Di balik pesan Vian yang terkesan begitu sabar dan sangat menyesal karena sudah membuat Leya marah, ada Arsen yang turut andil dalam proses berbaikan tersebut. Setelah selesai rapat, Vian merasa gusar karena masih belum mendengar kabar mengenai keberadaan Leya, hingga ia kembali meminta saran dari Arsen.
“Terus sekarang gue harus gimana?” tanya Vian pada Arsen.
“Lo ada kontaknya, kan? Coba aja hubungin! Tanya baik-baik, jangan langsung dimarah! Diminta cerai ntar yang ada,” saran Arsen pada lelaki yang 'katanya’ sudah dewasa itu.
Vian pun membuka ponselnya dan mulai menghubungi Leya via telepon, namun tak kunjung diterima. “Gak diangkat,” ujar Vian lagi.
Meski wajah Vian tak bisa berbohong dan menyiratkan kalau dirinya merasa benar-benar khawatir. Arsen tetap meladeninya dengan sangat tenang—benar-benar berpengalaman. “Udah tenang aja, dicoba nanti lagi! Dia gak akan pergi jauh, paling cuma tempat temennya.”
“Kalo ke tempat tu cowok gimana?” tanya Vian seraya kembali menghubungi Leya. Mendengar itu hanya bisa Arsen menggelengkan kepala, sepupunya itu sama sekali tidak terlihat dewasa jika berada di posisi seperti ini.
‘Ini gue simulasi punya anak apa gimana sih?’ gerutu Vian dalam hati.
“Kalo gak diangkat, coba kirim chat aja! Kalo cewek udah marah, kita harus pinter-pinter cari jalan keluar; meskipun kadang pake cara yang agak gak masuk akal,” saran Arsen lagi.
“Oh, iya juga,” sahut Vian dengan pollosnya. Ia langsung mengirimkan pesan pada Leya dan berhenti menghubunginya lewat panggilan telepon. Tak lama kemudian, Vian terlihat tersenyum sendiri sambil berkirim pesan.
“Cih, tadi ngomel-ngomel; giliran sekarang cengar-cengir! Kayak bocah kemaren sore aja, lo!” gerutu Arsen dan Vian sudah tidak memedulikannya lagi.
***
Sesuai dengan yang sudah dibicarakan sebelumnya, Leya akan pulang dengan dijemput oleh supir pribadinya. Sekitar pukul 11.30 Vian memberitahukan kalau supirnya sudah menjemput dan meminta Leya untuk segera ke luar.
Betapa terkejutnya Leya ketika ia sudah sampai di depan. Ternyata yang menjemput bukanlah supirnya, melainkan Vian sendiri. Pria itu berdiri di sebelah mobilnya dengan pakaian yang begitu rapi–tentu saja ia masih menggunakan setelan kantor. Tubuhnya yang tegap dan senyum yang cerah, membuat dirinya terlihat semakin bersinar.
“Hai, Ley! Ayo pulang!” ajak Vian dengan lembut.
Dalam hati Leya bergerutu, ‘Dia pikir dengan penampilannya yang begitu aku bakal luluh?’ Sepertinya pandangan Leya memang sedikit buram; penampilan Vian yang biasanya disukai oleh para gadis ternyata tidak mempan untuk membujuknya. Di matanya, Vian hanyalah sosok pria yang sangat menyebalkan.
“Gak mau! Tadi katanya yang jemput ‘kan supir,” tolak Leya.
“Sekarang saya yang jadi supirmu. Ayo kita pulang!" ajak Vian sembari meminta Leya segera masuk ke dalam mobil dengan kode matanya. Leya balik menatap Vian dengan kesal, namun ia merasa tidak bisa kabur lagi.
“Nah, gitu dong!” ujar Vian senang seraya membukakan pintu untuk Leya.
Dengan rasa kesal yang belum hilang, Leya memilih diam sepanjang perjalanan. Begitu juga Vian, ia tak membuka suara sampai akhirnya mereka tiba di rumah. Dan setelah sampai di ruang tamu, Vian memanggil Leya yang berjalan pelan di belakangnya. “Ley!”
“Hm?” jawab Leya pelan.
“Sorry ya, kalo kemaren saya kelewatan. Saya gak bermaksud marah, cuma ngingetin kamu aja,” ujar Vian tulus.
Leya mengangguk pelan. “Iya, gak apa-apa.”
“Jadi, sebenernya hubungan kamu sama si Ezra itu gimana?” tanya Vian ragu-ragu, namun ia merasa ini perlu dilakukan untuk meluruskan kesalahpahaman.
Leya yang enggan menjelaskan lewat kata-kata, memilih untuk membuka riwayat chat-nya dengan Ezra dan membiarkan Vian untuk membaca seluruhnya.
“Hmm. Saya gak suka sama dia, jadi jangan terlalu deket, ya!” ujar Vian dengan sangat berhati-hati sembari mengembalikan ponsel Leya.
“Iya,” jawab Leya sambil mengangguk sekali lagi. Lalu ia juga mengutarakan pertanyaan yang kali ini berputar di pikirannya. “Tapi... mmm... apa Kakak punya pacar?”
Tanpa ragu Vian menjawab, “Punya.”
Leya menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Ah, gitu. Oke.”
Vian memperhatikan wajah Leya, ia mengetahui adanya kekecewaan di sana. “Kamu gak tanya siapa pacar saya?”
Gadis itu menggeleng dengan pandangan yang menatap ke ujung sepatunya. “Eng–gak perlu.”
Vian merapatkan jarak antara mereka berdua dan mendekat ke sisi kanan, kemudian ia berbicara dengan pelan tepat di telinga Leya. “Pacar saya, sekarang udah jadi istri saya. Makanya, saya gak mau ada satu pun laki-laki yang deketin dia.” Usai mengatakan itu, Vian mundur sedikit dan merapihkan rambut Leya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
Deg! Terasa ada degup yang tak biasa di jantung Leya. Ia langsung membeku dan tak bisa berkata-kata.
“Ley?” panggil Vian lagi. Leya langsung mendongak dan membuat manik mata keduanya saling bertemu. “Ayo makan! Saya harus balik ke kantor lagi setelah ini.”
Leya hanya menjawab dengan anggukan kepala dan mereka melangkah ke ruang makan, di sana sudah tersedia berbagai lauk yang disiapkan oleh asisten mereka.
Sesaat, suasana di meja makan itu terasa hening, tak jauh berbeda dengan suasana di mobil sebelumnya. Namun setidaknya kali ini sedikit lebih baik, hati mereka sama-sama sudah tenang dan tidak ada pikiran yang mengganjal lagi. Meski begitu, Leya masih belum berani untuk menatap Vian. Jantungnya masih belum usai bergejolak setelah jari Vian menyelipkan rambut ke telinganya.
“Oh iya, Ley, minggu depan kampus Joy udah buka pendaftaran untuk ujian mandiri, mau coba daftar?” ujar Vian memulai pembicaraan.
“Ah itu… enggak perlu. Saya mau coba cari kerja aja,” tolak Leya meski sebenarnya ia sangat ingin.
“Kamu baru punya ijazah SMA, mau kerja apa? Saya gak mungkin tega biarin kamu kerja kasar, Ley,” ujar Vian lembut.
“Kakak udah keluar uang banyak untuk lunasi hutang papa, jadi gak perlu keluarin uang lagi untuk saya.”
Vian meletakkan sendoknya dan berbicara dengan lebih serius. “Saya udah pernah bilang, urusan hutang dengan kamu itu gak ada hubungannya. Kamu itu istri saya, tanggung jawab saya. Kalo kamu kerja keras, apa kata orang nanti? Dikiranya saya ini suami yang pelit dan gak bisa mencukupi istri.”
Leya terdiam sesaat. Ia membenarkan ucapan Vian, jika ia bekerja maka nama Vianlah yang akan menjadi sorotan. Semua ini bukan tentang dirinya, melainkan tentang seorang ‘Vian’. Ia tidak bisa egois dan merussak nama baik orang yang sudah membantu keluarganya.
“Apa kalau saya mau kuliah, Kakak bakal kasih tau alasan pernikahan kita?” tawar Leya.
“Alasan pernikahan? Memang apa yang belum kamu tau?” tanya Vian seolah sudah memberitahu segalanya.
Leya menatap pria itu, otaknya berusaha mencari jawaban dari pertanyaan Vian. “Saya memang gak tau apa-apa.”
Vian kembali mengambil sendok dan hendak kembali menyantap makanannya. “Habisin dulu makanmu, keburu dingin!”
Leya tidak bisa tunduk untuk sekarang. Ia merasa berhak untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan yang satu ini, sebab ia memang terlibat di dalamnya. “Kenapa saya gak boleh tau? Bukannya Kakak sendiri yang bilang kalo kita gak akan cerai? Mau sampe kapan Kakak sembunyiin dan bikin saya jadi orang bodoh?”
Vian terdiam, lalu kini giliran dia yang memberikan penawaran. “Tapi kamu janji mau kuliah?”
“Ya. Asal Kakak juga bisa tepati janji,” jawab Leya mantap.