5. Cukup Dijadikan Sahabat

1901 Words
Ofelia segera menarik tangannya yang sedang menggenggam tangan Daryl, membuat tangan laki-laki itu terjatuh di atas pahanya. Dia hanya bisa tersenyum kikuk ketika beradu tatap dengannya. "Sorry," sesalnya. Daryl sendiri segera menarik tangannya yang sedang berada di atas paha Ofelia. Dia mengangguk dan mengalihkan pandangannya dari menatap gadis itu. "Gimana perasaan lo sekarang?" tanya Daryl sembari menyerahkan sebotol air mineral pada Ofelia. "I'am fine. Thanks ya," jawab Ofelia setelah meneguk air minum dari botol pemberian Daryl secara perlahan. "Masih panik? Atau ada hal lain yang bikin lo nggak nyaman?" Ofelia menggeleng pelan. "Keep to remain in good condition," ujar Daryl. Laki-laki itu lalu mengecek Tag Heuer Formula 1 di tangan kanannya yang kini menunjukkan pukul 11.30. "Dua jam lagi kita landing," sambungnya, berusaha menyemangati Ofelia. Ofelia mengangguk patuh. "Iya, gue kuat. Emang udah paling bener kalau gue itu. Tapi sekarang sama sekali udah nggak ngantuk," ucapnya, dengan ekspresi seperti orang gelisah. Daryl berusaha membuat Ofelia tetap tenang. Dia meminta Ofelia menarik napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan seperti yang diarahkannya saat ini. Cara itu mampu menenangkan gejolak di perut dan debaran kencang di jantungnya. Ofelia melakukan hal yang sama secara berulang sebanyak tiga kali. Akhirnya rasa tidak nyaman yang menyelimuti tubuh dan pikirannya itu kini sudah pergi. "Jadi, lo tinggal di Jepang sejak tamat SMA? You took both bachelor and master degrees in Japan? Dan lo memutuskan kembali ke Indonesia sepuluh tahun kemudian. Why?" tanya Daryl tiba-tiba. Meski terkejut dengan pertanyaan random itu, Ofelia menganggapnya sebagai upaya Daryl untuk mengalihkan pikirannya dari rasa khawatir dan serangan panik. Ofelia menanggapi pertanyaan itu dengan sebuah anggukan dan satu senyuman. "Yup. Kalau kenapanya, karena gue pikir Jepang tempat yang menarik untuk jadi tujuan gue menuntut ilmu." Padahal bukan itu alasan yang sebenarnya. "Kalau kita seumuran harusnya lo menyelesaikan master degrees setidaknya tiga atau empat tahun yang lalu nggak, sih? Tapi kenapa lo masih menetap setelahnya?" "Iya, gue sempat kerja di sebuah perusahaan bioteknologi milik Jepang. Akhir-akhir ini situasi tempat kerja gue mulai nggak kondusif. Gue mulai merasa baik badan maupun mental mulai nggak sehat, ditambah dengan sistem dan ritme kerja orang-orang Jepang. So yeah, daripada gue berakhir bunuh diri seperti yang sudah-sudah, mending gue buru-buru melarikan diri aja. Kembali ke tanah air bukan pilihan yang buruk-buruk banget menurut gue," jelas Ofelia. Kalau dipikir-pikir situasi kehidupan Ofelia ini tidak jauh-jauh dari dua kata lucu yakni melarikan diri. Jika dulu dia ke Jepang untuk melarikan diri dari sang cinta pertama yang sebetulnya tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengejarnya. Sepuluh tahun kemudian gadis itu kembali melarikan diri karena tak mau terjebak di negara lain seorang diri. Daryl mengangguk beberapa kali memahami penjelasan Ofelia. "Jadi menurut lo presure kerja di Jakarta nggak separah di Jepang?" tanyanya lagi. "I mean nggak lebih baik juga, sih. Minimal kalau di Jakarta gue nggak sendirian menghadapi presure kerja. Masih ada orang tua, kakak-kakak gue, sahabat-sahabat gue dan lingkungan keluarga gue yang lain." "Setuju, sih. Apalagi lo anak bontot dan perempuan ya, kan? Pasti orang tua juga nuntut lo buat anteng di rumah." "Nuntut sih, nggak juga. Cuma, Nyokap gue pernah bilang gini ke gue, 'Dedek nggak apa-apa jadi perawan tua, asal jangan ngabisin masa hidup Dedek di Jepang', waktu gue diskusi sama orang tua gue soal rencana mau mencoba sekali lagi melanjutkan hidup di Jepang," cerita Ofelia menirukan kata-kata yang pernah diucapkan ibunya dulu ketika Ofelia ingin tinggal lebih lama lagi di Jepang. Daryl menahan tawa mendengar cerita Ofelia yang satu itu. Dia begitu merasa terhibur setiap kali mendengar cerita random dari Ofelia. Menurutnya Ofelia adalah gadis yang lucu, atraktif, menarik, dan menggemaskan. Ya, meski terkadang ekspresi juteknya sulit dikendalikan ketika bertemu dengan orang baru. Ada banyak hal yang begitu ingin diketahui oleh Daryl dari kehidupan seorang Ofelia. Bukan sekadar penasaran biasa seperti yang ia rasakan pada gadis-gadis yang pernah ia temui selama 27 tahun hidupnya. Dimana rasa penasaran itu menguap begitu saja ketika sang gadis telah mengumbar seluruh jati dirinya pada Daryl atas kemauannya sendiri. Sementara Ofelia, sepertinya Daryl perlu usaha lebih untuk mencari tahu tentangnya. Baginya Ofelia bukan sekadar gadis cantik yang mudah didapatkan. Menurutnya Ofelia adalah gadis cerdas yang bisa diajak mengobrol tentang masa depan. Minimal bisa dibuat untuk menjalin hubungan jangka panjang. "Lo sendiri ambil gelar sarjana dan magister di mana? Jurusan apa?" tanya Ofelia. "Sebenarnya gue dari SMA di Amerika. SMA di Texas. Trus gue ambil sarjana sekaligus magister jurusan psikologi dengan bidang ilmu psikologi bisnis di Columbia University." Ofelia berdecak pelan. "Ternyata lo lebih parah dari gue dalam hal menghabiskan banyak waktu di negara orang," komentarnya. "Kalau gue lebih ke tuntutan pekerjaan orang tua. Gue sekolah dan kuliah di Amerika juga karena ikut orang tua yang sempat mindahin pusat bisnisnya ke sana. Tapi sepertinya mereka sudah lelah sampai akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mengembangkan bisnisnya di tanah kelahirannya sendiri. Apalagi gue juga kurang tertarik sama bisnis orang tua gue. Gue lebih suka mikir pekerjaan ketimbang bisnis. Gue lebih nyaman menjadi seorang eksekutif muda daripada seorang pengusaha. Dan Riilfud adalah penyelamat gue untuk melepaskan diri dari bisnis keluarga." "Jadi sebelum kembali ke Indo lo udah sempat kerja di DC?" "Yup, just like you. Di sana gue kerja di perusahaan serupa dengan Riilfud setelah lulus kuliah." Ofelia mengangguk paham. "Anyway..., lo blasteran ya?" tanyanya ragu. "Exactly... Bokap Prancis, nyokap Betawi. Why?" Kemudian hening selama beberapa saat. Tebakan Ofelia lagi-lagi benar soal Daryl. Laki-laki itu pasti bukan Indonesia tulen seperti dirinya. Pantas saja wajahnya luar biasa tampan. Bukan tampan yang dipaksakan supaya mendapat pengakuan dari orang bahwa dirinya tampan. Sejujurnya Ofelia tidak punya alasan untuk tidak menyukai setiap detail dalam tubuh Daryl. Mulai dari wajah, postur hingga gestur tubuhnya. Semua berada dalam porsi yang pas. Tidak berlebihan apalagi dibuat-buat atau dipaksakan agar terlihat mempesona. "Nggak kenapa-kenapa. Cuma nebak aja. Soalnya kelihatan kayak ada bule-bulenya pas pertama kali kita ketemu." Daryl mengulum senyum mendengar penjelasn Ofelia. "Lo sendiri? Purely Indonesian, right?" tanya Daryl yang juga ingin tahu soal Ofelia. "Off course, yes," jawab Ofelia sambil tertawa kecil. "Nggak lihat hidung gue mancung ke dalam?" candanya. Detik itu juga tawa Daryl pecah. Gadis itu benar-benar membuatnya lupa pada apa itu yang namanya jaga image. Dia bahkan tak pedulia ketika kepala orang-orang di sekitar mereka berputar ke arah mereka untuk mencari sumber suara. Dia merasa bisa menjadi dirinya sendiri ketika bersama Ofelia. Sementara Ofelia tidak mampu berbuat apa pun untuk menghentikan tawa lepas Daryl. "Mancung ke dalam nggak tuh?" ucap Daryl setelah tawanya mulai mereda. "But it's not big problem. Mancung ke dalam juga nggak kalah cute, kok. Lo tetap manis dengan Indonesian face look lo itu." "Bisa aja lo, bule. Manis banget omongan lo kayak bubur sumsum," ucap Ofelia sambil terkekeh kemudian memperbaiki posisi duduknya. Daryl tertawa lagi. Namun kali ini tawanya lebih teratur karena Ofelia sudah memberinya peringatan lewat pelototan. "Berarti keluarga lo asli Jakarta kayak nyokap gue?" tanya Daryl mengembalikan topik utama pembahasan mereka sebelumnya. "No, gue sama sekali nggak ada Jakarta-Jakartanya. Bokap gue dari Kediri Jawa Timur, nyokap gue Bone Sulawesi Selatan. Gue lahir dan menghabiskan masa kecil di Bone. Usia enam tahun baru diboyong ke Jakarta. SD sampai SMA di Jakarta. Kuliah di Jepang. And then, now here i am," jelas Ofelia. Daryl tersenyum mendengar penjelasan Ofelia. Sementara itu Ofelia justru bingung dengan senyuman yang dilemparkan oleh Daryl padanya. Namun kali ini efeknya tidak seperti sebelum-sebelumnya. Reaksi keterkejutan yang dirasakan oleh Ofelia akibat senyum Daryl mulai memudar. Sepertinya dia mulai beradaptasi pada wajah penuh pesona milik laki-laki itu. "Gue jadi penasaran kayak gimana masa remaja lo," ucap Daryl. "Hidup gue dari dulu sampai sekarang lempeng dan datar-datar aja. Mungkin bagi kebanyakan orang membosankan, tapi bagi gue indah-indah aja." Dan Shayne adalah hal terindah yang pernah Tuhan kirimkan dalam kehidupan gue, sambung Ofelia dalam hatinya. "Someday lo akan menemukan seseorang yang membuat hidup lo nggak datar lagi, dan justru lebih indah dari hal terindah yang pernah Tuhan kirim di kehidupan lo," ucap Daryl. Ofelia terkejut mendengar rentetan kalimat yang diucapkan oleh Daryl. Seolah bisa membaca pikirannya. Namun kemudian dia tersadar oleh sesuatu. "Gue lupa kalau lo anak psikologi," ujarnya. "Next time gue akan lebih hati-hati kalau bicara sama lo. Kayaknya lo juga punya sixth Sense." "Apa lo bilang?" tanya Daryl tak mengerti maksud ucapan Ofelia. "Nothing... Lupain aja," balas Ofelia. Sebenarnya Daryl ingin menanyakan beberapa hal lagi terkait ucapan Ofelia yang terakhir. Namun urung setelah terdengar suara cabin crew yang menyampaikan informasi supaya para penumpang bersiap, karena pesawat yang mereka tumpangi sesaat lagi akan mendarat di Dusseldorf. Ofelia dan rekan-rekan peserta pelatihan lainnya sampai di Dusseldorf International Airport siang hari. Dari bandara mereka mendapatkan perjalanan yang lancar menuju hotel. Salah satu staf Riilfud di sana yang datang menjemput. Sehingga mereka tidak perlu repot-repot memikirkan alat transportasi apa yang harus digunakan selanjutnya. Wajah lelah tercetak jelas di wajah masing-masing. Namun mereka semua masih tetap bersemangat untuk menyambut serangkaian aktivitas training yang diadakan oleh perusahaan selama tujuh hari ke depan. Ofelia sendiri juga tampak antusias menatap semua hal yang dilihatnya sepanjang perjalanan menuju hotel. Sampai-sampai ia melupakan ada Daryl yang kini sedang duduk di sampingnya dan terus memandang ke arahnya. Ofelia baru sadar kalau Daryl sedang memerhatikannya pada saat hendak mengambil ponsel dari dalam tas. "What happen?" tanya Ofelia bingung. "Nothing," jawab Daryl santai. Tiba-tiba saja Daryl mengulum senyum. Ofelia hanya menggeleng heran lalu menahan senyum dan memalingkan wajahnya. Kalau tadi senyum Daryl yang membuatnya gelisah. Kini tatapan laki-laki itu yang mengganggu debaran jantungnya. Beruntung Daryl hanya kepergok memandanginya. Laki-laki itu tidak mengajak Ofelia bicara. Dia seolah tahu kalau Ofelia saat ini sedang menikmati perjalanannya. Sesampainya di hotel staf yang menjemput Ofelia meminta kartu kunci sebagai akses untuk masuk ke kamar. Mereka mendapatkan 3 kamar dengan masing-masing kamar untuk dua orang. Setelah sepakat dengan pilihan kamar beserta teman sekamar mereka semua menuju kamar masing-masing. Semuanya sepakat akan bertemu kembali saat makan malam. Hari-hari berikutnya mereka menghabiskan waktu selama satu minggu ke depan untuk mengikuti pelatihan kerja sesuai divisi masing-masing. Ofelia dan dua rekan peserta pelatihan lainnya sibuk dengan divisi produksi, sementara Daryl dan dua rekannya bergabung dengan divisi bisnis. Mereka tidak pernah saling bertemu selama acara training berlangsung. Berangkat pukul delapan pagi dan kembali ke hotel pukul enam sore. Setelah itu belajar lagi untuk persiapan tes materi yang didapatkan hari itu di keesokan harinya. Kendati semuanya sibuk dengan pelatihan kerja masing-masing, Daryl selalu memiliki waktu untuk bertemu bahkan menggunakan waktu semaksimal mungkin bersama Ofelia. Laki-laki itu selalu menyempatkan diri menjemput Ofelia di kamarnya kemudian sarapan bersama dan mengantar Ofelia ke lokasi pelatihan divisi produksi yang tidak sejalan dengan lokasi pelatihan divisi bisnis. Ketika jam makan siang Daryl akan menemui Ofelia di lokasi training divisi produksi dan mengajak gadis itu makan siang bersama. Tak cukup waktu bertemu dari pagi dan siang hari, Daryl akan menemui Ofelia di kamarnya saat malam untuk mengajak sahabat barunya itu makan malam bersama. Kedekatan mereka selama pelatihan kerja membuat Daryl lebih terkenal di kalangan rekan-rekan divisi produksi ketimbang divisi bisnis sendiri. Hal itu dikarenakan saat ada waktu senggang selalu dihabiskan untuk bersama Ofelia. Saat waktu pelatihan kerja berakhir Ofelia dan Daryl seolah tak terpisahkan. Keduanya terus menempel seperti sepasang kekasih yang baru saja menjalin hubungan kemesraan. Bedanya mereka tidak menunjukkan gelagat kemesraan yang berlebihan layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Keduanya cenderung seperti kembar siam yang tak terpisahkan. Perlakuan Daryl di pesawat saat kembali ke Indonesia tak ada bedanya dengan ketika perjalanan berangkat ke Jerman. Bahkan cenderung lebih perhatian dan peka dibanding sebelumnya karena Daryl sudah mulai hapal kebiasaan-kebiasaan Ofelia saat penerbangan. ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD