POV Author
***
Sesuai janji yang telah dibuat, mereka bertemu di sebuah kafe yang terletak tak jauh dari rumah Leya. Pagi itu, jam 11.45; lima belas menit sebelum jam istirahat makan. Vian sudah mengatakan, tak apa jam berapa pun Leya mengajak bertemu, ia bisa kapan saja. Namun Leya tak ingin mengganggunya, ia tahu kalau orang bekerja harus disiplin waktu.
Ditemani segelas es teh lemon, ia menunggu Vian di bangku yang terletak di paling ujung belakang. Ia menghindari adanya tatapan mata yang mungkin saja akan mengintimidasinya. Tentu saja karena ia akan bertemu dengan seorang pria yang usianya terpaut cukup jauh—dan bahkan ia belum melihat wajahnya dengan jelas.
Sepuluh menit kemudian, Vian datang.
Sepasang mata sayu milik Leya mengerjap beberapa kali seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seorang pria tampan berkemeja putih dengan jas di tangannya; kini berdiri di depan meja tempat Leya sedang menunggu.
“Udah lama, ya?” tanya Vian dengan wajah yang terlihat tenang dan tersenyum setelahnya.
“B–belum,” jawab Leya terbata. Kemudian ia bertanya, “Maaf, apa...?”
“Iya, saya Vian,” jawab Vian yang mengerti arah pertanyaan Leya, kemudian ia duduk dan meletakkan jasnya di bangku yang kosong.
“Ah, oke,” jawab Leya singkat.
Mereka duduk berhadapan, Leya membuang pandangannya ke arah lain. Bukan karena tak suka, justru karena ekspresi wajah Vian yang begitu cerah, membuat hatinya menjadi bimbang.
“Kamu udah makan?” tanya Vian setelah melihat hanya ada segelas minuman di atas meja.
Lagi-lagi Leya hanya menjawab dengan singkat. “Belum.”
Vian mengambil buku menu yang disediakan di atas meja, lalu melihat daftarnya. “Mau pesen?”
Dengan cepat Leya menolak. “Enggak usah!” Kemudian ia mengutarakan kebingungan yang sejak tadi berputar di kepala. “Em... maaf, saya harus panggil Anda apa?”
“Kakak aja. Kalo 'Om', rasanya saya gak setua itu,” jawab Vian dengan penuh percaya diri.
‘Dih! Pede banget sih! Memang dari muka gak keliatan tua, tapi kan umurnya udah,’ batin Leya.
Vian memanggil pelayan, ia memesan 2 potong kue dan segelas cappuccino. Setelah pelayan berlalu, ia mulai membahas maksud dari pertemuan mereka. “Apa kamu bener-bener gak keberatan sama perjodohan ini? Dari ekspresimu, kayaknya masih ada yang mengganjal.”
Mendengar itu, Leya memberanikan diri untuk melihat lawan bicaranya, namun ia belum berani menatap mata Vian. “Iya. Yah, sebagai anak saya bisa apa selain menuruti arahan mereka?” jawabnya pasrah.
Vian mengangguk. “Saya paham. Apa cita-citamu untuk kedepannya?”
“Cita-cita?” tanya Leya memperjelas, pertanyaan yang sama sekali tidak ia sangka karena ia sudah berburuk sangka terlebih dahulu.
“Iya. Kamu baru lulus SMA, kan? Pasti kamu masih punya banyak mimpi yang mau kamu capai.”
Meski ia memiliki banyak mimpi, Leya berusaha untuk tidak berharap lagi. “Enggak ada. Semuanya gak bisa dicapai lagi setelah saya resmi menikah.”
Seorang pelayan mengantarkan pesanan Vian beserta tagihannya. Obrolan sejenak terjeda, kemudian ia kembali menatap Leya.
“Kenapa gak bisa?” tanya Vian lagi, Leya hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Vian menyesap cappuccino-nya sedikit, lalu bertanya kembali. “Kalau saya kasih kamu kebebasan, apa kamu gak akan memanfaatkan itu?”
“Apa itu mungkin?” Leya tidak semudah itu untuk bisa mempercayainya.
Namun karena Vian sangat mengerti keadaan saat ini, ia pun meladeni pertanyaan Leya dengan santai.
“Kenapa enggak?”
“Karena ini perjodohan. Saya 'ditukar' dengan uang. Apa saya punya hak untuk diri saya sendiri?” jelas Leya.
Vian mengangguk dan kembali menyesap minumannya. “Untuk yang ini ada benernya. Tapi kamu juga harus tau, saya bukan orang jahat. Saya tau gimana gak enaknya hidup yang dikekang. Jadi, jangan anggep saya ini 'pembeli', tapi anggep saya orang yang mau bebasin kamu dari masalah. Gimana?”
“Semakin Anda terlalu baik, semakin menakutkan untuk saya,” ujar Leya.
“Hm? Apa kamu berencana untuk membuat perjanjian?” tawar Vian.
“Apa saya punya hak untuk itu?” tanya Leya lagi.
“Why not? Tapi kalo gak mau juga gak masalah, kita mengalir aja.”
Leya terdiam sesaat. Segala ucapan yang terlontar dari mulut Vian terdengar sangat meyakinkan kalau dirinya adalah orang baik-baik. Bahkan ia tidak terpikirkan kalau mereka perlu membuat perjanjian.
Sementara Leya terdiam, Vian kembali mengungkapkan sesuatu yang terlintas di pikirannya. “Kayanya saya bisa tau apa hal yang paling kamu khawatirkan.”
Leya menatap Vian dengan sorot matanya yang begitu lugu. Ia tak menjawab, namun pandangannya menyiratkan kalau ia ingin tahu apa maksud dari ucapan Vian.
“Kamu pasti takut, setelah menikah saya minta ‘sesuatu’ dari kamu,” ucap Vian dan masih belum bisa dimengerti oleh Leya.
“Sesuatu? Apa? Bahkan saya gak punya apa-apa,” jawab Leya dengan begitu pollosnya.
"Ya… sesuatu. Kamu gak tau yang saya maksud?”
Leya menggeleng, karena pikirannya benar-benar kosong. Vian mengangguk, ia lupa kalau usia Leya masih terlalu muda untuk bisa memahami ucapannya dengan mudah.
“Mmm.... Hubungan… suami-istri. Kalo ini paham, kan?” ucap Vian dengan sangat berhati-hati.
Mendengar itu, Leya langsung terbelalak. Gadis kecil itu sama sekali tidak berpikir sampai ke sana, ia benar-benar mengutuk diri atas kebodohannya itu. Vian menyadari ekspresi Leya yang langsung berubah, ia pun berusaha menahan tawa.
“Anu... kalo saya minta... jangan lakuin itu, boleh?” tawar Leya.
“Boleh dong! Tapi gak selamanya,” jawab Vian dengan cepat.
“Maksudnya gimana?”
Vian menegakkan posisi duduknya dan mengatakan dengan tegas. “Sekali kita menikah, saya gak akan menceraikan kamu. Mungkin kita gak akan melakukan itu dalam waktu dekat, tapi bukan berarti kita gak akan melakukannya selamanya.”
Wajah Leya memanas, ia cukup terkejut mendengar penuturan Vian. Yang ia katakan memang benar, tapi apakah itu harus diutarakan sekarang?
“Apa sekarang kamu takut?” tanya Vian kemudian.
“Iya,” jawab Leya sambil mengangguk pelan.
“Saya bukan orang jahat. Kita bisa bahas apapun itu sama-sama. Jadi kamu gak perlu takut. 10 tahun lagi, atau 20 tahun lagi? Gak masalah. Melakukan ‘hal tadi’ bukan sesuatu yang penting buat saya,” ujar Vian menenangkan, namun tentu saja tidak semudah itu untuk dipercaya.
“Jangan khawatir, kita beda kamar! Saya gak akan menyentuhmu tanpa izin,” tambahnya. “Apa kamu punya pacar?”
Leya menggeleng. “Gak ada.”
“Bagus. Saya pacarmu mulai sekarang,” ucap Vian dengan begitu santai seraya menyesap tetes terakhir cappuccino-nya.
Hal itu berhasil membuat mata Leya kembali membulat. “Hah? Pacar?”
“Kenapa? Salah? Saya calon suamimu. Dan akan menjadi suamimu yang sebenarnya, bukan hanya di atas kertas.”