37

882 Words

"Selamat untuk kalian. Sayang sekali keinginan Vian tak bisa dipenuhi." Sherin terdiam mendengar itu. Rasanya, geli sendiri mendengar Dilla bicara, menjadikan Vian sebagai alasan. Apakah wanita tersebut belum tahu kalau anak-anaknya terutama Vian sudah menyadari semuanya? Atau pura-pura tak tahu hanya untuk membuat Sherin risih dan merasa terganggu? "Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk hadir." Sherin berucap seraya tersenyum. Berusaha untuk tak terpancing emosi. Ini adalah hari pernikahannya, hari paling bahagia untuknya, hari paling spesial. Jadi, Sherin tak mau semuanya hancur berantakan hanya karena mantan istri suaminya. Dilla memaksakan senyum, melihat Sherin tersenyum datar padanya. Tak menyangka respon Sherin akan setenang itu. Dan ya, dia memang ingin memancing emosi pasa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD