bab 3

2705 Words
Laras tidak tidur malam itu. Pukul dua belas lewat tiga puluh. Kemudian satu. Lalu dua. Jarum jam bergerak perlahan, seolah sengaja memperpanjang kegelisahan yang sejak tadi memenuhi dadanya. Adrian belum pulang. Laras sudah mengirim tiga pesan. Pesan pertama hanya menanyakan keberadaannya. *Masih di kantor?* Tidak ada jawaban. Pesan kedua lebih singkat. *Sudah malam.* Tetap tidak ada balasan. Pesan ketiga bahkan hanya terdiri dari dua kata. *Hati-hati pulang.* Pesan itu dibaca. Laras tahu karena tanda di layar berubah. Namun Adrian tidak membalas. Laras meletakkan ponsel di atas meja. Ia mencoba tidak berpikir macam-macam. Mungkin ada rapat mendadak. Mungkin pekerjaan belum selesai. Mungkin ponselnya tertinggal. Mungkin baterainya habis. Mungkin... Ada terlalu banyak kemungkinan. Dan biasanya, ketika seseorang terlalu banyak membuat alasan untuk orang lain, itu berarti hatinya sedang berusaha menutupi sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui. Laras berdiri dari tempat tidur. Ia berjalan menuju balkon kamar. Udara malam terasa dingin. Hujan yang turun sejak sore meninggalkan jalanan dalam keadaan basah. Lampu-lampu kendaraan memantul di permukaan aspal. Laras memeluk tubuhnya sendiri. Ia menatap jalan di depan rumah. Tidak ada mobil Adrian. Aneh. Selama tiga tahun menikah, Adrian tidak pernah seperti ini. Setidaknya dulu. Dulu, Adrian selalu memberi kabar. Jika harus pulang terlambat, ia akan menelepon. Jika ada rapat, ia akan memberitahu. Jika perjalanan pulang terganggu hujan, ia akan mengirim pesan. Hal-hal kecil. Sederhana. Tetapi justru hal-hal kecil itulah yang membuat seseorang merasa dihargai. Sekarang semuanya berubah. Pulang terlambat menjadi kebiasaan. Ponselnya semakin sering dibalik ketika Laras mendekat. Pesan-pesan tertentu selalu dihapus. Dan senyum Adrian ketika melihat layar ponsel sudah bukan lagi senyum yang Laras kenal. Dulu, ketika Adrian menerima pesan, ia bisa saja langsung menunjukkan layarnya. Sekarang, ia sering membawa ponselnya ketika pergi ke kamar mandi. Jika sedang makan, ponselnya diletakkan dengan layar menghadap ke bawah. Jika Laras duduk di sebelahnya, ia sering mematikan layar lebih cepat. Hal-hal kecil. Sangat kecil. Namun jika dikumpulkan, semuanya membentuk sebuah pola. Laras bukan perempuan bodoh. Ia hanya terlalu lama mencoba percaya. Mungkin karena ia masih mencintai Adrian. Atau mungkin karena mengakui kenyataan jauh lebih menyakitkan daripada hidup dalam kebohongan. Ia masuk kembali ke kamar. Matanya tertuju pada sisi tempat tidur Adrian. Kosong. Laras duduk di tepi kasur. Ia memegang bantal suaminya. Masih ada aroma parfum Adrian. Aroma yang dulu membuatnya merasa pulang. Kini justru membuat dadanya terasa sesak. "Adrian..." bisiknya. Tidak ada jawaban. --- Pukul tiga pagi. Laras masih terjaga. Ia turun ke lantai bawah. Rumah gelap. Lampu ruang tamu ia nyalakan. Kemudian ia duduk di sofa. Televisi dinyalakan tanpa suara. Laras hanya membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan pikirannya. Namun pikirannya terlalu berisik. Ia membuka galeri ponsel. Foto-foto pernikahan mereka. Foto bulan madu. Foto perjalanan ke luar kota. Foto ketika mereka pertama kali menempati rumah itu. Semuanya terlihat bahagia. Begitu bahagia sampai Laras bertanya-tanya kapan kebahagiaan itu mulai berubah. Ia berhenti pada sebuah foto. Adrian memeluknya dari belakang. Mereka sedang berada di sebuah tempat wisata. Laras tersenyum lebar. Adrian mencium kepalanya. Tanggal foto itu tiga tahun lalu. Laras menatap layar cukup lama. "Kapan kita berubah?" Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada siapa pun. Namun untuk pertama kalinya, Laras mempertimbangkan kemungkinan bahwa perubahan tersebut bukan hanya kesalahan Adrian. Mungkin dirinya juga memiliki bagian. Ia terlalu sibuk. Terlalu fokus pada pekerjaan. Terlalu sering pulang dengan kepala penuh urusan kantor. Mungkin ia berhenti bertanya tentang hari Adrian. Mungkin ia berhenti mendengarkan. Mungkin ia terlalu menganggap bahwa pernikahan akan tetap baik hanya karena tidak ada pertengkaran. Laras menutup mata. Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali mereka benar-benar berbicara. Bukan tentang tagihan. Bukan tentang pekerjaan. Bukan tentang jadwal. Bukan tentang makan malam. Percakapan yang benar-benar membuat mereka saling mengenal. Ia tidak menemukan jawabannya. Dan itu membuatnya semakin sedih. Namun kesedihan itu tidak menghapus kecurigaan. Justru memperjelasnya. Jika hubungan mereka memang sedang bermasalah, Adrian seharusnya berbicara. Bukan mencari seseorang di luar rumah. --- Pukul empat kurang seperempat, terdengar suara mobil memasuki halaman. Laras langsung berdiri. Jantungnya berdegup cepat. Ia tidak menuju pintu. Ia berdiri di balik tirai. Mobil Adrian berhenti. Mesin mati. Pintu terbuka. Adrian turun. Ia berdiri sebentar di samping mobil. Kemudian melihat ke arah rumah. Laras menahan napas. Adrian masuk. Beberapa detik kemudian pintu depan terbuka. "Belum tidur?" Laras berdiri di ruang tamu. Adrian terkejut. "Kamu belum tidur?" "Aku bertanya dulu." Adrian meletakkan kunci. "Belum." "Kenapa?" "Kerjaan." Satu kata. Kerjaan. Laras menatapnya. "Jam empat pagi?" Adrian menghela napas. "Ada urusan yang harus diselesaikan." "Di mana?" Adrian terdiam sepersekian detik. "Di kantor." Laras hampir tersenyum. Bukan karena lucu. Melainkan karena ia baru saja mendapatkan jawaban yang mungkin tidak benar. "Baik." Adrian menatapnya. "Kamu tidak marah?" "Aku capek." Laras berbalik. Ia menaiki tangga. Namun sebelum masuk kamar, ia berhenti. "Adrian." "Ya?" "Kamu masih bahagia menikah denganku?" Pertanyaan itu membuat Adrian membeku. "Apa maksudmu?" "Jawab saja." Adrian menatapnya. "Aku..." Ia tidak melanjutkan. Laras mengangguk. "Sudah." Ia masuk kamar. Pintu ditutup. Dan untuk pertama kalinya, Adrian sadar bahwa mungkin Laras sudah mulai mengetahui sesuatu. --- Pagi datang tanpa banyak cahaya. Laras bangun ketika Adrian masih tidur. Ia mandi. Berpakaian. Kemudian turun ke lantai bawah. Tidak ada sarapan. Tidak ada kopi. Tidak ada pesan kecil di meja. Ia merasa seperti menjalani pagi seorang diri. Setelah beberapa saat, pikirannya kembali kepada satu hal. Ponsel Adrian. Ia pernah melihat beberapa notifikasi. Nama yang sama. Maya. Dulu Laras mengabaikannya. Ia menganggap itu bagian dari pekerjaan. Adrian memang memiliki banyak klien. Banyak konsultan. Banyak rekan bisnis. Namun sekarang nama itu terasa berbeda. Laras mengambil kunci ruang kerja Adrian. Ia membuka pintu. Ruangan itu jarang ia masuki. Adrian selalu mengatakan bahwa dokumen pekerjaan tidak boleh dipindahkan sembarangan. Laras menyalakan lampu. Meja kerja penuh dengan dokumen. Laptop. Buku catatan. Beberapa map. Tidak ada yang terlihat aneh. Laras berdiri di sana beberapa menit. Ia hampir keluar. Namun kemudian matanya tertuju pada laci meja. Tangannya terangkat. Ia ragu. Ini salah. Ia tahu. Membuka barang pribadi suami tanpa izin bukan sesuatu yang ingin ia lakukan. Namun rasa takut lebih kuat daripada rasa bersalah. Laras menarik laci. Beberapa dokumen. Kwitansi. Kartu akses. Kartu nama. Ia memeriksa satu per satu. Kemudian menemukan sebuah kartu nama berwarna putih dengan desain sederhana. **Maya Prameswari.** Laras membeku. Nama itu. Ia pernah melihatnya. Bukan hanya sekali. Ia mengambil kartu tersebut. Di bawah nama itu tertulis jabatan dan nama perusahaan. Laras membaca perlahan. Konsultan. Jadi Maya bukan sekadar seseorang yang pernah mengirim pesan. Ia memang bekerja dengan Adrian. Laras duduk di kursi. Untuk beberapa detik ia hanya menatap kartu nama tersebut. Kemudian mengambil ponselnya. Ia mengetik nama itu di mesin pencarian. Tidak banyak informasi. Profil profesional. Beberapa artikel. Beberapa foto acara perusahaan. Kemudian Laras menemukan sebuah akun media sosial. Foto profil Maya terlihat profesional. Cantik. Percaya diri. Tatapannya tajam. Laras menggulir layar. Tidak ada yang aneh. Sampai ia menemukan sebuah foto. Keterangan foto itu sederhana. *Business dinner.* Foto tersebut menampilkan Maya bersama beberapa orang dari perusahaan. Laras memperbesar gambar. Matanya bergerak perlahan. Di sisi kanan foto, ada seseorang yang sebagian tubuhnya tertutup orang lain. Jas hitam. Tangan. Jam tangan. Laras berhenti bernapas. Ia mengenal jam itu. Sangat mengenalnya. Jam tangan dengan tali kulit hitam. Ia sendiri yang membelinya untuk Adrian pada ulang tahun pernikahan mereka. Laras memperbesar foto sekali lagi. Tangannya mulai gemetar. Tidak mungkin. Namun ia tahu. Itu Adrian. Ia menurunkan ponselnya. Dada Laras terasa sesak. Namun ia tidak menangis. Belum. Ia justru tersenyum kecil. "Jadi ini alasannya." --- Laras duduk sendirian di ruang kerja. Foto itu masih terbuka di ponselnya. Ia menatapnya berkali-kali. Mungkin saja bukan Adrian. Mungkin jam tangan itu kebetulan sama. Mungkin acara tersebut memang acara bisnis. Mungkin mereka hanya makan bersama rekan kerja. Laras mencoba membuat alasan. Tetapi semakin ia mencoba, semakin banyak potongan lain muncul. Pesan yang dihapus. Ponsel yang selalu dibalik. Pulang larut. Perubahan sikap. Nama Maya. Dan foto tersebut. Semuanya mulai terhubung. Laras membuka catatan di ponselnya. Ia menulis satu kata. **Maya.** Kemudian di bawahnya: **Perusahaan.** **Proyek.** **Pertemuan.** **Restoran.** Ia berhenti. Ia merasa seperti sedang menyelidiki suaminya sendiri. Dan itu menyakitkan. Namun ia tidak ingin menuduh tanpa bukti. Laras menghapus catatan tersebut. Kemudian berpikir lagi. Tidak. Ia membukanya kembali. Jika Adrian memang tidak melakukan apa-apa, ia tidak perlu takut. Jika memang ada sesuatu, Laras berhak mengetahui. Ia mulai mencari informasi mengenai proyek yang melibatkan Maya. Dari beberapa unggahan profesional, ia menemukan bahwa perusahaan Maya memang bekerja sama dengan perusahaan Adrian. Laras menghela napas. Jadi mereka memang punya alasan untuk bertemu. Tetapi hubungan profesional tidak menjelaskan semuanya. Laras membuka kembali foto tersebut. Ia memperhatikan latar belakang. Sebuah restoran. Ia mengenali tempat itu. Pernah melihatnya di salah satu unggahan Adrian beberapa bulan lalu. Adrian pernah mengatakan bahwa ia makan malam dengan klien. Laras menutup mulut. Mungkin itu malam yang sama. --- Pukul delapan pagi, Adrian masuk ke ruang makan. Laras sedang minum kopi. "Selamat pagi." Laras mengangkat wajah. "Selamat pagi." Adrian duduk. "Kamu sudah sarapan?" "Sudah." Adrian melihat meja. "Kamu tidak membuat sarapan?" "Tidak." Adrian terdiam. Ada sesuatu yang berbeda. Biasanya Laras akan menyiapkan sesuatu. Tidak selalu. Namun cukup sering. "Semalam aku minta maaf." Laras menatapnya. "Kamu memang harus minta maaf." Adrian mengangguk. "Maaf karena pulang terlambat." Laras menahan tatapan. "Hanya itu?" Adrian terlihat bingung. "Apa maksudmu?" Laras tersenyum. "Tidak ada." Ia berdiri. "Aku berangkat kerja." "Jam segini?" "Iya." "Aku antar." "Tidak perlu." "Laras." "Aku bisa sendiri." Ia mengambil tas. Kemudian pergi. Adrian memperhatikannya. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Namun belum tahu apa. --- Di dalam mobil, Laras menggenggam kemudi dengan erat. Ia tidak langsung menuju kantor. Ia berhenti di sebuah kafe. Memesan kopi. Kemudian membuka laptop. Ia mencari nama Maya lagi. Kali ini lebih serius. Laras menemukan profil profesional Maya. Pendidikan. Pengalaman kerja. Proyek. Beberapa publikasi. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Maya terlihat seperti perempuan yang sukses. Mandiri. Cerdas. Terorganisir. Laras justru semakin merasa kecil. Bukan karena Maya lebih cantik. Bukan karena Maya lebih muda. Tetapi karena Laras mulai bertanya kepada dirinya sendiri: Apa yang Maya berikan kepada Adrian yang tidak bisa ia berikan? Perhatian? Waktu? Percakapan? Rasa dihargai? Laras menatap kopi di depannya. Ia tidak ingin bersaing dengan perempuan lain. Ia ingin tahu mengapa suaminya sampai mencari sesuatu di luar rumah. Pertanyaan itu lebih penting. --- Siang hari, Laras menerima pesan dari Adrian. *Maaf soal pagi tadi.* Laras membaca. Tidak membalas. Beberapa menit kemudian pesan kedua. *Malam ini makan bersama?* Laras kembali membaca. Kali ini ia menjawab. *Boleh.* Hanya itu. Ia tidak bertanya di mana. Tidak bertanya jam berapa. Tidak bertanya dengan siapa. Untuk pertama kalinya, Laras tidak ingin mengejar jawaban. Ia ingin melihat sendiri apakah Adrian akan jujur. --- Malam datang. Adrian pulang lebih cepat. Laras sudah berada di rumah. Mereka pergi makan bersama. Restoran yang dipilih Adrian sederhana. Tidak terlalu ramai. Mereka duduk berhadapan. Awalnya percakapan terasa canggung. "Bagaimana pekerjaanmu?" "Baik." "Kamu?" "Juga baik." Kemudian diam. Laras menatap Adrian. "Aku mau bertanya sesuatu." Adrian mengangkat wajah. "Tanya apa?" "Siapa Maya?" Sendok di tangan Adrian berhenti. Hanya sepersekian detik. Tetapi Laras melihatnya. Ia tidak membutuhkan lebih banyak bukti untuk mengetahui bahwa nama itu memiliki arti. "Maya?" "Iya." "Dia konsultan." "Hanya itu?" Adrian mengangguk. "Iya." Laras tersenyum. "Kenapa kamu terlihat gugup?" "Aku tidak gugup." "Kamu gugup." Adrian menarik napas. "Dia memang bekerja sama dengan perusahaan." "Aku tahu." "Jadi?" Laras menatap matanya. "Aku melihat foto kalian." Adrian terdiam. "Foto business dinner." "Acara perusahaan." "Benar?" "Benar." "Kenapa kamu tidak pernah cerita?" "Karena itu pekerjaan." Laras mengangguk. "Baik." Ia mengambil minumannya. Namun sebelum meneguk, ia berkata, "Adrian." "Ya?" "Kalau memang hanya pekerjaan, kenapa pesan-pesannya sering kamu hapus?" Adrian membeku. Laras melihat perubahan wajahnya. Ia tidak perlu menaikkan suara. Tidak perlu menangis. Tidak perlu membuat keributan. Justru ketenangannya membuat pertanyaan tersebut terasa lebih tajam. "Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan." Laras tertawa kecil. "Jangan bohong." Adrian menatapnya. "Laras..." "Aku belum menuduhmu." Ia meletakkan gelas. "Aku hanya bertanya." Adrian tidak menjawab. "Dan diam kamu sudah menjadi jawaban." --- Malam itu mereka pulang dalam keheningan. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pembicaraan. Namun sesuatu telah berubah. Sesampainya di rumah, Laras masuk ke kamar. Ia duduk di depan meja rias. Kemudian menatap dirinya sendiri di cermin. Ia tampak lelah. Bukan karena pekerjaan. Karena tiga tahun terakhir ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Apakah ia kurang cantik? Kurang menarik? Kurang perhatian? Kurang menjadi istri? Laras menggeleng. Tidak. Ia tidak mau jatuh ke dalam pertanyaan seperti itu. Jika Adrian memilih orang lain, itu bukan berarti nilai dirinya berkurang. Pengkhianatan seseorang tidak menentukan harga diri orang yang dikhianati. Laras mengusap matanya. Namun air mata akhirnya jatuh. Satu. Kemudian dua. Ia menangis dalam diam. Tidak ingin Adrian mendengar. Setelah beberapa menit, Laras menghapus air matanya. Ia membuka laci. Mengambil sebuah buku catatan. Di halaman pertama, ia menulis: **Kebenaran.** Kemudian di bawahnya: **1. Maya Prameswari.** **2. Business dinner.** **3. Pesan yang dihapus.** **4. Pulang larut.** **5. Perubahan sikap Adrian.** Laras menatap daftar itu. Kemudian menambahkan satu kalimat. **Cari tahu sebelum mengambil keputusan.** Ia menutup buku. Malam itu Laras berhenti menjadi istri yang menunggu. Ia mulai menjadi perempuan yang mencari kebenaran. Bukan untuk membalas. Bukan untuk mempermalukan Adrian. Bukan pula untuk menghancurkan Maya. Ia hanya ingin tahu apakah pernikahannya masih memiliki sesuatu yang bisa diselamatkan. --- Hari-hari berikutnya berubah. Laras mulai memperhatikan kebiasaan Adrian. Bukan secara berlebihan. Ia hanya mengamati. Kapan Adrian menerima pesan. Siapa yang menelepon. Jam berapa ia pulang. Apa alasan yang diberikan. Beberapa hal ternyata memang berkaitan dengan pekerjaan. Namun ada juga hal-hal yang tidak masuk akal. Satu malam Adrian mengatakan ada rapat. Laras kemudian mengetahui bahwa rapat tersebut selesai dua jam lebih awal. Malam lain, Adrian mengatakan makan bersama klien. Namun ketika Laras bertanya secara tidak sengaja mengenai nama klien tersebut, Adrian memberikan jawaban yang berbeda. Semakin banyak ia mencari, semakin jelas satu hal. Adrian sedang menyembunyikan sesuatu. Dan Maya berada di tengah-tengahnya. --- Suatu sore, Laras menemukan sebuah bukti yang membuat tangannya dingin. Bukan foto. Bukan pesan. Melainkan struk restoran. Terselip di dalam mobil Adrian. Tanggalnya dua minggu lalu. Dua orang. Meja untuk dua. Laras menatap struk tersebut. Ia tidak tahu siapa yang hadir. Namun ia tahu satu hal. Pada malam itu Adrian mengatakan kepadanya bahwa ia bekerja sampai larut di kantor. Laras menyimpan struk tersebut. Tidak dibuang. Tidak dibicarakan. Ia mulai mengumpulkan semuanya. Bukan karena ingin menjadi detektif. Tetapi karena setiap kali ia bertanya langsung, Adrian selalu memberikan jawaban yang setengah. Dan Laras mulai lelah menerima setengah kebenaran. --- Malam itu Adrian pulang. Laras sedang membaca buku di ruang tengah. "Kamu belum tidur?" "Belum." Adrian duduk di sebelahnya. "Besok kita pergi?" "Ke mana?" "Terserah kamu." Laras menutup buku. "Adrian." "Ya?" "Kalau aku bertanya sesuatu, jawab jujur." Adrian menatapnya. "Baik." "Apakah ada orang lain?" Ruangan seolah membeku. Adrian tidak bergerak. Laras menatap wajahnya. Tidak ada tekanan. Tidak ada teriakan. Hanya pertanyaan. Sederhana. Namun jawaban dari pertanyaan itu mungkin akan menentukan masa depan mereka. Adrian membuka mulut. Tetapi tidak ada suara. Laras tersenyum tipis. "Sudah." Ia berdiri. "Kamu tidak perlu menjawab sekarang." "Laras..." "Aku hanya ingin kamu memikirkan satu hal." Adrian menatapnya. "Kalau memang tidak ada, katakan tidak ada." Laras berhenti di anak tangga. "Kalau memang ada, jangan buat aku menjadi orang terakhir yang mengetahuinya." Kemudian ia naik ke lantai dua. Adrian tetap duduk. Untuk pertama kalinya, ia merasa rahasianya bukan lagi miliknya sendiri. Laras sudah berdiri terlalu dekat dengan kebenaran. --- Di kamar, Laras membuka buku catatannya. Ia menambahkan satu kalimat terakhir. **Adrian sedang berbohong.** Ia menutup buku. Namun kali ini ia tidak menangis. Ada sesuatu yang tumbuh di dalam dirinya. Bukan kebencian. Bukan kemarahan. Melainkan keberanian. Laras akhirnya memahami bahwa cinta bukan berarti harus terus percaya ketika semua tanda menunjukkan sebaliknya. Kadang mencintai seseorang juga berarti berani menghadapi kenyataan bahwa orang tersebut mungkin telah berubah. Ia berdiri di depan jendela. Di luar, hujan kembali turun. Sama seperti malam ketika semuanya dimulai. Laras menatap jalan yang basah. Di dalam rumah itu, suaminya berada beberapa meter darinya. Namun terasa sangat jauh. Ia memejamkan mata. "Kalau memang ada perempuan lain," bisiknya, "aku akan menemukannya." Dan untuk pertama kalinya, Laras tidak takut dengan jawaban yang mungkin akan ia dapatkan. Karena sekarang ia tahu sesuatu yang lebih penting. Ia tidak bisa menyelamatkan pernikahan sendirian. Jika Adrian masih ingin mempertahankan rumah tangga mereka, ia harus berhenti bersembunyi. Jika Adrian memilih Maya, Laras akan menerima kenyataan itu. Tetapi ia tidak akan lagi hidup dalam kebohongan. Di meja kerja, buku catatan itu masih terbuka. Di halaman terakhir tertulis satu kalimat: Kebenaran mungkin menyakitkan, tetapi ketidaktahuan menghancurkan perlahan. Dan malam itu, Laras membuat keputusan. Ia akan mencari kebenaran sampai akhir. Apa pun harga yang harus dibayarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD