Pesawat yang membawa Ofelia dan kawan-kawan telah lepas landas selama lima belas menit. Critical eleven terlewati tanpa drama berarti bagi Ofelia yang terkadang masih mengalami mabuk udara meski bukan untuk pertama kalinya menggunakan alat transportasi udara. Ofelia masih diam mencoba menenangkan dan meyakinkan dirinya bahwa penerbangan akan berlangsung dengan lancar hingga mendarat nanti.
“Are you okay, Fe?” tanya Daryl sambil meremas pelan pundak Ofelia.
Mendapat sentuhan tiba-tiba seperti itu Ofelia refleks menoleh. Ia buru-buru mengangguk dan mengulas senyum untuk meyakinkan jawabannya itu. Sebenarnya Ofelia bukan pertama kalinya melakukan skinsip sederhana seperti ini dengan seorang laki-laki dewasa. Namun entah kenapa dia merasa seperti mendapatkan sengatan listrik setiap kali Daryl menyentuh anggota tubuhnya. Padahal ia jelas-jelas tahu Daryl tidak mungkin menggunakan hasrat laki-laki ketika menyentuhnya. Dia ingin meneriaki dirinya supaya sadar kalau Daryl memberikan sentuhan itu karena khawatir dan mencemaskan kondisi rekan kerjanya, bukannya mau merayunya.
Apa itu pertanda Ofelia mulai terpikat pada pesona Daryl. Demi Tuhan, Ofelia benar-benar ingin memukul kepalanya sendiri kali ini agar tidak melanjutkan pemikiran gilanya itu, karena sudah bisa dipastikan Daryl tidak akan pernah membalasnya. Ofelia yakin seribu persen akan hal itu.
Untuk menutupi perasaan gugupnya Ofelia memutuskan untuk segera membuat dirinya tertidur. Kali ini bukan untuk menghilangkan rasa mabuk perjalanan, melainkan untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang bersemayam di kepalanya. Setidaknya dia punya waktu kurang lebih delapan jam sebelum sampai Dubai untuk transit dan ganti pesawat lalu melanjutkan perjalanan menuju Düsseldorf. Beruntung Daryl yang sudah mengerti kondisinya tidak mengganggu sama sekali. Sehingga membuat Ofelia bisa tidur pulas dari Jakarta ke Dubai.
Setibanya di Dubai Ofelia harus transit di bandara Dubai dan menunggu hingga pagi sebelum berganti pesawat terbang untuk melakukan penerbangan lanjutan. Setelah keluar dari pesawat dan mengeluarkan semua barang bawaan dari Jakarta tanpa melupakan apa pun, Ofelia memutuskan untuk menghabiskan waktu transit di bandara saja. Apalagi waktu ketika mereka tiba adalah tengah malam. Merupakan waktu yang tepat untuk beristirahat dan mengumpulkan energi di penerbangan berikutnya.
Daryl mengajak Ofelia dan yang lainnya untuk menunggu di Emirates Business Class Lounge yang terletak di Councourse B Terminal 3 DXB. Ruang tunggu kelas bisnis Emirates terletak di lantai dua terminal dan dapat diakses dengan eskalator atau lift jika membawa tas atau butuh tumpangan. Begitu sampai di lantai dua akan menemukan beberapa gerbang otomatis untuk memindai boarding pass. Staf Emirates juga telah siap memberikan bantuan dan panduan sesuai kebutuhan.
Ruang tunggu itu menawarkan berbagai pilihan tempat duduk, mulai dari ruang pribadi yang nyaman hingga area komunal yang lebih luas. Kursi dan sofa mewah menciptakan area yang nyaman untuk bersantai atau bekerja, sementara meja kerja yang ergonomis memenuhi kebutuhan mereka yang membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk bekerja.
Setelah berkeliling sebentar Daryl memutuskan untuk menunggu di area istirahat yang tenang. Di area tersebut menyediakan tempat berlindung bagi para penumpang yang lelah. Baik itu tidur sebentar di sudut yang tenang atau berbaring di salah satu pod yang nyaman. Area istirahat itu menawarkan suasana untuk istirahat yang tenang dari hiruk pikuk bandara.
Meski sedang tidak berada di pesawat terbang Daryl memutuskan untuk tetap mendampingi Ofelia. Dia sama sekali tidak beranjak dari sisi Ofelia supaya selalu sedia kapan saja Ofelia membutuhkan dirinya. Ofelia tidak merasa keberatan karena saat perjalanan dari Jakarta Daryl sama sekali tidak mengganggunya. Bahkan ketika sudah berada di lounge bandara Dubai, belum ada obrolan panjang lagi di antara keduanya. Kendati begitu baik Ofelia maupun Daryl merasa nyaman berada dalam kondisi hening seperti ini. Sesekali Daryl melihat ke arah Ofelia seolah ingin memastikan gadis itu sedang berada dalam kondisi baik-baik atau mungkin membutuhkan sedikit bantuannya.
“Lo lapar nggak, Fe?” tanya Daryl melihat ke arah Ofelia yang sedang meregangkan otot-ototnya.
Ofelia mengangguk cepat. Detik itu juga Daryl bangkit dari tempat duduknya. Dia lalu mengajak Ofelia ke bagian makanan yang masih berada di Emirates lounge. Prasmanan yang lengkap dan menyajikan berbagai pilihan kuliner internasional menanti mereka. Dari hidangan pembuka, utama hingga penutup semuanya tersaji di sana. Menu yang dipilih oleh Ofelia untuk makan malamnya adalah ayam mentega, kopi Costa, es krim, dan beberapa hidangan penutup khas Timur Tengah seperti basbousa dan baklava. Daryl tampak senang melihat Ofelia lebih menikmati perjalanannya dibanding ketika di pesawat dimana gadis itu lebih memilih tidur nyenyak.
“Ngomong-ngomong lo kenapa suka panggil gue dengan sebutan Fe?” tanya Ofelia iseng sembari menikmati kudapannya.
“Suka aja. Terdengar lebih praktis dan menggemaskan,” ucap Daryl dengan tersenyum simpul. “Kenapa? Lo nggak suka?”
“Bukan nggak suka. I mean kayak asing aja. Selama ini orang-orang ya, panggil gue dengan nama Ofelia. Nggak disingkat-singkat kayak lo itu.”
“Kalau di rumah? Memangnya nggak ada panggilan khusus?”
“Kalau di rumah gue dipanggil Dedek sama semua anggota keluarga gue,” ucap Ofelia sambil meringis malu. Terkadang dia mulai merasa risih dipanggil Dedek di usianya yang sudah melewati seperempat abad itu. Namun entah kenapa semakin dia merasakan hal seperti itu, kedua kakaknya justru semakin gencar memanggilnya Dedek. Bahkan ketika mereka berada di ruang publik sang kakak terang-terangan memanggilnya dengan nama itu.
“Oh, ya? So cute. Dedek?” ucap Daryl sembari terkekeh pelan.
“Udahlah, nggak usah dibahas lagi. Malu banget gue,” ucap Ofelia kemudian bangkit dari tempat duduknya untuk mencuci tangan.
“Dedek mau ke mana?” tanya Daryl dengan nada bercanda hendak menggoda Ofelia.
“Please, deh! Dedek banget nggak tuh?” balas Ofelia sambil menggeleng geli mendengar panggilan Dedek untuknya dari orang-orang yang bukan merupakan anggota keluarganya. Daryl sendiri hanya terkekeh melihat ekspresi sebal tapi menggemaskan yang ditunjukkan oleh Ofelia.
Setelah makan malam mereka memutuskan segera kembali ke area istirahat. Tak ada obrolan lagi diantara keduanya. Ofelia memutuskan untuk tidur karena jam tangannya yang masih menunjukkan waktu Jakarta sudah mengarah ke angka pukul tiga dini hari. Daryl sendiri juga sepertinya sudah sangat mengantuk. Terbukti laki-laki itu sudah lebih dulu terlelap dibanding dirinya.
Wajah Daryl ketika tidur membuat Ofelia menyunggingkan senyum. Wajahnya yang begitu manly berubah jadi polos, bibirnya sedikit terbuka dan mengeluarkan dengkuran halus. Kendati begitu sama sekali tidak membuatnya terlihat jelek.
Ketika Daryl sedang dalam posisi menutup mata seperti ini membuat Ofelia teringat pada wajah seseorang yang telah lama tak dilihatnya dan bahkan tidak ia ketahui dimana keberadaannya. Sosok laki-laki yang masih menjadi penghuni tetap di ruang hatinya meski waktu telah berlalu selama kurang lebih sepuluh tahun dari sejak terakhir kali ia melihatnya. Ingin rasanya Ofelia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Daryl dan berharap wajah yang kini memenuhi kepalanya itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Namun belum sempat Ofelia melakukan kegilaan itu, kedua matanya terpejam dan ia pun menyusul Daryl ke alam mimpi.
Ofelia merasa tidurnya tidak terlalu nyenyak seperti saat di pesawat. Tubuhnya bergerak gelisah karena laki-laki yang merupakan cinta pertamanya datang di mimpinya. Ia melihat laki-laki itu terus menatapnya dari kejauhan sambil berjalan pelan ke arahnya. Ia ingin melarikan diri akan tetapi tubuhnya seperti berada di jalan buntu sehingga membuatnya tidak bisa bergerak kemanapun. Ofelia berusaha membuka matanya sebelum laki-laki itu semakin dekat padanya. Ia belum mempersiapkan diri bertemu dengan laki-laki itu meski dalam mimpi sekalipun.
Beberapa saat kemudian Ofelia berhasil membuka matanya. Dia terkejut ketika kedua matanya beradu tatap dengan Daryl yang kini terlihat begitu fokus menatapnya.
“Ada apa?” tanya Ofelia setelah memperbaiki posisi duduknya yang sedikit merosot.
“Everything is okay? Gue perhatiin lo kayak gelisah waktu tidur tadi. Lo mimpi buruk? Atau efek dari motion sickness?”
Ofelia menggeleng pelan. “Cuma bunga tidur. Gue baik-baik aja.”
“Kalau butuh sesuatu bilang gue. Atau ada hal yang bikin lo nggak nyaman sampaikan ke gue. Mungkin ada sedikit bantuan yang bisa gue berikan buat lo.”
“Big thanks. Tapi gue beneran baik-baik aja, kok,” ucap Ofelia pasti, untuk menghentikan perdebatan kecil di antara mereka soal kondisi Ofelia ketika tidur beberapa saat yang lalu. Tidak mungkin juga Ofelia menceritakan semua hal yang ia mimpikan pada Daryl. Apa kata dunia jika dia nekat melakukannya?
Tak ada sanggahan lagi dari Daryl karena dirasa Ofelia sangat enggan membahas soal kondisi tidurnya. Ia lalu membiarkan Ofelia pamit untuk mandi di fasilitas kamar mandi yang disediakan oleh Emirates Lounge.
Setelah menyegarkan diri Ofelia kembali ke area istirahat. Dilihatnya Daryl juga baru saja selesai mandi seperti dirinya. Kini keduanya bersiap untuk melanjutkan penerbangan berikutnya menuju Jerman.
Di penerbangan kedua lagi-lagi Daryl memilih untuk bertukar tempat duduk dengan peserta pelatihan lain agar bisa duduk di samping Ofelia. Ofelia sendiri hanya tersenyum dan menatap takjub dengan kelakuan teman barunya itu. Ofelia juga merasa tidak keberatan karena firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu hal yang tidak menyenangkan di penerbangan lanjutan. Rasa khawatir dan tanda panik kembali memenuhi pikirannya. Ia tidak mungkin meminta bantuan tertentu pada orang yang bahkan tidak terlibat interaksi cukup intens seperti yang terjadi antara dirinya dengan Daryl.
Selama dua jam penerbangan keduanya terlibat percakapan yang mengalir begitu saja. Ada saja topik pembicaraan yang bisa mereka bahas untuk terus melanjutkan obrolan agar tidak terjadi jeda yang menyebabkan terciptanya situasi canggung. Mulai dari obrolan seputar pengalaman pendidikan masing-masing yang ternyata sesuai tebakan Ofelia di awal saat menerima tawaran Daryl untuk berbicara santai, bahwa mereka satu angkatan. Usia mereka hanya terpaut sekitar empat bulan lebih tua Ofelia tapi beda tahun. Dimana Ofelia adalah seorang Scorpio dan Daryl dinaungi zodiak Aquarius. Selanjutnya mereka juga bercerita soal pengalaman-pengalaman terbang masing-masing yang terkadang juga dipenuhi drama mabuk perjalanan meski bukan pengalaman terbang pertama.
“Lo suka dengerin musik genre apa?” tanya Daryl.
“Apa aja kecuali musik rock and metal. Bukan karena nggak bagus ya. Tapi nggak makes sense aja di telinga gue.”
“Lagu siapa yang akhir-akhir ini sering lo dengerin?”
Ofelia mencoba mengingat sebelum menjawab pertanyaan itu. “Random sih. Tapi yang paling gue suka beberapa tahun belakangan lagu-lagunya Niki. Situasi dan kondisi apa pun yang sedang gue alami, lagu-lagunya Niki itu kayak cocok aja gitu buat jadi theme songs-nya.”
“Niki? Penyanyi Indonesia yang berkarier di luar negeri itu bukan?”
“Yup. Salah satu lagunya yang paling gue suka judulnya Take A Chance With Me. Lo harus denger lagu itu. Minimal sekali seumur hidup lo.”
“Memangnya apa makna lagu itu sampai bikin lo suka banget?”
“Tentang perasaan jatuh cinta seorang wanita pada pria pujaan hatinya. Dalam lagu ini, NIKI menggambarkan perasaan seorang wanita yang jatuh cinta terpesona pada tawa, suara, dan hal-hal lain yang ada di pria pujaannya, tapi sayang pria tersebut tampaknya tidak menyadari perasaannya.”
“Kalau emang suka kenapa nggak to the point aja? Ribet amat makhluk Tuhan paling cantik, ya?” komentar Daryl.
“Ya, stereotipnya kan, cowok yang kudu effort duluan buat nunjukin perasaannya. Baru nanti cewek memberi respon,” balas Ofelia sembari terkekeh.
Daryl hanya menggeleng mendengar jawaban Ofelia. “Gue sebenarnya nggak seberapa suka lagu cinta-cintaan begitu. Lebih suka lagu-lagu tentang kehidupan.”
“Cinta-cintaan bukannya bagian dari kehidupan juga ya?”
“Iya juga, sih.”
Kemudian Ofelia terdiam ketika tiba-tiba lampu yang menandakan bahwa para penumpang harus mengenakan kembali sabuk pengaman masing-masing menyala, disusul suara kapten pilot yang menyampaikan berita bahwa pesawat akan mengalami turbulance sebentar lagi. Meski kapten pilot dan awak pesawat meminta penumpang untuk tetap duduk dengan tenang, rasa khawatir dan serangan panik itu datang tanpa mampu dicegah oleh Ofelia. Gadis itu kini sedang menyandarkan tubuh sepenuhnya di sandaran kursi sembari meremas jemarinya dan kedua matanya terpajam. Bibirnya terus bergerak sedang memanjatkan doa terbaik untuk keselamatan dalam penerbangannya ini.
“It’s okay, Fe. Everything gone be alright. Lo harus tetap tenang ya. I’am here. Gue nggak akan beranjak dari sisi lo,” ucap Daryl mengucapkan mantra untuk menenangkan Ofelia.
Beberapa menit berlalu. Guncangan yang mengerikan bagi Ofelia itu berakhir. Ofelia membuka kedua matanya secara perlahan dan melonggarkan remasan di jemarinya. Baru ia sadari bahwa jemari yang sedang ia remas sepanjang terjadi turbulance tadi bukanlah jemarinya sendiri, melainkan jemari tangan Daryl yang kini masih berada di dalam genggamannya.
~~~
^vee^