Shayne tampak kebingungan dengan tingkah laku Ofelia yang tiba-tiba jadi seperti orang ketakutan. Namun dia tidak banyak tanya dan hanya mengikuti saja perilaku Ofelia yang ingin menjadikan dirinya sebagai tempat persembunyian. Barulah setelah keduanya sampai di tenan makanan yang menyajikan aneka macam ramen jepang, Shayne memberanikan dirinya bertanya.
“Kenapa kamu seperti orang bingung dan ketakutan, Me?” tanya Shayne setelah menyelesaikan pesanan untuk mereka berdua.
“Nggak apa-apa,” jawab Ofelia seadanya.
Merasa Ofelia tak ingin membahas lebih jauh soal itu, Shayne berhenti bertanya dan memutuskan mencari topik pembicaraan lain.
“Ini kita beneran nggak apa-apa pergi berdua aja tanpa Megan?” tanya Ofelia sekali lagi karena merasa bersalah dengan kelakuannya ini. Tadi saat perjalanan dia sudah bertanya pada Shayne kenapa Megan tidak diajak? Shayne hanya menjawab kalau Megan sedang sibuk. Dan dari nada bicaranya cukup menunjukkan kalau Shayne tak ingin membahas lebih jauh soal tunangannya itu.
“Iya, nggak apa-apa. Santai aja lagi,” jawab Shayne sembari tersenyum kecil pada Ofelia.
“Tapi kamu bilang sama dia kalau kita pergi berdua sekarang?”
“Iya nanti aku juga bilang kok, sama dia.”
“Berarti kamu belum bilang? Trus kamu bilang apa, dong?” cecar Ofelia gelisah.
“Memangnya kenapa, sih, kalau aku nggak bilang sama Megan pergi berduaan sama kamu? Memangnya harus ya, ngasih tahu semua aktivitas aku ke Megan? Lagian kalau dia pergi sama teman-temannya aku nggak pernah ribet ngurusin dia mau pamit kek, nggak kek.”
Ofelia mendesah lesu mendengar jawaban Shayne yang cukup emosional itu. “Kalian berdua baik-baik aja, kan?” tanya Ofelia kemudian.
“Kita baik-baik aja, kok. Kalaupun ada something dalam hubungan kita, ya, itu udah biasa kali. Namanya juga relationship,” jawab Shayne lebih tenang dari sebelumnya.
“Ngomong-ngomong kamu ketemu Megan lagi kapan dan dimana? Kamu belum cerita soal itu,” ujar Ofelia mengalihkan topik obrolan mereka.
“Dia teman kerja sepupu aku di Washington. Sepupu aku juga yang ngenalin dia ke aku. Awalnya aku lupa kalau pernah satu SMP sama Megan. Baru setelah kami jalan akhirnya inget pernah lihat Megan di mana. Abis Megan berubah banget dari yang terakhir aku lihat pas SMP.”
“Makin cantik dan berkelas ya,” puji Ofelia.
“Nggak taulah. Pokoknya beda banget dari waktu SMP. Justru perubahan yang mengarah ke makin cantik itu kamu, Me,” ucap Shayne.
Demi Tuhan aliran darah di jantung Ofelia berdesar lebih cepat. Rasanya ada sesuatu yang berterbangan di perutnya mendengar ucapan Shayne. Pipinya juga terasa hangat dan mungkin sedikit merona saat ini. Tak peduli itu hanya sekadar gombalan atau ketulusan, intinya dia bahagia banget mendengar kata-kata penuh pujian itu dari sang pujaan hati.
“So, kalian pacaran berapa lama setelah memutuskan untuk tunangan?” tanya Ofelia mengalihkan topik pembicaraan sebagai usaha untuk menutupi kegugupannya.
“Lima tahun total dari sejak kenal. Dua kali putus nyambung,” jawab Shayne.
“Lama juga ya. Putusnya waktu itu karena apa?”
“Karena LDR.”
“Kamu maunya deketan?”
“Bukan cuma aku, dia juga. Ada ajalah yang bikin kami merasa lelah dengan LDR, dikit-dikit ribut dan endingnya putus. Tapi aku waktu itu ada di fase malas nyari yang baru jadi begitu ada kesempatan buat balikan aku pilih balikan. Meski aku dan Megan tahu akan menghadapi keributan berulang nantinya. Tapi untungnya dua tahun lalu Megan dapat kerjaan baru di Jakarta dan akhirnya memutuskan buat menetap di Jakarta aja.”
Ofelia menatap lurus-lurus ke arah Shayne ketika laki-laki itu bercerita. Entah hanya perasaannya saja atau memang ada sesuatu yang sedang dipendam oleh Shayne dalam hatinya saat ini. Yang jelas Ofelia melihat ada sedikit rasa sedih dan perubahan ekspresi lebih sendu ketika Shayne membahas soal hubungannya dengan Megan. Namun Ofelia tidak serta mengambil kesimpulan seperti itu hanya berdasarkan ekspresi wajah. Dia hanya seorang yang paham tentang ilmu kimia dan biologi bukan pakar ekspresi. Entah kalau Daryl, pasti beda cerita. Anak psikologi pasti punya cara untuk menebak isi kepala seseorang lewat ekspresi wajahnya.
Omong-omong soal Daryl, laki-laki itu sama sekali tidak menghubungi sejak Ofelia melihatnya di basement. Itu artinya Daryl memang tidak sempat melihat keberadaan Ofelia. Namun bukannya merasa lega dengan situasi yang menguntungkan dirinya, Ofelia justru merasa sedikit sebal saat ini karena merasa Daryl pasti terlalu fokus pada perempuan cantik dan seksi yang sedang bersamanya tadi sampai-sampai tidak bisa merasakan keberadaan Ofelia di sekitarnya. Ofelia lalu berusaha menyingkirkan bayangan Daryl dari kepalanya dan kembali fokus pada Shayne.
“Kalau dipikir-pikir sepupu kamu itu mak comblang kalian ya? Hebat berarti bisa sampai bawa hubungan kalian ke jenjang pernikahan,” komentar Ofelia. Ada sebuah penyesalan dalam ucapannya. Merasakan kedekatannya sekarang dengan Shayne, membuat Ofelia menyesal karena dulu tidak lebih gigih mencari keberadaan Shayne. Pikirannya terlalu rumit kala itu. Gengsinya setinggi Gunung Fuji di Jepang. Dia juga terlalu menjunjung tinggi prinsip bahwa laki-laki lah yang harus lebih dulu menunjukkan usaha pendekatan. Jika laki-laki itu sudah menunjukkan usaha dalam mendapatkan dirinya, barulah Ofelia akan memberikan timbal balik yang lebih dari laki-laki itu. Coba saja pikirannya lebih sederhana seperti sekarang, mungkin dia lebih cepat mendapatkan Shayne daripada sepupu Shayne mengenalkan Megan pada Shayne.
“Ya, begitulah…” jawab Shayne seadanya.
“Ngomong-ngomong kamu udah nentuin tanggal wedding?” tanya Ofelia diiringi suara seperti ranting retak di jantungnya.
“Belum, Me. Aku belum mau buru-buru.”
“Trus kamu masih mau nunda sampai berapa lama?”
“Entahlah, masih ada keraguan dalam hatiku menikah sama dia. Pertunangan itu diadakan karena desakan Megan sebenarnya. Dia udah didesak juga sama pihak keluarganya karena hubungan kami udah berjalan cukup lama dan belum ada tanda-tanda naik ke level berikutnya,” keluh Shayne. “Jadi biar dia nggak berisik nanya-nanya mulu kapan aku mau ngelamar, ya, aku ngalah akhirnya. Kebetulan orang tuaku juga nggak keberatan, jadilah acara pertunangan itu.”
Ofelia sebenarnya ingin berpindah ke samping Shayne lalu menepuk-nepuk punggung laki-laki untuk memberi dukungan lewat sana. Syukurlah Ofelia tidak sekonyol itu untuk melakukan tindakan impulsif di tempat umum seperti sekarang.
Tepat ketika Ofelia sedang berdebat dengan batinnya, ponsel Shayne berdering. Jantung Ofelia seperti nyaris copot dari tempatnya mendengar suara vokalis band Muse yang khas mengalun dari ponsel Shayne. Laki-laki itu masih menjadikan salah satu lagu milik band papan atas itu sebagai nada dering ponselnya. Masih sama seperti 13 tahun lalu.
“Aku masih makan sama…temen,” ujar Shayne sambil tersenyum ketika melihat ke arah Ofelia. “Ya, ada lah temen aku.” Kemudian panggilan telepon berakhir setelah Shayne berjanji akan menemui orang yang menghubunginya itu.
Ofelia menduga yang menelepon Shayne adalah Megan. Namun dia tidak berani bertanya dan membuat suasana menjadi canggung. Shayne sepertinya juga tidak ada tanda-tanda ingin mengatakan siapa yang baru saja menghubunginya pada Ofelia.
“Sorry ya, ada gangguan,” ujar Shayne sembari mengul senyum simpulnya.
Ofelia balas tersenyum, “It’s okay,” jawabnya. Kemudian mereka melanjutkan acara makan malam dengan sesekali diiringi obrolan ringan.
Saat berjalan menuju lokasi teater bioskop tempat mereka akan menonton setelah makan malam, punggung tangan Shayne berulang kali menyentuh punggung tangan Ofelia. Hal itu dirasakan oleh Ofelia dan sesekali dia melirik ke arah tangannya yang pada saat itu tak sengaja bersentuhan dengan punggung tangan Shayne. Jantungnya berdebar cepat karena alasan itu. Ofelia berusaha menahan untuk tidak senyum sendiri saat ini. Selama ini dia merasa hanya Daryl yang sempat membuat jantungnya bermasalah ketika bersentuhan dengan lawan jenis. Namun dugaannya salah, Shayne masih tetap bisa memberikan efek mendebarkan lebih dari yang pernah ia rasakan selama ini. Padahal skinsip yang terjadi terbilang sesuatu hal tak sengaja. Entah apa jadinya jika Shayne sengaaja menyentuh punggung tangannya apalagi sampai menggandengnya.
Tepat ketika pikiran liar itu menari-nari di benak Ofelia, sesuatu yang sedang dipikirkannya sesaat lalu benar-benar terjadi. Shayne menggandeng tangannya ketika mereka memasuki studio bioskop. Genggaman tangan Shayne bahkan tak lepas hingga mereka sudah duduk nyaman di kursi yang sudah sesuai dengan tiket. Ofelia membeku bukan hanya beberapa saat, tapi selama pemutaran film berlangsung.
~~~
^vee^