Tiba-tiba Vian sudah keluar dari kamarnya dan melangkah ke arah Leya, “Ayo saya temenin ke kamar!”
Leya sedikit melonjak dan langsung menoleh; tak lupa ia juga memperhatikan ke arah kamar Vian dan memastikan kalau memang pria itu keluar dari sana. “Eng… gak usah, aku berani kok tidur sendiri,” jawab Leya dengan mata yang masih terus menyelidik.
“Kan saya bilang 'temenin ke kamar', bukan 'temenin tidur',” balas Vian sambil berlalu ke arah tangga.
Leya langsung mendengus kesal, namun karena jawaban Vian yang menyebalkan; ia menjadi lebih yakin kalau yang kini berjalan di depannya benar-benar seorang Arviano.
“Ayo! Mau masuk ke kamar, gak?”ajak Vian sembari menoleh karena Leya tak kunjung melangkah.
“Iya.” Leya hanya bisa menurut. Meski kesal, namun ia sangat penakut; ditambah lagi dengan suasana rumah yang begitu hening. Ia tak memiliki pilihan selain ditemani oleh Vian.
Tak ada obrolan sepanjang langkah mereka menyusuri anak tangga yang jumlahnya lumayan banyak. Hingga tibalah Vian di depan kamar istrinya itu dan langsung membukakan pintu.
“Gih, masuk! Jangan lupa pintunya dikunci!” ujarnya mengingatkan.
“Iya, makasih,” balas Leya ogah-ogahan.
Vian menjawab dengan senyuman, lalu mengusap puncak kepala Leya lagi. “Jangan takut! Telpon saya kalo nanti tiba-tiba kamu kebangun atau ngerasa takut! Jadi kamu gak perlu lari-lari ke bawah.”
Leya tak menjawab, ia hanya mengangguk saja. Senyuman Vian seolah menghipnotisnya. Bahkan tanpa sadar, jantung Leya kini sedang berdebar kencang sebelum akhirnya ia masuk dan menutup pintunya. Setelah terdengar suara pintu terkunci, Vian baru turun ke kamarnya.
Menyadari ada hal yang tak baik dalam dirinya, Leya langsung berlari dan masuk ke dalam selimut. “Jantungku gak aman!” ujarnya pada diri sendiri. “Kenapa dia sebaik itu? Dia pasti jahat; dia punya niat sesuatu; dia dapat aku berarti memang ada yang dia mau dariku, tapi… apa?”
Pikirannya terus dipenuhi banyak pertanyaan, kemudian ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Ternyata sudah banyak sekali pesan yang masuk. Banyak teman-temannya yang kaget atas pernikahannya dengan Vian. Bahkan mereka yang jarang bertegur sapa pun ikut bertanya. Pesan-pesan itu tak ia buka, hanya ia baca melalui widget saja.
“Hah! Udah bener gak sebar undangan ke mereka. Sayangnya, keluarga Kak Vian terlalu terpandang. Pasti banyak yang kenal. Mau disembunyiin kaya apa juga bakal tetep ketauan. Haduhh! Mana pada ngira aku hamil di luar nikah lagi.”
Seperti biasa, mereka yang menikah muda akan diduga ‘hamil duluan’, padahal masih banyak perkara lain yang sangat mungkin menjadi alasan selain itu. Leya mengabaikan pesan-pesan itu dan hanya membuka pesan dari grup 'Calon Mantu Idaman!'—grup chat Leya bersama ketiga sahabatnya.
‘Aku udah jadi menantu orang, tapi apa aku ini bisa jadi menantu idaman? Nikah aja karena dijodohin gini,’ batin Leya sebelum mulai membaca tumpukan chat dari sahabatnya yang jumlahnya tak sedikit.
Grup Chat ‘Calon Mantu Idaman!’
Pukul 11.20, Vidi memulai percakapan mereka. ‘Gais-gais-gais! Kalian pada tau ga sih? Suami si Leya ternyata om-om keren!’
Fidel langsung membalas dengan penuh ketidakpercayaan. ‘Sumpah? Kok kamu tau?’
‘Iya, ortuku dapet undangan,’ balas Vidi.
Cilla yang sudah mengetahui faktanya, langsung merespon obrolan tersebut. ‘Bener! Aku juga diceritain Papa. Katanya kaget waktu tau istrinya itu si Leya.’
‘Papa kamu juga diundang?’ balas Fidel.
Cilla membalas, ‘Enggak sih, cuma liat siaran di TV kantor gitu. Kan Papaku kerja di salah satu perusahaan cabang keluarga William.’
Dengan penuh kekecewaan, Fidel membalas dengan huruf yang di-capslock. ‘KENAPA CUMA AKU SENDIRI YANG GAK TAU???? SEGANTENG APA?? KASIH TAU AKU CEPETTTT!!!!’
‘Searching aja! Cari 'Benedict Arviano William'. Pengen bilang kalo si Leya beruntung banget, tapi kita belum tau tau sifat orang itu. Takut dia gak perlakuin Leya dengan baik.‘ Meski Vidi merasa iri dengan ‘keberuntungan’ Leya, ia masih mengkhawatirkan sahabatnya juga.
‘Iya, sama. Aku pun takutnya gitu. Ganteng dan kaya, gak menjamin dia laki-laki yang baik,’ balas Cilla yang sependapat dengan Vidi, sedangkan Fidel masih mencoba mencari tahu bagaimana paras suami sahabatnya itu.
‘HUWAAAAAA!!!! IYAA BENER GANTENG BANGETTT! AKU MAU AKU MAU!!!’ Lewat ketikan saja Fidel sudah sangat heboh, jika lewat telepon mungkin telinga teman-temannya bisa sakit.
‘Udah jadi laki orang, Del. Yang penting sekarang, dia ini orang baik apa bukan. Duh kan, jadi overthinking. Mana Leya gak buka hape pula.’ Begitu pedulinya Vidi, sehingga ia menjadi semakin khawatir.
Pukul 21.29 Leya membalas pesan di grup. ‘Guys. Udah pada tidur?’
Fidelia Hernanda—gadis paling heboh dalam lingkaran persahabatan mereka—langsung membalas pesan itu sesegera mungkin, dia terus memasang notifikasi khusus ponselnya agar tidak tertinggal kabar dari Leya. ‘LEYAAAAAAA!!!!!!! GIMANA GIMANAA??’
‘Gimana apanya, Del?’ tanya Leya yang bingung harus bercerita dari mana.
Vidi kembali bergabung. ‘Hai, Lee! Gimana? Dia baik gak?’
‘Pertanyaanku udah terwakilkan,’ sahut Cilla.
Leya pun menjawab dengan kalimat yang tidak sengaja mengundang spekulasi buruk. ‘Gak tau. Rasanya aku pengen pulang aja.’
‘Eh, kok gitu? Kenapa, Le?’ tanya Cilla khawatir.
‘Dia jahat ya? Kasar? Main tangan?’ Fidel langsung menghujani Leya dengan pertanyaan yang agak berlebihan.
‘Enggak kok, enggak. Sejauh ini dia baik. Bahkan baik banget, tapi justru itu yang bikin aku takut,’ ungkap Leya jujur.
Nampaknya jari Fidel terdesain untuk bergerak dengan kecepatan cahaya, ia bisa membalas dalam hitungan detik. ‘Tapi dia nepatin janji, kan? Kalian pisah kamar?
‘Iya, kami pisah kamar kok,’ jawab Leya lesu.
‘Jadi, kami harus ucapin selamat gak?’ tanya Vidi memastikan.
‘Iya, kami bingung harus ngomong apa,’ sahut Cilla.
‘Nanti aja ucapinnya, kalo memang aku udah buktiin kalo dia orang baik. Untuk sekarang aku sendiri belum tau,’ tahan Leya. Baginya tak perlu ada ucapan selamat untuk momen kali ini.
‘Ya udah gak apa-apa, Le. Kami berusaha buat paham kok. Istirahat gih! Kamu pasti capek, kan?’ Vidi mengingatkan; benar-benar pengertian.
Karena badan yang sudah begitu lelah, Leya tidak mengabaikan perhatian dari sahabatnya itu. Setelah berbincang sebentar, ia pamit untuk tidur lebih dulu.
Leya menutup room grup chat-nya, kemudian ia melihat-lihat lagi pesan yang masuk—meski tidak membukanya. Sebuah kontak dengan nama 'Kak Ezra' berhasil membuat Leya terpaku sesaat, lalu ia pun memilih untuk membuka pesan tersebut.