“M-maaf. Saya harusnya ketuk pintu dulu.” Alvar berdiri membeku masih di dekat pintu menuju petak kedua rumah dinas itu. Dan Aroha sendiri, yang juga ikut kaget buru-buru menurunkan kembali kaos yang baru saja akan dia loloskan dari tubuhnya. Wanita itu mengejapkan mata berkali-kali, menelan saliva, sampai berdeham untuk memberikan respon atas ucapan maaf Alvar barusan. “O-oh? Ya. Nggak masalah, maksud aku harusnya aku kunci pintunya dulu—ah nggak, maksudnya harusnya aku ganti baju di kamar mandi. Nggak, itu maksudnya—” Sial. Kenapa semua pemilihan kata yang Aroha pilih terasa salah? Apa Aroha baru saja memperjelas situasi yang baru saja membuat keduanya kini canggung? Lagi pula situasi itu sebenarnya tidak perlu ditanggapi berlebihan begitu, kan? Aroha baru mengangkat pakaiannya sebata

