"Dokter!" "Dr. Aroha!" "Dok—" "Dokter tolong!" "Ada yang terluka lagi, Dok!" "Dr. Aroha?" Tiada hari rasanya tanpa teriakan itu di klinik. Dan tiada hari juga bagi Aroha untuk merasa tenang. Setiap hari wanita itu terus menerus dihantui oleh perasaan takut, dihantui cemas, dan was-wasnya. Kenyataan bahwa Aroha selalu berharap bahwa yang dibawa ke klinik bukanlah Alvar, atau yang terluka bukanlah suaminya membuat wanita itu merasa buruk. Seharusnya Aroha tidak berharap begitu. Seharusnya yang Aroha harapkan adalah tidak ada satu orang pun yang terluka dan semua kembali dalam keadaan baik-baik saja. Nyatanya Aroha memang sudah menyertakan perasaan pribadinya, perasaan pribadi pada Alvar yang mendominasi dan berharap keselamatan pria itu dibanding yang lain. Hal yang tidak seharusnya A

