Dua hari setelah obrolan dari hati yang terdalam bersama salah satu sahabatnya, Ofelia memutuskan untuk kembali menghubungi Shayne. Setelah mengumpulkan keberanian Ofelia mulai mencari kontak Shayne di log panggilan terakhir dan menekan ikon memanggil saat telah menemukannya.
Ternyata panggilan teleponnya dialihkan. Ofelia lalu teringat pada kelakuannya yang sempat menelepon Shayne dan mengakhiri panggilan telepon begitu saja setelah diterima. Dia memang seperti orang yang freak dan stalker yang mengerikan saat itu. Jadi wajar saja Shayne mengalihkan nomor teleponnya. Ofelia mengembuskan napas lesu dan merasa mulai putus asa.
Sepuluh menit kemudian Ofelia mencoba peruntungannya sekali lagi. Ia janji ini yang terakhir. Jika Shayne masih mengalihkan panggilan teleponnya maka dia tidak akan mencoba menghubungi laki-laki itu lebih dulu sampai kapanpun. Ofelia menarik napas panjang sebelum menyentuh tombol memanggil.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sepertinya pepatah itu yang tepat untuk Ofelia saat ini. Percobaan terakhirnya ini membuahkan hasil. Terdengar nada sambung di pengeras ponselnya. Dengan jantung berdebar dan senyum tertahan Ofelia menanti Shayne menerima panggilan teleponnya.
“Hallo?” Terdengar suara bariton Shayne di balik sambungan telepon.
Ofelia menghitung sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menjawab sapaan Shayne. “Shayne?” ucap Ofelia dengan suara yang dibuat sebisa mungkin supaya tidak terdengar bergetar.
“Ya, siapa?” balas Shayne.
Ofelia ingin menangis saat ini. Menangis karena dua hal. Yang pertama karena akhirnya dia memiliki keberanian untuk menghubungi Shayne lebih dahulu. Yang kedua menangis sedih karena Shayne tidak langsung mengenali suaranya. Namun Ofelia tidak terlalu larut dalam suasana ingin menangis yang kedua. Rasa sedihnya itu tertutup oleh rasa bangga atas prestasinya sendiri.
“It’s me, Ofelia,” jawab Ofelia. Kali ini suaranya benar-benar lebih tenang dan dia sudah mulai bisa menguasai ritme debaran jantungnya sendiri.
“Thank God. Akhirnya kamu menghubungi aku lebih dulu,” ujar Shayne dengan suara seperti lega akan sesuatu.
“Why?”
“Aku nggak sengaja ngilangin kartu nama kamu, Me. So sorry, ya. Aku nggak bermaksud nyepelein soal kartu nama itu. Tapi aku beneran lupa terakhir naro kartu nama itu dimana. Handphone aku juga nyemplung kolam pas lagi nemenin Megan ke acara temannya. Untungnya masih bisa dibenerin. Tapi semua data yang ada di handphone itu kena restart,” jelas Shayne.
“Kapan yang nyemplung?” tanya Ofelia mencari informasi soal waktu ponsel Shayne masuk ke kolam seperti yang diceritakan oleh laki-laki itu.
“Seminggu yang lalu. Aku sempat tanya Andika apa dia ada simpan kontak kamu. Dia bilang nggak sempat nyimpan nomor kamu ke daftar kontak di handphone-nya.”
Ofelia berdebat dalam hatinya. Mendengar cerita Shayne soal kecelakaan yang terjadi pada ponsel laki-laki itu menunjukkan bahwa Shayne kehilangan jejak atas kelakuan Ofelia yang pernah freak dengan berperilaku menyebalkan lewat telepon. Sehingga dia tidak perlu malu dan takut tingkah bodohnya ketahuan Shayne. Di satu sisi dia merasa bahagia soal itu. Namun di sisi lain dia merasa tidak puas pada usaha yang dilakukan oleh Shayne untuk mencari kontak teleponnya. Apalagi Shayne juga tahu saat ini dia sudah menetap di Jakarta lagi. Menurut Ofelia sebenarnya banyak jalan dan cara yang bisa dilakukan oleh Shayne untuk mengusahakan kontak teleponnya. Tapi yang dilakukan oleh Shayne hanya bertanya pada Andika dan tidak melakukan hal lain lagi setelah tidak mendapatkan informasi apa pun soal kontak telepon Ofelia.
Memikirkan hal itu membuat Ofelia merasa resah dan gundah. Dia mulai kehilangan konsentrasinya dan berakhir kehilangan topik pembicaraan dengan Shayne. Dia merasa kecewa mendapati kenyataan Shayne tidak pernah benar-benar mengupayakan apa pun soal dirinya. Namun Ofelia segera sadar dengan suara teriakan yang berasal dari otaknya “Emangnya lo siapanya sampai punya hak buat kecewa segala?” Suara itu seperti menyeretnya pada kenyataan.
“Oh, it’s okay. Namanya juga nggak sengaja, ya, kan?” balas Ofelia akhirnya.
“Wait! Aku save kontak kamu dulu ya,” ucap Shayne kemudian ada jeda keheningan selama beberapa hampir dua menit.
“Oke, sudah... By the way, kamu Sabtu nanti free nggak? Mungkin kita bisa dinner. Kemaren waktu ketemu nggak sempat ngobrol banyak. Itu juga kalau kamu nggak sibuk.”
Ofelia mencoba mencerna kembali kata-kata yang disampaikan oleh Shayne. Dia mengulang kembali kata ‘dinner’ yang diucapkan oleh Shayne. Tiba-tiba saja dia kepikiran maksud lain dari ajakan ‘dinner’ itu. Lagi-lagi suara di kepalanya berteriak, “Ofelia jangan ge-er lo, Anjir!” yang membuatnya tertampar oleh kenyataan.
Setelah kembali berdebat dengan dirinya lagi selama beberapa menit, Ofelia akhirnya menjawab, “Aku lihat jadwal pekerjaanku dulu ya. Aku juga takut udah bikin janji sama orang lain,” sesal Ofelia. Dia yang memutuskan, dia juga yang menyesal. Dasar betina, rutuk Ofelia pada dirinya sendiri.
“Sounds good. Kabarin aja kalau kamu free. Atau mungkin kamu punya hari yang lowong buat kita ketemuan. Kalau kamu mau, kamu juga boleh nentuin tempatnya.”
“Oke, aku akan kabari kamu nanti.”
Setelah panggilan telepon itu, Shayne menjadi kerajinan menghubungi Ofelia. Laki-laki itu selalu menghubungi Ofelia lebih dulu. Mereka semakin terlibat keakraban baik di telepon maupun hanya sekadar pesan singkat. Ofelia merasa dirinya sedang menjalani masa pendekatan dengan seseorang. Setiap kali Shayne selesai meneleponnya, Ofelia bertanya pada dirinya, “Apa perbuatannya ini salah? Apa perbuatannya ini dibenarkan? Dia berinteraksi sedekat ini dengan seorang laki-laki yang telah memiliki tunangan dan akan segera menikah. Apa perbuatannya ini disebut berselingkuh dengan pasangan orang lain? Apa dia kini disebut pelakor?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mulai mengganggu pikiran Ofelia.
Namun Ofelia tidak bisa menghentikan laju komunikasi antara dirinya dengan Shayne yang terus mengalir secara alamiah. Ada secercah kebahagiaan di balik rasa takut dan khawatirnya. Ada setitik kepuasan dalam dirinya karena pada akhirnya dia bisa berinteraksi dengan Shayne. Bagi Ofelia yang telah memendam perasaannya pada Shayne selama belasan tahun, hal itu adalah sebuah pencapaian terbaik dalam kisah percintaannya yang nelangsa. Ofelia benar-benar menikmati momen-momen kebersamaan dengan Shayne meski hanya lewat telepon maupun pesan. Sebenarnya Shayne beberapa mengajaknya bertemu, tapi entah kenapa Ofelia belum siap melangkah ke arah itu.
Di sisi lain Daryl melihat gelagat aneh dalam diri teman baiknya. Ofelia tampak setingkat lebih ceria dalam beberapa hari terakhir. Belum lagi earbuds selalu menempel di lubang telinganya. Ketika Daryl bertanya, “Tumben lo betah pakai airpods lama-lama?” Ofelia hanya menjawab dalam cengiran bodoh yang membuat Daryl lama-lama jengah pada gadis itu.
Belum lagi saat Daryl ingin meminta salah satu dari earpods yang ada di lubang telinga Ofelia, gadis itu pasti akan menolak keras dan tak jarang menunjukkan ekspresi kesal pada Daryl. Kemudian Daryl tidak mencari tahu lebih jauh lagi alasan dari perubahan Ofelia yang terkesan aneh menurutnya.
Ofelia sendiri sebenarnya sama sekali tidak menganggap Daryl sebagai pengganggu. Meskipun ia tahu bahwa Daryl akan bisa mengerti apabila dia menceritakan kalau sedang telepon dengan seseorang, tapi dia juga tahu Daryl tidak akan pernah puas dengan jawaban itu. Daryl pasti akan bertanya siapa orang yang sedang menelepon itu. Dan Ofelia tidak yakin dia bisa menyimpan kebahagiaannya dan tidak menceritakan soal Shayne pada Daryl.
~
Setelah satu minggu menjalin komunikasi yang intens dengan Shayne, akhirnya Ofelia mau diajak ketemuan. Dia menerima ajakan Shayne yang ingin mengajaknya makan malam lalu lanjut nonton berduaan saja. Hari ini dia ingin merasakan hal yang selalu diimpikannya selama belasan tahun memuja Shayne. Dia menganggap hal ini sebagai self reward atas keberaniannya telah berhasil jujur pada hatinya. Ofelia tahu dia salah dalam membahagiakan dirinya. Tapi dia hanya ingin merasakan kebahagiaan itu untuk yang terakhir kalinya, karena jika nantinya Shayne telah menikah dengan Megan dia berjanji tidak akan pernah mencoba mengganggu Shayne lagi dengan alasan apa pun.
Malam ini Shayne berjanji akan menjemput Ofelia di rumah gadis itu. Dia sengaja datang lebih awal karena tak ingin membuat Ofelia menunggu karena menurutnya perempuan dimana-mana sama seperti Megan, pasti butuh spend waktu lebih untuk bersiap dibanding laki-laki. Namun Shayne dikejutkan dengan kenyataan bahwa Ofelia ternyata sudah siap ketika dia datang.
“Kita jalan sekarang, yuk!” ajak Ofelia menyadarkan ketakjuban Shayne pada sesuatu hal yang sangat jarang ditemuinya dalam diri seorang perempuan.
“Aku perlu pamit orang rumah kamu, nggak?” tanya Shayne ingin menunjukkan kesopanannya.
“Nggak perlu. Orang tuaku udah tahu kalau aku mau keluar sama temen. Lagian mereka juga lagi nggak di rumah sekarang.”
Shayne mengangguk paham lalu memberi akses jalan pada Ofelia agar melangkah lebih dulu keluar dari rumah gadis itu. Setelah itu dia mengikuti langkah Ofelia dan menunjukkan perilaku manis dengan membukakan pintu penumpang depan untuk Ofelia. Gadis itu hanya mengedikkan bahunya sembari mengucap kata terima kasih atas keramahan yang ditunjukkan oleh Shayne.
Setelah berkendara selama lima belas menit mobil Shayne memasuki basement pusat perbelanjaan yang menjadi tujuan mereka menghabiskan waktu santai malam ini. Ketika sedang berjalan meninggalkan basement Ofelia melihat sosok yang sangat dikenalnya dengan sangat baik dari kejauhan. Sosok itu adalah Daryl bersama seorang perempuan yang tengah bergelayut mesra di lengan laki-laki itu.
Tiba-tiba saja Ofelia mendapat serangan panik dan ketakutan Daryl melihatnya di tempat ini. Bukan karena tujuannya berada di tempat ini melainkan orang yang sedang bersamanya saat ini. Ofelia belum siap memperkenalkan sosok Shanye pada Daryl. Dia sendiri juga tak punya alasan atas ketakutannya itu. Dia lalu memutuskan mempercepat langkahnya dan mengamit lengan Shayne sekaligus mengikis jarak antara dirinya dengan Shayne dengan tujuan melindungi tubuh mungilnya di balik tubuh Shayne yang cenderung lebih besar darinya.
~~~
^vee^