Dua

1260 Words
Setelah menyelesaikan makan siang berdua, Rere dan Yoga menuju danau yang tak jauh dari restoran tempat mereka makan siang. Mereka duduk di bangku panjang yang terletak dibawah pohon yang cukup rindang. Keduanya terlihat bahagia? tentu saja karena mereka memutuskan untuk langsung menikah bulan depan. Mungkin bagi sebagian orang keputusan itu begitu cepat, bagaimana mungkin baru beberapa kali bertemu mereka memutuskan untuk langsung menikah. Rere memang belum mencintai Yoga, tapi berada didekatnya membuat ia merasa nyaman, aman dan bahagia dalam satu waktu. Ia yakin cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, tentunya setelah menikah mereka akan mempunyai banyak waktu bersama yang mana sangat memungkinkan untuk jatuh cinta. Sedangkan Yoga sendiri ia telah tertarik dengan Rere sejak pertemuan pertamanya. Wajar saja Yoga bisa langsung jatuh cinta dengan gadis yang cantik, ceria, baik, mandiri dan body nya yang bagaikan model. "Sah?" tanya Pak penghulu. "Sah." Dijawab kompak oleh saksi dan juga tamu undangan yang menyaksikan ijab kobul pernikahan Rere dan Yoga. "Alhamdulillah". Ketika kata sah diucapkan dengan tegas sekaligus lantang oleh para saksi dan juga tamu undangan, mempertegas telah bergantinya status Rere yang berubah menjadi istri dari Prayoga Putra. Senyum bahagia menghiasi wajah-wajah para tamu undangan, tanpa terkecuali kedua mempelai sekaligus para kedua orang tua. Hari ini pernikahan Rere dan Yoga dilaksanakan di rumah Rere. Hanya ijab kobul, sehingga tidak banyak tamu undangan, hanya ada beberapa keluarga dekat dan sahabat dari kedua mempelai. Sedangkan untuk resepsi rencananya akan diadakan di bulan berikutnya. Rere berjalan menuju ke arah sang suami diantar oleh Enyak dan Mama mertua. Rere mencium tangan suaminya dengan takzim, lalu sang suami mencium dalam kening Rere dilanjut dengan penyematan cincin oleh kedua mempelai. Setelah menandatangani buku nikah dan menyematkan cincin, tamu undangan dipersilahkan untuk mencicipi hidangan yang sudah disiapkan. "Aku merasa sangat bahagia," ucap Yoga setelah mencium punggung tangan Rere. Kini keduanya sedang berada di halaman belakang rumah, setelah sebelumnya menemui beberapa tamu dan juga para sahabatnya. Pipi Rere bersemu merah dan terasa panas. Tak munafik, ia juga merasakan kebahagian tersebut. Yoga menarik tangan Rere hanya untuk merapatkan tubuhnya, sedikit memajukan wajah dan memiringkan kepala, tak lama Rere merasakan bibir Yoga menempel sempurna dibibirnya. Ia merasakan lembutnya kecupan yang diberikan Yoga. Tak lama kecupan tersebut berubah menjadi lumatan dan entah sejak kapan bibir bawah Rere sudah dihisap cukup kencang. Terpaksa keduanya harus menyudahi kegiatan yang mampu membuat mereka seperti melayang karena terdengar dering ponsel Yoga. "Aku angkat dulu yah," ucap Yoga sambil mengambil ponselnya dan sedikit menjauh lalu menerima panggilan itu. Setelah menutup panggilan, Yoga segera menghampiri Rere. "Ada apa Mas?" Tanya Rere dengan nada khawatir karena Yoga terlihat gugup dan tergesa-gesa menghampirinya. "Maaf, a-aku harus pergi. Maksudku, aku dapat panggilan tugas ke Palestina dan itu tidak bisa aku tolak," ucap Yoga dengan raut wajah yang terlihat menyesal. Rere tersenyum kemudian membawa kedua tangan Yoga untuk dikecup secara lembut. "Gak apa-apa Mas, itu adalah tugas yang mulia dan sudah menjadi resiko buatku menjadi seorang istri tentara hehehe," ucap Rere dengan terkekeh supaya suasana tak begitu tegang. "Terima kasih, aku janji setelah selesai aku langsung pulang dan maaf harusnya setelah pernikahan ini aku masih mempunyai cuti lima hari," ucap Yoga penuh sesal. "Pergilah Mas, aku selalu menunggumu," lirih Rere dengan senyum tipisnya. Tari sahabat sekaligus sepupu dari Rere berjalan cepat sedikit berlari menuju kamar Rere. Setelah sampai ia langsung masuk mencari keberadaan sepupunya sambil mengatur nafasnya yang agak ngos-ngosan. Tak lama, pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah sosok yang dicarinya. Gadis berlesung Pipit itu langsung mendekati sepupunya demi meraih tangan Rere untuk dibimbing duduk di sofa yang terletak di sudut kamar. "Lu kagak papa Re?" tanya Tari dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Rere mengernyit, "memangnya kenapa?" "Gue denger Yoga pergi ke luar negeri, lu ditinggal di sini, udah kayak kucing aja abis dikawinin ditinggal pergi." Rere pun berdecak, "CK, nikah Tar nikah bukan kawin, lagian gue belom sempet dikawinin sama Mas Yoga." Ups "Oh iya ya, hehehee kasian banget sih sepupu gue ini abis ijab kobul belum sempet dicicipin langsung ditinggal pergi lakinya, mana lama lagi perginya, coba bayangin, sebulan loh," cibir Tari sambil menepuk-nepuk pundak Rere. Rere memutar bola matanya malas. "Seneng bener kayaknya." "Gue bukan seneng Re, justru gue prihatin sekaligus khawatir sama elu, takutnya elu depresi gitu abis nikah ditinggal gitu aja," ujar Tari mengungkapkan rasa simpatinya. "Sebulan mah bentar, anggap ini persiapan sebelum kita benar-benar tinggal satu rumah, lagi pula kita masih bisa komunikasi lewat telepon," jawab Rere. "Iya ... iya pokoknya gue cuma bisa doain semoga rumah tangga lu adem ayem kalo kata orang mah sakinah, mawadah, warohmah," ucap Tari tulus. "Aamiin," kompak keduanya. Sudah dua jam yang lalu Yoga berangkat melaksanakan tugasnya. Rere hanya bisa mengantar sampai gerbang rumahnya. Para tamu dan sanak sodara pun sudah undur diri hanya terisa mertua Rere dan sepupunya sekaligus sahabatnya ini. "Re," panggil Mama Wina diambang pintu kamar Rere. Rere dan Tari kompak menoleh. "Iya Tante," jawab Rere. "Mulai sekarang panggilannya diganti jadi mamah ya jangan tante lagi, 'kan kamu sekarang sudah menikah dengan Yoga jadi secara otomatis kamu sudah jadi anak Mamah dan Papah," ucap Mama Wina. "Oke, Mah," ucap Rere riang sambil mengerlingkan sebelah matanya. "Mamah mau ngomong berdua bisa?" tanya Mama Wina sambil melihat ke Rere dan Tari bergantian. "Oh, bisa kok Tante, aku gak bakal nguping. Kalau begitu Tari keluar dulu ya," sela Tari sebelum Rere sempat menjawab. Setelah Tari kaluar dari kamar, Mama Wina membuang kasar nafasnya. Dia berjalan menghampiri Rere dan duduk di sebelahnya. Membawa tangan Rere ke pangkuannya sambil mengelus pelan tangan menantunya. "Mamah harap kamu tidak kecewa dengan Yoga, karena itu memang sudah tugasnya dan tidak bisa ditolaknya," ucap Mamah Wina sambil tersenyum. Rere masih setia menyimak ucapan mertuanya, lalu wanita paruh baya itu pun melanjutkan ucapannya. "Menjadi tentara merupakan impiannya sejak kecil, jadi sebisa mungkin kami sebagai orang tuanya memberikan dukungan semaksimal mungkin, Mamah harap kamu juga mendukungnya. Setelah ini apa kamu sudah memikirkan akan tetap tinggal disini atau ikut dengan Mamah? Mamah berharap kamu mau tinggal dengan kami, biar Mamah ada temen ngobrol dan juga itung-itung supaya kamu terbiasa tinggal di rumah itu," imbuh Mama Wina panjang lebar. Rere tersenyum. "Rere gak pernah kecewa Mah, ini sudah jadi keputusan Rere menerima lamaran Mas Yoga yang pasti sudah tau konsekuensi dan resiko jadi istri tentara heheheee," jawab Rere sambil terkekeh. "Dan untuk masalah tempat tinggal, Rere dan Mas Yoga sepakat selama Mas Yoga bertugas Rere tetep tinggal disini, nanti setelah Mas Yoga pulang baru Rere pindah," ucap Rere tanpa ragu. "Rere sayang Mamah, Rere akan berusaha jadi istri sekaligus menantu idaman kalian, walaupun semua itu tidak mudah," ucap Rere sambil memeluk erat mertuanya. *** Setelah kepulangan mertua dan sepupunya, Rere memilih untuk menikmati langit malam dari balkon kamarnya. Menaruh harapan besar pada pernikahannya, meskipun pernikahan ini terjadi karena perjodohan, ia pun menginginkan pernikahan ini merupakan pernikahan pertama dan terakhir untuknya. Wanita mana yang tidak mendambakan hidup bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Dering ponsel terdengar nyaring sehingga mengusik ketenangan sang pemilik yang sedang bergelung di bawah selimut. Rere terlonjak lalu segera mengambil benda itu dari atas nakas, pada saat akan menggeser layar, dering pun berhenti. Rere memperhatikan panggilan masuk tersebut dari Mamah mertuanya. Jam di ponsel nya menunjukan pukul satu dini hari. Tidak berniat untuk melakukan panggilan balik, ia pun segera meletakan ponselnya kembali karena rasa kantuk yang tidak tertahan. Namun, sebelum ia berhasil meletakan ponselnya, kembali terdengar dering dari benda yang masih digenggamnya. Dengan segera ia menjawab panggilan. "Assalamualaikum Mah". Hening "Mamah, halo." Praaakkk Benda pipih yang Rere genggam itu meluncur dengan sempurna ke lantai. "Mbak, Mbak tidur apa gimana? Nyaman ya nempel di pundak saya?" ucap sang driver sambil terkekeh. "Ehh?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD