POV Author
***
Malam hari pukul 19.30, mereka baru sampai di rumah. Delapan jam mereka 'dipajang' seperti boneka yang harus tersenyum pada semua orang; kini mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Sampai detik ini, Leya masih dihantui rasa penasaran, mengapa semuanya terlihat begitu baik? Semuanya tersenyum dan menerima keberadaan Leya seolah memang dia menantu yang diharapkan.
“Kamarmu ada di lantai 2,” ujar Vian ketika mereka baru saja masuk ke area ruang tamu.
Leya memandangi seisi rumah yang berkali-kali lebih luas jika dibandingkan dengan rumahnya. Meski besar, rumah itu terasa begitu sepi dan hampa.
“Oke,” jawab Leya singkat. Manik matanya masih terus menyapu sekeliling, ada rasa takut dan kagum yang muncul bersamaan.
“Ganti baju, terus turun lagi!” perintah Vian.
Leya menoleh. “Saya?”
“Iya. Kamu kan belum makan.”
Leya pun menggeleng. Ia memang belum makan. Selama resepsi berlangsung, ia sama sekali tidak nafsu makan; bahkan sampai saat ini. “Saya gak laper kok.”
“Kamu mau makan apa? Kalo gak mau makanan rumah, pesen aja! Nanti saya yang bayar,” ujar Vian memberikan opsi seraya melangkah ke kamar yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Tak ada minat makan, Leya pun mengabaikan ucapan Vian. Leya mematung di tempat, lalu mendongakkan kepalanya. Ia melihat ada beberapa pintu di lantai 2.
‘Cuma ngasih tau kamarku di lantai 2, tapi gak ngasih tau yang mana. Kalo salah masuk kamar gimana?’ tanya Leya pada dirinya sendiri.
Perlahan gadis itu menuntun kakinya menaiki anak tangga satu persatu. Rumah itu cukup luas, jika hanya untuk ditinggali dua orang. Dari cat, perabot dan segala pernak-pernik yang ada, terlihat kalau semuanya masih baru.
‘Apa mungkin dia sengaja siapin rumah ini untuk tempat tinggal kami berdua? Terus, sebelumnya dia tinggal di mana?’ batin Leya lagi.
Sampailah di lantai 2, ia masih belum melangkah jauh dari tangga. Semua pintu tertutup, tidak ada tanda khusus yang menandai kamarnya.
‘Rumah ini milik dia sendiri, kan? Tandanya, kalo aku buka kamar yang salah, di dalamnya juga gak ada siapa-siapa.’
Leya terus bertanya sendiri sambil memperhatikan sekeliling. Terlalu sulit untuk memilih kamar yang bahkan ia belum tahu apa yang tersembunyi di balik pintu.
“Kenapa masih di sini?” tanya Vian yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Leya, dan membuat gadis itu melonjak kaget.
“Itu... anu.... Kamarnya yang mana?” tanya Leya sembari mengatur debaran jantungnya.
“Terserah kamu,” jawab Vian dengan sangat santai.
“Kok terserah?” tanya Leya kesal, ia merasa sedang dipermainkan.
“Rumah ini masih baru. Barang-barangmu juga belum dibawa ke sini. Jadi, ya terserah kamu mau pilih kamar yang mana.”
Leya mengangguk dan berusaha untuk mengatur emosi. “Ah, gitu. Memang semua ada kasurnya?”
“Enggak, cuma ada satu.” Jawaban Vian membuat alis Leya bertaut.
“Terus? Kalo salah pilih kamar gimana?”
“Gak akan salah. Karena cuma ada satu kamar yang pintunya bisa dibuka. Sisanya masih dikunci.”
Vian tersenyum, kemudian mendahului Leya. Ia menuju ke sebuah kamar yang terletak di paling ujung—dari tiga ruangan yang ada.
‘Apa-apaan manusia satu ini? Makin lama kelakuannya makin gak jelas,’ gerutu Leya dalam hati sambil mengikuti langkah Vian.
“Ini kamarmu. Dalem lemari udah ada baju ganti, semoga aja cukup atau mungkin kebesaran,” ujar Vian.
“Baju... saya?” Leya tidak merasa pernah mengirim pakaiannya. Bahkan ia tidak membawa pakaian ganti untuk sekarang, ia hanya membawa pembersih make-up; itu pun ibu mertua yang memberikan padanya.
“Iya. Beberapa hari yang lalu saya minta seseorang untuk beli itu. Tapi rasanya, dia salah pilih ukuran. Seharusnya ukuranmu itu untuk anak 15 tahun, bukan 20.”
Tidak bertujuan mengejek, Vian hanya mengucapkan apa yang ia lihat. Usia Leya memang sudah 20 tahun, namun tubuhnya yang mungil membuatnya terlihat jauh lebih muda. Jika dibandingkan anak seangkatannya, Leya memang dua tahun lebih tua. Ia pernah berhenti sekolah saat lulus dari SMP, saat itu keuangan keluarga sedang sangat buruk, maka jalan yang ia pilih adalah menunda untuk masuk SMA.
Leya tak kuasa menahan diri untuk tidak menggerutu. “Dasar orang aneh!”
“Apa?” tanya Vian yang tidak bisa mendengar ucapan Leya dengan jelas.
Tentu saja gadis itu tidak akan memberitahu apa yang sudah ia ucapkan. “Bukan apa-apa. Makasih bajunya,” dalihnya. Kemudian ia membuka kamar itu perlahan.
Kamarnya cukup besar dan bercat putih. Gorden berwarna abu-abu gelap menjadi icon yang cukup menarik. Selain itu, terdapat sebuah ranjang ukuran besar, sofa panjang, meja-meja kecil dan TV. Tak ada lemari, hanya ada itu saja.
“Gimana, suka?” tanya Vian yang masih berdiri di sebelahnya.
“Terlalu besar,” jawab Leya spontan.
“Gak masalah, kan nanti jadi kamar berdua,” celetuk Vian dengan mudahnya.
Blush! Leya merasakan wajahnya seperti terbakar.
‘Bisa-bisanya dia ngomong begitu? Kalo bukan orang tua, udah kugetok kepalanya pake heels!’ omel Leya dalam hati.
Sedangkan Vian berusaha menahan tawa karena senang melihat ekspresi wajah Leya yang menurutnya begitu lucu.
“Oke, silakan ganti bajumu! Saya tunggu di bawah!” ucap Vian seraya pergi tanpa menunggu jawaban.
Leya mendengus kesal, lalu kembali mengomel. ‘Kayanya bakal sering naik darah kalo serumah sama orang kayak dia.’
Pintu kamar pun ia tutup. Sesaat iya takjub; sama sekali tidak menyangka bisa memiliki kamar sebagus dan seluas ini. Ia bisa meletakkan semua perabot kesukaannya. Lalu ia membuka sebuah pintu—bukan pintu kamar mandi, melainkan sebuah ruang ganti. Terdapat beberapa lemari; ada lemari yang tertutup, ada juga yang terbuka—khusus untuk pakaian yang digantung.
“Woah, keren! Mirip kamar di TV-TV. Jadi, di kamar gak ada lemari karena semua pindah di sini? Hm, keren juga seleranya,” puji Leya sambil mengangguk-angguk.
Kemudian ia mulai merasa kalau semua ini berlebihan. “Memang aku bakal punya baju seberapa banyak sampe harus punya ruangan khusus begini?”
Leya memperhatikan seluruh ruangan. Selain lemari baju, ada juga rak sepatu yang cukup besar. Semuanya tampak sudah disiapkan dengan matang. Di salah satu lemari, Leya menemukan dua pasang pakaian yang terlipat dengan rapi.
Diambilnya kedua pakaian itu, lalu ia pun tersenyum. Pakaian pertama adalah piyama panjang berwarna merah muda yang sangat lembut; kedua, ada sebuah jumpsuit dengan warna yang sama.
“Cantik juga warnanya. Pasti bukan dia yang pilih.”
Leya memastikan pintu ruang ganti itu sudah terkunci, lalu ia berdiri di depan cermin besar. Ia terkagum-kagum pada dress serta riasan yang kini melekat di tubuhnya. Sejak awal ia sama sekali tidak memperhatikan karena hati dan pikirannya dipenuhi rasa kesal.
Perlahan Leya melepaskan dress-nya dan masuk ke kamar mandi. Tentu saja ia butuh mandi setelah berjam-jam harus menghadapi banyak tamu. Ia memilih air hangat untuk membuat tubuhnya menjadi lebih rileks.
Cukup lama waktu yang ia habiskan untuk mandi, bahkan sampai lupa kalau Vian sedang menunggunya untuk makan malam. Setelah selesai, Leya langsung mengenakan piyamanya.
“Sial! Bener, bajunya kebesaran! Untung piyama, jadi tetep bagus dipake,” omel Leya meski sebenarnya ia sangat menyukai pakaian lucu itu.
Dengan handuk yang masih bertengger di kepalanya, Leya keluar dari ruang ganti. Betapa terkejutnya ketika mendapati Vian duduk di sofa dengan ponsel di tangan kanan dan memandang dirinya.
“Ng—ngapain di sini?”
“Nyaman banget, ya, sampe nyanyi-nyanyi begitu?” ledek Vian.
“Enggak! Siapa juga yang nyanyi?” elak Leya tegas.
“Oh, bukan kamu yang nyanyi? Ternyata bener, rumah ini angker,” ujar Vian seraya melihat sekeliling dan mengusap lengan atasnya.
“Gak usah bercanda deh! Gak lucu!” tandas Leya yang sudah merasa takut.
“Loh, katanya kamu gak nyanyi? Jadi tadi suara siapa? Kalo dipikir-pikir, bener juga sih. Seharusnya kamu nyanyi pun gak akan kedengeran sampe sini. Ruangan ini lumayan kedap suara. Jadi, tadi suara siapa, ya?” tambah Vian lagi.
“Gak usah nakut-nakutin!”
Vian terkekeh dalam hati, sifat usilnya benar-benar tidak bisa ditahan lagi. “Kamu gak percaya? Saya gak pernah bohong loh!”
Tak ingin membahasnya lebih jauh, Leya berusaha mengalihkan pembicaraan. “Anda mau apa ke sini?”
“Kok Anda sih? Kakak dong!” ralat Vian.
“Hah, oke. Ngapain Kakak ke sini?”
“Nunggu kamu kelamaan bikin saya laper.”
“Laper ya makan. Ngapain ke sini?” jawab Leya sengit.
“Kan mau makan bareng.”
“Saya gak laper.” Sebenarnya Leya sudah merasa lapar, namun mulutnya menolak untuk menerima makanan.
“Jangan bohong! Ayo makan!
“Enggak!” Leya tetap teguh pada pendirian.
“Ya udah, saya makan sendiri,” ujar Vian seraya beranjak. “Oh iya, pintu ruang ganti jangan lupa dikunci! Takutnya ada yang keluar dari sana.” Kemudian ia tersenyum, lalu keluar dari kamar Leya.
Leya mendengus kesal. Ia kembali menggerutu setelah Vian menutup pintu kamarnya. “Gak mungkin di sini ada hantunya. Tadi aku yang nyanyi kok. Bukan hantu.”
Di atas ranjangnya yang empuk, Leya mengeringkan rambutnya dengan bantuan hair dryer yang memang sudah disediakan.
Tak ada suara yang terdengar selain suara hair dryer yang berisik. Ketika alat itu dimatikan, jelas keheningan memenuhi ruangan. Ditelannya saliva dengan paksa, pikiran buruk mulai menguasai pikiran, namun sebisa mungkin ia juga terus menepis semua itu.
Leya kembali mengeringkan rambutnya, lalu berniat untuk mengembalikan handuk ke kamar mandi. Belum sempat ia membuka pintu ruang ganti, rasa takutnya kembali muncul. Tanpa pikir panjang, ia langsung melemparkan handuknya dengan asal dan berlari ke luar.
Mendengar pintu yang setengah dibanting, Vian langsung menengok ke atas. Ia terkekeh melihat Leya yang berjalan, bahkan hampir berlari menuju lantai satu.
“Apa setelah ini dia berani tidur sendiri?” kekeh Vian pelan.