bc

Jahe VS Berondong

book_age18+
47
FOLLOW
1K
READ
goodgirl
drama
sweet
witty
city
highschool
office/work place
school
twink
sacrifice
like
intro-logo
Blurb

Dicerai mati pada saat malam pertama membuat semangat hidup Rere redup bahkan padam. Terlebih, ia harus terbiasa dengan tatapan orang-orang yang entah kasian atau mengejek. Belum lagi julukan yang disematkan kepadanya, jahe (janda herang). Tapi semua itu tak berlangsung lama, rasa sedih semakin terkikis semenjak ia dekat dengan bocah remaja yang bernama Arya Prabu Wisesa.

"Aku jahe kamu berondong, apanya yang cocok?"

"Cocok dong, sama-sama pas buat dibawa ke tempat gelap dan dingin," bisik Arya di telinga Rere.

chap-preview
Free preview
Satu
"Sssttt ... Jahe lewat," bisik salah satu wanita paruh baya sambil memilih beberapa sayuran. "Makin bening aja," ucap wanita bertubuh gempal. "Ya iyalah, lakinya ninggalin harta berlimpah," imbuh wanita yang lain. "Berangkat kerja, Mbak Rere?" tanya wanita bertubuh gempal. "Iya Bu, mari," jawab Rere dengan senyum tipisnya. Ia bergegas melangkahkan kaki panjangnya menuju ke sepeda motor yang sudah dipesannya melalui aplikasi online. Rere segera memakai helm yang diberikan driver ojol dan segera menaiki sepeda motor itu kemudian duduk dibelakang driver. "Fyuh." Rere membuang napasnya dengan kasar. "Sesuai aplikasi, Mbak?" tanya sang driver. "Iya Mas." Motor tersebut segera berlalu melewati beberapa ibu-ibu yang sedang membeli sayuran di tukang sayur yang berhenti dipinggir jalan depan rumah Rere. Tak lama kedua mata Rere menangkap dua orang muda mudi yang sedang berboncengan sepada motor tepat di sampingnya. Melihat pemandangan itu, hati Rere seakan ditusuk ribuan jarum. Bagaimana tidak? laki-laki dari pasangan tersebut memakai baju TNI sehingga mengingatkannya pada mendiang suaminya. Suami? yah, mau bagaimana pun juga Rere sudah menjadi seorang istri walaupun hanya dalam hitungan beberapa jam saja. *** Sang surya mulai menampakan sinarnya. Seperti pagi sebelumnya, terdengar gedoran pintu dari kamar Rere. Semakin lama bunyi gedoran tersebut semakin kencang dan gaduh, tapi sang empunya kamar masih dengan nyenyaknya bergelung di bawah selimut tebalnya. "Eeuhh." Hanya lenguhan kecil yang justru mengantarkannya kembali ke alam mimpi. "Tok..tok..tok." Rere bangun!!" Tak ada jawaban sedikit pun dari dalam kamar. "Ya Allah, punya anak perawan ngapa kebo banget yak, tiap pagi musti digedor-gedor terus ini pintu, udah kayak mau ngegrebek pasangan kumpul kebo aja." Enyak terus saja mengomel. Wanita paruh baya tersebut balik badan demi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Diambilnya sebuah ember kecil lalu diisi dengan air hingga terisi setengahnya. Setelah itu, Ia menyambar kunci yang ada di atas nakas tempat tidurnya, berjalan keluar kamar berbelok kembali ke depan pintu kamar anaknya. Lalu dengan segera ia masukan kunci tersebut, setelah berhasil lalu dibukanya pintu kamar itu dengan perlahan sambil tangan satunya menenteng ember yang sudah berisi air. BYURR "Enyak!" Rere pun terlonjak dari tempat tidurnya dengan keadaan basah kuyup. "Seger 'kan? Mulai besok Enyak panggil petugas pemadam kebakaran buat bangunin elu, biar langsung bersih badan lu disemprot pake tuh selang." "Tega bener dah Nyak, sama anak sendiri juga." Rere berdecak kesal berlalu ke kamar mandi sambil menghentakan kakinya. "Makanya lu jadi perawan habis sholat subuh jangan tidur lagi, ini tuh bukan lagi pagi udah siang, malu tuh sama ayam tetangga yang udah kenyang sarapan," ucap sang Ibu lalu keluar dari kamar. Dua puluh menit kemudian Rere sudah rapih dan wangi tentunya, lalu keluar dari kamar. Ia menuruni tangga dan melangkah menuju ruang makan. Di meja makan sudah ada Enyak dan Babeh yang sedang menikmati sarapan. Rere lalu menarik kursi yang ada di samping kanan Babeh dan mendaratkan bokongnya di kursi tersebut. Yah, seperti biasa mereka selalu melakukan sarapan hanya bertiga, tidak hanya sarapan tentunya makan malam pun begitu, berbeda dengan makan siang, mungkin meja makan tersebut hanya berpenghuni satu orang, siapa lagi kalau bukan Enyak, karena baik Rere maupun Babeh masih bekerja dan mereka baru akan pulang sore hari. Babeh bekerja sebagai dosen di salah satu Universitas ternama di kotanya. Sedangkan Rere mempunyai sebuah butik yang belum lama ia kelola. Berdasarkan hobi berbelanja maka tercetuslah ide untuk mempunyai butik sendiri, gak nyambung 'kan? "Pagi Beh pagi Nyak," sapa Rere dengan ceria lalu mengambil piring dan diisi dengan nasi goreng terasi dan juga telor mata sapi setengah matang. "Ini udah siang bukan pagi lagi," ucap Enyak sewot. "Masih jam tujuh Nyak, kalo siang 'kan jam duabelas," protes Rere. "Nyaut aja lu kalo dibilangin," ucap Enyak dengan ketus. Pria paruh baya di sana hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia heran kenapa istri dan anaknya jarang sekali akur. Ada saja yang menjadi bahan untuk mereka adu mulut, yah walaupun kadang mereka suka kompak juga sih kalo dalam mode berbelanja. "Hari ini jangan pulang telat Re," ucap Babeh. "Biasanya juga kagak pernah telat Beh," sanggah Rere. Laki-laki paruh baya itu menyelesaikan kunyahannya lalu menelannya."Maksud Babeh lu pulangnya jangan terlalu sore, minimal jam empat udah ada di rumah." Rere mengernyit, "emangnya ada apa Beh?" "Loh emang Enyak lu kagak ada ngomong apa-apa ke elu?" Wanita paruh baya yang merasa dirinya dilibatkan dalam percakapan pun terkesiap. Waduh gue lupa kagak kasih tau Rere, kalo malem ini ada acara makan malem ama temen Babeh sekaligus mau ngenalin anaknya. "Gini loh Re, ntar malem babeh lu mau ngajak kita makan malem di luar bareng temen lamanya sekaligus mau jodohin lu sama anaknya," jelas Enyak. "Uhuk, uhuk." Rere segera menyambar gelas yang berada di meja lalu menenggak isinya. "Lah dia keselek denger mo dijodohin", cibir Enyak. "Rere cuma salah denger 'kan?" tanya Rere. Enyak pun berdecak. "Emangnya sejak kapan lu budeg?" "Ish, Enyak ditanya baik-baik juga." "Kalo lu kagak percaya tanya aja ke babeh lu noh". "Apa yang Enyak lu bilang emang bener Re, makanya Babeh minta lu nanti pulang cepet buat siap-siap, dandan yang cantik". Rere cuma bisa melongo, bahkan klo ada nyamuk melintas udah pasti itu nyamuk bakalan mampir ke dalam mulut Rere. *** Rere dan kedua orangtuanya telah sampai di restoran yang sudah dipilih sebagai tempat makan malam. Mereka segera masuk ke dalam menuju meja yang sudah dipesan dan segera disambut oleh pasangan paruh baya dan juga seorang pemuda. Mereka berjabat tangan dan berpelukan karena memang sudah lama tidak bertemu. Setelahnya Om Adi dan Tante Wina mempersilahkan Rere dan orangtuanya untuk duduk. Secara kebetulan Rere duduk di depan pemuda yang Rere yakini orang yang akan dijodohkan dengannya. "Rere, kenalkan ini putra Om, namanya Yoga. Sudah tigapuluh tahun tapi masih betah ngejomblo," ucap Om Adi sambil terkekeh dan merangkul pundak putranya. Rere pun tersenyum dan tanpa sengaja matanya beradu dengan Yoga. Ada yang berdesir di dadanya ketika melihat senyum Yoga. Keduanya saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Beberapa pelayan datang membawakan pesanan. Setelah semua pesanan tertata di meja, mereka mulai menyantapnya diselingi dengan obrolan dan tawa para orangtua. Sedangkan Rere dan Yoga makan dalam diam, bahkan saking khusuknya tidak terdengar bunyi napas pun diantara keduanya. Mereka kini duduk di meja yang terpisah dengan kedua orang tua mereka. Karena tidak mau berlarut dalam suasana yang begitu canggung, Yoga akhirnya berdeham demi memulai obrolan dengan gadis di depannya. "Ehem, kamu suka udang asam manis?" Yoga tersenyum lalu menyendok udang yang ada di piring dan menunjukannya kepada Rere tanpa menunggu jawaban dari sang gadis di depannya. Rere terkesiap tetapi kemudian mengangguk pelan. "Apa kamu tahu maksud dari acara makan malam ini?" tanya Yoga kembali "Ya," jawab Rere singkat. Yoga pun bertanya lagi, "apa pendapatmu?" "Kalau aku ... ikut apa kata Babeh dan Enyak aja, karena biasanya orangtua tau apa yang terbaik untuk anaknya," jawab Rere. Yoga mengangguk dan melemparkan senyum manisnya. Maksud hati ingin segera tidur setelah ganti baju dan gosok gigi, namun apa daya mata tak bisa terpejam dan selalu ada bayang senyuman Yoga di dalamnya. Masa iya aku bisa langsung cinta sama mas Yoga? Gak mungkin, tapi aku gak bisa melupakan senyumannya yang manis, hangat bikin hati nyaman mirip kayak teh manis yang bisa menghangatkan disaat suasana dingin. Gubrak "Awsh!" Saking hanyutnya ke dalam senyuman manis Yoga, membuat Rere terjatuh dari atas tempat tidur.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook