUK PARA MURID YANG NAMANYA DISEBUTKAN, TOLONG UNTUK SEGERA MENDATANGI RUANG BP SEKARANG! SEKALI LAGI, BAGI PARA MURID YANG NAMANYA DISEBUT, TOLONG MENDATANGI RUANG BP SE—KA—RANG!" Memejamkan mata sejenak, Binar mengela napas panjang, saat ada namanya yang termasuk dalam daftar siswa yang harus menghadap ruang guru BP. Astaga ... Apalagi ini? Apa tidak bisa, hidupnya yang sudah penuh kerumitan ini kembali tenang, sebelum adanya peristiwa kemarin? "Dengar?" Suara Eric yang kembali tertangkap pendengaran membuat fokus Binar kembali teralihkan pada cowok itu.  Bangkit dari tempat duduk, Eric memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Buruan, nanti Bu Marta memperpanjang daftar pidatonya." Berderap lebih dulu, diikuti oleh teman-temannya. Eric menunggu di depan pintu kelas. Cowok itu menoleh pada sosok Binar yang masih mematung di tempatnya. "Bi, gimana?" Menyenggol lengan sahabatnya yang tampak termenung, Agni berbisik lirih. Mengela napas panjang, Binar menatap Agni yang tengah menahan diri dari gejolak rasa kepo yang merongrongnya saat ini. "Gue pergi dulu." Menepuk pelan bahu sahabatnya, Binar mengayunkan langkah menuju Eric dan gerombolannya. Ini benar-benar menyebalkan, pant*tnya bahkan belum sempat menyentuh kursi, tapi sekarang, sudah harus pergi lagi. Di sepanjang lorong kelas, Binar yang tengah berjalan bersama Eric dan teman-temannya berusaha bersikap tak acuh. Meski sejujurnya, ia risih dengan tatapan penuh rasa ingin tau oleh para siswa yang melihat keberadaan mereka. "Kemampuan lo lumayan juga. Sebelumnya, gue belum pernah ketemu cewek yang bisa haj*ar orang. Biasanya kalau nggak ngambek, ribet sama penampilan, ya ngerengek minta shopping." "Ciri-cirinya kayak mantan-mantan lo dulu Bos—aduh!" Salah satu teman Eric meringis saat belakang kepalanya dikeplak temannya yang lain. "Pinjam saringan sama Mpok Dede sana." "Buat apaan?" "Buat lo telen, biar kalau ngomong bisa kesaring, jadi nggak asal keluar." Memberengut sebal, keduanya kemudian terlibat adu mulut yang membuat Eric berdecak. "Lo berdua kalau masih ngoceh, gue solatip mulutnya." Mendengar ancaman itu, keduanya segera menutup mulut. Menggumamkan permintaan maaf dengan kompak dan memilih tak lagi berbicara karena takut menyulut kemarahan Eric. Sesampainya di depan pintu ruang BP, Binar meremasi jemarinya dengan gugup. Ini adalah kali pertama ia memasuki ruangan tersebut. Dan tak pernah membayangkan, akan masuk ke sana dengan gerombolan para siswa yang dikenal paling badung seantero sekolah. Seruan yang meminta mereka untuk masuk membuat Eric membukakan pintu. Alih-alih segera melenggang ke dalam, cowok itu justru mempersilakan Binar lebih dulu. "ladies first," apa yang Eric lakukan menyulut keriuhan teman-temannya yang bersemangat memberi godaan serta suitan. Sebelum akhirnya diredam oleh suara lantang seseorang. "Kalian ngapain heboh di depan pintu?! Ayo, cepat masuk!" Mengangguk dengan tergesa, para murid yang langganan di panggil ke ruangan ini—kecuali untuk Binar tentu saja. Segera memasuki ruangan dan berbaris rapi, di bawah tatapan tajam seorang wanita paruh baya dengan sanggul besar dan lipstik merah menyala yang memoles bibirnya. Memejamkan mata sejenak, Marta memijat pangkal hidungnya. Membenahi letak kacamatanya yang sedikit melorot, ia tatap satu persatu murid yang sudah langganan mendapat ceramah darinya. "Saya heran, apa kalian tidak bosan dipanggil ke sini? Saya saja sudah sangat bosan melihat wajah kalian." Dengan kedua tangan yang bertaut dibelakang punggung, Marta berjalan bolak-balik sembari menatap murid yang selalu berbuat ulah dan tak jarang membuatnya sakit kepala. "Kita kan sayang sama Ibu, jadi berusaha untuk sering-sering berkunjung ke sini." Celetukan santai dari Eric membuat Marta meletakkan tatapan pada pentolan sekolah yang paling sering berbuat ulah. "Oh, kamu kira saya akan tersanjung?" Mengedikkan bahu, Eric nyaris kembali menjawab tapi yang keluar adalah desisan. Menundukkan kepala, ia dapati sebelah kakinya mendapat injakan keras dari gadis di sampingnya yang sedari tadi menunduk. Berdeham, Eric menggeleng, "maaf, Bu." "Kalian itu sudah kelas tiga, sebentar lagi ujian untuk kelulusan. Seharusnya giat belajar, bukannya makin giat bikin onar!" Bu Marta terus memberi nasihat panjang seperti yang sebelumnya Eric katakan. Tak ada yang berani menyela ucapan wanita paruh baya itu yang begitu menggebu-gebu. Sampai akhirnya, setelah nyaris setengah jam. Bu Marta berhenti, dan ditutup dengan sebuah surat yang ia peruntukan untuk para muridnya. Berharap, kali ini mereka benar-benar jera dan tak lagi menjadikan semua peringatannya sekadar angin lalu. Usai dari ruang BP. Binar memilih duduk di bangku taman sekolah. Mengela napas panjang, gadis itu menundukkan kepala, menatap sendu sebuah surat pemberitahuan skorsing untuk orangtuanya. Astaga ... Bagaimana ini? Binar yang tak pernah membuat ulah saja, Papa dan Mamanya bertengkar setiap hari di rumah. Apalagi sekarang? Keduanya bisa mendapat alasan untuk kembali saling melempar m*kian. "Ck! Nggak perlu segitunya kali. Muka lo kayak nggak ada lagi hari esok buat hidup." Suara yang mulai familiar di pendengaran Binar membuat gadis itu mengangkat wajah, mendengkus sebal, saat mendapati Eric yang tengah menjulang di depannya sembari bersedekap tangan.  "Harusnya lo seneng, kan lumayan dapat liburan." Memasukan surat tersebut ke dalam tas, Binar memakai tasnya sebelum kemudian bangkit berdiri.  "Eits," sewaktu Binar hendak berlalu, Eric meraih lengannya, mengabaikan wajah masam gadis itu, ia tersenyum miring, "kalau aja orang lain, yang bersikap songong kayak yang lo lakukan sekarang. Gue jamin dia nggak bakal gue kasih hidup tenang." "Terus, kenapa sama gue?" "Lo pengecualian, berhubung pernah nolong gue." "Bukannya udah impas waktu itu?" Mengedikkan bahu tak acuh, Eric melepas cekalannya dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Mau ikut?" Mengerutkan kening, Binar dibuat tak mengerti dengan sikap Eric yang begitu random menurutnya. "Gue nggak berminat tawuran lagi. Cukup sekali nyicipin dan itu pun karena ketidak sengajaan." Tergelak, Eric berdeham untuk menjernihkan suaranya. "Hari ini kebetulan nggak ada jadwal tawuran. Jadi lo nggak perlu khawatir." Jawaban yang ia berikan membuat Binar mendengkus. "Daripada lo bengong di sekolah, tapi nggak bisa ikut belajar di kelas, mending ikut gue sama yang lain. Pulang ke rumah juga cuma bikin panas telinga karena kena omelan." Terdiam sejenak, Binar yang sebelumnya berusaha untuk tak mengindahkan ajakan Eric, tapi ... Dalam hitungan detik, tiba-tiba saja tertarik. "Gimana?" Dan ... Anggukan yang Binar lakukan, membuat gadis itu berharap agar tak menyesali keputusannya kali ini. *** Binar sempat khawatir Eric dan teman-temannya mengajak ke tempat aneh, atau melakukan hal-hal berbahaya seperti tawuran beberapa waktu lalu. Tapi ... Nyatanya, tidak. Cowok itu menepati kata-katanya untuk mengajak ke tempat yang bisa untuk merilekskan pikiran sejenak.  Dan sebuah mall menjadi pilihan. Agar menghindari razia pelajar di jam sekolah seperti sekarang, mereka mengganti seragam sekolah yang sebelumnya melekat ditubuh. Dengan pakaian santai yang dibeli dadakan. Berbaur dengan Eric serta teman-temannya, tak begitu buruk bagi Binar. Meski kadang mereka terlalu berisik dan membuatnya tak nyaman saat orang-orang disekitar melempar tatapan. Seolah memahami ketidaknyamanan Binar, Eric akan menegur hingga teman-temannya menutup mulut. Mereka baru saja keluar dari restoran cepat saji untuk mengisi perut. Dengan Eric yang membayarkan semuanya. Saat berjalan dan sekadar melihat-lihat deretan toko yang dilewati. Langkah Binar terhenti, pada sebuah toko pakaian. Tubuhnya menegang, dengan pandangan yang tak lepas dari sejoli yang baru saja masuk ke sana, saling merangkul dan berbicara dengan akrab. Sesekali diiringi tawa kebahagian yang terpancar dari raut wajah keduanya.  Tentu saja, wanita itu bukan sang Mama. Karena, Binar sendiri bahkan tak bisa mengingat, kapan terakhir kali sang Papa memberikan senyuman tulus untuk Mamanya.  Yang melekat di kepala Binar, hanya bayangan sang Papa yang berteriak, mem*ki dan saling melempar u*****n dengan Mamanya yang begitu sering dibuat menangis.  Sekali pun tak bertengkar, wajah Papanya akan selalu masam saat berada di rumah. Pria itu bak orang asing di keluarganya sendiri. Jika tak mendekam di ruang kerja, pasti mengunci diri di kamarnya. Ya, kamarnya sendiri, bukan bersama sang Mama karena mereka tidur di kamar terpisah. Meski saling berdekatan dengan kamar Binar di lantai atas.  Dulu, Binar kebingungan. Kenapa Mama-Papanya tidak tidur di satu kamar yang sama? Tapi sekarang, ia tak lagi memikirkan hal itu, jika mengingat, bagaimana keduanya bak musuh bebuyutan alih-alih sepasang suami istri. Tapi ... Kenapa sang Papa berkeliaran di jam yang seharusnya masih sibuk mengurusi pekerjaan di kantor? Hal yang selalu pria itu teriakan di depan wajah sang Mama. Dia selalu mengaku sibuk dan lelah dengan tumpukan pekerjaan. Hal itu pun sering kali menjadi penyulut pertengkaran keduanya.  Untuk menikmati makan siang pun, sekarang masih terlalu awal karena jam masih menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. "Hei," suara yang tertangkap pendengaran dan tepukan dibahunya membuat tubuh Binar berjengit. Menolehkan wajah, ia dapati sosok Eric yang tampak mengerutkan kening dengan wajah bingung bercampur penasaran. "Lo kenapa? Muka lo pucat gitu, kayak lihat hantu pagi-pagi." Tersenyum sumir, Binar membalas tatapan Eric, sebelum kemudian menjawab. "Ini ... Bahkan lebih menakutkan dari hantu." Karena Binar tau, keutuhan keluarganya semakin diujung tanduk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD