POV AUTHOR
***
Leya baru saja sampai di lantai satu. Napasnya terengah-engah, namun rasa takutnya seketika menjadi kesal ketika melihat ekspresi Vian yang sedang menahan tawa.
“Kamu kenapa?” tanya Vian berbasa-basi.
“Gak apa-apa,” jawab Leya sambil menggeleng. Hanya dari sorot mata, ia bisa menilai kalau Vian sedang mengejeknya. Ia pun kembali mengomel dalam hati.
“Ayo makan! Saya udah laper,” ajak Vian. Di atas meja makan sudah tersedia banyak piring dengan beragam lauk yang terlihat enak.
Leya masih diam dan tidak segera duduk, Vian dengan sabar menunggu gadis itu bergerak—meski cacing di dalam perutnya sudah meronta begitu lama.
“Kenapa diem aja? Ayo makan!” Vian mengulangi ajakannya.
Leya yang masih kesal hanya bisa mengikuti perintah. Ia memilih tempat yang berselang 2 kursi dari posisi Vian duduk. Lelaki itu memiringkan sedikit kepalanya dan menatap Leya sambil mengerjap.
“Jauh banget duduknya, kayak musuhan.”
“Memang sejak kapan kita deket?” gerutu Leya pelan.
“Kamu marah, ya?” tanya Vian seraya memindahkan nasi dan lauk-pauk ke atas piringnya.
Leya masih diam dan tak menjawab, manik matanya melihat ke arah lain—tak memedulikan Vian sama sekali. Suasana di rumah itu sangatlah sepi, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring ketika Vian hendak menyantap makanannya.
“Udah ketemu sama hantunya?” tanya Vian sebelum sesendok nasi masuk ke dalam mulut.
Ditatapnya Vian dengan perasaan kesal yang semakin menjadi. ‘Kan bener, dia ngejek,’ gerutu Leya dalam hati.
Vian meletakkan sendok dan meneguk air mineralnya sedikit. “Jangan takut, gak ada hantu di rumah ini! Lagi pula, kalau pun ada hantu pasti cuma kamu yang dihantui.”
“Kenapa?” tanya Leya, meskipun ia sudah muak mendengar candaan yang menurutnya sangat tidak lucu.
“Hantunya cemburu sama kamu karena kamu menikah sama aku,” jawab Vian dengan sebuah candaan lagi, tak lupa sebuah senyuman juga ia selipkan di ujung ucapannya.
Enggan meladeni, Leya kembali mengalihkan pandangannya dari Vian dan melihat ke arah dapur. Di belakangnya terdapat sebuah pintu dari kamar asisten mereka, namun untuk malam ini asisten tersebut sama sekali belum muncul di hadapan Leya.
Vian terus membujuk Leya untuk makan, namun gadis itu tetap menolak. Mulutnya menolak untuk menerima makanan karena pikirannya yang masih belum bisa tenang. Belum selesai rasa takutnya karena harus tinggal berdua dengan seorang lelaki, kini harus ditambah dengan rasa takut akan hantu.
“Di rumah ini… cuma ada kita berdua?” tanya Leya memastikan.
“Heem, iya,” jawab Vian sambil mengangguk. “Setidaknya untuk malem ini,” tambahnya.
Kemudian Leya kembali memandang sekeliling. Ia mulai memikirkan bagaimana caranya membersihkan rumah yang sangat besar itu. Ia berprasangka kalau Vian mungkin saja akan memperlakukannya seperti asisten rumah tangga pada umumnya—karena untuk disebut ‘istri’, ia merasa tidak layak, namun ternyata prasangka itu langsung terpatahkan.
“Besok pagi asisten kita baru dateng, mungkin 2 atau 3 orang,” ujar Vian yang sudah menghabiskan makanannya.
“Ah, oke. Terus, saya harus ngapain?” Leya tidak ingin menjadi manusia yang tidak tahu diri. Baginya, keberadaannya di sana bukanlah untuk menjadi nyonya besar ataupun ratu, maka dari itu ia perlu memastikan apa tugasnya.
“Tugas? Terserah kamu sih, mau tidur seharian juga silakan. Lagian belum ada agenda juga, kan?”
Leya menyipitkan kedua mata, ia sangat yakin kalau Vian masih mempermainkannya.
“Kapan mau daftar kuliah? Denger-denger kamu udah pernah lolos, tapi gak dilanjutin,” tanya Vian kemudian.
Gadis itu sontak menggeleng, semua harapan dan mimpinya sudah ia kubur dalam-dalam. “Enggak perlu,” jawabnya singkat.
“Jangan gitu! Kamu tanggung jawab saya sekarang. Saya udah janji sama orang tuamu untuk bahagiain kamu dengan cara apa pun itu, salah satunya pendidikanmu.” Kali ini ucapan Vian terdengar serius, meskipun begitu, Leya masih belum bisa membuka harapannya kembali.
“Kakak udah keluar banyak uang untuk bayar hutang Mama. Jadi, sekarang gak perlu keluar uang lagi untuk saya. Biar saya cari uang sendiri, setidaknya saya gak memberatkan Kakak ke depannya,” ujar Leya dengan mata yang fokus menatap tepian piring kosong.
“Leya.... Dengerin saya, ya! Hutang adalah hutang, sedangkan kamu itu istri saya. Gak ada hubungannya antara kamu dan hutang itu. Jadi, apa pun kebutuhanmu pasti akan saya penuhi.”
Leya menarik napas dalam-dalam, lalu dihembuskannya perlahan. “Saya, kan, cuma istri yang dijodohkan. Bukan kemauan Kakak sendiri. Jadi, Kakak gak perlu merasa bertanggung jawab.”
“Mau menikah atas perjodohan atau bukan, kamu tetep istri saya. Saya gak mau nanti kamu tiba-tiba nuntut cerai karena saya gak memenuhi kebutuhanmu. Seperti yang saya bilang di awal sebelum kita menikah, saya gak akan menceraikan kamu apa pun yang terjadi.”
Tak bisa membantah, namun ucapan Vian terlalu sulit untuk bisa dipercaya. Dari beberapa kasus yang terjadi, Leya belum pernah menemukan kisah perjodohan yang berjalan mulus—terutama untuk kasus seperti dirinya; perjodohan karena hutang dan juga perbedaan usia yang cukup jauh. Dari pada terus mendebat, Leya memilih untuk meluruskan kegelisahannya.
“Boleh saya tanya sesuatu?” tanyanya ragu. Kali ini Leya memberanikan diri untuk menatap Vian.
“Silakan.”
“Mmm…. Kenapa Kakak setuju dengan perjodohan ini? Jujur, aneh aja ada orang yang tiba-tiba mau lunasin utang orang asing. Bahkan… sampai menikah.”
“Ah, itu… apa saya punya alasan untuk menolak perjodohan ini?” jawab Vian dengan sebuah pertanyaan.
“Maaf, tapi bukannya keluarga Kakak cuma dapat rugi? Atau mungkin sebenernya orang tuaku pinjem uang ke keluarga Kakak?” tanya Leya yang berusaha membuka banyak kemungkinan.
“Enggak. Masalah hutang itu sama sekali gak ada hubungannya sama keluargaku." Jawaban Vian terdengar begitu meyakinkan.
Tak kehabisan pertanyaan, sekali lagi Leya mengutarakan apa yang terlintas di pikirannya. “Terus, apa yang Kakak dapat setelah membayar semua hutang kalo memang Kakak gak rugi?”
Singkat, padat dan jelas; Vian menjawab, “Kamu.”
“Saya? Dapet saya memang apa untungnya? Bukannya malah nambah beban?”
Mendengar itu, Vian langsung terkekeh. Ia tak menyangka sudah menikahi seorang gadis yang begitu ‘sadar diri’, meskipun Vian sama sekali tidak menganggapnya seperti itu.
“Emm.... Kayanya kita butuh istirahat,” ujar Vian seraya beranjak tanpa menjawab pertanyaan Leya. Kemudian ia bertanya, “Kamu berani tidur sendiri, kan? Atau perlu saya temenin?”
Dengan cepat Leya menolak sembari menggelengkan kepalanya. “Gak perlu! Saya berani sendiri!”
“Oke. Kalo ada perlu apa, lari aja ke bawah! Kamar saya yang itu.” Vian menunjuk kamar yang paling dekat dengan ruang tengah.
“Tapi, obrolannya belum selesai,” ujar Leya pelan. Ia masih penasaran, namun tidak punya nyali untuk memaksa Vian menjawab keresahannya.
“Saya capek, pengen istirahat. Memang kamu gak capek?” dalih Vian. Tak ingin mengecewakan Leya, ia memilih untuk memberikan sebuah opsi. “Kita lanjut cerita besok pagi aja, ya? Saya free kok karena ambil cuti.”
Meski rasa kesal dan penasarannya masih berkecambuk, Leya memilih untuk kembali meredam dan menunggu waktunya tiba. Ia mengangguk dan menyetujui opsi yang Vian berikan.
“Good night, Ley!” ujar Vian seraya mengusap puncak kepala Leya, lalu pergi ke kamarnya sendiri. Lagi-lagi ia meninggalkan Leya sendirian dengan banyak tanda tanya.
Dipandanginya punggung tegap Vian sampai akhirnya menghilang di balik pintu, sedangkan Leya masih duduk dengan ditemani keheningan yang mencekam. Bulu kuduknya mulai berdiri, manik matanya pun mulai menyapu seluruh ruangan—kamarnya di lantai dua pun tak luput dari pandangan. Ia terbayang akan hantu yang mungkin saja memang ada di sana.
‘Kalo beneran ada hantu gimana? Aku gak berani naik. Kalo diem di sini aja, kayaknya juga lebih serem. Pengen nangis rasanya, pengen pulang aja,’ rengek Leya dalam hati dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Tiba-tiba Vian sudah keluar dari kamarnya dan melangkah ke arah Leya, “Ayo saya temenin ke kamar!”