Keesokan paginya, Laras datang ke sebuah kafe kecil di pusat kota.
Kafe itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa meja yang terisi. Sebagian besar pengunjung sibuk dengan laptop masing-masing, sementara suara mesin kopi sesekali terdengar dari balik meja bar.
Laras memilih meja di sudut.
Tempat yang cukup jauh dari pintu masuk.
Cukup tersembunyi.
Ia meletakkan tas di kursi sebelahnya, kemudian menatap jam di pergelangan tangan.
Pukul sembilan lewat dua belas menit.
Ia sudah menunggu hampir lima belas menit.
Tangannya menggenggam cangkir kopi yang bahkan belum disentuh.
Semalaman ia tidak benar-benar tidur.
Percakapannya dengan Adrian terus berputar di kepalanya.
Tatapan suaminya.
Nada suaranya.
Alasan yang diberikan.
Semuanya terasa seperti potongan puzzle yang tidak pernah cocok satu sama lain.
Dan untuk pertama kalinya selama tiga tahun pernikahannya, Laras merasa bahwa ia tidak mengenal pria yang tidur di sebelahnya setiap malam.
Bukan karena Adrian berubah.
Mungkin karena selama ini Laras tidak pernah benar-benar melihat.
Ia terlalu percaya.
Terlalu nyaman.
Atau mungkin terlalu mencintai.
Laras menunduk.
Ia hampir saja mengambil ponselnya ketika pintu kafe terbuka.
Seorang pria masuk.
Tinggi.
Mengenakan kemeja biru tua dengan lengan yang digulung sampai siku. Rambutnya sedikit basah karena hujan yang turun tipis sejak pagi.
Pria itu berhenti sejenak.
Matanya menyapu seluruh ruangan.
Kemudian berhenti pada Laras.
Langkahnya melambat.
Tujuh tahun.
Selama tujuh tahun, wajah itu hanya hidup dalam ingatan Laras.
Namun ketika akhirnya kembali berada beberapa meter di depannya, semuanya terasa seperti kemarin.
Rendra.
Mantan kekasihnya.
Laki-laki yang pernah ia cintai sebelum Adrian.
Laki-laki yang pernah ia pikir akan menjadi suaminya.
Laki-laki yang pernah membuat Laras percaya bahwa cinta bisa bertahan selamanya.
Sampai semuanya berakhir.
Rendra berjalan mendekat.
Ia menarik kursi di depan Laras.
"Maaf membuatmu menunggu."
Laras menggeleng.
"Tidak apa-apa."
Rendra duduk.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Aneh.
Dulu mereka bisa berbicara berjam-jam tanpa kehabisan topik.
Sekarang, bahkan sekadar mengatakan halo terasa berat.
Rendra tersenyum tipis.
"Aku masih tidak percaya kamu menghubungiku."
Laras menatap cangkir kopi.
"Aku juga."
"Kenapa?"
Pertanyaan itu sederhana.
Namun Laras membutuhkan waktu lama untuk menjawabnya.
"Aku tidak tahu."
Rendra mengangkat alis.
"Setelah tujuh tahun, kamu menghubungiku tanpa tahu kenapa?"
Laras akhirnya tersenyum kecil.
"Pernahkah kamu melakukan sesuatu hanya karena merasa harus?"
"Sering."
"Tanpa tahu akibatnya?"
"Lebih sering."
Laras mengangguk.
"Mungkin aku sedang melakukan itu."
Rendra bersandar.
Ia memperhatikan Laras dengan saksama.
Ada sesuatu yang berbeda dari perempuan di depannya.
Dulu Laras terlihat jauh lebih ringan.
Lebih spontan.
Lebih berani.
Sekarang ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Rendra tahu bahwa perempuan itu sedang membawa beban.
"Kamu baik-baik saja?"
Laras tertawa kecil.
Pertanyaan itu justru membuat dadanya terasa sesak.
"Aku terlihat baik-baik saja?"
"Enggak."
"Berarti kamu masih mengenalku."
Rendra tersenyum.
"Beberapa hal sulit dilupakan."
Laras terdiam.
Kalimat sederhana itu justru membuat masa lalu kembali menyerbu.
Taman kota.
Hujan pertama mereka.
Malam ketika Rendra menunggunya di depan kampus.
Pesan-pesan panjang.
Pertengkaran kecil.
Janji-janji masa depan.
Dan satu malam yang mengubah semuanya.
Malam ketika Laras memilih pergi.
Atau lebih tepatnya, memilih untuk membiarkan Rendra pergi.
Ia menarik napas.
"Aku membutuhkan seseorang yang mengerti seperti apa rasanya kehilangan."
Senyum Rendra menghilang.
"Aku pernah kehilanganmu."
Laras menatapnya.
"Aku tahu."
"Dan kamu tidak pernah menjelaskan kenapa."
Laras terdiam.
Rendra melanjutkan.
"Tujuh tahun, Ras."
"Aku tahu."
"Aku pernah berpikir kamu membenciku."
"Aku tidak pernah membencimu."
"Kalau begitu kenapa?"
Laras menggeleng pelan.
"Jangan sekarang."
Rendra menatapnya beberapa saat.
Kemudian mengangguk.
"Baik."
Pelayan datang mengantarkan kopi Rendra.
Setelah pelayan pergi, Rendra kembali menatap Laras.
"Jadi, apa yang terjadi?"
Laras tidak langsung menjawab.
Ia mengambil ponselnya.
Membuka beberapa pesan.
Kemudian mematikannya kembali.
"Suamiku punya rahasia."
Rendra diam.
"Rahasia seperti apa?"
"Aku belum tahu."
"Perselingkuhan?"
Laras menatapnya.
"Aku tidak tahu."
"Uang?"
"Aku tidak tahu."
"Masalah pekerjaan?"
"Mungkin."
Rendra menghela napas.
"Kalau kamu tidak tahu apa-apa, kenapa kamu yakin dia menyembunyikan sesuatu?"
Laras menatap hujan di balik jendela.
"Karena aku melihatnya."
"Melihat apa?"
"Perubahan."
Rendra mengangguk perlahan.
"Perubahan memang bisa berarti banyak hal."
"Termasuk kebohongan."
"Ya."
Laras memainkan ujung jarinya.
"Beberapa hari terakhir dia sering pulang larut. Ponselnya selalu dibawa. Ada pesan yang langsung dia hapus. Ketika aku bertanya, jawabannya selalu sama."
"Apa?"
"Urusan kantor."
Rendra tersenyum hambar.
"Jawaban klasik."
"Aku tidak ingin menuduhnya tanpa bukti."
"Bagus."
"Tapi aku juga tidak ingin menjadi perempuan yang tahu dirinya dibohongi dan tetap berpura-pura tidak tahu."
Rendra mengangguk.
"Kamu ingin mencari kebenaran."
"Ya."
"Dan kamu pikir aku bisa membantu?"
"Aku tidak tahu."
"Kenapa menghubungiku?"
Laras menatap mata Rendra.
"Karena dulu kamu selalu tahu ketika aku berbohong."
Rendra tersenyum kecil.
"Kamu buruk dalam berbohong."
"Aku sudah berubah."
"Mungkin."
"Dan kamu?"
"Aku juga."
Mereka kembali terdiam.
Ada jarak di antara mereka.
Namun anehnya, jarak itu tidak terasa sebesar tujuh tahun yang telah berlalu.
Rendra mengangkat cangkirnya.
"Kamu masih minum kopi tanpa gula?"
Laras terkejut.
"Kamu ingat?"
"Aku ingat banyak hal."
Laras menunduk.
"Seharusnya jangan."
"Kenapa?"
"Karena mengingat masa lalu tidak selalu membuat hidup lebih mudah."
Rendra menatapnya.
"Benar."
Ia meneguk kopi.
"Tapi bukan berarti kita harus melupakannya."
Laras tidak menjawab.
---
Mereka berbicara hampir satu jam.
Sebagian besar tentang hal-hal kecil.
Pekerjaan Rendra.
Kehidupan Laras.
Kota yang berubah.
Teman-teman lama.
Orang-orang yang dulu mereka kenal.
Namun setiap kali pembicaraan mendekati masa lalu, keduanya selalu berhenti.
Seolah ada pintu yang sama-sama mereka takut buka.
Akhirnya Laras berdiri.
"Aku harus pergi."
Rendra ikut berdiri.
"Baik."
Laras mengambil tasnya.
Namun sebelum berbalik, ia berhenti.
"Rendra."
"Ya?"
"Terima kasih sudah datang."
Rendra mengangguk.
"Kalau kamu membutuhkan bantuan, hubungi aku."
Laras ragu.
"Jangan terlalu cepat menawarkan bantuan."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
Rendra tersenyum tipis.
"Justru itu alasan aku menawarkan."
Laras menatapnya.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya diam.
Kemudian Laras pergi.
Rendra tetap berdiri di tempatnya.
Ia memandangi perempuan itu sampai pintu kafe tertutup.
Tujuh tahun.
Ia pikir semua perasaan itu sudah selesai.
Ternyata ia salah.
Bukan karena ia masih mencintai Laras.
Setidaknya, itulah yang ingin ia percaya.
Namun ada bagian dari dirinya yang belum pernah benar-benar menerima akhir hubungan mereka.
Dan pertemuan pagi itu membuka luka yang selama ini sudah ia anggap sembuh.
---
Laras masuk ke mobil.
Ia menutup pintu.
Tidak langsung menyalakan mesin.
Tangannya memegang kemudi.
Matanya kosong menatap jalan.
Pertemuan itu seharusnya menjadi sesuatu yang sederhana.
Ia hanya ingin mencari seseorang yang bisa membantunya memahami situasi.
Namun kenapa jantungnya masih berdebar?
Kenapa suara Rendra masih terngiang?
Kenapa kenangan lama kembali muncul?
Laras memejamkan mata.
"Jangan."
Ia berbicara kepada dirinya sendiri.
"Jangan kembali ke sana."
Ia menyalakan mesin.
Namun sebelum mobil bergerak, ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Dari nomor yang tidak ia kenal.
> Jangan terlalu percaya pada suamimu.
Laras membeku.
Ia membaca pesan itu sekali lagi.
Kemudian mengetik.
> Siapa ini?
Tidak ada jawaban.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Satu menit.
Tidak ada.
Laras menatap layar.
Pesan itu bukan ancaman.
Namun justru karena itulah terasa lebih menakutkan.
Seseorang mengetahui masalah rumah tangganya.
Seseorang memperhatikan Adrian.
Seseorang tahu bahwa Laras mulai curiga.
Dan yang paling mengganggu—
Seseorang memiliki nomor teleponnya.
---
Sementara itu, di sisi lain kota, Adrian duduk di dalam mobil.
Ia baru saja keluar dari sebuah gedung perkantoran.
Namun ia tidak langsung pulang.
Ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Adrian melihat layar.
> Dia bertemu Rendra.
Wajah Adrian berubah.
Ia mengetik cepat.
> Kamu yakin?
Balasan datang beberapa detik kemudian.
> Aku melihat sendiri.
Adrian meletakkan ponsel.
Tangannya mengepal.
Rendra.
Nama itu seharusnya tidak lagi memiliki tempat dalam kehidupan mereka.
Adrian tahu siapa Rendra.
Ia tahu masa lalu Laras.
Bahkan sebelum menikah, Laras pernah menceritakan tentang lelaki itu.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk membuat Adrian memahami bahwa Rendra adalah seseorang yang pernah sangat berarti bagi istrinya.
Seseorang yang pernah dicintai Laras sebelum dirinya.
Adrian menarik napas panjang.
Ia mencoba menenangkan diri.
Tidak ada alasan untuk cemburu.
Laras hanya bertemu mantan kekasihnya.
Tidak lebih.
Namun pikirannya mengatakan hal berbeda.
Kenapa sekarang?
Kenapa ketika rumah tangga mereka sedang berada di ujung masalah?
Adrian mengambil ponsel.
Ia membuka kontak Laras.
Hampir saja ia menelepon.
Namun ia mengurungkan niat.
Jika ia bertanya, Laras mungkin akan balik bertanya.
Dan Adrian belum siap.
Belum siap menjelaskan semuanya.
Karena masalahnya bukan hanya tentang perempuan lain.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
Dan jika Laras mengetahuinya, bukan hanya pernikahan mereka yang akan berubah.
Seluruh kehidupan mereka bisa runtuh.
---
Sore harinya, Laras pulang lebih awal.
Rumah masih kosong.
Ia meletakkan tas di meja.
Kemudian berjalan menuju kamar.
Pikirannya masih dipenuhi pesan misterius tadi pagi.
Ia membuka laci meja.
Mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat beberapa benda lama.
Foto.
Surat.
Dan sebuah gelang sederhana.
Pemberian Rendra.
Laras menatap gelang itu.
Sudah bertahun-tahun ia menyimpannya.
Ia bahkan tidak tahu mengapa.
Mungkin karena membuang sesuatu yang pernah begitu berarti terasa seperti menghapus bagian dari dirinya sendiri.
Laras mengambil foto lama.
Foto dirinya dan Rendra.
Mereka masih muda.
Tertawa.
Tidak ada masalah.
Tidak ada rahasia.
Tidak ada ketakutan.
Laras tersenyum tipis.
Kemudian senyum itu hilang.
Ia teringat Adrian.
Suaminya.
Pria yang selama tiga tahun terakhir menjadi rumahnya.
Pria yang ia cintai.
Pria yang mungkin sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini?"
Air mata menggenang di sudut matanya.
Ia segera menghapusnya.
Tidak.
Ia tidak boleh lemah.
Bukan sekarang.
Ia harus mencari kebenaran.
---
Malam tiba.
Adrian pulang pukul sebelas.
Ketika masuk rumah, ia melihat Laras duduk di ruang tengah.
Lampu menyala.
Televisi mati.
Laras menunggunya.
Adrian berhenti.
"Kamu belum tidur?"
Laras menatapnya.
"Belum."
"Kenapa?"
"Aku menunggu."
Adrian meletakkan kunci mobil.
"Menungguku?"
"Iya."
Ia duduk di sofa seberang.
Ada jarak beberapa meter di antara mereka.
Namun terasa seperti kilometer.
Adrian memperhatikan wajah istrinya.
"Kamu mau bicara?"
Laras mengangguk.
"Aku bertemu seseorang hari ini."
Jantung Adrian berdegup lebih cepat.
"Siapa?"
Laras menatapnya.
"Rendra."
Adrian diam.
Hanya sepersekian detik.
Namun Laras melihat perubahan itu.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Tetapi ia melihatnya.
"Kamu kenal?"
Adrian tersenyum tipis.
"Namanya pernah kamu ceritakan."
"Dulu."
"Iya."
"Kenapa kamu terlihat kaget?"
"Aku tidak kaget."
"Kamu bohong."
Adrian menghela napas.
"Aku hanya tidak menyangka."
Laras mengangguk.
"Dia datang karena aku menghubunginya."
"Kenapa?"
"Karena aku membutuhkan bantuan."
"Bantuan untuk apa?"
Laras menatapnya.
"Untuk memahami sesuatu."
Adrian tidak menjawab.
"Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi."
"Aku sudah bilang, Laras. Tidak ada apa-apa."
"Kamu selalu bilang begitu."
"Karena memang begitu."
"Kalau begitu kenapa kamu berubah?"
Adrian berdiri.
"Laras..."
"Jangan."
Laras juga berdiri.
"Jangan panggil namaku seperti itu."
"Seperti apa?"
"Seperti aku sedang melakukan kesalahan karena bertanya."
Adrian menatapnya.
"Aku tidak pernah mengatakan itu."
"Tapi kamu membuatku merasa begitu."
Keduanya diam.
Laras menarik napas.
"Adrian."
"Ya."
"Apakah kamu masih mencintaiku?"
Pertanyaan itu menghantam Adrian lebih keras daripada tuduhan apa pun.
Ia menatap istrinya.
Tiga tahun.
Tiga tahun bersama.
Rumah.
Kamar.
Makan malam.
Liburan.
Pertengkaran.
Tawa.
Semua tiba-tiba terasa seperti sedang dipertaruhkan.
"Tentu saja."
Jawaban itu keluar pelan.
Namun Laras tidak tersenyum.
"Kalau begitu jangan sembunyikan apa pun dariku."
Adrian terdiam.
"Aku tidak meminta kamu sempurna."
Laras menahan air mata.
"Aku hanya ingin tahu bahwa ketika aku tidur di sampingmu, aku tidak sedang tidur di samping orang asing."
Adrian menunduk.
Kalimat itu membuat dadanya sesak.
"Aku minta waktu."
"Berapa lama?"
"Aku tidak tahu."
"Itu bukan jawaban."
"Aku tahu."
Laras mengusap wajahnya.
"Rendra bilang sesuatu kepadaku."
Adrian mengangkat kepala.
"Apa?"
"Bahwa kehilangan seseorang tidak selalu berarti berhenti mencintainya."
Adrian menatapnya.
"Kamu masih mencintainya?"
Laras terdiam.
Pertanyaan itu terlalu langsung.
Dan untuk beberapa detik, ia tidak tahu jawabannya.
"Aku tidak tahu."
Adrian seperti kehilangan kata-kata.
Laras melanjutkan.
"Aku tidak tahu apakah perasaan itu masih ada. Aku juga tidak tahu kenapa ketika bertemu dengannya, aku merasa seperti sedang melihat bagian dari diriku yang sudah lama hilang."
Adrian memalingkan wajah.
Cemburu.
Takut.
Marah.
Semua bercampur.
Namun ia tidak berhak marah.
Karena selama ini ia sendiri menyimpan rahasia.
---
Malam itu mereka tidur di kamar yang sama.
Namun tidak ada yang benar-benar tidur.
Laras membelakangi Adrian.
Adrian menatap langit-langit.
Jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter.
Tetapi terasa tidak mungkin diseberangi.
Pukul dua dini hari, Adrian bangun.
Ia mengambil ponsel.
Ada pesan baru.
> Jangan libatkan Laras.
Adrian menatap pesan itu lama.
Kemudian membalas.
> Aku akan menyelesaikan ini.
Balasan muncul.
> Kamu terlambat.
Adrian membeku.
> Kalau dia terus mencari tahu, semuanya akan terbongkar.
Adrian menghapus percakapan.
Kemudian mematikan ponsel.
Namun ia tahu satu hal.
Permainan sudah berubah.
Awalnya ia pikir ia bisa mengendalikan semuanya.
Ia pikir rahasianya bisa tetap tersembunyi.
Ia pikir Laras tidak akan pernah tahu.
Ternyata ia salah.
---
Keesokan harinya, Rendra menerima telepon.
Nomor tidak dikenal.
"Halo?"
Tidak ada jawaban.
"Siapa?"
Sambungan terputus.
Rendra menatap layar.
Kemudian ponselnya kembali berdering.
Nomor yang sama.
Ia mengangkat.
"Kamu siapa?"
Suara seorang pria terdengar.
"Jangan ikut campur urusan Laras."
Rendra terdiam.
"Kalau tidak?"
"Jaga jarak."
Rendra tertawa kecil.
"Kalau kamu ingin membuatku takut, kamu salah orang."
"Ini bukan ancaman."
"Kalau begitu apa?"
"Nasihat."
Rendra berdiri.
"Kalau begitu sampaikan langsung."
"Jangan menyesal."
Sambungan terputus.
Rendra memandang layar ponselnya.
Ia tidak tahu siapa pria itu.
Namun satu hal jelas.
Seseorang sedang mengawasi Laras.
Dan seseorang sangat takut jika Laras mengetahui sesuatu.
Rendra mengingat wajah Laras kemarin.
Tatapan perempuan itu.
Kecemasan yang berusaha disembunyikan.
Sekarang semuanya mulai masuk akal.
Ia mengambil jaket.
Kemudian keluar dari apartemennya.
---
Di tempat lain, seorang perempuan berdiri di depan cermin.
Namanya Maya.
Ia memandangi dirinya sendiri.
Kemudian mengambil ponsel.
Ada foto Adrian di layar.
Foto itu tidak seharusnya ada.
Karena Adrian tidak pernah tahu bahwa seseorang menyimpannya.
Maya tersenyum tipis.
"Sudah terlalu jauh."
Ia menghapus foto itu.
Namun sebelum ponsel dimasukkan ke tas, sebuah pesan masuk.
> Laras sudah bertemu Rendra.
Maya membalas.
> Aku tahu.
> Kamu harus berhenti.
Maya menatap pesan itu.
Kemudian mengetik.
> Tidak bisa.
> Kenapa?
Maya tidak langsung menjawab.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Kemudian mengetik satu kalimat.
> Karena aku juga berhak mendapatkan jawaban.
Ia mengirim pesan.
Lalu meletakkan ponselnya.
Selama ini Maya hanya menjadi bagian dari rahasia Adrian.
Ia tahu terlalu banyak.
Lebih banyak daripada yang seharusnya.
Namun semakin lama, ia mulai menyadari bahwa dirinya juga sedang digunakan.
Adrian selalu berkata semuanya akan selesai.
Sebentar lagi.
Tunggu sedikit lagi.
Namun waktu terus berjalan.
Dan Maya mulai kehilangan kesabarannya.
---
Sore itu Laras kembali bertemu Rendra.
Bukan di kafe.
Kali ini di sebuah taman kecil.
Rendra datang lebih dulu.
Ketika Laras tiba, ia melihat Rendra sedang berdiri di bawah pohon.
"Aku tidak menyangka kamu datang."
"Aku juga tidak menyangka akan datang."
Rendra tersenyum.
"Kenapa?"
"Karena aku takut."
"Takut padaku?"
"Takut pada diriku sendiri."
Rendra terdiam.
Laras duduk di bangku.
"Aku menemukan pesan aneh."
"Apa isinya?"
"Jangan terlalu percaya pada suamimu."
Rendra langsung serius.
"Siapa pengirimnya?"
"Aku tidak tahu."
"Sudah kamu laporkan?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Karena aku bahkan belum tahu apakah itu ancaman."
Rendra duduk di sampingnya.
"Menurutku, kamu harus berhati-hati."
"Aku tahu."
"Kamu yakin ingin terus menggali?"
Laras menatapnya.
"Aku harus."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah sampai di titik di mana ketidaktahuan lebih menyakitkan daripada kebenaran."
Rendra menatap Laras.
Ia mengenal kalimat itu.
Dulu, Laras juga pernah mengatakan sesuatu yang serupa.
Ketika hubungan mereka berakhir.
"Aku ingin bertanya sesuatu," kata Rendra.
"Apa?"
"Kenapa kamu meninggalkanku dulu?"
Laras terdiam.
Tujuh tahun.
Pertanyaan itu akhirnya kembali.
"Aku meninggalkanmu bukan karena aku tidak mencintaimu."
Rendra menahan napas.
"Kalau begitu?"
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Takut hidup bersamamu."
Rendra tersenyum pahit.
"Jadi kamu memilih Adrian?"
Laras mengangguk.
"Dia terlihat lebih aman."
"Dan sekarang?"
Laras menunduk.
"Sekarang aku sadar bahwa rasa aman tidak selalu berarti tidak ada bahaya."
Rendra tidak berkata apa-apa.
Laras melanjutkan.
"Kadang-kadang kita memilih seseorang karena kita pikir dia bisa membuat kita tenang."
"Padahal?"
"Padahal dia hanya membuat kita berhenti bertanya."
Rendra memandangnya.
Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, ia memahami alasan Laras pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Melainkan karena ketakutan.
Dan tiba-tiba, luka lama terasa sedikit berbeda.
Bukan hilang.
Tetapi memiliki nama.
---
Mereka berjalan menyusuri taman.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada kata-kata romantis.
Namun keduanya merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Masa lalu memang tidak mati.
Ia hanya tidur.
Dan ketika seseorang datang membangunkannya, semua kenangan bisa kembali hidup.
Laras berhenti.
"Rendra."
"Ya?"
"Kalau ternyata aku harus meninggalkan Adrian, aku tidak ingin langsung kembali kepadamu."
Rendra tersenyum.
"Aku tidak meminta itu."
"Aku hanya ingin kamu tahu."
"Aku mengerti."
"Aku tidak ingin menggunakanmu sebagai tempat pelarian."
"Bagus."
"Kenapa?"
"Karena aku juga tidak ingin menjadi pelarianmu."
Laras menatapnya.
Rendra melanjutkan.
"Kalau suatu hari kita bertemu lagi, aku ingin itu karena kita memang memilih satu sama lain. Bukan karena kamu sedang terluka."
Mata Laras berkaca-kaca.
"Terima kasih."
Rendra mengangguk.
Namun sebelum mereka berpisah, ponsel Laras bergetar.
Pesan baru.
Kali ini sebuah foto.
Laras membukanya.
Wajahnya langsung pucat.
Foto itu memperlihatkan Adrian.
Bersama Maya.
Di sebuah restoran.
Mereka duduk berhadapan.
Tidak ada sesuatu yang secara langsung membuktikan hubungan mereka.
Namun foto itu diambil dari jarak dekat.
Terlalu dekat.
Di bawah foto ada tulisan:
> Ini baru permulaan.
Rendra melihat wajah Laras berubah.
"Ada apa?"
Laras menyerahkan ponselnya.
Rendra melihat foto itu.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Laras menarik napas.
"Jadi selama ini..."
Kalimatnya terputus.
Air matanya jatuh.
Rendra mengembalikan ponsel.
"Jangan mengambil kesimpulan sebelum kamu tahu semuanya."
Laras menatapnya.
"Kalau ini benar?"
"Kalau benar, kamu berhak mendapatkan kebenaran."
Laras mengangguk.
Kemudian menghapus air matanya.
"Kalau begitu aku akan mencari tahu."
---
Malam itu Laras tidak langsung pulang.
Ia pergi ke tempat yang tidak pernah ia datangi selama bertahun-tahun.
Sebuah rumah tua milik keluarganya.
Tempat ia pernah tinggal sebelum menikah.
Ia duduk sendirian di ruang tamu.
Memandangi foto-foto lama.
Ia membutuhkan waktu untuk berpikir.
Adrian.
Rendra.
Maya.
Pesan misterius.
Foto.
Semua seperti potongan permainan yang belum lengkap.
Ia tidak tahu siapa yang berbohong.
Ia tidak tahu siapa yang menjadi korban.
Dan ia tidak tahu apakah dirinya sedang dimanipulasi.
Namun ada satu hal yang mulai ia pahami.
Rahasia Adrian bukan satu-satunya rahasia.
Ada rahasia lain.
Rahasia yang bahkan mungkin tidak diketahui Adrian.
Laras membuka ponselnya.
Ia memperbesar foto Maya.
Kemudian memperhatikan latar belakang restoran.
Sebuah logo kecil terlihat di dinding.
Laras mengenal tempat itu.
Ia pernah datang ke sana bersama Adrian.
Tetapi ada sesuatu yang lebih penting.
Di meja sebelah, terlihat seseorang.
Wajahnya hanya sebagian.
Namun Laras mengenalnya.
Seseorang yang seharusnya tidak berada di sana.
Laras memperbesar gambar.
Matanya membesar.
"Mustahil."
Ia berdiri.
Jantungnya berdebar.
Ternyata foto itu bukan sekadar bukti bahwa Adrian bertemu Maya.
Ada orang ketiga.
Dan orang ketiga itu terhubung dengan masa lalu mereka.
Laras segera menghubungi Rendra.
Namun sebelum panggilan tersambung, ponselnya berbunyi.
Nomor yang sama.
Pesan baru.
> Sekarang kamu sudah melihatnya.
Laras mengetik dengan tangan gemetar.
> Siapa kamu?
Balasan muncul.
> Seseorang yang tahu semuanya.
> Apa yang kamu inginkan?
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Kemudian:
> Aku ingin kamu berhenti percaya kepada semua orang.
Laras menatap layar.
Kalimat itu terasa seperti peringatan.
Namun juga seperti undangan.
Sebuah permainan telah dimulai.
Dan tanpa sadar, Laras sudah berada di tengahnya.
---
Di apartemennya, Rendra menerima telepon dari Laras.
Ia mendengarkan semuanya.
Foto.
Pesan.
Orang ketiga.
Rendra berdiri dari kursinya.
"Kirim fotonya."
Laras mengirim.
Rendra memperhatikan gambar tersebut.
Wajahnya berubah.
"Kamu kenal orang ini?"
"Aku tidak yakin."
Rendra memperbesar gambar.
Kemudian diam.
"Aku kenal."
Laras menahan napas.
"Siapa?"
Rendra tidak langsung menjawab.
"Rendra."
"Aku perlu memastikan."
"Siapa dia?"
Rendra menghela napas.
"Orang yang dulu bekerja dengan ayahmu."
Laras terdiam.
"Ayahku?"
"Iya."
"Kenapa dia ada di sana?"
"Aku tidak tahu."
"Rendra..."
"Aku akan mencari tahu."
Laras menutup mata.
Tiba-tiba semua menjadi jauh lebih rumit.
Jika orang dari masa lalu keluarganya terlibat, berarti masalah ini mungkin sudah berlangsung jauh sebelum ia menikah dengan Adrian.
Mungkin bahkan sebelum ia mengenal Adrian.
Dan jika benar begitu—
Adrian mungkin bukan awal dari semua ini.
Ia hanya bagian dari permainan yang jauh lebih besar.
---
Sementara itu, Adrian berdiri di balkon apartemennya.
Maya berada di belakangnya.
"Kamu tahu Laras sudah tahu?"
Adrian mengangguk.
"Dia melihat foto itu."
Maya memejamkan mata.
"Aku bilang jangan lakukan itu."
"Aku tidak mengirim foto itu."
Maya menatapnya.
"Kalau bukan kamu, siapa?"
Adrian tidak menjawab.
Keduanya saling menatap.
Untuk pertama kalinya, mereka sama-sama menyadari bahwa keadaan sudah berada di luar kendali.
Maya berkata pelan,
"Siapa pun yang mengirim foto itu tahu terlalu banyak."
Adrian mengangguk.
"Dan dia ingin kita saling curiga."
Maya menatap Adrian.
"Apakah kamu masih percaya padaku?"
Adrian tidak menjawab.
Maya tertawa getir.
"Nah."
"Aku tidak tahu harus percaya siapa."
"Termasuk aku?"
"Termasuk kamu."
Maya menggeleng.
"Kalau begitu permainan ini sudah selesai."
Adrian menatapnya.
"Belum."
"Sudah."
Maya mengambil tasnya.
"Kita hanya belum tahu siapa yang akan jatuh lebih dulu."
Ia pergi.
Adrian tetap berdiri.
Ia memandang kota dari kejauhan.
Lampu-lampu kendaraan bergerak seperti garis panjang.
Kota tetap berjalan.
Tidak peduli berapa banyak hati yang sedang hancur di dalamnya.
Adrian menutup mata.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar takut.
Bukan takut kehilangan Laras.
Melainkan takut jika semua rahasia terbuka.
Karena ketika kebenaran keluar, tidak ada satu pun dari mereka yang akan bisa kembali menjadi orang yang sama.
---
Malam semakin larut.
Laras berdiri di depan jendela rumah lamanya.
Hujan turun.
Persis seperti malam ketika semuanya dimulai.
Ia memikirkan Adrian.
Rendra.
Maya.
Dan dirinya sendiri.
Ia sadar bahwa pertanyaan terbesar bukan lagi:
"Apakah Adrian berselingkuh?"
Pertanyaan sebenarnya jauh lebih besar.
"Siapa yang sedang memainkan kami semua?"
Laras mengambil foto lama dari meja.
Foto dirinya dan Rendra.
Kemudian foto pernikahannya dengan Adrian.
Dua kehidupan.
Dua pilihan.
Dua masa lalu.
Dan sekarang keduanya bertemu dalam satu titik.
Ia memasukkan kedua foto itu ke dalam laci.
Kemudian mengunci laci tersebut.
Besok ia akan mulai mencari jawaban.
Bukan sebagai istri yang cemburu.
Bukan sebagai mantan kekasih.
Bukan sebagai perempuan yang takut kehilangan.
Tetapi sebagai Laras.
Perempuan yang akhirnya ingin mengetahui kebenaran tentang hidupnya sendiri.
Di luar, hujan semakin deras.
Dan di suatu tempat, seseorang sedang mengawasinya.
Seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang seharusnya.
Seseorang yang sudah memulai permainan jauh sebelum Laras menyadarinya.
Sementara Adrian menyimpan rahasianya.
Maya menyimpan luka dan kepentingannya sendiri.
Rendra menyimpan perasaan yang belum sepenuhnya selesai.
Dan Laras berdiri di tengah semuanya.
Empat orang.
Empat rahasia.
Empat hati yang sama-sama terluka.
Mereka belum tahu bahwa apa yang mereka anggap sebagai masalah rumah tangga ternyata hanyalah permukaan dari sesuatu yang jauh lebih dalam.
Karena rahasia tidak pernah datang sendirian.
Satu rahasia selalu melahirkan rahasia lain.
Satu kebohongan membutuhkan kebohongan berikutnya.
Dan ketika terlalu banyak kebohongan dibangun untuk menutupi satu kebenaran, pada akhirnya semuanya akan runtuh bersamaan.
Laras belum tahu kapan itu akan terjadi.
Adrian juga tidak.
Rendra hanya bisa menunggu.
Maya mulai kehilangan kendali.
Namun permainan itu sudah berjalan.
Dan tidak seorang pun tahu siapa yang memegang kendali sebenarnya.
Satu hal yang pasti—
pertemuan Laras dan Rendra bukan akhir dari masalah.
Itu justru awal dari rahasia yang lain.
Rahasia yang akan membawa mereka semakin dekat pada kebenaran.
Dan mungkin, semakin dekat pula pada kehancuran.