Adrian pulang menjelang pukul dua pagi.
Jam digital di dashboard mobil menunjukkan angka 01.47 ketika ia mematikan mesin di garasi.
Ia tidak langsung turun.
Kedua tangannya masih menggenggam kemudi.
Tatapannya kosong mengarah ke depan, sementara pikirannya berputar pada kejadian beberapa jam terakhir.
Maya.
Percakapan mereka.
Tatapan perempuan itu.
Dan kalimat yang terus terngiang di kepalanya.
*"Kamu yakin bisa terus menyembunyikan ini?"*
Adrian mengusap wajah.
Ia lelah.
Bukan hanya karena pekerjaan.
Bukan hanya karena perjalanan pulang yang panjang.
Tetapi karena semakin lama ia merasa kehidupan yang selama ini ia bangun mulai memiliki celah.
Celah kecil.
Namun cukup untuk membuat semuanya runtuh.
Ia mengambil napas panjang.
Kemudian membuka pintu mobil.
Udara malam menyambutnya.
Dingin.
Sepi.
Rumah itu tampak gelap dari luar.
Seperti biasa.
Adrian berjalan menuju pintu utama.
Ia memasukkan kunci dengan hati-hati.
Klik.
Pintu terbuka.
Ia mendorongnya perlahan.
Rumah gelap.
Sunyi.
Adrian mengira Laras sudah tidur.
Ia bahkan sempat mengembuskan napas lega.
Setidaknya ia tidak perlu menjelaskan malam ini.
Setidaknya ia memiliki waktu untuk menyusun alasan.
Atau mungkin kebohongan baru.
Ia meletakkan tas kerja di meja dekat pintu.
Melepas jas.
Kemudian membuka dua kancing kemejanya.
Baru beberapa langkah ia berjalan menuju tangga ketika—
Klik.
Lampu ruang tengah menyala.
Adrian berhenti.
Tubuhnya menegang.
Di sofa, Laras duduk diam.
Tidak bergerak.
Tidak terlihat mengantuk.
Tidak pula tampak seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur.
Ia sudah menunggu.
Sejak kapan?
Adrian menelan ludah.
Laras mengenakan pakaian tidur sederhana berwarna gelap. Rambutnya tergerai di bahu. Wajahnya terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Justru ketenangan itulah yang membuat Adrian tidak nyaman.
"Kamu belum tidur?"
Suara Adrian terdengar biasa.
Setidaknya ia berusaha membuatnya terdengar biasa.
Laras tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap suaminya.
Lama.
Kemudian berkata,
"Menunggu."
Satu kata.
Namun terasa seperti tuduhan.
Adrian mencoba tersenyum.
"Kenapa harus menunggu? Aku sudah bilang mungkin pulang malam."
"Kamu bilang ada urusan kantor."
"Iya."
Adrian melepas jasnya dan menggantungnya di sandaran kursi.
"Ada pekerjaan yang harus diselesaikan."
Laras masih menatapnya.
"Jam satu empat puluh tujuh?"
Adrian melirik jam dinding.
Kemudian kembali melihat istrinya.
"Rapatnya panjang."
"Rapat?"
"Iya."
"Dengan siapa?"
Adrian terdiam sepersekian detik.
"Tidak penting."
Laras tersenyum.
Senyum kecil.
Tidak hangat.
Tidak juga bahagia.
Senyum seseorang yang baru saja menemukan jawaban dari sesuatu yang selama ini ia cari.
"Urusan kantor?"
"Iya."
Laras mengangguk.
"Oke."
Adrian mengira percakapan itu selesai.
Ia bahkan sudah hendak menaiki tangga.
Namun suara Laras menghentikannya.
"Namanya Maya?"
Langkah Adrian terhenti.
Benar-benar terhenti.
Untuk beberapa detik, rumah itu seperti kehilangan suara.
Tidak ada suara televisi.
Tidak ada suara kendaraan dari luar.
Bahkan suara pendingin ruangan terasa menghilang.
Adrian perlahan menoleh.
Laras masih duduk di sofa.
Wajahnya tidak berubah.
Namun matanya berubah.
Tatapan itu bukan lagi tatapan seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang.
Itu tatapan seseorang yang sedang menunggu sebuah pengakuan.
Adrian mencoba tertawa.
"Maya siapa?"
Kesalahan.
Laras langsung tahu.
Seseorang yang tidak mengenal Maya tentu akan bertanya siapa Maya.
Bukan berpura-pura tidak tahu.
"Jadi kamu mengenalnya."
Adrian diam.
"Aku tidak bilang begitu."
"Tapi kamu juga tidak bertanya siapa Maya."
Adrian berjalan mendekati sofa.
"Laras, kamu salah paham."
"Salah paham tentang apa?"
"Aku cuma—"
"Cuma apa?"
Adrian menghela napas.
"Dia rekan kerja."
"Rekan kerja?"
"Iya."
"Jam sebelas malam?"
"Kami membahas pekerjaan."
"Di luar kantor?"
Adrian terdiam.
Laras bangkit.
Ia berjalan menuju meja kecil di samping sofa.
Mengambil sesuatu.
Kemudian kembali berdiri di hadapan Adrian.
Sebuah foto.
Ia menyerahkannya.
Adrian mengambil foto tersebut.
Dan dunia seolah berhenti.
Di dalam foto itu, dirinya sedang berdiri bersama Maya.
Maya berada sangat dekat dengannya.
Terlalu dekat untuk disebut sekadar rekan kerja.
Foto itu diambil dari kejauhan.
Namun cukup jelas.
Wajah Adrian terlihat.
Wajah Maya juga terlihat.
Bahkan tangan Adrian yang berada di pinggang Maya terlihat sangat jelas.
Adrian membeku.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak memiliki jawaban.
Matanya terpaku pada foto tersebut.
"Siapa yang mengambil ini?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Laras tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena sakit.
"Jadi yang kamu khawatirkan bukan perasaanku."
Adrian mengangkat wajah.
"Laras..."
"Yang kamu khawatirkan adalah siapa yang memotret."
"Aku cuma ingin tahu."
"Kenapa?"
Adrian tidak menjawab.
Laras melangkah mendekat.
"Kamu takut ada foto lain?"
Adrian diam.
"Kamu takut orang lain tahu?"
"Laras, dengarkan aku."
"Aku sudah mendengarkanmu selama tiga tahun."
Nada suara Laras masih rendah.
Namun justru itu yang membuatnya semakin tajam.
"Tiga tahun, Adrian."
Ia menunjuk foto di tangan Adrian.
"Selama tiga tahun aku percaya ketika kamu bilang lembur."
"Aku percaya ketika kamu bilang ada perjalanan dinas."
"Aku percaya ketika kamu bilang ponselmu mati."
"Aku percaya ketika kamu tiba-tiba mengubah kata sandi."
Adrian menatapnya.
"Kenapa kamu tidak pernah bertanya?"
Laras tersenyum pahit.
"Aku bertanya."
Adrian terdiam.
"Aku bertanya berkali-kali."
Laras menatap mata suaminya.
"Dan kamu selalu punya jawaban."
Adrian menunduk.
Laras melanjutkan.
"Masalahnya, aku tidak pernah tahu kalau jawaban-jawabanmu ternyata hanya cara untuk membuatku berhenti bertanya."
Kalimat itu membuat d**a Adrian terasa berat.
Ia ingin membantah.
Namun tidak tahu harus mulai dari mana.
"Laras, hubungan ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Kalau begitu jelaskan."
"Dia hanya—"
"Maya."
Laras menyebut nama itu dengan tenang.
"Maya."
Kemudian ia mengangguk.
"Jelaskan."
Adrian menarik napas.
"Maya adalah seseorang yang dekat denganku karena pekerjaan."
"Seberapa dekat?"
"Ya... dekat."
"Sedekat foto itu?"
Adrian diam.
"Sedekat sampai kamu memegang pinggangnya?"
Tidak ada jawaban.
"Sedekat sampai kamu bisa menghilang berjam-jam bersamanya tanpa merasa perlu memberitahuku?"
Adrian memejamkan mata.
"Laras..."
"Jawab."
Adrian membuka mata.
"Kami memang dekat."
Laras mengangguk perlahan.
Itu saja.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada benda yang dilempar.
Justru itu yang membuat Adrian semakin takut.
"Sudah berapa lama?"
Adrian diam.
"Sudah berapa lama kamu mengenalnya seperti itu?"
"Beberapa bulan."
"Berapa?"
"Enam."
Laras tertawa kecil.
"Enam bulan."
Ia mengulangnya.
"Enam bulan kamu punya kehidupan lain."
"Tidak seperti itu."
"Kalau bukan seperti itu, seperti apa?"
Adrian tidak menjawab.
Laras berjalan ke arah meja makan.
Ia mengambil gelas kosong.
Kemudian menuangkan air.
Tangannya sedikit gemetar.
Namun ia berusaha tidak menunjukkannya.
Adrian memperhatikannya.
"Kenapa kamu tidak marah?"
Laras berhenti.
Ia menoleh.
"Marah?"
"Iya."
"Menurutmu aku harus marah?"
Adrian tidak tahu.
Laras meneguk air.
"Kalau aku marah, apakah sesuatu akan berubah?"
Adrian diam.
"Kalau aku menangis, apakah kamu akan tiba-tiba mencintaiku lagi?"
Tidak ada jawaban.
"Kalau aku berteriak, apakah Maya akan menghilang?"
Adrian menunduk.
Laras meletakkan gelas.
"Jawabannya tidak."
Ia tersenyum tipis.
"Jadi untuk apa aku melakukan semua itu?"
Adrian merasa tenggorokannya tercekat.
Laras berjalan melewatinya.
Namun sebelum naik tangga, ia berhenti.
"Aku tidak akan bertanya apakah kamu mencintainya."
Adrian menatap punggung istrinya.
Laras melanjutkan.
"Karena aku sudah tahu jawabannya."
Kemudian ia naik.
Satu anak tangga.
Dua.
Tiga.
Adrian tetap berdiri.
"Laras."
Perempuan itu berhenti.
"Ya?"
Adrian ingin mengatakan banyak hal.
Namun semua kata terasa terlambat.
"Aku bisa menjelaskan."
Laras tersenyum tanpa menoleh.
"Besok."
"Kenapa besok?"
"Karena malam ini aku terlalu lelah untuk mendengarkan kebohongan."
Kemudian ia melanjutkan langkah.
Adrian berdiri sendirian di ruang tengah.
Foto masih berada di tangannya.
Ia melihat kembali foto itu.
Baru kali ini ia menyadari sesuatu.
Foto tersebut bukan sekadar bukti perselingkuhan.
Itu pesan.
Seseorang ingin Laras melihatnya.
Seseorang sengaja mengirimkannya.
Dan pertanyaan terbesar bukan lagi bagaimana Laras mendapatkan foto itu.
Melainkan—
siapa yang mengirimkannya?
---
Laras masuk ke kamar.
Ia menutup pintu.
Tidak dikunci.
Namun cukup untuk memberi jarak.
Ia berdiri di balik pintu.
Memejamkan mata.
Baru ketika tidak ada lagi Adrian di hadapannya, napasnya bergetar.
Tangannya menutup mulut.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh.
Satu.
Kemudian dua.
Lalu semakin banyak.
Laras berjalan menuju tempat tidur.
Duduk di tepinya.
Ia menatap kosong ke lantai.
Selama berjam-jam ia menunggu.
Mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini mungkin hanya salah paham.
Mungkin foto itu tidak seperti yang ia pikirkan.
Mungkin Adrian memang sedang bekerja.
Mungkin Maya hanya rekan kerja.
Mungkin—
Namun malam ini semua kemungkinan itu mati.
Karena ekspresi Adrian ketika mendengar nama Maya.
Itulah jawabannya.
Bukan foto.
Bukan pesan.
Bukan keterlambatan pulang.
Ekspresi Adrian.
Seorang suami yang ketahuan.
Laras mengusap air matanya.
Kemudian mengambil ponsel.
Layar menyala.
Ada satu pesan yang belum dibuka.
Nomor tidak dikenal.
Pesan itu masuk pukul 23.16.
Laras menatapnya beberapa saat.
Ia sebenarnya sudah membaca pesan tersebut.
Namun kini ia membukanya lagi.
Hanya ada satu kalimat.
*"Kalau kamu ingin tahu siapa sebenarnya suamimu, jangan hanya lihat Maya."*
Laras menahan napas.
Ia membaca kalimat itu berulang kali.
Jangan hanya lihat Maya.
Apa maksudnya?
Apakah ada perempuan lain?
Atau ada sesuatu yang lebih besar?
Jari Laras bergerak.
Ia membuka galeri.
Ada beberapa foto lain yang dikirim oleh nomor tersebut.
Satu.
Dua.
Tiga.
Laras melihatnya satu per satu.
Foto Adrian dan Maya.
Foto Adrian keluar dari sebuah restoran.
Foto mobil Adrian berada di depan sebuah hotel.
Laras memejamkan mata.
Dadanya sesak.
Namun di antara foto-foto itu ada satu gambar yang membuatnya berhenti.
Bukan foto Adrian dan Maya.
Melainkan foto seorang laki-laki.
Laki-laki itu berdiri tidak jauh dari Adrian.
Laras memperbesar gambar.
Ia mengenalnya.
Bukan secara dekat.
Tetapi pernah melihatnya.
Laras mengingat.
Di mana?
Ia mencoba mengingat lagi.
Kemudian matanya melebar.
Laki-laki itu adalah salah satu rekan bisnis Adrian.
Namanya—
Reno.
Kenapa Reno ada di sana?
Laras mulai memahami bahwa masalah ini mungkin jauh lebih besar daripada perselingkuhan.
Ia membuka pesan berikutnya.
*"Jangan percaya siapa pun di kantor Adrian."*
Pesan ketiga.
*"Termasuk orang yang selama ini paling kamu percaya."*
Laras menatap layar.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Siapa?
Siapa yang dimaksud?
Ia ingin membalas.
Namun sebelum jarinya mengetik, sebuah pesan baru masuk.
*"Kalau kamu ingin tahu kebenarannya, besok pukul 10.00 datang ke Kafe Aruna. Sendiri."*
Laras menatap pesan tersebut.
Lalu melihat jam.
02.11.
Ia meletakkan ponsel.
Untuk beberapa menit ia hanya duduk.
Kemudian mengambil keputusan.
Besok ia akan datang.
Bukan untuk mencari perempuan lain.
Bukan untuk merebut kembali suaminya.
Tetapi untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Karena satu hal mulai ia sadari.
Adrian mungkin bukan satu-satunya orang yang sedang bermain.
---
Di lantai bawah, Adrian masih berdiri di ruang tengah.
Ia menatap tangga.
Kemudian melihat ponselnya.
Ada dua puluh tiga panggilan tidak terjawab dari Maya.
Adrian menghela napas.
Ia tidak menjawab satu pun.
Ponselnya kembali bergetar.
Maya menelepon.
Adrian menatap layar.
Lalu mematikan panggilan.
Beberapa detik kemudian pesan masuk.
*"Adrian, kita harus bicara."*
Pesan kedua.
*"Ini bukan lagi soal kita."*
Pesan ketiga.
*"Dia sudah tahu."*
Adrian menegang.
Dia?
Maya tahu Laras sudah tahu?
Adrian mengetik.
*"Dari mana kamu tahu?"*
Pesan terkirim.
Tidak ada jawaban.
Ia menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Kemudian ponselnya berbunyi.
Maya membalas.
*"Karena bukan aku yang mengirim foto itu."*
Adrian membeku.
Jari-jarinya berhenti di atas layar.
Ia mengetik cepat.
*"Siapa?"*
Tidak ada balasan.
Ia menelepon.
Tidak diangkat.
Menelepon lagi.
Tetap tidak diangkat.
Adrian berdiri.
Untuk pertama kalinya malam itu, rasa takut benar-benar masuk ke dalam dirinya.
Selama ini ia mengira masalahnya sederhana.
Ia mencintai Laras.
Ia tertarik kepada Maya.
Ia membuat kesalahan.
Ia menyembunyikannya.
Selesai.
Namun sekarang ia mulai mengerti.
Ada orang lain.
Seseorang yang mengetahui hubungan mereka.
Seseorang yang memiliki akses terhadap foto-foto itu.
Dan seseorang yang sengaja membuat Laras mengetahuinya.
Adrian berjalan menuju ruang kerja.
Ia membuka laptop.
Menyalakannya.
Kemudian memeriksa email.
Tidak ada.
Ia membuka sistem perusahaan.
Memeriksa akses terakhir.
Tidak ada yang aneh.
Namun ketika ia membuka folder transaksi proyek yang ia kerjakan bersama Maya, ia menemukan sesuatu.
Satu dokumen hilang.
Adrian mengerutkan kening.
Dokumen itu seharusnya ada.
Ia mencari di folder cadangan.
Tidak ada.
Ia membuka log.
Seseorang mengakses dokumen tersebut tiga hari lalu.
Pukul 22.43.
Adrian melihat nama pengguna.
Bukan Maya.
Bukan dirinya.
Nama pengguna itu milik—
Reno.
Adrian bersandar di kursi.
"Kenapa?"
Ia mengingat foto yang dikirim kepada Laras.
Reno ada di salah satu foto.
Reno juga mengakses dokumen proyek.
Dan Maya mengatakan seseorang selain dirinya mengirim foto.
Adrian mulai menghubungkan semuanya.
Namun semakin ia menghubungkan titik-titik tersebut, semakin besar masalahnya.
Ini bukan lagi sekadar hubungan terlarang.
Ada sesuatu yang disembunyikan di balik proyek perusahaan.
Dan mungkin Maya mengetahui lebih banyak daripada yang selama ini ia ceritakan.
Adrian mengambil ponsel.
Ia mengetik pesan kepada Maya.
*"Kita harus bertemu besok."*
Balasan datang cepat.
*"Tidak di kantor."*
Adrian mengetik.
*"Di mana?"*
Maya menjawab.
*"Tempat lama."*
Adrian menatap pesan itu.
Tempat lama.
Sebuah apartemen yang pernah mereka gunakan untuk bertemu.
Ia menghapus percakapan.
Kemudian berdiri.
Namun sebelum ia meninggalkan ruang kerja, terdengar suara dari lantai atas.
Pintu kamar Laras terbuka.
Adrian menoleh.
Laras berdiri di ujung tangga.
Mereka saling menatap.
Tidak ada kata-kata.
Kemudian Laras berkata,
"Besok aku ada urusan."
Adrian mengerutkan kening.
"Urusan apa?"
Laras tersenyum.
"Urusan yang tidak perlu kamu tahu."
Adrian merasa ada sesuatu yang berubah.
Biasanya Laras akan menjelaskan.
Sekarang tidak.
Biasanya Laras akan bertanya.
Sekarang tidak.
Dan yang paling membuat Adrian gelisah adalah tatapan istrinya.
Tatapan itu tidak lagi penuh luka.
Ada sesuatu yang lain.
Keputusan.
"Aku akan pergi sebentar."
"Ke mana?"
Laras mengangkat bahu.
"Rahasia."
Kemudian ia kembali ke kamar.
Pintu tertutup.
Adrian berdiri.
Kata itu terus berputar di kepalanya.
Rahasia.
Selama ini dialah yang memiliki rahasia.
Sekarang Laras mulai memilikinya.
---
Pagi datang lebih cepat dari yang diperkirakan.
Laras tidak tidur.
Adrian juga tidak.
Namun keduanya memilih berpura-pura normal.
Pukul tujuh pagi, Laras turun ke dapur.
Adrian sudah berada di sana.
Ia sedang minum kopi.
"Selamat pagi."
Laras mengambil gelas.
"Selamat pagi."
Tidak ada senyum.
Tidak ada percakapan panjang.
Hanya dua orang yang pernah saling mencintai duduk di meja yang sama.
Namun terasa seperti dua orang asing.
Adrian memperhatikan Laras.
"Semalam kamu tidur?"
"Sedikit."
"Aku juga."
Laras mengangguk.
Kemudian mengambil roti.
Adrian ingin mengatakan sesuatu.
Namun ia tidak tahu bagaimana memulainya.
Akhirnya ia bertanya,
"Kamu masih marah?"
Laras menatapnya.
"Aku tidak marah."
"Terus?"
"Aku sedang berpikir."
"Memikirkan apa?"
"Banyak hal."
Adrian menunggu.
Laras tidak menjelaskan.
"Apakah kita masih bisa memperbaiki semuanya?"
Pertanyaan itu membuat Laras diam.
Ia menatap suaminya cukup lama.
"Kamu ingin memperbaiki?"
"Iya."
"Karena aku tahu?"
Adrian tidak menjawab.
"Atau karena kamu memang menyesal?"
"Laras..."
"Aku hanya bertanya."
Adrian menghela napas.
"Aku menyesal."
Laras menunduk.
"Menyesal karena tertangkap?"
Adrian terdiam.
Laras berdiri.
"Aku akan pergi."
"Ke mana?"
"Sudah kubilang."
"Rahasia."
Adrian menatapnya.
"Kamu akan bertemu seseorang?"
Laras berhenti.
Ia menoleh.
"Kenapa?"
Adrian tidak menjawab.
Laras tersenyum.
"Menarik."
"Apa?"
"Semalam kamu punya kehidupan yang tidak kuketahui."
Ia mengambil tas.
"Sekarang ketika aku punya satu rahasia kecil, kamu mulai penasaran."
Adrian berdiri.
"Laras."
Perempuan itu menatapnya.
"Tenang."
Ia tersenyum.
"Aku tidak pergi untuk bertemu laki-laki."
Adrian terdiam.
"Setidaknya bukan untuk alasan yang kamu pikirkan."
Laras membuka pintu.
Kemudian pergi.
Adrian berdiri di ruang makan.
Ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Kehilangan kendali.
Selama ini ia selalu merasa mampu mengatur semuanya.
Pekerjaan.
Rumah tangga.
Hubungan dengan Maya.
Bahkan kebohongan.
Namun sekarang semuanya bergerak tanpa kendalinya.
Dan yang paling menakutkan—
Laras mulai memainkan permainan yang sama.
---
Pukul 09.52.
Laras tiba di Kafe Aruna.
Ia memilih meja paling pojok.
Tempat yang cukup tenang.
Ia melihat jam.
09.58.
10.00.
10.03.
Tidak ada siapa-siapa.
Laras mulai gelisah.
Ia mengambil ponsel.
Pesan terakhir masih terbuka.
*"Datang sendiri."*
Ia menunggu.
10.07.
Seorang pelayan datang.
"Bu, ada yang menitipkan ini."
Sebuah amplop cokelat diletakkan di meja.
Laras menatap pelayan.
"Siapa yang menitipkan?"
"Pria."
"Namanya?"
Pelayan menggeleng.
"Katanya Ibu akan tahu."
Laras mengambil amplop.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia membukanya.
Di dalam terdapat sebuah flashdisk.
Dan selembar kertas.
*"Jangan percaya apa yang Adrian katakan malam ini."*
Laras menatap tulisan itu.
Kemudian membuka flashdisk melalui laptop kecil yang dibawanya.
Ada satu folder.
Namanya:
ADRIAN.
Laras membukanya.
Di dalam ada beberapa file.
Dokumen.
Foto.
Rekaman suara.
Laras menarik napas.
Ia memilih satu rekaman.
Menekan tombol putar.
Suara Adrian terdengar.
"...kalau dokumen itu sampai keluar, semuanya selesai."
Laras membeku.
Kemudian terdengar suara lain.
Suara laki-laki.
"Jadi kamu mau bagaimana?"
Adrian menjawab.
"Kita harus pastikan tidak ada yang tahu."
Laras menutup mulut.
Rekaman berakhir.
Ia memutar lagi.
Kali ini lebih pelan.
Suara laki-laki kedua terdengar lebih jelas.
Laras mengenalnya.
Reno.
Laras menatap layar.
"Jadi apa sebenarnya yang kalian sembunyikan?"
Ia membuka file berikutnya.
Sebuah dokumen transaksi.
Ada angka-angka besar.
Nama perusahaan.
Tanda tangan.
Transfer.
Laras tidak mengerti semuanya.
Namun satu hal jelas.
Ada uang yang berpindah.
Dan nama Adrian muncul dalam beberapa dokumen.
Laras mulai merasa dingin.
Selama ini ia mengira suaminya hanya berselingkuh.
Ternyata mungkin ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari nomor tidak dikenal.
*"Sekarang kamu mengerti kenapa aku bilang jangan hanya lihat Maya."*
Laras mengetik.
*"Siapa kamu?"*
Balasan datang.
*"Seseorang yang ingin membantumu."*
*"Kenapa?"*
Tidak ada balasan.
Beberapa detik kemudian pesan lain masuk.
*"Karena kalau Adrian jatuh, kamu juga akan ikut jatuh."*
Laras menatap layar.
"Kenapa aku?"
Tidak ada jawaban.
Ia menyimpan flashdisk.
Kemudian berdiri.
Sebelum meninggalkan kafe, ia melihat seseorang berdiri di luar.
Seorang pria.
Topi hitam.
Kemeja gelap.
Pria itu menatap ke arahnya.
Laras berdiri diam.
Pria tersebut berbalik.
Berjalan pergi.
Laras mengejarnya.
Namun ketika sampai di luar, pria itu sudah menghilang.
Ia melihat ke kiri.
Kosong.
Ke kanan.
Tidak ada.
Laras kembali ke meja.
Namun kini pikirannya berubah.
Ia tidak lagi hanya ingin tahu siapa Maya.
Ia ingin tahu siapa yang mengendalikan semua ini.
---
Di tempat lain, Adrian tiba di sebuah apartemen.
Maya sudah menunggu.
Ia duduk di dekat jendela.
Wajahnya tegang.
Begitu Adrian masuk, Maya langsung berdiri.
"Kamu sudah tahu?"
"Tahu apa?"
"Jangan pura-pura."
Adrian menutup pintu.
"Laras tahu."
"Aku tahu."
"Foto itu."
"Bukan aku."
"Aku tahu."
Maya menatapnya.
"Siapa yang memberikannya?"
Adrian menggeleng.
"Tidak tahu."
Maya berjalan mendekat.
"Kita dalam masalah."
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Maya diam.
"Jawab aku."
"Aku tidak bisa."
"Maya."
"Kalau aku bicara, bukan cuma kamu yang hancur."
Adrian mendekat.
"Jadi selama ini kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"
Maya menatapnya.
"Begitu juga kamu."
Adrian terdiam.
Maya mengambil sebuah dokumen.
"Ini alasan kenapa semuanya dimulai."
Adrian mengambilnya.
Ia membaca.
Kemudian wajahnya berubah.
"Ini tidak mungkin."
"Sayangnya mungkin."
"Siapa yang melakukan ini?"
Maya menatapnya.
"Reno."
Adrian membeku.
"Dia memindahkan uang dari proyek."
"Aku tidak tahu."
"Kamu menandatangani beberapa dokumen."
"Aku tidak pernah tahu uang itu dipindahkan."
"Karena kamu hanya melihat bagian yang diberikan kepadamu."
Adrian mengusap wajah.
"Kenapa aku?"
"Karena namamu bersih."
Maya berhenti.
"Dan karena orang akan lebih mudah percaya kalau semua transaksi melewati namamu."
Adrian menatap dokumen.
Tiba-tiba semuanya terasa jelas.
Reno membutuhkan seseorang untuk menjadi tameng.
Dan Adrian adalah tameng itu.
Namun ada satu hal yang belum ia mengerti.
"Maya."
"Ya?"
"Kenapa kamu terlibat?"
Maya menatapnya.
Untuk beberapa detik ia diam.
Kemudian berkata,
"Karena aku juga dijebak."
Adrian terdiam.
"Awalnya aku hanya diminta membantu beberapa dokumen."
"Siapa yang meminta?"
Maya menatap Adrian.
"Reno."
Adrian menggeleng.
"Tidak."
"Ya."
"Tapi kamu—"
"Aku jatuh cinta kepadamu."
Adrian tidak bergerak.
Maya tersenyum pahit.
"Aku tahu itu kesalahanku."
Ia menghapus air matanya.
"Aku tahu kamu sudah menikah."
Adrian menunduk.
"Aku pikir hubungan kita hanya masalah perasaan."
Maya menarik napas.
"Ternyata seseorang menggunakan hubungan kita untuk menghancurkanmu."
Adrian menatapnya.
"Foto itu?"
"Bagian dari rencana."
"Reno?"
"Aku tidak yakin."
Adrian menatap Maya.
"Kalau bukan dia?"
Maya menjawab pelan.
"Orang yang lebih dekat."
"Siapa?"
Maya tidak menjawab.
Adrian mulai gelisah.
"Maya, siapa?"
Perempuan itu menatapnya.
"Orang yang tahu semua tentang keluargamu."
Adrian membeku.
"Siapa?"
Maya hanya berkata,
"Laras."
Adrian menatapnya tidak percaya.
"Maksudmu?"
Maya menggeleng.
"Aku tidak bilang Laras yang melakukan."
"Terus?"
"Aku bilang orang yang mengetahui semua gerakmu mungkin bukan orang dari kantor."
Adrian tidak menjawab.
Ia teringat sesuatu.
Laras tahu jadwalnya.
Laras tahu kebiasaannya.
Laras tahu kapan ia pulang.
Laras bahkan tahu nama Maya.
Tapi itu belum berarti Laras terlibat.
Namun ada satu kemungkinan lain.
Seseorang mungkin menggunakan Laras.
Adrian mengambil ponselnya.
Ia menelepon istrinya.
Tidak diangkat.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tetap tidak ada jawaban.
"Dia tidak mengangkat."
Maya menatapnya.
"Mungkin dia sedang mencari jawabannya sendiri."
Adrian menghela napas.
"Aku harus pulang."
---
Sore menjelang ketika Laras tiba di rumah.
Rumah kosong.
Ia masuk ke kamar.
Meletakkan tas.
Mengeluarkan flashdisk.
Kemudian menyimpannya di tempat yang tidak akan ditemukan Adrian.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Pikirannya masih penuh.
Perselingkuhan.
Reno.
Dokumen.
Uang.
Foto.
Pesan misterius.
Semuanya terasa seperti potongan puzzle yang belum lengkap.
Kemudian ia melihat sesuatu di meja.
Sebuah foto lama.
Foto pernikahannya dengan Adrian.
Laras mengambilnya.
Dalam foto itu mereka tersenyum.
Bahagia.
Tiga tahun lalu.
Saat Adrian berjanji akan selalu jujur.
Laras tersenyum getir.
"Kenapa semuanya berubah?"
Ia meletakkan foto.
Kemudian terdengar suara pintu depan.
Adrian pulang.
Laras berdiri.
Beberapa detik kemudian Adrian muncul di ambang pintu kamar.
Mereka saling menatap.
"Aku ingin bicara."
Laras mengangguk.
"Aku juga."
Adrian masuk.
Menutup pintu.
"Aku tidak akan berbohong lagi."
Laras menatapnya.
"Bagus."
"Ada sesuatu yang harus kamu tahu."
Laras duduk.
"Silakan."
Adrian menarik napas.
"Aku dan Maya memang punya hubungan."
Laras menunduk.
"Aku tahu."
"Tapi ada sesuatu di balik itu."
Laras mengangkat wajah.
"Apa?"
Adrian menjelaskan tentang Reno.
Tentang dokumen.
Tentang transaksi.
Tentang kemungkinan bahwa hubungan mereka digunakan untuk menjebaknya.
Laras mendengarkan.
Tidak memotong.
Tidak bereaksi berlebihan.
Ketika Adrian selesai, ia bertanya,
"Apakah kamu mencintai Maya?"
Adrian terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun jawabannya sulit.
"Aku tidak tahu."
Laras tersenyum.
"Setidaknya kali ini kamu jujur."
"Aku mencintaimu."
Laras menatapnya.
"Dan?"
Adrian menunduk.
"Aku juga punya perasaan untuk Maya."
Laras memejamkan mata.
Meski sudah menduga, mendengarnya langsung tetap menyakitkan.
Namun kali ini ia tidak menangis.
"Terima kasih."
Adrian bingung.
"Untuk apa?"
"Karena akhirnya kamu berhenti berbohong."
Laras berdiri.
"Sekarang giliranku."
Adrian menatapnya.
"Aku juga punya sesuatu yang ingin kuberitahukan."
"Apa?"
Laras mengambil ponselnya.
Membuka sebuah foto.
Kemudian menyerahkannya.
Adrian melihat.
Wajahnya berubah.
Foto itu memperlihatkan dirinya dan Reno.
Namun bukan foto biasa.
Di belakang mereka terdapat sebuah ruangan kantor.
Tanggal foto terlihat jelas.
Adrian menatap istrinya.
"Ini dari mana?"
Laras tersenyum.
"Rahasia."
Adrian menatapnya.
"Kamu tahu?"
"Sedikit."
"Apa yang kamu tahu?"
Laras mengambil kembali ponselnya.
"Cukup untuk membuatku tidak percaya siapa pun."
Adrian menatap istrinya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Laras bukan sebagai perempuan yang terluka.
Tetapi sebagai seseorang yang mulai mencari kebenaran.
Dan mungkin—
seseorang yang siap membalas permainan mereka.
---
Malam semakin larut.
Di sebuah ruangan gelap, seseorang duduk di depan layar komputer.
Satu per satu foto terpampang.
Adrian.
Maya.
Laras.
Reno.
Orang itu tersenyum.
Kemudian mengetik sebuah pesan.
*"Mereka sudah mulai saling mencurigai."*
Pesan terkirim.
Balasan muncul beberapa detik kemudian.
*"Bagus."*
Pesan berikutnya.
*"Sekarang pisahkan mereka."*
Orang itu tersenyum.
Kemudian membuka satu file terakhir.
Nama file tersebut hanya terdiri dari satu kata.
LARAS.
Ia membukanya.
Di dalamnya terdapat foto Laras ketika keluar dari Kafe Aruna.
Lalu foto Laras memasukkan flashdisk ke dalam tas.
Orang itu tertawa kecil.
"Permainan baru saja dimulai."
---
Laras berdiri di balkon kamar.
Angin malam menyentuh wajahnya.
Ia menatap lampu-lampu kota.
Di belakangnya, Adrian masih berada di ruang kerja.
Mereka tinggal dalam rumah yang sama.
Namun malam itu, jarak mereka terasa sangat jauh.
Laras membuka ponsel.
Nomor misterius kembali mengirim pesan.
*"Kamu sudah mendapatkan flashdisk?"*
Laras menjawab.
*"Sudah."*
Pesan berikutnya muncul.
*"Bagus."*
*"Besok aku akan memberimu nama orang yang mengatur semuanya."*
Laras mengetik.
*"Siapa?"*
Lama tidak ada jawaban.
Kemudian satu pesan masuk.
*"Orang itu ada di rumahmu."*
Laras membeku.
Ia perlahan menoleh ke arah ruang tengah.
Adrian masih di sana.
Namun—
jika bukan Adrian?
Siapa?
Pintu kamar di belakangnya tiba-tiba bergerak sedikit.
Laras menoleh cepat.
Kosong.
Ia berjalan mendekati pintu.
Membukanya.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun di lantai terdapat sesuatu.
Sebuah amplop putih.
Laras mengambilnya.
Di bagian depan tertulis namanya.
**LARAS.**
Ia membuka amplop itu.
Hanya ada satu foto.
Foto dirinya sendiri.
Diambil beberapa menit lalu.
Di balkon.
Dari arah seberang jalan.
Laras merasakan seluruh tubuhnya dingin.
Di balik foto terdapat tulisan tangan.
*"Berhenti mencari."*
Laras menatap tulisan itu.
Kemudian melihat ke luar.
Jalanan tampak sepi.
Namun di kejauhan sebuah mobil hitam berhenti di bawah lampu jalan.
Lampunya menyala.
Laras memperhatikan.
Mobil itu tidak bergerak.
Kemudian perlahan mundur.
Menghilang di tikungan.
Laras menggenggam foto itu semakin kuat.
Sekarang ia mengerti.
Ia tidak sedang membongkar rahasia.
Ia sedang diperhatikan.
Dan mungkin sejak awal—
ia memang sudah menjadi bagian dari permainan.
Sementara di dalam ruang kerja, Adrian menerima pesan yang sama sekali berbeda.
*"Kalau kamu ingin menyelamatkan Laras, datang sendiri besok malam."*
Adrian menatap layar.
Di bawah pesan itu terdapat sebuah foto.
Foto Laras.
Sedang berdiri di balkon.
Adrian langsung berdiri.
"Laras."
Ia berlari keluar dari ruang kerja.
Namun ketika sampai di balkon, Laras sudah tidak ada.
Pintu kamar tertutup.
Adrian membukanya.
"Laras?"
Tidak ada jawaban.
Ia masuk.
Tempat tidur kosong.
Ponsel Laras berada di atas meja.
Adrian mengambilnya.
Layar menyala.
Sebuah pesan baru masuk.
*"Permainan sudah dimulai."*
Adrian menatap layar dengan wajah pucat.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada perselingkuhan.
Seseorang bukan hanya ingin menghancurkan pernikahan mereka.
Seseorang ingin membuat mereka saling menghancurkan.
Dan di tengah permainan itu—
tidak ada satu pun dari mereka yang tahu siapa sebenarnya lawan mereka.
Adrian menggenggam ponsel Laras.
Kemudian menatap pintu kamar.
"Laras..."
Di luar, hujan mulai turun.
Pelan.
Kemudian semakin deras.
Dan di balik suara hujan, sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter dari rumah mereka.
Mesinnya tidak dimatikan.
Seseorang di dalam mobil mengangkat ponsel.
Memotret rumah Adrian.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian mengirim satu pesan.
*"Mereka sudah masuk permainan."*
Balasan datang.
*"Bagus."*
*"Sekarang buat mereka saling menghancurkan."*
Mobil itu pergi.
Meninggalkan jalanan yang basah.
Meninggalkan rumah yang menyimpan terlalu banyak rahasia.
Dan meninggalkan satu pertanyaan yang belum memiliki jawaban:
**Siapa sebenarnya yang memulai permainan ini?**
Malam itu, Laras tidak lagi hanya menjadi istri yang dikhianati.
Adrian tidak lagi hanya menjadi suami yang menyimpan rahasia.
Maya bukan lagi sekadar perempuan lain.
Dan Reno bukan lagi sekadar rekan bisnis.
Mereka semua adalah bidak.
Seseorang sedang menggerakkan mereka.
Satu demi satu.
Tanpa mereka sadari.
Dan ketika bidak pertama jatuh—
permainan sebenarnya baru akan dimulai.