Chapter 002

1090 Words
“Leya mau menikah muda, gak?” Sejenak otakku seperti berhenti berproses, aku menatap Mama tak percaya. “Mama bercanda aja deh! Gak lucu tau!” jawabku sambil tertawa kecil yang kupaksakan. Seketika harapanku untuk kuliah ingin kuredam kembali. “Mama serius, Sayang,” jawab Mama dengan sangat lembut. “Mama juga sebentar lagi pensiun. Uang pensiunan juga gak banyak. Jadi, Mama takut gak bisa biayain kamu,” tambahnya. Aku pun langsung membantah, “Leya bisa kok cari beasiswa yang full. Jadi, uang makan dan lain-lain gak perlu dipikirin lagi.” “Tapi kan lolosnya juga gak gampang, Le. Mau, ya, nikah muda?” tawar Mama lagi. Alisku bertaut. Mama menawarkan sebuah pernikahan seperti menawarkan gorengan saja. Padahal Mama tahu jelas kalau urusan pernikahan itu tak bisa dibuat main-main. “Ma, Mama mau nyiksa Leya apa gimana? Kehidupan setelah menikah kan gak gampang. Leya juga belum punya calon. Kalo pun ada, Leya gak jadi kuliah nantinya. Malah fokus ngurus rumah, ngurus suami; gak sempet lagi mikir urusan kuliah,” jelasku. Kuharap Mama bisa mengurungkan kembali niatnya. Mama memegang tangan kananku, lalu tangannya yang lain mengusap puncak kepalaku dengan lembut. “Mama udah siapin calonnya. Mama jamin, hidupmu bakal sejahtera,” ucapnya begitu yakin. Kudengarkan dulu apa pun penjelasannya, meskipun hatiku belum luluh sama sekali. “Kamu dulu waktu masih kecil sering bilang ke Mama, kamu pengen sekolah dianter mobil pribadi. Ini kesempatan buat kamu, Le. Jangankan biaya kuliah, mobil pribadi pun kamu bisa minta sama dia,” tambah Mama lagi. Pikiranku langsung melayang ke mana-mana. Aku membayangkan posisiku seperti karakter-karekter di novel; seorang gadis muda yang dijodohkan dengan laki-laki paruh baya—bahkan jauh lebih tua. Sungguh bayangan yang sangat buruk, meskipun mereka kaya raya, tapi aku sama sekali tidak pernah bermimpi untuk bisa berada di posisi itu. “Gak mau! Pokoknya Leya gak mau!” bantahku dengan keras seraya melepaskan tangan Mama dari tangan dan kepalaku. “Masalah mobil itu udah mimpi Leya dari berapa tahun yang lalu, Ma. Bahkan Leya udah gak pernah kepikiran ke sana lagi. Leya masih pengen nikmatin masa muda, Ma,” tambahku lagi. “Leya.... Kamu gak kasian sama Mama? Mama sering sakit, sebentar lagi pensiun, hutang papa kamu juga belum lunas,” dalih Mama dengan wajah yang sangat memelas. Sebenarnya kasihan, namun aku juga tak ingin mengorbankan diri untuk semua ini. “Leya bisa kerja kok! Leya udah punya ijazah. Gak apa-apa nunda kuliah, toh kuliah bisa kapan aja. Leya bisa kerja buat bantu Mama,” ujarku yang berusaha sebisa mungkin untuk meyakinkan. “Mama cuma pengen hidupmu terjamin. Kamu pinter, Le. Sayang kalo harus nunda kuliah. Calonmu udah setuju kok. Dia mau menikah sama kamu.” Kemudian Mama berhenti sejenak dan menghela napas. Manik matanya menatapku lekat. Aku bisa merasakan adanya kesedihan di sana. “Selama ini Mama gak pernah minta apa-apa sama Leya. Leya sayang sama Mama, kan?” ujar Mama lirih. “Iya, Leya sayang sama Mama, tapi gak harus gini caranya!” jawabku. Mama tak membantah, namun ekspresi kesedihan semakin nampak dan membuatku merasa bersalah. Kutahan emosi dan berusaha berbicara sehalus mungkin. “Leya masih muda. Leya gak mau mengorbankan masa muda, Ma. Leya masih pengen main, jalan-jalan, ngerasain kerja, ngerasain jajan pake uang sendiri. Kalo Leya nikah, Leya gak bisa gitu lagi,” ujarku menjelaskan apa yang menjadi harapanku selama ini. “Bisa, Sayang. Mama udah bilang hidupmu bakal terjamin. Kamu gak perlu mikir kerja lagi. Kamu bakal ngerasain hidup kaya princess-princess di animasi kesukaan kamu.” Penjelasan Mama membuatku terkulai dan menghembuskan napas dengan kasar. “Tapi princess bahagia di akhir aja, Ma. Jalan cerita mereka juga menyedihkan,” jawabku sambil melirik Mama dengan kesal. “Masa iya?” tanya Mama dengan polosnya. “Ish Mama iniiiiiii!! Pokoknya Leya gak mau nikah muda! Titik!” tegasku seraya beranjak dari sofa. Mama memegang tanganku lagi dan menatapku lebih dalam. “Apa Mama harus sujud biar kamu mau turutin kemauan Mama?” “Hah?” pekikku tak percaya. Mama belum pernah seperti ini sebelumnya. “Maaa.... Gak gitu dong caranya!” “Leya anak baik, kan? Mau, ya, Sayang?” Ia masih membujukku dengan keras. Sayangnya, aku tidak bisa menerima kesepakatan itu dengan mudah. “Kenapa Mama gak kasih pilihan? Di awal Mama bilang ini opsi, tapi kenapa opsinya cuma satu? Ini bukan opsi namanya, ini pemaksaan! Leya gak mau!” ujarku seraya meninggalkan Mama dan masuk ke dalam kamar. Aku tak bisa melanjutkan obrolan lagi untuk sekarang. Mama juga orang yang keras kepala, kalau dilanjutkan pasti tak ada yang mau mengalah. Sampai di dalam, aku langsung berbaring di atas ranjang dan memeluk bantalku dengan erat. Tanpa terasa air mataku mengalir perlahan, ada perasaan sesak yang mengganggu di dadaku. “Kenapa sih hidupku harus kayak begini banget? Dari kecil ditinggal Papa, bukannya kasih kesejahteraan tapi malah ninggalin banyak utang, mau kuliah gak ada biaya dan sekarang harus nikah muda? Kenapa gak ada opsi yang bagus buatku?” Tidak seharusnya aku menangis, aku ingin marah; marah pada dunia yang tak pernah memberiku keadilan. Sayangnya, air mata ini tak bisa kutahan. Semakin kutahan, rasanya semakin sesak. Kupejamkan mata dengan paksa—setidaknya bila aku bisa terlelap lebih cepat, rasa sesak di dadaku juga bisa lebih cepat hilang. *** Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah jendela dan membuat kamar menjadi sedikit lebih panas. Kulirik jam di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 10.22. Aku tak ingin keluar kamar, tapi sayangnya perutku lapar. Beruntung Mama sudah berangkat kerja, jadi rumah sudah kosong. Aku pun keluar dari kamar dan langsung menuju dapur. Sesuatu menarik perhatianku. Di atas meja makan, aku menemukan beberapa lembar kertas yang disusun berjajar—nampaknya memang sengaja dibiarkan terbuka. Aku tidak pernah melihat berkas itu sebelumnya. Setelah kulihat, ternyata kertas-kertas tersebut adalah tagihan-tagihan yang harus dibayar setiap bulan. Mulai dari tagihan listrik, air, WiFi, bahkan cicilan rumah. Yang terburuk dari semuanya adalah tagihan hutang dari bank. Tertulis di sana, jumlah hutang sebesar Rp 352.700.000,- dan harus lunas dalam waktu 3 bulan lagi. ‘Ini utang Papa? Papa sebenernya utang apaan sih sampe sebanyak ini? Ya Tuhan, aku harus apa? Gimana caranya bisa lunas dalam waktu 3 bulan?’ *** Aku sangat terkejut melihat jumlah nominal yang bagiku sangat tidak manusiawi. Tiga ratus juta itu bukan angka yang ‘besar’, melainkan sangat besar. Dan yang paling membuatku penasaran, ke mana larinya uang sebanyak itu? Seumur hidup, aku belum pernah merasakah hidup mewah—hanya hidup sederhana yang apa adanya. “Tiga ratus juta dalam waktu tiga bulan.… Aarrghh!!! Itu mustahil banget!!’ geramku sembari mengepalkan tangan. Ingin kuhancurkan semua berkas-berkas ini dan membakarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD