Haru menerima sebuah surat, di dalam surat itu Haru diberitahu bahwa ada seorang perempuan menderita penyakit aneh. Dimana tubuhnya memiliki lubang-lubang kecil dan perempuan itu selalu berteriak ada serangga di dalam tubuhnya. Dokter lokal sudah memeriksanya tapi tidak menemukan apa-apa, akhirnya Haru di panggil kesana, supaya bisa membantu menyembuhkan perempuan itu.
Setelah menerima surat itu Haru langsung berangkat. Sampai di sana Haru di sambut oleh ibu dari perempuan itu.
Haru berkata, “Aku sudah menerima surat mu. Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Sebenarnya, ini masalah anak ku yang terkena penyakit aneh dimana setiap tubuhnya terdapat lubang-lubang kecil, dan setiap malam dia selalu berteriak-teriak bahwa ada serangga didalam tubuhnya. Dokter lokal sudah memeriksa dirinya tapi tidak bisa menemukan gejala penyakit apa yang ia derita,” ucap wanita itu dengan wajah sedih.
“Hmmm begitu rupanya, bisa aku melihat anak mu itu?” tanya Haru.
“Tentu, kalau begitu silahkan kesini!” jawab wanita itu lalu menuntun Haru kekamar anaknya.
Di saat pintu kamar dibuka Haru melihat, ada perempuan yang sedang duduk termenung menatap pemandangan luar dari jendela kamarnya. Terlihat lubang-lubang kecil di sekujur tubuh perempuan itu. Haru dan ibu dari perempuan itu masuk kedalam kamar lalu duduk.
Wanita itu memanggil anaknya, “Ana!”
Ana menoleh dengan pelan lalu berdiri mendekati ibunya. Disaat itu Haru menatap Ana ia merasa kasihan dengan keadaanya, karena terkena penyakit yang cukup mengerikan.
“Seperti yang kau lihat, Anak ku ini memiliki lubang-lubang kecil di tubuhnya. Apakah kau bisa mengobati Anak ku ini?” tanya wanita itu.
Lalu Haru berkata, “Biarkan aku memeriksa Anak mu terlebih dahulu. Coba ulurkan tangan mu!”
Ana mengulurkan tangannya kearah Haru. Kemudian Haru mengambil gelas kaca ukuran kecil, dan meletakan gelas itu ke telapak tangan Ana, untuk mendengarkan sesuatu melalui gelas itu. Terdengar suara serangga yang cukup berisik.
“Sudah kuduga,” ujar Haru sambil menangkat kepalanya dari gelas.
“Apakah, kau sudah menemukan penyebab kenapa Anak ku jadi seperti ini?” tanya ibu Ana dengan wajah yang masih sedih.
“Iya,” jawab Haru.
Lalu Haru mengambil bukunya, dan menunjukan gambar serangga kepada ibu Ana.
Sambil menjukan buku itu Haru berkata, “Sepertinya Anak mu di jadikan inang oleh serangga yang bernama Midori Parasentica. Serangga ini biasa masuk ke dalam tubuh untuk meletakan telurnya, dan setelah itu mati. Midori Parasentica bisa masuk kedalam tubuh melalui telinga,mulut, dan hidung, atau mereka memang sengaja mau masuk kedalam tubuh. Ketika telur serangga ini menetas akan sangat menyiksa inangnya, seperti yang dialami oleh Putri mu, karena mereka memakan organ dan nutrisi dari inangnya, hingga inangnya mati.”
Mendengar itu ibu Ana sangat sedih dan kaget, lalu berkata, “Apakah tidak ada obat untuk Putri ku supaya bisa sembuh?”
“Tentu ada,” ucap Haru dengan nada tegas.
Haru meracik obat yang terbuat dari akar Glatica Voures dan garam air laut.
Setelah meracik obat itu Haru menyuruh Ana kembali untuk mengulurkan tanganya, lalu memasukan obat kedalam lubang serangga yang ada di tangan Ana.
Terdengar suara serangga yang lagi terbang setelah Haru memasukan obat itu, dari dalam tubuh Ana, itu pertanda bahwa Midori Parasentica mulai mencari jalan keluar dari tubuh Ana.
“Mereka akan keluar!” ucap Haru dengan suara sedikit keras.
Setelah itu segerombolan serangga berwarna hijau, mulai keluar dari lubang-lubang yang ada di seluruh tubuh Ana. Serangga itu mulai berterbangan didalam ruangan itu.
“Cepat tutup mulut,hidung, dan telinga kalian!” Haru berteriak menyuruh mereka.
Ana dan ibunya mengikuti perintah Haru, supaya Midori Parasentica tidak masuk kedalam tubuh mereka. Setelah menunggu cukup lama Midori Parasentica mulai terbang, pergi keluar melalui jendela.
“Bagaimana keadaan mu sekarang?” tanya Haru kepada Ana.
“Sekarang kondisi ku sudah membaik. Sudah tidak terdengar suara serangga di telinga ku,” ungkap Ana dengan senyum di wajahnya.
Mendengar itu ibu Ana memeluknya, dan menangis bahagia.
“Benarkah. Putriku kau sekarang sudah sembuh?” tanya ibunya.
“Iya Ibu aku sudah merasa baik sekarang,” jawab Ana sambil tersenyum
“Kalau begitu syukurlah.” Ibunya berkata dengan wajah bahagia.
Setelah itu Haru dan ibunya meninggalkan kamar. Didepan pintu kamar mereka bedua berbicara sesuatu.
“Terimakasih tuan haru, karena kau sudah menyembuhkan anak, Ku,” kata wanita itu.
“Tidak, itu bukan apa-apa. Aku hanya melakukan apa yang kubisa itu saja,” kata Haru dengan wajah sedikit senyum.
Haru termenung sejenak dan menatap serius kearah wanita itu, dan kemudian bicara dengan nada yang serius, “Aku penasaran kenapa telur Midori Parasentica bisa berada dalam tubuh Ana? Apakah bisa kau ceritankan awal kejadiannya kepadaku.”
“Baik, sebenarnya ini terjadi ketika dia berada di kebun. Keluarga kami memiliki kebun yang cukup luas, dan kami tanami sayur-sayuran. Waktu itu Ana ikut membant. Saat sedang mengumpulkan sayuran tiba-tiba dia berteriak. Kami yang berada di sana kaget, dan saat kami menengok kearah suara teriakan itu Ana sudah tergeletak di tanah. Aku dan beberapa orang di sana membawa Ana kembali kerumah. Dia pingsan dan hingga tidak sadarkan diri berhari-hari. Pada malam harinya barulah dia sadarkan diri, tetapi dia mulai bertigkah aneh. Dia terus berteriak ‘serangga-serangga!’ padahal kami tidak mendengar suara apapun. Semenjak kejadian itu tingkah Ana menjadi aneh dan satu persatu lubang-lubang kecil muncul di tubuhnya.
“Kami yang merasa tidak tega mencoba mendatangkan dokter lokal, tapi mereka tidak bisa membantu. Suatu hari kami mendengar dari seorang pedagang keliling, bahwa ada para pengembara yang sering di sebut Dokter Alam yang biasa menangani penyakit-penyakit aneh, dan dia juga mengatakan bahwa dia tau ada seorang Dokter Alam yang bisa diandalkan. Jadi itulah alasan kami mengirim surat kepadamu Tuan Haru,” ungkap wanita itu.
“Begitu rupanya. Mungkin waktu itu Ana tak sengaja menyenggol Midori Parasentica yang sedang tidur, dan kemudian Midori Parasentica masuk kedalam telinganya dan bertelur di sana. Midori Parasentic aktif di malam hari dan biasanya mereka akan bertelur juga di malam hari, dan yang suka masuk ketubuh mahluk hidup dan menjadi parasite hanya Midori Parasentic betina yang memang sudah siap bertelur. Untuk betina Midori Parasentic yang belum siap bertelur mereka tidak akan memasuki organ tubuh mahluk hidup lain. Sementara untuk Midori Parasentic jantan tidak akan menggangu mahluk hidup. Tetapi saat telur itu menetas baik jantan maupun betina, akan tetap mengambil nutrisi dari inang mereka. Setelah cukup dewasa mereka akan pergi dari inangya, inang yang di tinggalkan biasanya mati dengan keadaan kurus. Ketika di alam bebas mereka suka memakan dedaunan segar, sering sekali mereka menyerang kebung warga. Salah satu cara untuk menghentikan mereka, hanya menggunakan asap mereka pasti pergi.
“Oh… ya seperti yang kubilang tadi bahwa Midori Parasentic betina akan mati ketika selesai bertelur, dan untuk Midori Parasentica jantan bisa hidup lima hingga tujuh bulan. Syukurlah aku datang tepat waktu jadi nyawa anak mu bisa terselamatkan.” Haru menjelaskan alasan Midori Parasentic masuk kedalam tubuh Ana.
“Aku. benar-benar berterimakasih kepada mu Tuan Haru, kalau tidak anak ku ana mungkin sudah…” Wanita itu berkata dengan nada yang sedih.
“Kau tidak perlu berterimakasih, lagi pula itu sudah menjadi kewajiban ku untuk menolong orang yang berada dalam kesulitan. Oh… ya boleh kah aku melihat kebun mu itu?” tanya Haru dengan senyum di wajahnya.
“Tentu, tapi kau mau kesana?” tanya balik wanita itu kepada Haru.
“Tidak, aku hanya mau melihat-lihat saja,” jawab Haru.
Setelah itu Haru diantarkan ke kebun, yang jaraknya tidak jauh dari rumahnya. Sampai di sana Haru terkejut karena melihat pemandangan indah, yang membuat matanya tak bisa berkedip.
Lalu Haru berkata, “Aku mau melihat-lihat, boleh?”
“Silahkan,” ucap wanita itu
“Kau tak perlu menemani ku.” Haru berkata sambil menoleh kearah wanita itu.
“Baiklah aku akan kembali kerumah,” ucap wanita itu lalu pergi kembali kerumahnya.
Haru mulai berkeliling ke seluruh bagian kebun itu. Sebenarnya Haru memiliki tujuan datang kesana, yaitu mencari Midori Parasentica betina yang bersiap untuk bertelur. Dia memeriksa beberapa helai bagian belakang daun sayuran dikebun itu. Haru terus memeriksa daun-daun itu, Haru menemukan satu daun yang di belakangnya ada Midori Parasentica.
“Oh di sini kau rupanya!” kata Haru sambil menangkap Midori Parasentica.
Haru menangkap Midori Parasentica dengan tangannya tentu saja ia memakai sarung tangan, dan ia langsung menyiapkan kurungan kecil, yang terbuat dari kaca untuk memasukan Midori Parasentica.
“Akhirnya aku mendapatkan Midori Parasentica yang sudah siap bertelur.” Haru berkata dengan wajah senang.
Setelah itu Haru kembali menuju rumah Ana dan ibunya, untuk mengambil beberapa perlengkapannya yang ia tinggalkan.
“Oh selamat datang kembali Tuan Haru.” Yang datang menyambutnya di depan pintu rumah adalah Ana.
“Apakah kau tidak apa-apa?” Haru berkata sambil menatap heran kearah Ana.
“Ya aku tidak apa-apa,” kata Ana dengan lalu tersenyum kearah Haru.
“Sebaiknya kau tetap beristirahat! Supaya tenaga mu cepat pulih,” perintah Haru dengan wajah yang khawatir.
“Aku tau kau tidak perlu khawatir begitu tuan haru,” ucap Ana dengan nada santai.
“Hmm… baiklah kalau begitu,” kata Haru.
Ana melihat tas kecil dipinggang Haru, yang berisi kurungan Midori Parasentica.
“Apa itu?” tanya Ana sambil menunjuk ke arah tas kecil Haru.
“Oh… tas ini berisi kurungan Midori Parasentica yang aku tangkap tadi.” Haru berkata sambil membuka tas kecilnya, dan menunjukan kurungan Midori Parasentica kearah Ana.
Ana terkejut saat melihat serangga itu.
“Eargh, ka-kau mau apakan serangga itu?” tanya Ana dengan wajah ketakutan.
“Tenanglah, aku hanya ingin melakukan penelitian terhadap serangga ini,” jawab Haru.
“Penelitian? Apa itu penelitian?” tanya Ana lagi dengan wajah polos yang kebingungan.
“Eehh, kau tidak tau apa itu penelitian,” jawab Haru dengan wajah sedikit terkejut.
Ana menggelengkan kepalanya.
Haru terdiam dan sambil berkata di dalam hatinya, “Bagaimana, aku bisa menjelaskan kepada wanita ini ya.”
“Tuan Haru kenapa kau diam? Apa itu penelitian?” tanya Ana lagi kepada Haru.
Dengan wajah yang bingung Haru berkata, “O…oh ya, harus dari mana aku menjelaskannya, penelitian adalah merupakan kegiatan pengamatan terhadap seuatu.”
“Sesuatu?” Ana masih kebingungan dengan ucapan Haru.
“Ya sesuatu, seperti mahluk hidup baik hewan,tumbuhan, dan manusia, tetapi penelitian juga tidak dilakukan hanya terhadap mahluk hidup. Bisa juga fenomena alam,benda mati, dan hal-hal lainnya. kemudian setelah melakukan penelitian, kita bisa mempelajari reaksi yang terjadi. Mungkin itu sejauh ini yang ku tau. Apakah kau sudah paham?” jelas Haru ke Ana.
“Tidak!” jawab Ana dengan polos.
“HU…” kata Haru dengan wajah sedikit kaget.
“Tetapi, seperti julukan orang-orang terhadap kalian yaitu Dokter Alam. pasti mereka yang mengabdikan diri untuk memahami alam,” ungkap Ana sambil memandang langit.
Setelah siang berlalu Haru memutuskan menginap di rumah Ana untuk satu malam. Malam itu Haru melihat kurungan kecil yang terbuat dari kaca untuk mengamati Midori Parasentica. Dengan serius Haru mengamati Midori Parasentica.
Butuh sekitar satu jam Haru menunggu Midori Parasentica mengeluarkan telurnya. Sampai membuat matanya mengantuk. Telur itu menyangkut di ranting kecil yang dia siapkan di kurungan botol kaca itu.
“Bagus sekali,” ucap Haru sambil mengamati proses Midori Parasentica mengeluarkan telurnya.
Tak berapa lama setelah bertelur Midori Parasentica itu mati. Haru mengambil semprotan khusus untuk mengawetkan telur itu, karena telur Midori Parasentica tidak akan bisa bertahan tanpa inang.
Kalau telur itu di keluarkan tidak di dalam tubuh inang maka kurang dari sembilan jam telur itu akan mulai mengering. untuk mempertahankan bentuk dari telur itu, Haru myemprot telur itu menggunakan semprotan khusus yang sering di gunakan untuk mengawetkan tubuh mahluk hidup.
Barulah setelah mengawetkan telur itu Haru tidur.
Pagi harinya Haru sudah bersiap-siap untuk pergi melanjutkan perjalanannya.
“Kau benar-benar akan pergi?” tanya Ana kepada Haru.
“Ya, aku tidak bisa berlama-lama disini,” jawab Haru sambil mengemasi barang-barangnya.
“Begitu rupanya,” ucap Ana dengan wajah sedikit sedih.
“Kau jangan lupa, untuk meminum obat supaya lubang-lubang di tubuh mu itu bisa segera hilang,” ucap Haru kepada Ana.
Dengan wajah yang sedikit sedih Ana menjawab, “Ya.”
Setlah itu Haru mulai melanjutkan perjalanannya, dari kejauhan Ana melambaikan tangannya bersama ibunya.
Tiga hari setelah Haru pergi dari rumah itu, mereka mulai mengikuti saran Haru yaitu dengan mengasapi kebun mereka, untuk mengusir hama-hama yang berada dikebun itu. Dengan metode itu mereka berhasil mengusir Midori Parasentica, dan tidak hanya itu beberapa serangga juga ikut pergi, tetapi metode ini tidak bisa selalu di pakai. Karena bisa merusak daun sayuran maupun tumbuhan di kebun itu. Meskipun begitu berkat informasi yang di berikan Haru, mereka bisa memanen sayuran dan tumbuhan dengan begitu banyak, tanpa ada hal aneh yang terjadi pada tanaman maupun dengan para manusia yang memanen tanaman dan sayuran tersebut.
Kondisi Ana perlahan mulai membaik, lubang-lubang di tubuhnya mulai menghilang dan dia menjadi wanita yang berhati-hati ketika melakukan pengolahan kebunnya supaya hal yang dia alami tidak terjadi pada orang lain.