Aku memutuskan untuk bertanya pada sahabat-sahabatku lewat grup chat. Kuambil ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas meja—di atas tumpukan berkas.
“Guys! Halo!” sapaku lebih dulu.
Cilla adalah orang pertama yang membalas pesanku. “Iya, Le. Gimana? Tumben pake sapa-sapa.”
Lanjut Fidel, anak yang selalu bersemangat dalam segala hal. “Haloo!! Princess Fidel di sini,” balasnya.
“Aku bingung. Pengen nangis.” Tiba-tiba air mataku memberontak untuk keluar lagi setelah mereka membalas pesanku.
“Eh, kenapa? Kok tiba-tiba gitu? Ada apa? Sini cerita!” balas Cilla dengan cepat.
Bersamaan dengan itu, Fidel juga membalas, “Aku free kok. Cerita aja!”
“Aku bingung banget. Kalian pasti gak percaya, tapi aku disuruh nikah,” balasku lagi dengan air mata yang sudah mulai mengalir.
“Haha, gak lucu, Le! Serius deh! Aku sampe berhenti main ludo cuma buat bales chatmu,” balas Fidel sesuai dengan apa yang kuduga.
Aku berusaha meyakinkan mereka, meskipun aku sendiri masih tidak menyangka bisa ada di posisi ini. “Sumpah, aku gak bohong! Aku bingung banget.”
“Kayanya Leya gak bercanda deh, Del,” balas Cilla singkat. Seperti biasa, dia anak yang paling kalem dan lembut. Dia tak banyak bicara, namun bisa menjadi pendengar yang baik.
“Gak ah! Gak mau percaya. Dia sering ngeprank soalnya,” balas Fidel yang masih kekeuh tak percaya.
Tak ada pilihan lain, selain menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. “Papa aku punya utang sama bank 3 ratus juta. Tenggat pembayarannya 3 bulan lagi.”
“Oke, terus?” balas Fidel lagi.
“Mama suruh aku nikah, calonnya udah ada,” jawabku singkat. Perasaan sesak itu kembali menggangguku.
“Dan calonmu yang lunasin utangnya?” Kali ini giliran Cilla yang membalas.
“Haha, ya ampun Leya! Kamu pasti abis baca novel yang modelan nikah muda sama CEO itu. Iya, ‘kan? Sekarang kan lagi rame tuh. Ngaku deh!” Fidel masih terus menuduhku berkhayal, ternyata meyakinkan mereka jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.
Aku tak menyakinkan mereka dengan kata-kata lagi, melainkan sebuah foto berkas dari bank yang menunjukkan sejumlah angka lengkap dengan batas waktu pelunasan hutangnya.
“Duh, ternyata beneran. Terus, gimana dong? Memang gak ada jalan lain? Kalo misal gak lunas dalam waktu 3 bulan gimana?” tanya Fidel yang mulai berubah pikiran.
“Aku belum tau pasti. Tapi kalo diliat dari jumlah uangnya, mungkin seisi rumah—bahkan rumahnya juga bisa disita bank. Aku gak tau apa kemungkinan terburuk lainnya. Apa mungkin bisa dipenjara? Entahlah! Kalo pun aku kerja, rasanya gak mungkin 300 juta itu bisa ke kumpul dalam waktu 3 bulan. Iya, ‘kan?” jelasku dengan emosi yang menggebu.
“Bener sih. Jangankan 300, 30 juta pun susah. Apalagi kita baru tamat SMA,” balas Cilla dengan sangat realistis.
Vidi yang sejak tadi tidak muncul, akhirnya turut bergabung dalam obrolan. “Sorry baru gabung. Kamu yakin itu utangnya 300 jutaan? Kan, papa kamu udah lama pergi, masa iya utangnya gak berkurang? Bukannya kamu pernah bilang kalo mama kamu udah nyicil tiap bulan?” ujarnya dengan pesan yang lumayan panjang dan tak terpikirkan oleh kedua temanku yang lain.
“Oh iya, juga. Kok aku gak kepikiran ke sana?” balas Fidel.
“Total utangnya 500 juta. Baru kebayar gak ada setengahnya,” balasku pada Vidi.
“Ya ampun! Itu utang apa sih? Kok banyak banget,” tanya Vidi lagi.
“Aku juga gak tau. Aku belum tanya Mama, baru liat berkasnya aja.” Aku juga sangat penasaran akan hal itu. Dugaanku sudah berkelana terlampau jauh, bahkan aku mengira Papa mungkin saja memiliki istri selain Mama, tapi rasanya alasan itu juga terlalu sulit untu bisa diterima.
“Aku pengen bantu, tapi gak punya uang sebanyak itu. Mana mau keluargaku pindah juga, pasti ortu banyak keperluan. Maaf gak bisa bantu, Le.” Diluar dugaan, Vidi sampai berpikir hendak membantuku seperti itu.
Begitu juga Fidel. “Aku juga. Keluargaku kayaknya gak punya uang sebanyak itu. Maaf aku gak bisa bantu,” sahut Fidel.
“Aku pun… kondisi keuangannya kurang lebih sama kayak kamu, Le. Seandainya bisa, pasti aku bakal bantu kamu,” tambah Cilla.
“Hei! Kok kalian mikir gitu sih? Aku kasih tau ini bukan mau pinjem uang, cuma pengen cerita ke kalian. Kalo kusimpen sendiri, aku makin bingung. Jangan cerita tentang masalah ini ke ortu kalian, ya! Cukup kita sendiri yang tau,” pintaku dengan sungguh.
Biarlah ini menjadi aib keluargaku sendiri. Aku percaya mereka bisa menjaga rahasia ini dengan baik. Sangat beruntung memiliki sahabat seperti mereka. Meski tak bisa membantu menyelesaikan masalah, setidaknya aku memiliki tempat untuk berkeluh kesah.
“Terus, siapa calonmu?” tanya Cilla.
“Orang kaya pastinya. Duh, jangan-jangan bapak-bapak tua gitu?” sahut Fidel.
“Bisa jadi. Jaman sekarang mana ada yang muda mau dijodohin? Iya, ‘kan?” tambah Vidi juga.
“Ihh! Jangan bikin takut dong! Aku juga belum tau sih siapa yang mereka jodohin ke aku, tapi jangan bapak-bapak tua juga!” balasku kesal, meskipun aku sempat menduga seperti itu juga.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu depan terbuka. Kupikir Mama pergi bekerja, namun sepertinya tidak. Ia melangkah masuk dengan sebuah plastik di tangan kanannya. Aku bisa menebak apa isinya. Yah, apa lagi kalau bukan makanan.
“Udah makan, Le?” tanya Mama seraya meletakkan kotak makanan itu di atas meja. Sejenak manik matanya memperhatikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja.
“Belum,” jawabku singkat.
“Masih marah sama Mama, ya?” Ekspresi wajahnya masih sama seperti biasanya—seperti gadis polos tak berdosa.
“Memang gak ada jalan lain, ya, untuk lunasin semua ini?” tanyaku langsung pada intinya dan tak menjawab pertanyaan tidak penting itu.
“Maafin Mama, ya! Kalo aja Mama bisa kerja lebih keras, mungkin hutang papamu udah lunas,” jawabnya seraya tersenyum miris. Aku bisa merasakan kepedihannya.
“Ini salah Papa, bukan Mama! Kita korban, Ma! Sebenernya uang sebanyak itu buat apa? Leya gak merasa pernah menikmati itu. Kenapa juga kita yang harus bayar?” Aku tak bisa menahan emosi lagi, terlebih papa… dia orang yang tak ingin aku ingat lagi.
“Maaf kamu harus jadi korbannya. Ini salah Mama juga. Uang sebanyak itu, dulu untuk resepsi pernikahan kami,” jawab Mama seraya duduk di kursi di sebelahku.
Aku terbelalak tak percaya, jawaban Mama sangat jauh dari perkiraanku. “Hah? Gimana? Mama sama Papa sengaja pinjem uang sebanyak itu cuma untuk resepsi?”
Mama menggeleng lemah. “Enggak, Le. Yang Mama tau, papamu itu orang berada. Dia yang ngatur semua rencana. Mama gak tau asal uang untuk resepsi itu dari mana.”
Seketika aku mengumpat dalam hati. Aku sama sekali tidak menyangka mereka berdua bisa berlaku seperti orang bod*h begitu.
“Tapi kenapa harus kita yang tanggung semuanya? Ini salah Papa juga! Mana tanggung jawabnya? Seandainya aku tau dari awal, jelas aku gak akan biarin Papa kabur gitu aja. Laki-laki macam apa dia?” Kesabaranku sudah diambang batas, bahkan aku tak bisa lagi berlaku sopan meski aku tahu beliau adalah orang tua kandungku juga.
Mama tertunduk, wajahnya kembali menampakkan kesedihan. “Maafin Mama. Maaf Mama terlalu bod*h. Semua atas nama Mama, makanya Papa bisa lepas tangan,” jawabnya lirih.
“Dan korbannya Leya?” tandasku.
Mama langsung menatapku dan memegang tanganku. “Maaf, Le. Maafin Mama!”
Kulepaskan pegangan tangan Mama itu dan menoleh ke arah lain. “Mau gimana lagi? Kita gak ada cara lain, ‘kan? Sekaya apa laki-laki yang Mama jodohin sama aku? Setua apa dia sampe bisa punya uang segitu banyak untuk lunasin hutang kita?”
Oke. Aku menyerah. Hanya menikah dan hutang akan lunas, ‘kan? Sepertinya jalan hidupku memang semiris itu. Tak ada pilihan yang baik untukku sejauh ini. Semuanya sama saja.
“Nanti malem kamu ketemu sama dia. Dia udah tau semua masalah keluarga kita. Jadi, kamu gak perlu susah-susah jelasin ke dia. Dia orangnya baik, Mama yakin kamu bisa bahagia sama dia.”
Sangat klasik. Di mata orang tua, siapa pun yang akan dijodohkan, pasti orang itu adalah yang terbaik untuk anaknya. Tapi pada kenyataannya, tak semua hal baik menurut orang tua bisa menjadi yang terbaik untuk anaknya.
Aku pun beranjak dari kursi dan menghela napas. “Terserah Mama aja! Toh aku juga gak ada hak atas diriku sendiri, ‘kan?” Tanpa menunggu jawaban lagi, masuk ke kamar dengan pasrah. Aku tak menemukan titik terang sama sekali.
***
Sesuai janji; malam pukul 19.10. Lelaki itu datang ke rumah usai jam makan. Semua begitu mendadak—setidaknya untukku. Namanya adalah Benedict Arviano William—aku bisa menebak William adalah nama keluarganya, sebab aku pernah mendengar namanya beberapa kali yang terkenal sebagai keluarga konglomerat di kota ini. Aku terus tertunduk, aku tak ingin melihat wajahnya yang licik itu.
Hanya bertiga, kini kami duduk di ruang tamu yang berukuran 3x3 meter. Vian—panggilan lelaki itu—nampaknya sama sekali tidak keberatan dengan perjodohan ini. Ia mengobrol santai dengan Mama, seperti orang yang sudah saling kenal—bahkan kenal dekat. Mendengar basa-basi mereka, rasanya aku menjadi semakin muak dan ingin kabur sekarang juga. Sayangnya, tak lama kemudian Mama masuk ke dalam dan meninggalkanku berdua dengan laki-laki ini. Kami hening untuk beberapa saat. Aku terus menundukkan pandangan dan menahan emosi.
“Mmm... Leya,” ucapnya pelan. “Maaf kalo kamu keberatan sama perjodohan ini. Kalo kamu mau nolak, saya gak masalah.”
Dengan wajah yang masih tertunduk aku menjawab, “Gak apa-apa. Saya terima perjodohan ini,” jawabku kaku.
“Oke,” jawabnya lagi dengan singkat.
Kami kembali diam, canggung sudah pasti. Namun aku merasa sepertinya dia orang yang baik, hanya saja aku harus tetap waspada. Tak mungkin dia mau menerima pernikahan ini tanpa alasan.
Lelaki itu meletakkan sebuah kartu nama di atas meja. “Kalo kamu gak sibuk, hubungi saya besok! Kita bisa diskusi untuk semua keperluan. Saya gak berniat jahat, jadi kamu bisa pertimbangkan baik-baik. Saya hargai apa pun keputusanmu.”
Usai mengatakan itu, ia beranjak dari kursinya dan pulang. Aku tak mengatakan sepatah katapun. Tanpa kusadari, tiba-tiba air mataku mulai mengalir. Sembari menutup wajah dengan kedua tangan, aku bergumam dalam hati, ‘Aku belum siap.’