Akhir pekan ini adalah hari ulang tahun Daryl. Seperti permintaan laki-laki itu bulan kemarin yang ingin merayakan ulang tahun bersama Ofelia di apartemen saja. Di sinilah Ofelia berada saat ini, di mobil menuju daerah Senayan City, tempat apartemen Daryl berada. Ofelia mau datang ke apartemen Daryl dengan perjanjian tidak hanya mereka berdua saja di apartemen itu. Ofelia takut saja tergoda oleh teman baiknya yang juga disukainya dalam diam jika mereka hanya berdua saja di tempat private.
Ofelia memang sering mendengar soal apartemen Daryl yang berlokasi di salah satu daerah elit. Daryl jujur mengatakan bahwa unit apartemen itu diberikan oleh orang tuanya sebagai syarat jika menginginkan Daryl kembali ke Indonesia, tiga tahun lalu. Padahal Daryl hanya bercanda waktu itu. Sebenarnya dia mau kembali menetap di Indonesia asal diizinkan bekerja di perusahaan lain karena Daryl sama sekali tidak memiliki minat melanjutkan bisnis keluarga. Namun orang tuanya memaksa ingin memberikan apartemen itu sebagai hadiah. Jadi Daryl menerima saja, hitung-hitung dengan tinggal di apartemen pribadi dia bisa menabung untuk membeli rumah suatu saat nanti.
Sesampainya di lobi apartemen Ofelia meminta bantuan pada pihak reseptionis agar diberikan akses menggunakan lift menuju lantai tempat unit apartemen Daryl berada. Saat berada di dalam lift yang tengah bergerak menuju lantai 14, jantung Ofelia berdebar lebih cepat dari biasanya. Tiba-tiba saja dia merasa gelisah tanpa sebab. Dia berusaha menenangkan detak jantungnya dengan memejamkan mata sambil berhitung dari angka satu. Tepat ketika hitungannya sampai 30 terdengar bunyi ding dan pintu lift terbuka. Akhirnya dia sampai juga di lantai 14.
Ofelia menekan bel di dekat pintu yang merupakan unit apartemen Daryl. Ofelia harus menunggu selama dua menit sebelum akhirnya pintu terbuka. Beberapa detik kemudian Ofelia berhadapan dengan sosok yang tidak asing di matanya.
“Meme?”
Sebelum Ofelia bisa bereaksi dengan panggilan akrab yang digunakan oleh satu orang saja di dunia ini untuknya, tiba-tiba ponsel di dalam tasnya berdering panjang. Belum berhasil menemukan ponsel yang berada di dalam tas, bunyi nada dering ponselnya tiba-tiba berhenti. Dia lalu tak melanjutkan mencari ponselnya lagi dan memfokuskan perhatian kepada orang yang memanggilanya itu.
“Datang juga akhirnya lo. Hampir aja gue inisiatif buat jemput lo,” ujar Daryl yang tiba-tiba muncul dari balik tubuh orang yang membukakan pintu untuk Ofelia beberapa saat lalu. “Masuk, yuk!” sambungnya mempersilakan Ofelia masuk.
Ketika Ofelia berjalan melewati pintu unit apartemen yang otomatis berpapasan dengan sosok Shayne, napasnya seolah berhenti selama beberapa saat. Dia mengerjapkan mata beberapa kali untuk memastikan penglihatannya bahwa dia hanya salah lihat. Namun tiba-tiba saja Ofelia menoleh untuk meyakinkan bahwa otaknya hanya sedang berimajinasi kali ini, dia mendapati wajah Shayne yang terlihat kaget dan bingung sedang balik menatapnya. Ternyata sosok yang baru saja dilewatinya itu adalah memang benar Shayne.
“Shayne?” ucap Ofelia akhirnya bersuara.
Daryl yang mendengar suara Ofelia menyebut nama seseorang refleks menghentikan langkah dan berbalik badan menghadap Ofelia. Daryl yang tadinya tidak memikirkan apa pun hanya bisa mengerutkan kening karena merasa bingung. Detik kemudian dia menatap penuh rasa ingin tahu pada Ofelia.
“Lo kenal Shayne, Fe?” tanya Daryl penasaran.
Ofelia hanya memandangi Daryl karena tidak tahu harus berkata apa. Tak lama kemudian Shayne sudah berdiri di samping Ofelia lalu berkata, “Ini Meme, temen gue dari SD sampai SMA,” ujar Shayne berusaha mencairkan suasana.
“Meme? Wait!” ujar Daryl mencoba mengingat sesuatu dari nama yang baru saja disebut oleh Shayne. “Cewek yang dulu sering lo ceritain di telepon itu?” tebak Daryl.
Ofelia menoleh ke arah Shayne. Dia melihat Shayne sedang membelalakkan kedua matanya untuk menyampaikan sebuah kode agar Daryl tidak melanjutkan kata-katanya atau dia akan mencekik Daryl detik itu juga. Pikirannya terus berputar untuk menerka ada hubungan apa antara Daryl dan Shayne sehingga membuat mereka dipertemukan dengan cara seperti ini. Di saat yang sama terdengar suara yang Ofelia kenal sebagai nada dering ponsel Shayne. Laki-laki itu langsung pamit untuk menerima panggilan telepon. Sementara Ofelia masih mematung di tempat berdirinya mencari titik temu atas kebingungan yang sedang menguasai laju pikirannya.
“Hei,” ucap Daryl menyadarkan Ofelia. “Lo mau berdiri sampai kapan?” tegur Daryl.
“Ya, lo sebagai tuan rumah juga nggak mempersilakan gue duduk,” balas Ofelia.
Daryl tertawa. Dia lalu membawa Ofelia ke tengah ruangan yang merupakan tempatnya biasa menerima teman atau saudara yang datang mengunjungi apartemennya.
“Gue nggak tahu kalau lo kenal Shayne,” ucap Ofelia santai, berusaha menutupi kegugupannya.
“Shayne sepupu gue. Yang baru aja tunangan beberapa waktu lalu,” ucap Daryl seolah ingin menegaskan sesuatu pada Ofelia.
“Aah… I See,” jawab Ofelia. “Anyway, lo ngundang siapa lagi selain gue, Ryl?” tanya Ofelia untuk meringankan suasana.
“Ortu sama adek gue. Katanya masih kejebak macet. Mungkin setengah jam lagi baru bisa sampai sini. Gue siap-siap dulu ya.”
“Ada yang bisa gue bantu?”
“Nope. Lo duduk manis aja di sini. Gue siapin minuman dan cemilan dulu buat lo.”
Ofelia hanya mengangguk patuh. Dia sama sekali tidak berniat mendebat apalagi memaksakan diri untuk memberikan bantuan yang tak dibutuhkan oleh Daryl. Statusnya hanya sebagai tamu di sini. Ofelia menekankan kata tamu sekali lagi dalam hatinya. Ketika Ofelia sedang berdebat dengan hati kecilnya, terdengar suara dehaman di dekatnya. Sebelum mencari tahu sumber suara ia tahu bahwa itu Shayne. Dia dapat mencium aroma khas Shayne dari tempat duduknya. Ketika Ofelia mengangkat kepala, ia mendapati Shayne tengah memandanginya. Kemudian tanpa aba-aba laki-laki itu mendaratkan tubuhnya tepat di samping Ofelia dengan merentangkan tangan kanannya di atas sandaran sofa, tempat Ofelia sedang mengistirahatkan punggungnya. Ofelia membeku selama beberapa saat.
Merasa Ofelia tak memberikan reaksi apa pun tangan Shayne bergerak meremas pundak Ofelia. “Lagi mikirin apa?” tanya Shayne pelan.
Ofelia bisa merasakan embusan napas Shayne yang membuatnya tersadar sedekat apa posisinya saat ini dengan laki-laki itu. “Cuma bingung aja ternyata kamu sepupu yang pernah diceritakan sama Daryl waktu itu. Jangan bilang kalau kamu juga yang dipaksa Daryl bawain baklava Emirates Lounge?” tebak Ofelia asal.
Shayne tertawa mendengar pertanyaan Ofelia. “Jadi kamu ceweknya Daryl yang lagi BM baklava?” jawabnya.
“Cewek? Pacar maksud kamu?”
“Daryl bilangnya gitu, sih. ‘Shen, cewek gue lagi BM baklava. Bawain sebanyak yang lo bisa ya’,” ujar Shayne menirukan kata-kata Daryl di telepon beberapa waktu lalu.
“Asal aja, sih, dia bilang gitu. Mungkin maksudnya temen cewek gue kali. Cuma dipersingkat aja sama Daryl,” ujar Ofelia setenang mungkin, padahal jantungnya sedang berdebar tak menentu saat ini. Kali ini bukan hanya karena tentang posisi yang begitu dekat dengan Shayne, tetapi juga penjelasan Shayne soal Daryl. Ingin sekali Ofelia menyiram kepalanya dengan timba berisi es batu untuk mendinginkan ubun-ubunnya yang terasa mendidih.
“Nggak juga kayaknya…” Belum sempat Shayne menyelesaikan kalimatnya, Daryl muncul kembali sembari membawa nampan berisi soda loss sugar kemasan kaleng beberapa toples camilan di atasnya.
Daryl sempat melirik tak suka ketika pandangannya sampai ke arah tangan Shayne yang masih betah bertengger di atas pundak Ofelia. Di saat yang sama Ofelia memergoki tatapan tak biasa itu. Baru kali ini dia melihat Daryl memandang dengan cara seperti itu pada seseorang. Menurut Ofelia pandangan seperti itu sering ditunjukkan oleh seorang laki-laki yang sedang cemburu ketika pasangannya berdekatan dengan laki-laki lain. Namun berhubung laki-laki yang menunjukkan pandangan cemburu itu adalah Daryl, Ofelia tidak menelan mentah-mentah persepsi yang disimpulkan oleh otaknya itu. Karena menurutnya, tidak mungkin seorang Daryl bisa cemburu.
Melihat kedatangan Daryl, tanpa diminta Shayne kemudian menarik tangannya dari pundak Ofelia. Laki-laki itu berpindah posisi ke sofa lain yang berhadapan dengan sofa yang didudukinya tadi bersama Ofelia. Sedangkan posisinya digantikan oleh Daryl. Setelah duduk di samping Ofelia, tiba-tiba tangan kanan Daryl mendarat di atas paha Ofelia. Detak jantung Ofelia yang tadinya berdebar tak menentu kini semakin melonjak tidak keruan. Dia tidak yakin bisa bertahan lebih lama lagi. Dia butuh dokter spesialis jantung untuk segera menenangkan detak jantungnya.
~~~
^vee^