16. Tiba-tiba Confess

1466 Words
Daryl mengemudikan mobil seperti orang kesetanan. Ofelia yang berada di bangku penumpang hanya bisa merapalkan banyak doa agar mereka bisa selamat sampai rumah sakit. Tak ada satupun yang mengawali untuk membuka obrolan. Suasana perjalanan benar-benar menjadi begitu menegangkan. Sesekali Ofelia melirik ke samping kanannya. Wajah Daryl tampak begitu serius menatap jalanan yang dilalui mobilnya. Kedua tangannya mencengkram erat roda kemudi seolah akan terlepas jika tidak dipegang seerat itu. Beruntung mobil Ofelia adalah tipe matic sehingga tidak menuntut satu tangan lainnya untuk bergerak di tuas porseneling. Jantung Ofelia nyaris melompat dari tempatnya ketika Daryl membanting kemudi untuk menghindari kendaraan yang tiba-tiba muncul di hadapannya. “Udah gila ya, lo? Cukup Aline aja yang mengalami kecelakaan. Lo nggak usah nambah-nambahin perkara, Daryl Moreau!” hardik Ofelia begitu mobil sudah kembali terkendali. Seperti tersadar akan sesuatu Daryl mengurangi kecepatan mengemudinya secara perlahan. Perbuatannya itu membuat Ofelia merasa lega. “Sorry,” ujar Daryl begitu mendapatkan kecepatan stabil yang dibutuhkan agar segera sampai dalam kondisi selamat. Suasana mobil kembali hening. Ofelia sama sekali tidak berminat untuk membicarakan apa pun. Pikirannya saat ini dipenuhi oleh rasa bersalah, penyesalan dan kekhawatiran pada kondisi Aline. Sampai beberapa menit berlalu suara ponsel dari dalam tas Ofelia memecah keheningan. Ternyata panggilan telepon dari Ibu Ofelia yang menanyakan keberadaannya sekaligus menjelaskan kondisi Aline saat ini. Ofelia memberikan jawaban seadanya lalu menyampaikan bahwa tidak sampai 20 menit lagi dia akan sampai rumah sakit tempat Aline berada. “Aline kecelakaan gimana?” tanya Daryl sesaat setelah panggilan telepon dari Ibu Ofelia berakhir. “Keserempet motor waktu mau nyamperin mobil online yang jemput dia di tempat les piano,” jawab Ofelia dengan suara lesu. “Harusnya gue yang jemput Aline. Tapi dia bilang ada jam tambahan latihannya karena mau persiapan lomba. Berhubung gue ada janji mau ke apartemen lo dan nggak enak kalau telat, jadi gue pesenin mobil online buat jemput Aline. Harusnya gue bisa nunggu Aline dan ngasih penjelasan ke elo kalau bakal telat,” sambungnya kemudian mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya. “Kalau lo bilang telat karena masih harus jemput Aline sebenarnya gue nggak masalah, Fe. Lo bawa Aline ke acara ulang tahun gue juga lebih baik.” “I know. Makanya gue sekarang nyesel dan ngerasa bersalah banget. Ditambah lagi gue yang dari awal nawarin diri buat jemput Aline di tempat les setiap weekend. Gue ngerasa nggak becus jadi tante.” “Lo jangan ngomong gitu. Trus sekarang Aline gimana kondisinya?” “Sekarang udah masuk kamar rawat inap. Gue takut dia nggak bisa ikut lomba gara-gara kecelakaan ini.” “Kita doakan yang terbaik aja buat Aline.” “Dia bakal benci sama gue kayaknya kalau sampai gagal ikut lomba gara-gara kecelakaan ini.” Tangan kiri Daryl terulur untuk membelai lemput kepala Ofelia. “Udah jangan terlalu jauh mikirnya. Nanti gue bakal bantu bujuk dan ngasih penjelasan ke Aline kalau dia beneran marah sama lo,” ucapnya berusaha menenangkan Ofelia. Ofelia mengangguk. “Thanks ya,” ujar Ofelia. “Anyway, gue boleh ngomong sesuatu nggak?” Daryl menatap sekilas ke arah Ofelia sebelum kemudian kembali fokus pada jalanan di depan mobil. “Soal apa?” jawabnya. “Gue beneran nggak tahu kalau sepupu lo itu Shayne. Soalnya-” Belum sempat Ofelia melanjutkan kalimatnya, Daryl lebih dulu memotong. “Gue juga nggak tahu beneran kalau lo temen lamanya Shayne, tapi masih tetap komunikasi dan bahkan ketemuan padahal posisi lo tahu dia udah tunangan,” ucap Daryl terdengar sedikit sinis dalam nada bicaranya. Ofelia tercengang dengan nada bicara Daryl yang terdengar begitu menekankan kata tunangan di akhir kalimatnya. “Memangnya masalah ya, kalau gue masih menjalin komunikasi dengan teman lama?” “Jadi masalah kalau teman lo itu sudah punya tunangan.” “Maksud lo apa, sih?” “Lo itu magister of sience tapi hal seremeh ini masa nggak ngerti sih, Fe? Ya lo mikir aja, gimana seandainya tunangan lo masih menjalin komunikasi bahkan ketemuan sama teman lamanya yang seorang perempuan di belakang lo, tanpa ngajak lo, parahnya lagi dia nggak ngasih tahu apa-apa soal itu ke elo,” cecar Daryl. “Kenapa keliatannya lo yang paling mempermasalahkan hal ini? Lagipula Shayne bilang kalau ketemuan sama gue ke Megan.” “Apa dia secara spesifik nyebutin kalau yang ketemuan sama dia seorang perempuan? Apa dia juga nyebut nama lo ke Megan?” Seperti tersadar sesuatu, Ofelia menarik ulur ke waktu pertemuannya dengan Shayne beberapa waktu lalu. Benar yang dikatakan oleh Daryl bahwa Shayne tidak menjawab secara spesifik orang yang sedang bersamanya malam itu. Shayne hanya berkata sedang bertemu dengan teman, setelah itu buru-buru mengakhiri panggilan teleponnya. Dan bukannya menegur atau mengingatkan Shayne, Ofelia tampak tak begitu mempermasalahkan soal itu karena begitu bahagianya bisa bertemu lagi dengan pujaan hatinya. “Lagian gue ketemuan sama Shayne cuma sekali doang,” ucap Ofelia tak acuh. Dia sedang malas memperdebatkan apa pun dengan Daryl malam ini. Apalagi hal yang sedang mereka perdebatkan bukan masalah penting menurut Ofelia. “Gue nggak percaya,” ucap Daryl tegas. “To the point aja deh, hal apa yang sebenarnya pengen lo bahas dengan gue.” “Shayne cerita kalau dia ragu sama hubungannya dengan Megan. Dia bahkan nggak yakin bisa melanjutkan pertunangan mereka. Pas gue tanya alasannya, dia nggak bisa jawab karena katanya dia sendiri juga masih meraba-raba. Awalnya gue ngiranya mungkin hal kayak gini biasa dihadapin oleh seseorang yang akan menikah dalam waktu dekat. Tapi setelah kejadian hari ini, gue bisa menarik benang merahnya.” “Jadi maksud lo, gue adalah penyebab keraguan yang tumbuh dalam pikiran Shayne?” tanya Ofelia tidak terima. “Gue nggak bilang gitu. Lo aja yang sensi dan menuduh diri lo sendiri.” “Tapi arah pembicaraan lo kayak gitu, Ryl.” “Nggak! Maksud gue nggak gitu.” “Halah, sama aja.” “Nggak sama, Ofelia!” Bisa dirasakan oleh Ofelia saat ini laju mobilnya kembali tak terkendali. Daryl lagi-lagi menginjak pedal gas terlalu dalam hingga membuat kecepatan mobilnya terus naik. Namun dia terlalu kesal dan tidak memedulikan apa pun untuk saat ini. “Lo nggak usah ngatur-ngatur gue soal gue jalan sama siapapun. Lagian meski gue jalan sama Shayne atau cowok manapun, urusannya apa sama lo? Gue juga nggak pernah ngatur-ngatur soal hubungan lo dengan hampir separuh spesies wanita yang ada di seluruh penjuru Jakarta. Dan satu lagi selain lo jangan ngatur-ngatur gue, lo juga nggak bisa seenaknya ngakuin gue sebagai cewek lo ke siapapun tanpa persetujuan dari gue. Lo pikir kehidupan asmara gue semengenaskan itu sampai lo bisa seenaknya ngakuin gue sebagai cewek lo padahal kita nggak punya hubungan istimewa lebih dari sekedar teman kantor!” geram Ofelia. Akhirnya pertahanannya hancur sudah. Napasnya mulai tidak beraturan menahan amarah. Daryl terdiam. Dia tahu arah pembicaraan Ofelia dan sedang mencari cara untuk memberi penjelasan pada Ofelia supaya tidak salah paham. Sementara itu Ofelia tahu saat ini Daryl pasti sedang mencoba membaca pikiran dan mempelajari suasana hati Ofelia dari nada bicara dan ekspresi. Setelah hening selama beberapa saat akhirnya Daryl kembali bersuara. “Kenapa mesti Shayne, sih? Dari sekian banyak spesies laki-laki yang ada di seluruh penjuru Jakarta, kenapa lo mesti jalan sama sepupu gue yang notabene udah punya tunangan. Dan lo tahu soal statusnya itu, Fe.” Ofelia yang tadinya sudah tidak mau berdebat dengan Daryl soal Shayne, ternyata tidak bisa menahan mulutnya untuk kembali membalas komentar Daryl. “Masalahnya dimana? Itu tergantung dari cara lo menginterpretasikan makna kata jalan yang terjadi antara gue dan Shayne. Iya, kan? Gue udah jelasin soal itu,” ucap Ofelia lebih tenang. “Jangan bilang lo lagi jealous sama sepupu lo?” “Gue nggak jealous, Fe. Gue cuma mau ngasih tau lo etika menjalin hubungan dengan lawan jenis yang sudah punya tunangan. Lagipula apa salahnya gue ngakuin lo sebagai cewek gue? Lo single, gue single. Masalahnya dimana?” “Masalahnya gue nggak suka diaku-akuin kayak gitu sementara kita nggak punya hubungan apa pun selain teman kantor, Daryl.” “Ya, udah… Since this day anggap saja kita punya hubungan lebih dari teman kantor.” “Lo confess gue?” “Bisa dibilang seperti itu.” “Segampang itu?” “So, harusnya gimana, dong?” “Lo pikir gue kayak perempuan-perempuan yang udah pernah menghabiskan waktu buat kencan sama lo? Cuma karena sama-sama single trus tiba-tiba menjalin relationship spesial, gitu?” “Makanya gue nanya harusnya gimana, dong? Pengetahuan gue soal kencan hanya sebatas itu. Kalau lo lebih paham soal dunia relationship lebih dari gue tinggal bilang aja, Fe. Apa susahnya, sih?” “Damnnn!” maki Ofelia penuh amarah. “Lo ngumpat gue, Fe?” “Menurut lo aja, deh!” balas Ofelia penuh emosi. Bertepatan dengan itu Daryl membelokkan roda kemudi memasuki pelataran rumah sakit. Tepat ketika Daryl menghentikan laju mobil untuk masuk ke area parkir, Ofelia mengambil kesempatan itu keluar dari mobil. Gadis itu terus berlari tak memedulikan Daryl yang terus meneriakkan namanya. ~~~ ^vee^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD