bc

TOUCH BY HER

book_age18+
429
FOLLOW
3.6K
READ
second chance
pregnant
arranged marriage
CEO
drama
bxg
office/work place
colleagues to lovers
assistant
shy
like
intro-logo
Blurb

Saat sang Boss memintanya menjadi kekasih palsu sebagai ganti dari uang yang dipinjamkan untuk pengobatan ibunya, Elena tidak menduga jika dia akan benar-benar jatuh cinta pada Nicholas.

Nicholas pun tidak bisa memungkiri ketertarikannya pada gadis itu, tersentuh dengan sifat Elena yang tulus dan tanpa kepura-puraan, mampu membuat pria itu berani membuka hatinya yang tertutup rapat dengan pengkhiatanan sebelumnya.

Tapi kebahagiaan mereka hanya sesaat ketika Nicholas kecelakaan dan melupakan Elena begitu saja. Kembalinya wanita dimasa lalu Nicholas membuat pria itu berpaling.

Sanggupkah sekali lagi Elena menyentuh perasaan Nicholas dengan cintanya?

chap-preview
Free preview
Her Innocence

Kriiiiiiing....

Gadis itu meraba-raba meja sebelah ranjangnya. Meraih ponsel dan mengangkat dengan malas.. "Haloo.." suaranya parau.

"Ya ampun anak gadis! Tiap hari harus dibangunin terus!" Suara nyaring sang mama menghardik rasa kantuknya.

"Iya, iya, nih aku bangun.." Elena mematikan ponselnya dan duduk. Meregangkan tubuhnya dan melangkah lesu ke kamar mandi.

Elena memulai rutinitasnya, beranjak mandi, berpakaian dan sedikit memoles wajahnya dengan bedak tipis dan lipstik pink agar wajahnya tidak pucat. Gadis itu mengunyah selembar roti tawar dan meneguk susu putih favoritnya. Dan segera bergegas melangkah ke halte depan komplek agar tidak tertinggal bis kantornya.

Elena William, berumur dua puluh dua tahun, tidak menduga akan bekerja diperusahaan elit sekelas Park Company. Gajinya yang menggiurkan membuatnya menerima tawaran sebagai asisten sekertaris, padahal gadis itu lulusan sarjana Akuntansi. Untuk pekerjaan pertamanya, Elena tidak terlalu mengalami kesulitan. Hanya saja kebiasaannya tidur malam menonton drakor atau main game yang seringkali membuatnya sulit bangun pagi.

Setibanya di kantor megah menjulang tinggi, gadis itu berdesakan dengan pegawai lainnya saat naik lift menuju lantai dua puluh dua. Gadis itu langsung meletakan tasnya. Merapihkan meja. Menyiapkan teh manis hangat untuk mba Mery, sekertaris utama CEO yang satu ruangan dengannya.

Elena mendongak saat Mery datang.

"Pagi mba Mery."

"Halo El. Tumben dateng pagian."

Gadis itu tersipu malu.

"Makasih ya tehnya. Kamu tau aja..."

"Hehe.. iya mba." Elena kembali ke kursinya. Elena beruntung, seniornya itu sangat baik dan sabar mengajari segala tugasnya sebagai sekertaris. Sudah satu bulan Elena bekerja. Sedikit demi sedikit gadis itu mulai menguasai pekerjaannya. Elena lanjut mengerjakan tugasnya. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul sepuluh.

"El, ayo buruan!!" Mery mengibaskan tangannya memanggil asisten seketarisnya.

Gadis itu mengangguk dan dengan segera membawa setumpuk berkas untuk meeting dengan CEO perusahaan itu siang ini.

Mery, sekertaris CEO Park Company, sudah lima tahun bekerja disana. Wanita ini menjadi sekertaris untuk CEO lama selama empat tahun dan setahun belakangan ini menjadi sekertaris CEO baru, Nicholas Park.

Setelah menikah delapann bulan lalu, Mery hamil. Kandungannya saat ini menginjak usia lima bulan. Rencananya tiga bulan lagi wanita itu akan mengambil cuti melahirkan. Oleh sebab itu Mery merekrut asisten untuknya, agar dapat menggantikannya sementara waktu cuti tersebut.

Mery menerima Elena karena gadis itu polos, berpakaian sopan, cenderung pendiam dan tidak banyak bertanya hal yang tidak perlu. Tidak seperti gadis lain yang melamar dengan tujuan mengincar bossnya. Mery akui CEO baru mereka sangat tampan. Masih muda, single, dan kaya raya.

Menjadi sekertaris CEO Park Company tidak mudah. Gesit dan tanggap menjadi modal utama. Yang paling penting adalah fleksibel waktu. Mery harus siap kapanpun dibutuhkan oleh bosnya. CEO yang lama, Daniel Park, ayah Nicholas, adalah bos yang baik, setia keluarga, ramah. Sedangkan anaknya cenderung lebih dingin, kaku dan tertutup.

Nicholas tinggal di apartemen kawasan kuningan. Sebelum menikah Mery pun tinggal di apartemen yang sama dengan bosnya itu, namun dilantai yang berbeda sebagai fasilitas kantor. Setelah menikah Mery pindah ikut tinggal bersama suaminya. Rencananya jika dua bulan lagi Elena sudah menjadi karyawan tetap, maka Mery akan meminta gadis itu untuk pindah kesana untuk mempermudah dalam membantu bos mereka. Mery menilai, sepertinya Elena bisa menjadi sekertaris yang handal.

Elena hampir tidak pernah bersinggungan dengan sang atasan. Selama ini gadis itu hanya membatu Mery mengerjakan tugasnya. Elena pernah mendengar bahwa CEO muda itu tertutup dan jarang tersenyum. Mery selalu datang kerumah sang atasan setiap sabtu pagi, untuk mengantarkan berkas-berkas yang harus ditandatangani sepanjang minggu itu. Hanya menaruhnya dimeja tanpa bertemu atasanya itu.

Sabtu ini Mery mengajaknya untuk melakukan tugas itu saat menggantikannya selama cuti. Hari ini pun wanita itu mengajaknya ikut rapat. Elena sedikit gugup, tapi gadis itu bertekad menguasai semua tugasnya sebelum Mery cuti.

Ketika sampai diruangan meeting tampak beberapa orang telah datang. Elena terus memperhatikan Mery saat wanita itu bekerja. Meletakan berkas di atas meja untuk para Manager yang ikut meeting. Elena membantu membuatkan minuman dan memberikannya kepada orang-orang yang hadir.

Elena kembali ke arah pantry, gadis itu mengambil kopi sang atasan dan bergegas untuk menaruhnya dimeja sebelum sang atasan tiba. Ketika sedang berjalan pintu terbuka, kopi panas itu pun tumpah semua ke badan Elena. Gadis itu memekik, merasakan panas menempel di dada dan perutnya. Suasana sedikit panik. Elena menahan rasa perih, matanya mulai berair.

"Mery, bawa dia ke ruanganku. Take care of her!". Suara berat terdengar di telinga Elena, namun gadis itu tidak memperhatikan karena sibuk menghalau rasa panas di tubuhnya. Mery menuntun Elena, untung saja ruangan meeting dan ruangan CEO ada dilantai yang sama.

Elena mulai menangis, rasa perihnya semakin menjadi. Mery membawanya ke ruang rahasia dibelakang meja CEO. Wanita itu membantunya melepaskan kemeja kerja Elena. Kulit gadis itu memerah. Untung tidak parah. Setelah mengolesi salep, Mery beranjak.

"Kamu disini dulu, tunggu aku kembali. Aku harus bantu Pak Nicholas meeting. Nanti aku bawain baju ganti. Sementara pake blazerku dulu."

Elena mengangguk. Gadis itu mengamati ruangan itu. Seperti apartemen tipe studio, terdapat tempat tidur, sofa ukuran sedang, dapur simpel tanpa kompor, kulkas dan pintu kecil yang sepertinya kamar mandi. Elena baru tahu ada ruangan ini dibalik tempat atasannya bekerja.

Gadis itu diam, menahan blazernya tetap terbuka agak salepnya cepat mengering. Setelah sepuluh menit terdiam, Elena mulai merasa ngantuk. Dia mengibaskan tangannya ke bagian kulitnya yang terasa panas, lama kelamaan matanya terpejam dan Elena terlelap.

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*

Nicholas masuk keruangannya setelah memimpin rapat selama empat puluh lima menit. Emosinya masih belum mereda. Nicholas marah karena proyek mereka yang di Bandung mengalami penundaan selama hampir satu bulan. Pria itu memijat keningnya dan beranjak ke ruangan belakang untuk beristirahat menghilangkan penatnya.

Pria itu membuka pintu dan terkejut melihat seorang gadis sedang tertidur, dengan mulut sedikit terbuka. Tapi yang paling mengejutkannya adalah gadis itu hanya memakai blazer tanpa mengancingkannya.

Tanpa sengaja pria itu melihat kulit kemerahan disekitar dada dan perut gadis itu. "Hmm, si gadis kopi". Pria itu berdehem berkali-kali, membangunkan gadis itu. Tapi tidak ada respon.

Nicholas mendekati Elena. Mengamati wajah gadis itu. Pria itu tahu gadis ini asistennya Mery, yang akan menjadi sekertarisnya saat wanita itu cuti nanti. Wajah gadis itu menarik, cantik. Kulitnya putih, tubuhnya bagus, payudaranya kecil namun berisi. Rambutnya panjang seperti...

"Pak." Nicholas menoleh dengan santai.

Mery dengan tergesa masuk sambil membangunkan Elena. "Astaga gadis ini! Maaf Pak".

Elena mengerang kecil dan mengucek matanya. Gadis itu kaget saat melihat Mery menatap tajam dan atasannya menggeleng kepala. Gadis itu segera berdiri. "Maaf Pak. Maaf. Saya.. ooh!" Gadis itu menutup bagian depan tubuhnya yang terbuka. Rasa malu menjalar ke atas kepalanya. Mery menarik tangan gadis itu keluar ruangan.

Elena merasa malu. Tidak menduga akan mengalami hal memalukan seperti ini saat bekerja apalagi di depan atasannya. Berani tidur diruangan sang CEO. Apakah atasannya itu marah? Apakah dia akan di pecat? Gadis itu menutup wajahnya meratapi nasibnya.

^*^*^*^*^*^*^*^*^TBC^*^*^*^*^*^*^*^*^*

Hai.. ini cerita baruku.. aku kasih 2part dlu  kalau tertarik lanjuuut..

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

My Legendary Alpha Mate

read
44.4K
bc

My Brother's Widow

read
27.4K
bc

An Interview with Mr. Ex

read
89.4K
bc

The Billionaire's Fake Affair

read
35.3K
bc

I have 8 mates

read
287.5K
bc

Billionaire’s Secret Wife

read
268.0K
bc

The Slave Mated To The Pack's Angel

read
344.7K