Sambil memijat pelipisnya Rere mengamati kalender di laptopnya. Tak terasa sudah dua bulan usia pernikahannya, selama itu pula ia menyandang status sebagai istri dari Prayoga putra. Ya, bagi Rere dirinya masih berstatus sebagai istri dari Prayoga putra walaupun itu hanyalah status karena ia sadar semenjak menikah ia pun belum pernah melakukan tugasnya sebagai seorang istri seperti istri-istri pada umumnya, walau hanya sekedar membuatkan minuman untuk sang suami.
Menghela nafas pelan, ia beralih ke secangkir teh di atas meja kerjanya yang diberi irisan lemon. Sebelum menyesapnya, ia menghirup terlebih dulu aroma khas minuman yang berwarna merah kecoklatan itu.
Memejamkan mata sejenak berusaha untuk tetap tenang dan menjaga pikirannya agar tetap terkontrol, ia pun menikmati sesapan pertamanya. Rasa nikmat yang menyegarkan ketika minuman itu menyapa indra penyecapnya dan berlalu melewati tenggorokannya.
Rere tersenyum dan membuka matanya, berdiri dari tempat duduknya menuju ke sebuah jendela dengan cangkir teh di tangannya. Melanjutkan sesapan berikutnya ia memperhatikan aktivitas di luar butik miliknya.
Jam sudah menunjukan pukul 16.30 namun, Rere masih betah berlama-lama di butik miliknya. Semenjak kepergian suaminya, Rere lebih banyak menghabiskan waktunya di butik, ia biasa pulang selepas maghrib, itu pun tidak langsung pulang ke rumah. Terkadang ia berlama-lama di cafe atau restoran hanya sekedar untuk ngopi sambil membaca novel online.
Menurutnya dengan menyendiri setidaknya bisa menenangkan pikirannya, bahkan biasanya sebelum menikah ia mengambil libur di hari Sabtu-Minggu, tapi sekarang hampir setiap hari waktunya ia habiskan di butik. Rere sengaja berbuat demikian demi menghindari keluhan Enyak yang dengan mudahnya terprovokasi oleh omongan tetangga.
Tidak sedikit orang disekitar rumahnya yang sering menggosipkan dirinya, baik itu secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan di depan Enyak dan Babeh, bahkan tak sungkan di depan dirinya secara langsung.
"Cekleekk".
Bunyi pintu dibuka membuyarkan lamunannya. Ia menoleh ke sumber suara. Disana Tari berdiri sambil memperlihatkan cengirannya.
"Lu mau balik bareng gak?" tanya Tari sambil masuk dan mengambil tasnya yang ia letakan di kursi kerjanya.
"Duluan aja, biasanya juga gitu," jawab Rere yang masih setia menikmati tehnya.
"Lu kagak bawa mobil 'kan? Naik taksi online?" tanya Tari beruntut.
Rere hanya mengangguk dan kemudian duduk di bangkunya setelah menaruh gelas di mejanya.
"Mau ngapain lagi sih? Kerjaan mah kagak ada beresnya, mau lu kerjain Ampe malem bahkan nginep juga kagak bakal kelar-kelar. Udah, mendingan lu sekarang pulang bareng gue, mumpung gue lagi baek nih nawarin tebengan."
"Ntar aja, biasanya juga gue keluar dari sini habis maghrib," jawab Rere kembali menekuni laptop di depannya.
"Ya sudah, gue balik duluan. Baek-baek ya, jangan sampe kesambet, repot ntar kagak ada yang nolongin," canda Tari sambil terkekeh.
"Udah sana, tau kan pintu keluarnya ada dimana?" ucap Rere sambil mengibaskan tangannya dengan maksud mengusir.
Tari mendengus, dan berlalu meninggalkan Rere sendiri di ruangannya. Butik ini diberi nama Re-Beautiq yang mempunyai tiga lantai, lantai pertama sebagai tempat untuk menaruh barang-barang yang baru datang, lantai kedua untuk display barang yang di jual, sehingga para pengunjung biasanya langsung menuju lantai dua untuk melihat barang yang akan dibelinya. Nah lantai tiga dibuat untuk kantornya. Di lantai tiga ini ada dua ruangan. Yang pertama merupakan ruang kerja Rere dan Tari sekaligus ruangan untuk menerima tamu. Sedangkan ruangan yang kedua merupakan ruangan untuk para karyawan Re-Beautiq.
"Drrtt ... drrtt ... drrtt."
Pertanda pesan masuk di ponsel miliknya. Segera Rere melihat ke arah ponsel tersebut. Mengernyit kan dahi. Ada beberapa pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. Segera ia membuka pesan itu dan membacanya.
[082112xxxxxx]
[Mbak, saya Arya yang udah bikin Mbak nyaman?]
[Canda Mbak ...]
[Cuma mau nawarin, pulangnya saya jemput mau?]
[Sekalian, 'kan rumah kita deketan]
Rere tanpa sadar tersenyum membaca pesan dari bocah yang tak lain tetangganya sendiri. Tak lama ada pesan lagi dari nomor yang sama.
[082112xxxxxx]
[Sayang]
Tidak ada lagi pesan lanjutan dari bocah itu. Rere cuma bisa geleng-geleng kepala heran bocah sekarang dengan gampangnya manggil sayang sama orang lain, terlebih orang itu lebih tua darinya, janda pula.
Rere mengabaikan pesan itu tanpa berniat untuk membalasnya. Memang tadi Arya sempat menawarkan diri untuk menjadi tukang ojeknya selama mobilnya masih berada di bengkel. Katanya lumayan dapet penghasilan mumpung lagi libur semester.
Arya yang diketahui sebagai seorang pelajar kelas XII merupakan tetangga dekat Rere, orang tua Rere pun dekat dengan keluarga Arya. Anaknya tengil, ramah, gampang bergaul, pintar juga karena dia selalu menjadi juara umum sejak kelas 1 SD. Dia juga tampan, pantas saja ia menjadi idola baik di rumah maupun di sekolahnya ya walaupun untuk ukuran pria Arya tidak terlalu tinggi tapi tidak juga pendek, jadi sedang-sedang saja.
Rere segera merapihkan meja kerjanya, menutup gorden jendela lalu beranjak ke kamar mandi hanya untuk cuci muka dan mengambil wudhu.
Setelahnya, ia segera melaksanakan kewajiban sholat Maghrib karena memang sudah waktunya. Seburuk apapun dirinya, Rere tidak pernah meninggalkan sholat atau pun kewajibannya sebagai orang yang beragam Islam, ya walaupun gak semua kewajibannya dilaksanakan, karena ia sadari bahwa ia masih jauh dari kata sholeha.
"Drrtt ... drrtt ... drrtt."
Pertanda ada pesan masuk.
Setelah merapikan peralatan sholatnya, ia segera membawa tasnya dan berjalan keluar. Berjalan menuruni tangga menuju pintu keluar sambil mengecek pesan yang baru saja masuk.
[082112xxxxxx]
[Maaf Mbak, pesan tadi ada lanjutannya kok]
[Sayang kalo jok belakang nganggur]
[Dari pada boncengin Mbak kunti]
[Mendingan boncengin Mbak ... cantik]
Setelah membaca pesan tadi, seperti yang sudah-sudah Rere kembali tak membalas pesan Arya, ia pun segera menutup pintu butiknya lalu menguncinya.
Saat membalikan badan ia pun dikejutkan dengan cengiran bocah tengil yang sudah berdiri di depannya.
"Astagfirullah."
"Ngapain lu berdiri disitu?" tanya Rere sambil mengusap usap dadanya karena masih syok melihat Arya yang tiba-tiba ada didepannya.
"Mau jemput Mbak lah," jawab Arya dengan percaya diri.
Rere memutar bola matanya dan mendengus.
"Emang gue jawab mau?"
"Karna Mbak gak balas pesan saya, jadi saya anggap Mbak mau hehehe," jawab Arya sambil menggaruk tengkuknya.
Rere pun nyelonong melewati Arya menuju ke taxi online yang sudah dipesannya. Masuk duduk di bangku belakang lalu menutup pintu tak menghiraukan Arya yang terus memanggil-manggil dirinya.
"Jalan pak," ucapnya kepada sang driver.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mobil yang ditumpangi Rere sudah berhenti di pelataran restoran favoritnya. Setelah membayar ongkos taksinya, Rere segera masuk ke dalam restoran itu. Seperti yang terlihat malam ini cukup ramai pengunjung, Rere mengedarkan matanya untuk mencari meja yang kosong.
Tak lama ia pun melihat meja kosong yang ada di ujung dan dekat dengan jendela. Beruntung sekali dirinya karena tempat favoritnya tidak ditempati orang lain.
Bergegas menuju tempat favoritnya, tanpa ragu segera menyandarkan punggungnya, sengaja ia memejamkan matanya dan juga sedikit memijat pangkal hidung.
Beberapa menit kemudian pelayan menghampirinya dan menanyakan pesanan yang diinginkan. Rere hanya memesan hot chocolate, minuman favorit kedua setelah teh dengan irisan lemon tentunya. Restoran ini merupakan restoran khusus menyediakan makanan dan minuman yang terbuat dari coklat.
"Mbak, boleh kan saya ikut gabung disini? Semua meja penuh, hanya meja ini aja yang masih menyisakan satu bangku," ucap Arya yang tiba-tiba berada di depan Rere sehingga membuat Rere terkejut untuk yang kedua kalinya. Arya langsung menarik bangku dan duduk dengan tenang tanpa menunggu jawaban Rere.
Rere cuma bisa mendengus dan melanjutkan kegiatannya melihat foto-foto desain baju yang dikirimkan oleh seseorang.
"Mbak dari tadi diem aja, lagi sariawan ya? Apa emang Mbak ini tipe pencuri?" tanya Arya sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Rere mengernyit. Seolah tau apa yang ada dipikirkan Rere maka Arya langsung menjelaskan supaya tidak terjadi salah paham.
"Tipe pencuri itu lebih banyak bekerja dibanding berbicara."
Setelah menyimak penjelasan Arya, Rere kembali sibuk dengan ponselnya. Rere memang lebih banyak diam semenjak kepergian suaminya. Tak lama pesanan mereka pun datang.
"Wah jodoh kita Mbak, pesanan kita aja sehati," ujar Arya senang.
Ya jelas dong sehati, sebelum Arya menghampiri Rere di mejanya ia terlebih dulu menghampiri pelayan yang membawa list pesanan Rere, dan menanyakan pesanan Rere lalu ia pun meminta pelayan untuk menyamakan pesanannya dan diantarkan ke meja yang Rere tempati.
Bisa aja emang si Arya ini.
Mendengar perkataan itu Rere pun melihat ke arah pesanan mereka secara bergantian. Setelah menikmati sedikit minumannya, Rere menegakan tubuhnya dan melipat kedua tangganya di depan sedangkan matanya mengamati sosok yang duduk di depannya.
"Ada perlu apa lu temuin gue? Lu berniat jadi tukang ojek gue?" tanya Rere dengan mencebikan bibirnya.
"Bukannya lu masih sekolah?" tanya nya lagi.
"Kan tadi saya udah bilang Mbak, kalo lagi liburan semester," jawab Arya sambil menikmati coklat panasnya.
"Bokap Nyokap lu kan kaya ngapain juga lu ngelamar jadi tukang ojek gue," tukas Rere ketus.
"Yang kaya kan orang tua saya Mbak, saya mah belum. Tapi tenang aja tiga atau empat tahun lagi udah bisalah ngasih uang belanja istri."
"Emang ...."
"Iya," jawab Arya cepat.
"Gue peduli?" lanjut Rere.
"Mulai sekarang saya sarankan harus peduli Mbak," jawab Arya sambil tersenyum sekaligus menahan tawa.
Rere sebenarnya masih enggan pulang ke rumah, tapi karna dia juga malas meladeni bocah di hadapannya ini maka, dengan segera ia menghabiskan hot chocolate nya. Mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah lalu diletakkannya di atas meja.
"Kali ini gue yang traktir," kata Rere sambil berdiri dan menenteng tasnya.
Arya yang mendengar itu dan mengetahui bahwa wanita di depannya ini akan segera pulang maka dengan cepat ia menghabiskan minumannya.
"Ah," suara nikmat yang keluar dari mulut Arya.
"Kali ini? Emm, ada kesempatan kali kedua kah?" tanya Arya sambil mengerlingkan matanya dengan jahil.
"Oke, lain kali aku yang bakal traktir Mbak," ujarnya lagi sambil mengekor Rere yang sudah lebih dulu berjalan ke luar restoran.
"Pulang bareng yuk Mbak, itung-itung ucapan terima kasih karena udah ditraktir, bagaimana?" todong Arya.
Rere tampak menimbang tawaran Arya. Baiklah untuk sekarang dia terima tawaran bocah ini. Mungkin nanti setelah sampai rumah ia akan memperingati bocah itu supaya tidak perlu repot-repot untuk menawarkan tumpangan kepadanya. Setelah sampai rumah ia akan peringati. "Oke untuk saat ini saja," tekad Rere dalam hati.
"Emang lu bawa helm cadangan?" tanya Rere kemudian.
"Tenang Mbak, helm selalu stand by untuk Mbak cantik," ujar Arya yang langsung membuka jok motor mengeluarkan helm dan memberikannya kepada Rere.
Rere menerima helm itu dan segera memakainya. Arya pun sudah siap di atas motor dan menyuruh Rere untuk segera naik. Rere pun segera naik dan duduk dengan menaruh tas diantara mereka sebagai pembatas.
"Ready Mbak?"
"Udah buru jalan."
Mereka pun akhirnya berboncengan dan meninggalkan restoran itu. Setelah sekitar 30 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di depan gerbang rumah Rere.
Rere segera turun dan membuka helm lalu menyerahkannya ke Arya.
"Thanks," ucapnya singkat.
"Sama-sama Mbak," jawab Arya sambil tersenyum lebar.
Saat akan membuka gerbang terdengar bisik-bisik dari dua ibu-ibu yang sedang berdiri di dekat pos satpam, karena kebetulan rumah Rere tak jauh dari pos satpam.
"Semenjak suaminya meninggal pulangnya malem terus."
"Banyak kerjaan mungkin."
"Alah, paling juga mejeng dulu."
"Jahe gitu loh."
"Itu buktinya udah ada yang nganterin aja."
"Iya, mana kayaknya lebih muda ya."
"Eh! Itu bukannya Arya? Wah jahe doyannya sama berondong."