Hari-hari pun berjalan dengan baik sebagaimana mestinya, termasuk dengan hubungan antara Vian dengan Leya. Pernikahan mereka sudah berjalan 2 bulan. Meski belum sedekat suami istri pada umumnya, setidaknya keseharian mereka sudah tidak seperti kucing dan tikus lagi. Hari ini, Leya akan mulai masuk kuliah. Dengan nilai yang lebih dari cukup, tidak susah baginya untuk bisa diterima di Universitas Joy—untuk yang kedua kalinya. Sebelum berangkat, mereka sarapan sarapan bersama. Tidak lagi hening seperti dulu, perlahan kehangatan mulai muncul di sana. “Beneran nanti gak mau dianter?” tanya Vian lagi. Ia ingin mengantar Leya di hari pertamanya, namun gadis itu terus menolak. “Iya, gak usah. Naik ojek aja.” “Pake mobilmu deh kalo gak mau pake mobil saya,” tawar Vian. “Gak mau

