8. Mencari Jawaban

1351 Words
“Ya Tuhan, aku sama sekali nggak nyangka Pak Presiden bakal minta kamu untuk nikahin Mbak Aroha.” Tama terlihat masih terkejut dan kehilangan kata-kata mendengar cerita Alvar mengenai permintaan Adam pada pria itu. Dari semua orang, Presiden Negara itu jelas tidak ada dalam daftar dugaan Tama dalam sosok yang akan menawarkan putrinya untuk dinikahi oleh Alvar. Tama kira masih dalam jajarannya, atau staff-staff yang mereka kenal—tapi ternyata, orang nomer satu di negari itu yang justru langsung meminta Alvar menjadi menantu. Benar-benar di luar bayangan siapa pun. “Terus gimana? Jawaban kamu apa?” Alvar dengan ekspresi datarnya balas menatap Tama dan diam cukup lama. Bukannya Alvar mengatakannya pada Tama untuk mendapatkan jawaban yang dia butuhkan? Bukan malah ditanya balik seperti ini. “Ah, ya. Bener. Kamu ngomong ke aku untuk minta pendapatku, kan?” Seolah mengerti arti tatapan Alvar itu Tama langsung menyimpulkannya, dan memang benar Alvar mengangguk untuk ucapan seniornya. “Well, berapa masing-masing presentase untuk iya dan tidak?” “Huh?” “Jawaban kamu, yang murni dari hasil pemikiran kamu? Berapa presentasenya? Dan kamu pasti punya alasan untuk bagi presentase itu, kan?” Tidak. Jawabannya sama sekali tidak. “Fifty-fifty?” Lontar Alvar sendiri tidak yakin. Dahi Tama berkerut tajam. “Serius?! 50:50?” Alvar menarik napasnya, menghembuskannya pelan. “Saya juga nggak tahu, Mas. Saya bener-bener nggak tahu harus kasih jawaban macam apa.” “Kamu… nggak ada perasaan sedikit pun sama Mbak Aroha?” Tanya Tama hati-hati. Alvar terdiam, pria itu tertunduk dan tampak berpikir. Berpikir sangat keras. “Saya nggak pernah mandang Mbak Aroha dengan cara pandang semacam itu—saya sama sekali nggak berani memandangnya dengan cara seperti itu.” Kali ini giliran Tama yang terdiam. Tama bisa mengerti yang dimaksud Alvar, sebagai pria, sesama pria pasti mengerti hal semacam itu. Mana yang terasa bisa digapai mana yang tidak, dan bisanya untuk seseorang yang dirasa tidak bisa digapai entah dengan apa pun itu alasannya, pria cenderung tidak memiliki keberanian untuk menempatkan diri menginginkannya, dalam kasus yang sangat tinggi bahkan membayangkannya saja tidak berani. “Kalau saya tolak, Pak Adam pasti—” “Kamu berencana untuk tolak permintaan itu?” Seru Tama tidak percaya. Meski dalam kebingungan, Tama rasa pilihan menolak jelas lebih buruk dari menerimanya, kan? “Saya cuma merasa nggak pantas untuk Mbak Aroha.” “Al…” Tama menunjukan raut cemasnya. “Walaupun sekarang status Mbak Aroha itu putri Pak Adam alias Presiden kita. Mbak Aroha masih wanita pada umumnya… Dan apa yang salah dengan kamu? Kamu laki-laki berpendidikan dan terhormat, kenapa harus merasa nggak pantas buat Mbak Aroha?” Alvar sendiri tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, yang pasti memang itu yang Alvar rasakan. “Akan lebih baik kalau semuanya selesai dengan jawaban Mbak Aroha, jadi saya nggak perlu memberikan jawaban apa-apa.” Tama menatap juniornya dengan pandangan menyelidik, mencoba mencari tahu apa yang dipikirkan pria itu. “Kamu… udah bicara dengan Mbak Aroha?” Alvar mengangguk tipis. “Huh? Terus?” “Pembicaraan yang nggak terlalu panjang sebenarnya. Dan itu pun…” Alvar tidak meneruskan ucapannya, melainkan malah termenung dan tenggelam dengan pikirannya sendiri. Tama yang merasa tidak bisa membantu juniornya dalam hal satu ini, pada akhirnya tidak ingin mendesak pria itu untuk menceritakan lebih banyak, hanya menepuk pundak Alvar dan memberikan juniornya itu sedikit saran. “Sebaiknya kamu bicarain lagi sama Mbak Aroha kalau begitu. Mungkin dari sana kalian akan dapat titik temu.” Pria yang diajak bicara diam, hanya menatap seniornya itu dengan jenis tatapan yang lagi-lagi tidak terbaca. Alvar juga ingin melakukannya, ingin sekali. Sayangnya, bahkan sejak perjalanan singkat waktu itu, Alvar belum bisa bertemu dengan Aroha lagi. Jangankan bicara, bertemu saja mereka belum melakukannya sejak hari itu. *** “Ini hari libur kamu, kenapa kamu nggak coba untuk ketemu sama Mbak Aroha secara personal?” Kalimat itu masih terngiang di telinga Alvar, yang mana pada akhirnya membawanya ke tempat itu—benar, rumah sakit tempat Aroha bekerja Rumah Sakit Medical Center. Sebelum menginjakan kakinya di sana, Alvar sebenarnya sempat mencari tahu terlebih dulu di mana keberadaan Aroha. Bertanya pada beberapa rekannya yang sedang dalam tugas apakah putri Presiden ada di istana, dan jawabannya tidak—sama seperti hari-hari lainnya yang memang Alvar ketahui sendiri. Pilihan Alvar kemudian jatuh pada rumah sakit, sengaja datang ke sana meski dengan bekal percakapan yang jelas tidak cukup. Katakanlah Alvar nekat, dan membiarkan keadaan yang membuatnya bicara sesuai kebutuhan. “Permisi…” Alvar mendatangi resepsionis bagian depan rumah sakit, mencoba mencari keberadaan Aroha di tempat itu. “Ya? Ada yang bisa saya bantu?” “Um, saya mau bertemu dengan dr. Aroha. Apa beliau ada?” “Dr. Aroha?” Alvar mengangguk. “Maaf, dengan siapa sebelumnya? Biar saya tanyakan kebagian emergency. Biasanya dokter ada di sana.” “Emergency?” Resepsionis itu mengangguk. “Kalau begitu saya ke bagian emergency saja. Biar saya yang tanya langsung di bagian emergency.” Setelah mengatakannya Alvar berterima kasih, lalu pergi ke tempat yang lebih spesifik di rumah sakit itu. Kepala Alvar sibuk menoleh ke segala arah, mencoba menemukan Aroha yang mungkin sedang berkeliaran di sana. Sayangnya, meski dirinya ada di bagian emergency sekali pun, Alvar tidak melihat Aroha di mana pun. Yang ada hanya kesibukan emergency yang membuatnya harus banyak menyingkir dan tidak menghalangi jalannya alur pengobatan. “Permisi, Mas? Mas ada perlu apa? Mas-nya sakit? Atau wali pasien?” Tanya seseorang yang menghampiri Alvar dan menyapanya. Agaknya Alvar terlalu mencolok di sana terlihat seperti orang kebingungan, hingga mungkin sedikit menganggu petugas yang ada di ruangan itu dan memutuskan untuk menanyakan keperluannya. “Ah, nggak. Bukan. Itu, saya… Saya mau bertemu dengan Dr. Aroha. Beliau ada di sini?” “Ah… Arohaaaa?” Bukan sosok yang menghampiri Alvar yang bersuara, melainkan sosok lain dengan jas dokternya. Seorang pria, yang memasang senyum di wajahnya sambil menghampiri Alvar. “Siapa? Ada perlu apa dengan Aroha?” “Saya Alvar, ajudan Bapak—” Alvar tidak tahu harus memperkenalkan dirinya bagaimana, jadi apa yang dia ucapkan jelas yang melintas di kepalanya saja. “Ya ampun, ajudan Pak Presiden?! Ada perlu apa? Duh, pasti penting banget ya sampai diutus untuk datang ke sini? Sebentar, biar saya carikan Aroha-nya, setahu saya dia—” Alvar sebenarnya ingin menghentikan dokter pria itu, dan mengatakan bahwa kedatangannya bukan sesuatu yang penting atau mendesak, tapi pria itu sudah lebih dulu sibuk dengan dirinya sendiri. “Eh, kalau gitu Mas Alvar ikut sama saya aja, gimana? Aroha ada di ruang istirahat dokter, Mas bisa temuin Aroha di sana.” “Uh? T-tidak perlu. Kalau Mbak Aroha memang—” “Eeii… nggak perlu sungkan! Ayo, ikut saya, biar saya antar.” Ucap pria itu kemudian menarik lengan Alvar untuk ikut dengannya. Dokter pria itu sama sekali tidak peduli dengan respons Alvar yang bingung harus menanggapi dan bereaksi seperti apa. Pada akhirnya hanya mengikuti langkah laki-laki itu melewati lorong demi lorong. “Saya Dira ngomong-ngomong. Dokter residen seangkatan dengan Aroha. Hah… anak itu memang keras kepala sekali. Dia nggak pulang-pulang beberapa hari ini dan tinggal di mess rumah sakit. Benar sih sibuk, tapi harusnya memang nggak sampai sebegininya—Mas Alvar pasti datang buat bawa Aroha pulang, kan? Setahu saya dia memang sengaja nggak mau pulang karena nggak mau ditanya-tanya sama Pak Presiden. Uh, kamu tahu soal Aroha yang dijodohkan sama ayahnya? Hal semacam ini biasanya menyebar di kalangan istana nggak?” Sepanjang jalan, Alvar hanya mendengarkan ocehan panjang Dira yang tidak memberinya ruang atau waktu untuk menjawab pertanyaan itu. Alvar jadi bingung sebenarnya Dr. Dira ini bertanya untuk mendapatkan jawaban atau memang ingin bicara saja? Karena sepertinya dugaan yang kedua lebih cocok diarahkan pada pria itu. “Nah, sebelah sini. Aroha pasti ada di dalam karena semalaman sudah kebagian jaga sampai tadi pagi.” Dira membuka pintu ruangan itu, bertepatan dengan sosok Aroha yang terlihat di salah satu ranjang tingkat di ruangan itu dan sedang merenggangkan otot-ototnya dengan penampilan yang berantakan. “Ah itu dia! Ar! Ada yang cari kamu nih!” Seru Dira menarik kesadaran Aroha, membuat wanita itu bertemu tatap dengan Alvar yang kini juga menatapnya. Sial. Dirinya didapati oleh Alvar dalam keadaan kacau seperti ini lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD